PART 4
“Wuah, ini terlihat mewah. Tempatnya benar-benar dihias.”
Fasilitas kolam renang yang besar, yang biasanya digunakan untuk kegiatan klub dan pelajaran sekolah, tampak sangat berbeda hari ini. Beberapa siswa berkerumun di sana, warung makan juga tersedia di mana-mana. Makanan ringan dan junk food pun banyak dijual: hot dog, yakisoba, okonomiyaki, dan banyak lagi.
Anehnya lagi, yang mengelola kios adalah kakak kelas. Ada banyak tipe siswa, mulai dari siswa yang serius bekerja keras tanpa banyak tersenyum, sampai siswa yang tampak seperti sedang bersenang-senang. Itu mengingatkanku akan ujian khusus.
Di mana-mana, yang terlihat adalah kemeriahan. Saat kami berdiri di sana, menunggu gadis-gadis, aku merasa kalau suasana di tempat ini mulai meningkat.
Jika kau ingin menarik perhatian positif dari orang-orang di sekitarmu, kau harus memiliki reputasi. Dalam bidang akademik, misalnya. Jika kau berada di kelas atas, atau mendapat nilai tertinggi dalam ujian, orang-orang akan memperhatikanmu. Hal yang sama juga berlaku jika kau bisa menunjukkan kemampuan atletikmu yang luar biasa. Tapi masih ada banyak cara lain untuk menonjol, dan salah satunya adalah menjadi menarik. Cowok ganteng, cewek cantik—jauh lebih mudah bagi orang semacam itu untuk menarik perhatian daripada atlet berbakat ataupun jenius akademis. Kau sama sekali tidak bisa menyangkal bahwa faktor khusus itu ada.
Aku tidak tahu bagaimana kami dibandingkan dengan sekolah lain, tetapi banyak orang di sekolah ini yang terlihat lebih menarik daripada rata-rata siswa. Itu termasuk anggota kelompok kami. Kami dikelilingi oleh banyak siswi cantik yang namanya tidak kuketahui. Tidak heran Ike dan Yamauchi langsung sagne.
Seperti apa jadinya jika penampilan yang memukau dikombinasikan dengan kepribadian yang sempurna? Seseorang yang tidak hanya imut dan sangat bergaya, tetapi juga brilian secara akademis? Seorang gadis seperti itu tentunya akan mencuri perhatian semua orang.
Hampir semua siswa laki-laki tiba-tiba memusatkan perhatian mereka pada satu titik.
“Wah. Tempatnya ramai sekali, ya?” Ichinose menyusul kami, ia tampaknya tidak menyadari kalau semua orang sedang melihatnya.
Karena tidak yakin ke mana harus melihat, aku pun mengalihkan pandanganku ke dinding saat aku menjawab.
“Dimana yang lainnya? Kupikir anak laki-laki bakal lebih cepat,” katanya.
“Mereka masih ganti baju,” jawabku. Mereka sebenarnya terlambat karena hal ... lain. “Kau cepat juga ganti bajunya.”
“Ah ha ha! Aku cukup percaya diri dengan kemampuanku saat ganti baju,” Ichinose membual, seolah-olah itu adalah sesuatu yang bisa dibanggakan. Kepolosannya yang cerah mungkin adalah rahasia popularitasnya. “Oh! Ayanokouji-kun, ternyata kamu pakai rash guard ya?”
“Ini mungkin aneh untuk laki-laki, tapi aku tidak terlalu suka memperlihatkan tubuhku di depan orang banyak. Kudengar kalau pakai ini pun tidak apa-apa selama kita tidak sedang berada di tengah pelajaran.”
“Begitu ya. Kupikir itu tidak masalah. Lagipula itu tidak melanggar aturan.”
Beberapa siswa lain juga mengenakannya, bahkan orang-orang sepertiku. Ichinose menusuk perutku yang tertutup rompi dengan jari telunjuknya.
“Tubuhmu keras ya. Kamu juga ramping. Kamu punya massa otot yang ideal, meskipun tidak terlalu berotot,” dia mengamati.
Dia terus menyentuhku secara menyeluruh, dari lenganku sampai bahuku. Aku beruntung karena punya dana untuk membeli pakaian rangkap. Aku harus berterima kasih pada Katsuragi.
“Kamu suka olahraga ya?” dia bertanya.
“Tidak. Mungkin cuma faktor keturunan. Nyatanya aku jarang berolahraga,” kataku.
“Hmm.”
Ichinose menurunkan matanya untuk melihat kakiku, tapi setidaknya dia berhenti menanyakan pertanyaan. Tetap saja, berdiri sedekat ini dengannya membuatku sangat sadar akan bahaya—eh, teteknya yang sangat besar. Bagaimana mungkin aku bisa berenang dalam keadaan ini? Aku ragu apakah aku bisa bergerak.
“Hah, orang-orang itu terlambat. Kurasa aku harus memeriksa mereka,” kataku.
Aku tahu betul apa yang mereka lakukan, dan mengapa mereka terlambat, tetapi aku tidak tahan lagi melihat Ichinose dalam pakaian renangnya. Aku berbalik dan menuju ruang ganti laki-laki.
Beberapa menit kemudian, kami berhasil menyelesaikan semua persiapan. Kami menuju ke kolam renang bersama. Semua gadis, termasuk Horikita, telah berkumpul.
“Wow!”
Ike tidak bisa menahan diri untuk tidak berseru ketika dia melihat pemandangan gadis-gadis yang menakjubkan. Sakura, bersembunyi di belakang mereka, malu-malu. Dia, tentu saja, juga memakai rash guard. Meski begitu, tidak semua laki-laki mampu menyembunyikan kegembiraan mereka saat melihat gadis-gadis mengenakan pakaian renang.
“Gah, ah! Aku bisa melihatnya. Tetek mereka, di balik baju renang mereka yang tipis! Aku bisa melihatnya!”
Ike dan Yamauchi menatap gadis-gadis itu seolah-olah mereka berdua memiliki penglihatan X-ray. Inilah momen paling membahagiakan dalam hidup mereka.
“Oke, langsung kesana yuk? Sepertinya tempat paling ujung itu tidak ramai.”
Ichinose memimpin saat kami pergi untuk mengamankan tempat di mana kami bisa hang out. Para pria berbaris tepat di belakang para gadis, tujuan mereka untuk melirik pantat gadis-gadis yang memantul dengan lembutnya. Namun, Sudou tidak bergerak dari sisi Horikita. Mereka terlihat serasi. Aku benar-benar berpikir mereka akan menjadi pasangan yang sempurna.
Sementara itu, aku berjalan di sebelah Sakura, yang sudah menjadi kebiasaan.
“Ah. Terima kasih,” bisiknya.
“Kenapa kau berterima kasih padaku?” aku bertanya.
“Apa maksudmu?” Sakura tampak bingung. Kemudian dia menyadari bahwa aku tidak tahu apa yang dia maksud. “Um, itu lo. Karena sudah mengajakku hari ini.”
“Hah? Itu normal kan. Kita kan teman.”
Aku mengucapkan kata "teman" dengan lancar dan mudah. Sakura mendongak gembira, matanya berbinar seperti anak anjing.
“Jadi, kau tidak perlu berterima kasih padaku,” kataku.
Sakura tampaknya tidak setuju. “Tetap saja, terima kasih,” katanya.
“Tidak, itu… Yah, okelah.”
Seperti itulah Sakura. Itu sebabnya aku merasa santai ketika aku bersamanya.
Meski begitu, dia menjadi lebih berani. Dia telah matang ke titik di mana aku hampir tidak mengenalinya sebagai gadis yang pertama kali kutemui. Seorang teman sekelas telah menembaknya, dan dia tidak melarikan diri, tetapi menjawabnya dengan berani. Melihatnya tumbuh lebih dewasa dari hari ke hari, membuatku berpikir bahwa, mungkin, aku juga bisa berubah.
“Baru-baru ini, aku kepikiran—selama pelajaran olahraga, sensei memberi tahu kita kalau berenang pasti akan bermanfaat bagi kita nantinya. Kupikir itu mengacu pada ujian pulau.” Sakura membuat pengamatan ini dengan tatapan berapi-api di matanya. Aku memutuskan untuk tidak menghancurkan pemikirannya.
“Begitu ya. Ha ah. Itu mungkin benar.”
“Iya kan, seperti yang kupikirkan!” Senang karena telah menyimpulkan sesuatu yang penting, Sakura melompat-lompat dengan polosnya, membuat teteknya yang besar bergoyang di balik baju renangnya.
Aku merasa simpati untuk seorang cewek yang teteknya sangat besar sehingga membuat hal-hal yang harusnya mudah menjadi sulit bagi mereka, seperti melepas baju. Bagaimanapun, aku senang bisa menemukan sisi baru dari Sakura.
Namun, ekspresinya berubah menyesal beberapa saat kemudian. “Kalau aku berpartisipasi dengan sungguh-sungguh, kupikir aku akan lebih berguna. Aku selalu beralasan sakit untuk melarikan diri.”
“Selama kau menyadarinya, bukankah itu cukup?”
Para siswa yang hanya mementingkan diri mereka sendiri, tanpa memikirkan masa depan, perlahan mulai menyadari bahwa manusia tidak dapat bertahan hidup sendirian. Kecuali jika kau berencana untuk menjadi pertapa, tinggal di gunung, maka kau tidak punya pilihan untuk bergantung pada orang lain.
Namun, mayoritas siswa SMP dan SMA tidak memperhatikan itu. Mereka hidup dalam dunia yang terisolasi, menghabiskan waktu mereka untuk menjelah Internet atau bermain game seluler. Beberapa siswa berandalan bahkan melakukan kejahatan mulai dari pelanggaran ringan sampai kejahatan berat. Mereka gengsi untuk meminta bantuan atau bekerja sama dengan orang lain. Beberapa siswa akan menghabiskan seluruh hidup mereka tanpa tahu caranya.
Namun, sekolah ini berbeda. Metode mereka unik, mereka tampaknya mencoba untuk mengajari siswanya bagaimana menjadi seorang individu yang tangguh.
Sakura mulai menyadari itu. Dia menyadari bahwa mungkin ada sesuatu yang bisa dia lakukan untuk kelas. Dia mungkin akan menjadi aset berharga untuk Kelas 1-D.
“Ichinose-san. Kalian. Kalian juga datang ke sini hari ini, ya?”
Tiga siswa laki-laki memanggil kami saat kami mencari tempat. Aku mengenali salah satunya: Kanzaki dari Kelas B. Dia mengangguk kepada kami.
“Yoo-hoo! Shibata-kun, kamu di sini bersama teman-teman?” tanya Ichinose.
Shibata mengangkat tangannya dan menatap kami siswa Kelas D sambil tersenyum. “Sepertinya kelompok kalian menyenangkan! Bagaimana kalau kami bergabung dengan kalian?” dia bertanya.
“Aku sih oke-oke saja, tapi ... yang lain gimana?” tanya Ichinose, melihat kami.
Kushida mengangguk dengan antusias, memusnahkan kemampuan Ike dan Yamauchi untuk menolak saran tersebut. Tiga siswa Kelas B bergabung dengan kami, membuat jumlah total kelompok kami menjadi 13 orang anggota.
“Maaf sudah merepotkanmu,” kata Kanzaki, mendekatiku. Dia mengerti bahwa aku tidak terlalu pandai berurusan dengan kelompok yang gaduh.
Sakura segera mundur selangkah. Dia langsung memudar menjadi karakter latar belakang, supaya Kanzaki tidak memperhatikannya.
“Tidak apa-apa,” kataku. “Lagipula, ini hari terakhir liburan musim panas.”
“Yah, memang benar kalau kita cuma punya sedikit kesempatan untuk bersosialisasi dengan siswa dari kelas lain. Shibata dan yang lainnya kelihatannya senang,” jawab Kanzaki.
“Tapi sepertinya kau tidak terlalu menyukai mereka,” kataku. Kanzaki tampak kalem dan tenang, seperti biasa. Namun, ada keinginan tersendiri saat dia mendekatiku, agar tidak menarik perhatian.
“Aku sepertimu, Ayanokouji. Aku tidak pandai bergaul.”
Saat Kanzaki dan aku mengobrol, kami mendengar sorak-sorai yang terdengar semakin keras dari kejauhan.
“Sepertinya mereka semua bersemangat karena sesuatu,” kata Sudou.
Aku mengangkat kepalaku untuk melihat. Di tengah keributan itu ada percikan besar. Seseorang dan sebuah bola terbang ke udara. Orang tersebut mengayunkan pukulan kuat dan agresif yang membuat bola itu terbang ke sisi lawan. Rupanya, mereka sedang bermain bola voli.
“Wah! Luar biasa! Ini, seperti, ada di tingkatan berbeda, ya?!” teriak Yamauchi.
Ada tiga fasilitas besar di kolam renang, semuanya saat ini digunakan untuk berbagai kegiatan dan permainan. Kolam pertama untuk renang standar. Kolam dua dibangun agar berfungsi seperti arus sungai. Kolam ketiga adalah yang utama dipakai untuk kegiatan seperti olahraga.
Kerumunan besar gadis-gadis berteriak mengelilingi kolam olahraga, di mana siswa sedang memainkan permainan bola voli yang sengit. Aku belum pernah melihat sebagian besar dari mereka sebelumnya. Mayoritas tampak sedikit lebih tua dari kami. Mereka mungkin siswa tahun kedua atau ketiga.
Ada seorang siswa laki-laki, yang mencolok.
“Dia mengagumkan.”
Objek kekaguman yang diungkapkan Sudou adalah siswa yang juga kuperhatikan. Sekilas, tubuhnya yang ramping tampak halus. Setelah dilihat lebih dekat, otot perutnya terlatih dengan baik. Cara rambut pirangnya bergoyang setiap kali dia bergerak, dan ekspresi tenang di wajahnya, membuat kagum. Dia sangat tampan sehingga kau hampir bisa salah mengiranya sebagai ilusi, gambar yang berkedip-kedip di layar.
Rupanya, pemuda tampan ini telah mencuri sebagian besar perhatian siswi perempuan.
“Ugh, dia tipe laki-laki yang paling aku benci. Meskipun dia tidak berbakat atau pekerja keras, dia bisa menang karena penampilannya,” sembur Ike.
Aku mengerti kecemburuan Ike dan Yamauchi, tapi mereka salah. Pria tampan ini tidak dihujani perhatian karena penampilannya. Aku melihat sinar tajam di matanya saat perhatiannya terfokus ke atas. Pemuda tampan itu melayang ke udara untuk menyongsong bola yang dioper rekan satu timnya.
Sebagian besar penonton terdiam, seolah-olah mereka lupa untuk bersorak. Semua orang menyaksikan dengan napas tertahan. Siswa tampan itu menembakkan peluru—eh, maksudnya bola—pada sudut yang tajam dan dengan kecepatan tinggi. Bola itu menyerang tim musuh. Siswa yang menerima bola juga sangat terampil. Dia merespons dengan cepat dan terjun untuk menjaga bola tetap dalam permainan.
Semua orang berteriak serempak saat tim pemuda tampan itu meraih satu poin. Kemampuan fisiknya yang superior sangat mengagumkan. Dilihat dari seberapa berkembangnya bagian bawah tubuhnya, aku menduga dia fokus pada olahraga di mana ia menggunakan kakinya. Mungkin track and field? Aku juga bisa membayangkan bisbol atau sepakbola.
“Di-Dia tampan, dia pintar, dia pandai olahraga… Siapa sih dia?!”
“Orang-orang benar-benar bersemangat, ya? Cowok itu sepenuhnya mendominasi permainan sendirian.”
“Sepertinya begitu. Aku tidak yakin siapa dia atau dari kelas mana dia.”
Horikita dan aku tidak terlalu mengenal siswa dari kelas lain, atau apa kemampuan mereka. Orang terbaik untuk ditanyai adalah Kushida, yang jaringannya lebih luas dari orang lain. Dia pasti tahu jawaban untuk pertanyaan kami.
“Itu Nagumo-senpai dari Kelas A. Dia siswa tahun kedua. Yang kudengar sih dia sangat populer di kalangan gadis-gadis,” katanya.
“Nagumo…”
Aku pernah mendengar nama itu baru-baru ini. Menguping pembicaraan kami, Ichinose menjelaskan lebih jauh lagi. “Dia adalah Wakil Ketua OSIS saat ini. Kabarnya sih dia akan mengambil alih posisi Ketua OSIS tahun depan. Kelihatannya, dia benar-benar pintar.”
Bahu Horikita sedikit menegang ketika dia mendengar kata "OSIS."
Setiap kali Nagumo memamerkan keahliannya, ada suara keras, dan sorakan yang saling bersautan. Pertandingan lain sedang berlangsung pada saat yang sama, tetapi tidak ada orang yang menonton. Semua orang terpaku pada Nagumo.
“Meskipun dia populer di kalangan wanita, aku belum pernah mendengarnya sampai sekarang. Kamu juga tidak mengenalnya, kan, Ayanokouji-kun? Dia memang terampil, tapi mengingat ketenarannya, kurasa itu cuma jadi sensasi. Aku yakin Ketua OSIS akan dengan mudah mengunggulinya dalam hal apapun. Bukankah begitu?” tanya Horikita.
Sungguh hal yang berani untuk dikatakan—memuji Ketua OSIS tanpa mengungkapkan bahwa dia adalah kakaknya.
“Ya. Mereka bilang Ketua OSIS itu orangnya luar biasa. Dia mungkin siswa yang paling hebat dalam sejarah sekolah ini. Tunggu. Dia punya nama belakang yang sama denganmu Horikita-san. Benarkan?” tanya Ichinose.
“Sepertinya begitu,” jawab Horikita tanpa basa-basi. Tampaknya, dia tidak berniat memberikan jawaban yang jujur.
“Tapi ada desas-desus kalau Nagumo-senpai punya keterampilan yang sebanding. Faktanya, selama pemilihan pengurus OSIS, Ketua Horikita dan Wakil Ketua Nagumo keduanya mencalonkan diri sebagai ketua. Pada saat itu, Nagumo-senpai masih seorang siswa tahun pertama,” kata Ichinose.
“Kamu tahu banyak hal, ya.” jawab Horikita.
“Ketika aku bergabung dengan OSIS, aku tentu saja mendengar hal semacam itu.”
“Benarkah?” Horikita terdengar tidak percaya.
Dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Aku ingat itu, pada hari aku bertemu dengan Ichinose, dia sedang berbicara dengan Hoshinomiya-sensei, Wali Kelas B, tentang "urusan OSIS." Aku sama sekali tidak tertarik untuk bekerja bersama Horikita Manabu, tetapi mengingat bagaimana struktur sekolah ini, menjadi anggota OSIS pastinya memiliki makna yang penting.
“Ngomong-ngomong, apa syarat untuk bergabung dengan OSIS? Tidak sembarang orang bisa bergabung, kan?”
“Hmm. Yah, itu sedikit rumit. Sejujurnya, aku sempat ditolak saat pertama kali aku mengajukan diri. Tapi, karena kita bisa mengajukan diri sebanyak yang kita mau, aku terus mencoba,” kata Ichinose. “Ketua tidak pernah mengkonfirmasi apa pun, dan rupanya, keputusan akhir datang dari Wakil Ketua Nagumo. Lalu, aku mendengar dari Nagumo-senpai kalau Ketua Horikita terlihat kecewa dengan siswa tahun pertama angkatan sekarang. Rupanya, OSIS biasanya menerima dua siswa tahun pertama, tapi tahun ini, cuma aku satu-satunya. Itu sebabnya aku ingin bergegas dan membuktikan diri. Dari kabar yang kudengar, Ketua Horikita akan mengundurkan diri pada bulan Oktober.”
Saat Horikita berjuang untuk lebih dekat dengan kakaknya, Ichinose mencoba sekuat tenaga untuk mendapatkan pengakuan bahwa ia layak diterima OSIS.
“Tujuanku adalah menjadi seperti Nagumo-senpai. Kami berdua kuat, dan kami juga mudah bergaul. Semua Ketua OSIS dalam sejarah sekolah ini selalu berasal dari Kelas A, tapi Nagumo-senpai sama sepertiku. Kami berdua berasal dari Kelas B. Kemudian, sebelum ada yang menyadarinya, dia sudah menjadi calon terkuat sebagai Ketua OSIS berikutnya. Jadi, itu sebabnya aku akan menjadi ketua setelah Nagumo-senpai.”
Ichinose berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Cuma bercanda!”
Dia jelas lebih menghargai Nagumo daripada kakak Horikita.
Terlihat tidak senang, Horikita balas membentak. “Nagumo potensinya terbatas. Awalannya juga buruk,” katanya.
“Oi, oi,” kataku.
Horikita bebas untuk memikirkan apa pun yang dia inginkan, tetapi bukankah logika itu juga berlaku untuknya, toh faktanya dia memulai dari Kelas D? Kecuali … kecuali dia serius.
“Tunggu. Apa kau masih berpikir mereka menempatkanmu di Kelas D karena kesalahan?” tanyaku.
“Bukankah sudah jelas?” kata Horikita tanpa ragu.
“Yah, kurasa aku bisa mengerti kenapa kamu berpikir begitu. Tapi sekolah tampaknya tidak mengurutkan kelas berdasarkan kemampuan akademik saja. Mereka menguji kecerdasan kita, tentu saja, tapi juga tingkat kedewasaan dan keterampilan kolaborasi kita. Mereka mendasarkan keputusan mereka berdasarkan semua kemampuan itu, kurasa,” renung Ichinose.
“Jadi, maksudmu ada masalah denganku secara keseluruhan?”
“Oh tidak. Maaf. Aku minta maaf kalau seperti itu kedengarannya. Tapi pikirkanlah. Pada dasarnya, Horikita-san, kamu adalah tipe orang yang mementingkan dirinya sendiri. Kalau kita membalikkan pernyataan itu, itu juga bisa berarti kalau kamu egois. Di dunia nyata, akan ada saat-saat ketika kita perlu menentukan siapa yang lebih cocok untuk situasi tertentu: orang yang mementingkan diri sendiri, atau seseorang yang mengikuti instruksi. Keputusan semacam itu dibuat berdasarkan banyak kasus.”
Orang yang egois akan sulit ditangani, bahkan meskipun mereka memiliki bakat yang hebat. Namun, orang yang bisa mengikuti instruksi akan selalu dibutuhkan, itulah sumber daya yang sangat dicari.
“Aku tidak percaya itu,” kata Horikita dengan suara rendah. Sikapnya tidak berubah, tapi mudah-mudahan, cara berpikirnya perlahan mulai berubah.
Ketika Ichinose dipanggil oleh temannya, aku mendekat sedikit ke Horikita.
“Kau tidak bermaksud mencalonkan diri untuk jadi anggota OSIS, kan? Kau memilih masuk sekolah ini untuk mengejar kakakmu, kan?” tanyaku.
“Itu beda lagi masalahnya. Kamu pun pasti paham, bukan? Bahkan meskipun aku melakukan wawancara untuk masuk OSIS, sama sekali tidak mungkin aku akan diterima.”
Yah begitulah. Jika bahkan Ichinose yang dari Kelas B sempat tidak diterima, maka Horikita yang dari Kelas D ... Horikita yang lebih tua mungkin tidak akan mengizinkan adiknya untuk bergabung dengan OSIS mengingat dia sendiri ingin adiknya keluar dari sekolah ini.
Aku melihat pertandingan yang sedang berlangsung untuk sementara waktu. Pada akhirnya, tim Nagumo mengalahkan tim lawan. Gadis-gadis yang menyemangati Nagumo berkumpul di sekelilingnya saat dia keluar dari kolam.
“Hei, tunggu sebentar. Cowok itu telinganya ditindik! Apa itu nggak melanggar aturan?!” teriak Ike, dengan jelas mencari sesuatu untuk diprotes.
“Tapi bukankah itu tidak apa-apa? Sekarang kan masih liburan musim panas,” jawab Ichinose.
“Ya-Yah, tunggu sebentar… Dia punya lubang di telinganya, kan?! Bukankah itu masalah besar?!” Ike bersikeras.
“Kurasa itu mungkin cuma anting-anting klip. Dia berpakaian normal kok di sekolah,” jawab Ichinose.
“Ugh!” Ike menggerutu. Tidak peduli seberapa gigih dia keberatan, Nagumo tetap siswa yang benar-benar sempurna.
“Hei, kenapa kita tidak bermain bola voli? Ada Shibata-kun dan yang lainnya di tim kami, totalnya kami ada enam orang, dan kalian ada tujuh. Kalau gantian mainnya, kita bisa mulai tanding,” kata Ichinose.
Ike adalah orang pertama yang setuju. “Yosh, langsung gas! Aku akan menarik perhatian semua gadis, seperti Nagumo-senpai!” dia berteriak.
Itu mungkin mustahil, tetapi banyak siswa tampak bersemangat untuk bermain. Karena kami sudah datang kesini, mereka menginginkan pengalaman yang menyenangkan.
“U-Um, aku sangat buruk dalam aktivitas fisik, jadi ... aku akan menonton saja,” kata Sakura, mundur. Dia mungkin benar-benar tidak ingin bermain. Terlihat jelas bahwa dia bukan tipe cewek atletis, tidak ada yang mengajukan keberatan.
“Aku juga tidak ingin bermain-main,” kata Horikita. Dia terlihat keras kepala, meski dia masih berutang budi padaku.
“Horikita-san, apa kamu melarikan diri?” Ichinose tersenyum, seolah-olah memprovokasi Horikita.
“Ini bukan 'melarikan diri' toh itu cuma pertandingan biasa,” balas Horikita.
“Kamu benar. Tapi ini seperti daya ukur kelas kita. Siapa yang lebih ambisius, dan siapa yang memiliki kerja sama tim yang unggul? Dalam pengertian itu, bisa dibilang ini adalah kompetisi kecil-kecilan. Atau apa kamu mau bilang kalau kamu tidak ingin bersaing dengan kami?” tanya Ichinose. Dia memperlakukan ini seperti tes analitis kemampuan tempur kami.
“Baiklah. Ayo kita lakukan,” kata Horikita.
Siswa Kelas B akan menjadi saingan kami dalam waktu dekat. Ini hanya permainan untuk saat ini, tetapi mereka mungkin juga ingin memastikan kemampuan musuh.
“Bagaimana dengan ini? Untuk membuat pertandingan sedikit lebih menarik, tim yang menang dapat menikmati makan siang gratis, dibayarin tim yang kalah. Apa kalian setuju?” tanya Ichinose.
“Tentu saja,” jawab Horikita.
Setelah kami mengajukan permintaan untuk menggunakan lapangan voli, masing-masing tim memilih strateginya sendiri. Aturan yang kami tetapkan adalah akan ada 15 poin per set, dengan pertandingan sepanjang tiga set. Tim pertama yang memenangkan dua set akan dinobatkan sebagai juaranya. Kami akan menentukan siapa yang melakukan servis melalui rotasi, dan seseorang yang mencetak poin akan mendapatkan hak untuk melakukan servis lagi.
“Ini mungkin cuma pertandingan biasa, tapi pertandingan tetaplah pertandingan. Pokoknya, kita harus menang,” kata Horikita.
“Kamu semangat sekali ya, Horikita-san,” kata Kushida.
“Karena taruhannya makan siang gratis, tentu saja. Tapi ini lebih dari itu. Buat beli makan siang untuk orang sebanyak ini, kita mungkin harus menghabiskan sampai 10.000 poin. Bahkan meskipun itu cuma poin pribadi, perbedaan antara Kelas B dan kita bisa menipis. Di sisi lain, kalau kita kalah, kesenjangan akan melebar. Ini seperti ujian khusus,” jawab Horikita.
Benar. 2.000 poin per orang bukanlah pengeluaran yang kecil.
“Baiklah! Ayo kita menangkan pertandingan ini. Ken! Haruki!” teriak Ike.
“Serahkan ini padaku, Suzune. Karena ada aku di sini, kita punya kekuatan setara seratus orang. Aku akan menjatuhkan orang-orang bodoh itu!” teriak Sudou.
“Tapi bukankah bodoh itu kata yang biasa kau gunakan untuk menggambarkan dirimu sendiri, Sudou?” kataku.
“Siapa peduli, njir? Kau tahu, 'bodoh' itu artinya seseorang yang cuma berpikir dengan otot mereka. Misalnya seperti, otaknya terlalu besar, karena kebanyakan belajar. Benar kan?”
Rupanya, Sudou telah salah memahami arti dari kata itu. Dia pun agak bodoh.
“Lupakan saja,” jawabku.
Sudou melihat anggota tim Kelas B dan tertawa seakan kepercayaan dirinya tinggi. Sikapnya seperti menunjukkan bahwa dia tidak mungkin kalah.
“Mari kita lihat bagaimana aku bisa menggunakanmu, Sudou-kun.”
Meskipun dia tidak terlalu pandai di bidang akademik, dia mungkin aset yang sangat berharga dalam situasi seperti ini.
“Sudou, apa kau punya pengalaman bermain bola voli di kolam renang?”
“Nggak. Aku cuma pernah main bola voli biasa waktu pelajaran olahraga.”
“Tapi kau terdengar sangat percaya diri.”
“Basket itu sama seperti olahraga lainnya. Seorang kakak kelas yang kuhormati pernah mengatakan itu.”
Yah, Sudou tentu saja percaya pada kemampuannya sendiri. Horikita sedang menentukan apakah dia beneran berguna atau cuma banyak bacot saja.
~Bersambung~
Komentar
Posting Komentar