PART 6
“Waduh, kami kalah. Dong,” kata Ichinose, terdengar sedikit frustrasi saat dia keluar dari kolam.
Kami hanya bertanding, tetapi tentu tidak ada yang menginginkan kekalahan. Kelas D meraih kemenangan setelah memenangi dua set berturut-turut.
“Itu semua berkat Sudou-kun,” kata Horikita.
Sudou tersenyum puas mendapat pujian itu. Dia pastinya bahagia karena gadis yang disukainya memujinya, terlebih lagi karena Horikita jarang memberi pujian.
“Kamu anggota klub basket, kan? Beberapa anak cowok dari kelas kami juga main basket, aku sudah mendengar tentangmu, Sudou-kun. Mereka bilang kamu adalah siswa tahun pertama yang terbaik,” kata Ichinose.
“Tentu saja,” jawabnya.
Yang lebih penting lagi, itu berarti kabar telah menyebar ke kelas lain. Aku bertanya-tanya apakah pertandingan bola voli ini hanyalah ujian? Kemampuan atletik Sudou bisa dibilang sebanding dengan kakak kelas. Setiap ujian yang bergantung pada aktivitas fisik akan menjadi keuntungan besar bagi Sudou, dan bagi kami. Dari sudut pandang Ichinose, Sudou adalah ancaman yang serius.
“Kalau saja kalian lebih jago, kita bisa saja menang dengan mudah,” kata Sudou.
“Sialan. Sudou jadi sombong sekarang,” kata Yamauchi. Dia tergeletak di luar kolam, menatap Sudou dengan frustrasi. Setelah pertandingan bola voli selesai, Sudou telah menepati janjinya untuk menghajar Yamauchi, dan menghabisinya.
“Yah, karena kita sudah menang, itu tidak masalah. Ini artinya kita bisa makan apa pun yang kita inginkan untuk makan siang,” kataku, mengalihkan fokus Sudou dari kemarahan ke makanan.
“Ya, benar tuh. Karena kita juga lagi bokek, ini kesempatan bagus.” Sudou bertindak sedikit sombong, tapi dia pantas untuk itu. Dia memenangkan pertandingan dengan usahanya sendiri.
“Kalau gitu, yuk makan siang?”
Perut kami keroncongan, tepat pada waktunya. Ichinose, Sudou, dan yang lainnya menuju ke stand makanan. Horikita mengikuti agak jauh di belakang.
“Ayanokouji-kun. Kamu tidak terlalu buruk dalam olahraga, kan? Meskipun kamu masih seorang pemula dalam voli, gerakanmu tadi aneh,” dia mengamati.
Horikita pernah melihatku melawan kakaknya beberapa waktu lalu. Dia ingat betul bagaimana gerakanku.
“Itu karena Ichinose terus-terusan menatapku,” jawabku.
“Artinya, kamu belum berniat menunjukkan kemampuanmu bukan? Saat ini, kurasa kelas-kelas lain sedang mencoba menganalisa kemampuan tempur Kelas D,” jawab Horikita.
Saat kami tiba di stand makanan, Ichinose menoleh ke arah kami. “Seperti yang kami janjikan, kalian bisa pilih apa pun yang kalian suka, dan sebanyak yang kalian inginkan. Selamat menikmati!” katanya.
“Baiklah! Kalau begitu, kami tidak akan menahan diri!”
Trio idiot, yang selera makannya berkali-kali lebih besar daripada orang lain, bergegas mencomot makanan. Ichinose hanya berdiri di sana, menyeringai.
“Tunggu dulu, apa kamu sendiri yang akan membayar semuanya?”
“Ya. Toh aku yang menyarankan taruhannya,” jawab Ichinose. Itu mungkin benar, tapi ini pengeluaran yang banyak. “Aku ini hemat, jadi gak masalah kok.”
Kushida tampak bingung. “Tapi, Ichinose-san, bukannya kamu sudah menghabiskan beberapa poin buat beli baju renang? Aku tahu Kelas D tidak bisa dibandingkan dengan Kelas B, tapi kita baru saja kenal.”
“Hmm. Yah, aku tidak terlalu peduli dengan fashion. Lagian aku nyaman pakai baju apa pun. Kurasa itu agak aneh sih untuk seorang gadis,” Ichinose terkekeh.
“Nggak kok. Kupikir tidak menghabiskan banyak uang itu justru bagus.”
Menurut pandanganku sendiri, gadis-gadis pasti ingin terlihat cantik. Kushida-pun juga begitu. Awalnya kupikir Horikita juga tak peduli, tapi dia tampaknya sangat memperhatikan rambut dan pakaiannya.
“Mungkin poinku akan kupakai untuk sesuatu yang lebih penting nantinya,” kata Ichinose.
“Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan sungkan,” kata Horikita. Dia biasanya makannya sedikit, tetapi karena Kelas B yang mentraktir kami sepertinya dia menjadi rakus.
“Tentu, tak apa-apa. Lagian sayang banget kalau gak dicicipi semuanya, jadi makanlah sepuasnya!” kata Ichinose.
Aku pribadi cukup tertarik dengan junk food, dan memilih apa yang kuinginkan.
~Bersambung~
Komentar
Posting Komentar