PART 3
Sudou membuka mulutnya dengan sangat lebar seperti seekor buaya, menguap dan mengacak-acak rambutnya yang kusut.
“Maaf aku ketiduran. Aku kelelahan karena aktivitas klub-ku,” katanya, meminta maaf kepada Horikita, seolah merasa bersalah sudah menjadi orang yang menyebalkan.
“Jangan katakan itu padaku,” kata Horikita. Tidak ada tanda-tanda kemajuan dari Sudou dalam melelehkan hatinya.
Ichinose dan teman-temannya, yang dari tadi menunggu Sudou agar kami semua bisa pergi ke kolam renang bersama, sedang berbicara dengan Kushida yang berada di tengah-tengah mereka.
“Hei, Ayanokouji-kun.” kata Horikita kepadaku, mengabaikan Sudou. Sudou, dalam sekejap, memelototiku. “Tidakkah menurutmu ini sedikit aneh?”
“Apanya?”
“Pada saat seperti ini, Ike-kun dan Yamauchi-kun biasanya langsung ceplas-ceplos, kan?”
Sudou menegang saat mendengar Horikita melakukan pengamatan tajam itu. Karena mereka berdiri begitu dekat, Horikita tentu saja akan menyadari sesuatu.
“Apa terjadi sesuatu padamu, Sudou-kun?” tanya Horikita.
“Tidak juga,” gumamnya.
Itu justru membuat Horikita menjadi semakin waspada. Ike dan Yamauchi berjalan bersama-sama, berdampingan, keduanya memasang ekspresi kaku.
“Mau tak mau aku jadi berpikir kalau mereka punya motif tersembunyi,” kata Horikita. Dia memusatkan perhatiannya pada tas yang dipegang Ike. “Meskipun seharusnya mereka tidak bawa apa pun kecuali handuk dan baju renang, tas itu kelihatannya benar-benar berat.”
Tas Ike tampak lebih berat daripada tas anak laki-laki lain, termasuk punyaku.
“Hah, benarkah? Kalau menurutku sih itu biasa saja,” jawab Sudou dengan gugup.
“Iya ya? Lihat saja tasnya,” desak Horikita.
Kecurigaan Horikita ada benarnya. Tas itu berayun dengan kuat ke depan dan ke belakang ketika Ike berjalan, dan itu menekan lengannya.
“Bukankah kalian punya rencana setelah berenang? Mungkin dia membawa barang-barang lain untuk hal itu?” kataku, mendukung Sudou. Sudou meraih garis hidup yang kuberikan padanya.
“Y-Ya. Begitulah.”
“Begitu ya. Kurasa itu benar,” kata Horikita.
Sudah menjadi fakta yang tak terbantahkan bahwa ketiga idiot sagne itu gila wanita. Karena tiba-tiba mereka jadi anteng, tidak heran Horikita merasa khawatir. Ketiganya terlihat sangat gugup, dan itu bukan karena mereka dikelilingi gadis-gadis cantik. Juga bukan karena mereka akan segera melihat gadis-gadis itu dalam balutan baju renang.
Aku memutuskan untuk mengubah topik pembicaraan untuk mempertahankan skema penipuan ini.
“Sudou.”
“A-Apa?”
“Bagaimana kegiatan klubmu? Apa kau mendapatkan poin?”
“Hah? Y-Ya, aku mendapat beberapa karena bermain di turnamen. Menurutku sekitar 3.000 poin lebih,” jawabnya.
Sudou bersikap rendah hati. Horikita terlihat sangat terkesan. “Kamu mendapatkan poin melalui aktivitas pribadi?” tanya Horikita.
“Ya. Tapi ada banyak siswa tahun kedua dan ketiga yang mendapat puluhan ribu poin, jadi aku belum bisa sombong. Kalau bisa meraih banyak prestasi untuk sebuah klub, itu bahkan dapat mempengaruhi poin kelas kita. Aku akan mencoba berusaha lebih keras di semester kedua dan seterusnya,” jawabnya, menyilangkan tangan dan melenturkan tubuhnya dengan penuh kemenangan.
Horikita memberi Sudou rasa hormat mendengar kesuksesannya di bidang yang tidak bisa dia kuasai. “Momen ketika kamu dapat berkontribusi lebih untuk kelas mungkin sudah dekat,” kata Horikita.
Sejujurnya, aku juga berpikiran sama. Jika semuanya berjalan dengan baik, Sudou mungkin bisa menjadi senjata pamungkas bagi kelas. Meskipun begitu, aku masih merasa khawatir. Sudou mudah membuat musuh. Aku perlu memantau Sudou dan Horikita, karena mereka memiliki kecenderungan yang sama.
Kami berjalan ke fasilitas khusus klub renang, yang berdampingan dengan gedung sekolah. Karena itu bukan bagian dari bangunan utama, kami diizinkan masuk tanpa mengenakan seragam kami. Kolam renang itu pastinya akan menjadi tempat yang populer, terutama mengingat ini adalah hari terakhir liburan.
Bahkan sebelum kami sampai di pintu masuk kolam, para siswa sudah memadati tempat itu. Seperti yang diharapkan dari sekolah canggih, setiap angkatan memiliki ruang ganti terpisah. Sangat mudah tersesat di sana, tetapi kami mengikuti petunjuk di papan nama dan berhasil menemukan lokasinya.
“Oke, setelah 20 menit kita kumpul lagi di sini ya,” kata Ichinose, menunjuk ke lorong yang menuju ke kolam renang. Untungnya ada pemimpin seperti dia yang bisa mengorganisir keadaan.
“Hoo… Hoo…” dengus Ike.
Saat gadis-gadis itu berjalan pergi, Ike mulai bernapas dengan keras, seolah terangsang. Dia berjalan lebih cepat, membuatnya menjadi orang pertama yang tiba di ruang ganti. Di dalam, Ike dan Yamauchi segera menuju ke loker, yang terletak paling ujung.
“He-Hei, kalian. Hari ini akan menjadi istimewa. Bukankah kalian merasakannya?!”
“Ya. Kita melangkah lebih jauh dari siapa pun di kelas kita. Lebih jauh daripada siapa pun di seluruh sekolah ini!”
Ike dan Yamauchi menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka. Sudou segera bergerak dan mengunci mereka berdua, satunya dihimpit lengan kirinya dan satunya di tangan kanannya.
“Aduh! Ada apa, Ken?!”
“Kalian bicara terlalu keras! Dengar, aku tahu kalian tidak sabar, tapi kita tidak boleh menarik perhatian,” bisik Sudou.
“Y-Ya, kurasa kau benar. Maaf bro. Aduh!”
Sudou membenturkan dahi mereka sebagai pelajaran. Itu sedikit agresif, tetapi bukan metode yang buruk.
“Kau tenang sekali, Sudou,” kataku.
“Sejujurnya aku tidak berharap terlalu banyak. Selain itu, entahlah, rasanya salah. Ketika aku benar-benar memikirkan hal ini, itu akan membuat Suzune sedih. Aku tidak ingin mereka melihat Suzune tak berdaya, kau tahu? Kalau kau seorang pria, kau harus membuat seorang gadis jatuh hati kepadamu,” jawabnya.
Sudou ada benarnya. Aku ingin Ike dan Yamauchi menyadari hal itu, tetapi untuk saat ini, fokus utama mereka adalah kepuasan seksual. Aku memeriksa ponselku. Aku mendapat pesan dari Karuizawa yang mengatakan kalau dia baru saja memasuki ruang ganti.
“Siapa yang mengirimimu pesan?” tanya Ike, wajahnya merah dan rasa curiga berkilau di matanya. Dia mencoba mengintip ponselku, jadi aku cepat-cepat menjauhkannya.
“Hayo. Itu cewek, bukan?”
“Apa aku terlihat sepopuler itu?” balasku.
“Kurasa kau ada benarnya. Baiklah, yuk ganti baju! Handuk!” teriak Ike.
Jujur aku ingin dia memprotes bahwa aku memang terlihat populer, tetapi aku putuskan untuk melunturkan ekspektasinya. Sudah waktunya untuk melihat bagaimana keberuntungan Ike dan Yamauchi akan bertahan.
~Bersambung~
Komentar
Posting Komentar