PART 9
“Wah! Hari yang melelahkan. Capeknya. Ini menyenangkan, ya?” tanya Ichinose.
“Iya. Menyenangkan bisa ngobrol sama Horikita-san dan Sakura-san. Kapan-kapan kita main bareng lagi yuk!”
Gadis-gadis Kelas B tampak puas dengan pengalaman mereka di hari terakhir liburan ini. Sakura, yang terlihat sedikit lebih santai, bahkan sampai menyeringai. Di sisi lain, Ike, Yamauchi, dan bahkan Sudou terlihat cemas. Setelah dengan cepat mengucapkan salam perpisahan, mereka bergegas menuju lift.
“Nanti kami akan ngumpul di kamarmu, Ayanokouji.”
Kata mereka sembari memasuki lift.
“Mereka kenapa, ya? Perasaan mereka semangat sekali hari ini,” kata Kushida.
“Mereka kelihatan sangat aneh. Mungkin ada seseorang yang tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kata Horikita.
Mereka berdua melirikku, tapi aku menahan diri untuk tidak berkata apapun, karena ada alasan tersendiri.
“Ya sudah kalau gitu. Sampai jumpa di sekolah, Ayanokouji-kun.”
“Sampai jumpa besok.”
Setelah berpisah dengan Kushida dan Sakura, hanya Horikita dan aku yang tersisa di lobi. Kupikir dia tetap tinggal untuk menghindari Kushida, tetapi bahkan ketika lift lain tiba, Horikita tidak masuk.
“Kau nggak naik?” aku bertanya.
“Bagaimana denganmu? Apa kamu mau jalan-jalan sebentar?” dia bertanya.
“Tentu.”
Horikita dan aku berjalan di sepanjang jalan yang ditumbuhi pepohonan sambil melihat langit, yang kini diwarnai dengan cahaya matahari terbenam.
“Anehnya, aku bersenang-senang hari ini. Ternyata menikmati hari libur sesekali itu rasanya lumayan juga.” Itu adalah pernyataan yang tidak terduga, datang dari Horikita. Dia berbicara perlahan, rambutnya yang masih basah berkibar di belakangnya. “Kita akan memasuki semester dua besok. Aku yakin tantangan yang lebih berat sudah menanti.”
“Ya, sepertinya begitu.”
Ini bukan sekolah biasa. Ada banyak tantangan yang tak terhitung jumlahnya—seperti ujian bertahan hidup di pulau, atau ujian pencarian VIP di kapal pesiar—tidak diragukan lagi telah menanti kami.
“Aku sudah memikirkannya selama liburan musim panas. Tentang hal-hal yang telah kulakukan, dan hal-hal yang bisa kulakukan,” lanjut Horikita.
“Terus apa yang kau pikirkan sekarang?” aku bertanya.
“Itu rahasia. Kalau aku memberi tahumu, kamu pasti akan tertawa.”
Dia menghindari pertanyaan itu, meskipun aku tidak tahu alasannya. Mungkin dia malu dengan apa yang akan dia katakan.
~Bersambung~
Komentar
Posting Komentar