-->
Loading...

iklan adsense

Classroom of the Elite VOLUME 4.5 CHAPTER 5 PART 7 Bahasa Indonesia

Released on November 06, 2022 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Classroom of the Elite VOLUME 4.5 CHAPTER 5 PART 7 Bahasa Indonesia, Streaming Classroom of the Elite VOLUME 4.5 CHAPTER 5 PART 7 Bahasa Indonesia, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 4.5 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!
PART 7

Ketika hampir waktunya tutup, Ichinose mengusulkan agar kami pulang sebelum ruang gantinya jadi makin ramai. Kami semua setuju. Ketika semua orang sedang ganti baju, aku menyelinap pergi dan menunggu seseorang di tepi kolam renang. 

“Ah, capek sekali,” gumamku. 

Tak lama kemudian Karuizawa muncul, menampar punggungku saat dia berjalan mendekatiku dari belakang. 

“Kerja bagus. Bagaimana hasilnya?” tanyaku. 

“Seperti yang kamu katakan. Jujur itu menjijikkan,” jawabnya. 

“Ayolah, jangan bilang begitu. Itu cuma gairah masa muda, tahu?” 

Karuizawa memberi isyarat seolah dia mau muntah, lalu memindai sekitarnya. 

“Jadi gimana rasanya berada di kolam renang?” tanyaku. 

“Biasa saja. Aku tidak merasakan apa-apa, tapi…” Karuizawa melihat sekitar sekali lagi, seolah khawatir kalau ada yang melihat. “Meskipun itu palsu, aku masih pacaran dengan Hirata-kun. Kalau aku kepergok berduaan denganmu, mungkin bakal ada gosip yang aneh-aneh.” 

“Benarkah? Yah, bisa jadi kalau saja aku ini cowok ganteng seperti Hirata. Sayangnya, aku ini tidak terlalu menarik. Paling-paling, orang akan mengira kalau kau bagian dari kelompok kami,” kataku padanya. 

Ini bukanlah tempat yang mencurigakan untuk berduaan dengan seorang gadis. Beda lagi ceritanya jika itu di malam hari, di bangku taman yang terpencil.

Hirata, pacar palsu Karuizawa, tidak terlihat. Dia mungkin sibuk dengan kegiatan klubnya. Aku tidak tahu banyak tentang jadwal klub sepak bola, tapi dia tampaknya cukup aktif. 

“Kita diizinkan memakai rash guard hari ini. Kau lihat sendiri, kan?” tanyaku. 

“Yah begitulah. Tapi apa kamu tidak masalah menghabiskan uang buat beli rash guard? Itu lumayan mahal tahu.”

“Itu pengeluaran yang diperlukan.” 

Karuizawa mengulurkan tangannya, dan aku meraihnya. Aku merasakan sesuatu yang keras menyentuh telapak tanganku. 

“Apa yang kamu rencanakan, sih?” tanya Karuizawa. 

“Apa maksudmu?” 

“Kenapa kamu berbeda dari yang lain? Kamu bisa saja duduk santai dan menikmati pertunjukannya,” katanya. Ah, jadi dia membicarakan tentang benda yang kupegang di tanganku. 

“Ini bisa memecah belah kelas. Aku ingin menghindari itu.” Itulah alasan aku memanggil Karuizawa untuk bertemu denganku, selain itu membuatnya menikmati suasana kolam renang juga jadi salah satu tujuanku. “Apa kau mengajak orang lain?” 

“Aku sendirian. Tadi aku sempat bersama dua orang lainnya, tapi aku menyuruh mereka pergi bersenang-senang.” 

“Keputusan yang bijaksana.” 

Aku mulai berjalan perlahan di sepanjang sisi kolam. Karuizawa mengikutiku. 

“Jadi, apa kamu mengincar Kelas A?” dia bertanya. 

“Kau nggak tertarik?” 

“Hmm, entahlah. Aku ingin poin, dan aku pastinya akan senang kalau dapat pekerjaan di mana saja, tapi…” Dia menendang udara, tangannya di saku. “Aku sama sekali tidak mau berselisih dengan siswa Kelas C itu.” 

Karuizawa mengacu pada sekelompok gadis Kelas C. Bahkan meskipun aku berhasil menahan situasi sampai tingkat tertentu, Karuizawa tidak bisa menghadapi gadis-gadis itu secara langsung tanpa memicu trauma masa lalu saat mereka merundungnya. Sampai dia terbebas dari penjara mental itu, Karuizawa tidak akan pernah bisa menunjukkan bakat sejatinya. 

“Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Hanya denganmu,” kataku. 

“Apa itu?” 

“Aku tidak tahu ujian apa yang akan kita hadapi selanjutnya, tapi aku sudah menyiapkan sebuah rencana.” 

“Rencana?” 

Saat kami berjalan, berbaur dengan semua hiruk pikuk, kami membahas hal-hal yang sangat penting. Hal-hal yang bahkan belum aku bicarakan dengan Horikita.

“Untuk membuat seseorang dikeluarkan.” 

“Hah?” 

Karuizawa berhenti di tengah jalan, seolah-olah dia tidak mengerti apa yang kumaksud. Ketika aku terus berjalan, dia buru-buru menyusulku. 

“Tu-Tunggu sebentar. Apa maksudmu?!” 

“Persis seperti yang kukatakan. Aku akan mengeluarkan siswa tahun pertama. Kandidat yang ideal adalah ketiga gadis yang tahu tentang masa lalumu. Jika kita gagal menyudutkan mereka, maka mungkin orang lain. Kalau itu tidak berhasil, lalu—” kataku memulai siasat. 

“La-Lalu apa?” 

“Mungkin beberapa manusia yang tidak berguna dari Kelas D.” 

“Kamu mengerti apa yang kamu katakan, bukan? Mengeluarkan seseorang tidak semudah itu,” jawab Karuizawa. 

“Menurutmu begitu? Itu tidak benar. Sebenarnya aku punya pilihan sekarang.” ada bekas sidik jari di benda yang Karuizawa serahkan padaku, aku menarik perhatiannya ke tanganku. 

“Tunggu, jangan bilang. Jadi itu yang kamu rencanakan?” dia bertanya, tidak percaya. 

“Tergantung situasinya, aku bisa membuat seseorang dikeluarkan dalam sekejap. Kau pasti paham kan?” 

“Ta-Tapi tunggu dulu. Kenapa kamu membicarakan ini? Sebelumnya kamu berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan Sudou-kun, kan?” 

Memang benar aku telah menyelamatkan Sudou dari ancaman pengusiran. Namun, itu terjadi saat aku dipaksa supaya berkomitmen untuk mencapai Kelas A. Seperti yang Horikita katakan, aku harus bersiap untuk kemungkinan mengeluarkan seseorang yang merugikan kami. 

“Meskipun kamu pernah menyelamatkan Sudou-kun, sekarang kamu akan mengeluarkannya?” tanya Karuizawa. 

“Oh bukan gitu. Aku tidak punya niat untuk menyingkirkan Sudou. Keterampilan fisiknya akan sangat berharga bagi Kelas D,” jawabku. Tidak banyak siswa di sekolah ini yang kemampuannya sebanding dengannya, termasuk Kouenji.

“Tapi apa yang akan terjadi pada poin kelas kita jika seseorang dikeluarkan?” tanya Karuizawa dengan khawatir. 

“Pilihan terbaik adalah mengeluarkan seseorang dari kelas lain, tentu saja.” Namun, jika seorang siswa dari kelas kami dikeluarkan, ketakutan akan memotivasi mereka untuk berjuang sekuat tenaga. Itu bukanlah hal yang buruk. 

“Kamu ini menakutkan, tahu?” kata Karuizawa. 

“Kau sendiri pastinya sudah tahu orang macam apa aku ini, kan?” 

“Iya sih.” 

Aku pernah mengancam Karuizawa. Tindakanku bahkan hampir mendekati pemerkosaan. Tentunya dia tidak mungkin menganggapku sebagai orang baik. 

“Kenapa nggak berkonsultasi dengan Hirata-kun saja?” dia bertanya. 

“Aku masih ragu tentang itu. Hirata bukanlah orang yang bisa kupercayai sepenuhnya,” balasku. 

“Hah?” 

“Kau tahu tentang masa lalunya?” 

“Oh ya. Dia memberitahuku tentang hal itu waktu aku bilang padanya apa yang terjadi padaku. Temannya mencoba bunuh diri dengan melompat, kan?” 

Itu benar. Hirata telah memberitahuku bahwa dia masih membawa penyesalan itu bersamanya, mungkin saja itu benar. 

“Apa kau benar-benar percaya kalau upaya bunuh diri temannya mengubahnya menjadi seorang siswa yang akan ditempatkan di Kelas D?” aku bertanya. 

“Hah?” 

“Tidak mungkin cuma itu satu-satunya alasan bagi sekolah untuk menempatkan siswa yang cerdas dan sangat populer di kelas kita. Bukankah kau setuju?” Penempatan di Kelas D akan bisa dimengerti jika Hirata sering bolos, atau nilainya rendah seperti Karuizawa, tapi sepertinya masalahnya bukan itu. 

“Tunggu. Jadi kamu nanyain masa laluku itu karena…” 

“Aku ingin memahami situasi Hirata. Trauma masa lalu bukanlah faktor penentu untuk ditempatkan di Kelas D,” jawabku. 

Mengkonfirmasi hal-hal dengan Karuizawa telah meyakinkanku bahwa dia adalah seseorang yang bisa kupercaya. Namun, Hirata tidak akan mudah untuk dihadapi. Aku perlu diam-diam mencari tahu apakah dia mengatakan yang sebenarnya atau itu hanyalah kebohongan.

“Kamu terus mencoba mengumpulkan informasi dengan menggertak dan mengancamku, tapi kamu tidak memberitahuku apa-apa,” gerutu Karuizawa. 

“Hmm?” 

“Kamu itu tidak normal sama sekali. Pasti pernah terjadi sesuatu padamu.” 

“Nggak ada yang terjadi padaku,” jawabku. 

“Bohong.” 

Tidak ada yang terjadi. Aku tidak dihantui masa lalu seperti Karuizawa, dan aku juga tidak memiliki teman dekat yang mencoba bunuh diri seperti Hirata. 

“Aku bisa tahu hanya dari matamu. Kamu kelihatan seperti orang yang bisa membunuh tanpa ragu-ragu.” 

“Di masa laluku tidak ada hal yang terjadi sedramatis itu.” 

Sama sekali tidak ada apa-apa. Sangat sedikit yang terjadi padaku sehingga tidak ada yang perlu kubicarakan. Hidupku hanyalah kertas kosong. 

Mata Karuizawa terkunci padaku. Dia mungkin hanya bisa bertanya-tanya apa yang akan terjadi dengan masa depannya. Memegang ketakutan itu memang terbukti sangat bermanfaat. 

Namun, dia bertanya kepadaku tentang apa yang ingin kulakukan. Seakan menjawab pertanyaan itu, aku pun semakin erat mengepalkan tanganku. Ketika aku melakukannya, aku mendengar plastik di tanganku bengkok dan retak. 

“He-Hei!” 

Aku berjalan ke tempat sampah dan membuang potongan-potongan itu. 

“Aku tidak akan mengeluarkan siapa pun dari Kelas D. Sudah waktunya aku kembali ke kelompok. Terima kasih untuk hari ini,” kataku. 

“Oke…” 

“Kalau gitu, yuk balik.” 

Saat kolam ditutup, siswa mulai membanjiri ruang ganti. Tampaknya semua siswa pulang bersama kelompok mereka masing-masing. Ada kelompok yang pulang sebelum waktu tutup, seperti kelompok Ichinose, kelompok yang pulang tepat saat pengumuman tutup, dan kelompok yang tetap berada di kolam sampai detik terakhir. Aku penasaran kelompok mana yang paling cepat pergi.

Kami diam-diam memperhatikan siswa lain saat mereka berjalan pergi. Setelah beberapa waktu, tempat itu jadi sepi, tinggal ada beberapa penjaga kolam. 

“Kau gak pulang?” aku bertanya. 

“Kamu sudah tahu jawabannya kan, terus kenapa masih nanya?” Karuizawa dengan ringan menepuk tempat di rash guardnya tepat di area bekas lukanya. Dia tampak putus asa. Tetap saja, dia tidak bisa pulang tanpa berganti pakaian. Dia harus menunggu sampai semua orang pergi untuk masuk ke ruang ganti. 

“Kalau cuma pakai baju renang sekolah pun pasti nggak masalah buatmu, kan?” tanyaku. Tidak ada orang yang akan memperhatikan bekas lukanya. 

“Ugh, berenang pakai itu? Ogah. Desainnya terlalu kuno. Aku nggak bakal mau memakainya selama pelajaran.” 

Ternyata, dunia perempuan lebih kejam dari yang kukira. Bahkan baju renang yang ketinggalan jaman bisa menurunkan status sosial mereka. 

“Kau suka berenang?” 

“Hah? Yah, aku sih nggak membencinya,” katanya. 

“Bagaimana kalau coba berenang sebentar sekarang? Mumpung nggak ada siswa lain. Satu-satunya orang yang ada di sini cuma penjaga, mereka juga lagi sibuk membersihkan kolam.” 

Karuizawa merenungkan gagasan itu. Bagaimanapun, itu lebih baik daripada cuma menunggu ruang ganti yang ramai. 

“Nggak usah, makasih,” gumamnya. 

“Ayolah.” 

“Nggak, percuma saja 'membujukku.' Sudah kubilang, aku nggak mau.” 

“Bahkan meskipun ada yang melihatmu, kau akan baik-baik saja, selama kau pakai baju renang sekolah.” 

“Bukan itu masalahnya. Kenapa aku harus menunjukkan baju renangku?” dengusnya.

Jadi, itu yang menahannya. Dalam hal ini, kupikir mungkin aku harus menggunakan metode yang sedikit lebih agresif. 

“Itu perintah.” 

Karuizawa memelototiku. 

“Kamu benar-benar parah. Aku benar-benar membencimu.” dia merengut. 

“Jadi gimana keputusanmu, kau mau mematuhiku atau tidak?” 

“Aku mengerti,” jawabnya. 

Karuizawa dengan enggan melakukan seperti yang diperintahkan, cemberut disertai rasa ketidakpuasan. Dia melepas rash guardnya dan meletakkannya di kursi. Aku mengamati dirinya di balik baju renangnya. Karuizawa berdiri membelakangiku, tidak berbalik. 

“Mungkin ini satu-satunya pakaian yang bisa kupakai untuk berenang seumur hidupku,” gumamnya. Dia masih takut apabila seseorang melihat bekas lukanya.

Aku menutup jarak di antara kami dan meraih lengannya. 

“A-Apa yang kamu—?!” 

Aku mendorong Karuizawa ke dalam kolam. Byurr! Dia terjun ke dalam air. Ketika seorang penjaga mendengar suara itu, dia berteriak kepada kami menggunakan megafon. 

“Kami sudah tutup! Silakan pergi sekarang juga!” 

“Pwah! Buat apa kamu melakukan itu?!” teriak Karuizawa. 

Saat dia muncul dari air sambil marah, aku mengulurkan tanganku padanya. 

“Apa kau merasa senang?” aku bertanya. 

“Didorong ke dalam air itu nggak menyenangkan, tahu.” 

Karuizawa meraih tanganku yang terulur. Kemudian, tanpa peringatan, dia menarikku ke dalam air. Aku tidak melawan sama sekali, berhati-hati agar tidak menabraknya saat aku jatuh. Percikan yang dihasilkan, bahkan lebih besar dari sebelumnya, pasti akan membuat marah para penjaga kolam. Karuizawa tertawa saat mereka bergegas menghampiri kami. 

Ketika aku mencoba muncul ke permukaan, dia menahan kepalaku dan terus mendorongku ke dalam air. Meskipun situasinya kekanak-kanakan, melihat Karuizawa menikmati sesuatu menjadikan momen ini berharga.

~Bersambung~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢