-->
Loading...

iklan adsense

Classroom of the Elite VOLUME 4.5 CHAPTER 5 INTRO Bahasa Indonesia

Released on Oktober 27, 2022 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Classroom of the Elite VOLUME 4.5 CHAPTER 5 INTRO Bahasa Indonesia, Streaming Classroom of the Elite VOLUME 4.5 CHAPTER 5 INTRO Bahasa Indonesia, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 4.5 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!
CHAPTER 5
Pertemuan Antar Kelas

INTRO

“Panas sekali.”

Di musim panas ini, sudah berkali-kali aku mengatakan itu. Mau bagaimana lagi, cuacanya benar-benar panas. Bahkan jika aku teriak dengan keras dan itu membuatku semakin kepanasan, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakannya. Memikirkan itu terus tidak akan ada gunanya. Satu-satunya makhluk yang tahan dengan panas terik ini mungkin cuma jangkrik. 

Selain panas, aku terjebak dalam insiden lain yang tidak biasa. Jika orang lain tahu tentang situasi ini, mereka mungkin tidak akan senang denganku sama sekali. Ini adalah masalah yang sangat merepotkan. 

Nah, mari kita mulai dari awal. 

Jalan setapak dengan deretan pepohonan yang tidak jauh dari asrama menuju ke sekolah. Jika kita keluar dari jalur itu, kita akan menemukan tempat istirahat. Di situlah aku berada. Itu merupakan tempat populer untuk nongkrong. Ada beberapa bangku dan mesin penjual, pemandangannya bagus, dan banyak siswa sering mengunjunginya di awal musim semi. 

Cuaca panas membuat tempat ini menjadi spot langka di musim ini. Kini tempatnya benar-benar sepi, itulah kenapa tempat ini sempurna untuk pertemuan rahasia. 

“Maaf membuatmu menunggu.” 

Aku yang sedang duduk di bangku, melihat Karuizawa Kei berjalan ke arahku. Dia menaungi matanya dari sinar matahari yang menyilaukan dengan tangannya dan melihat ke langit. 

“Panas sekali,” gumamnya. Rupanya, kami satu pemikiran. 

Rambut kuncir panjang Karuizawa berayun saat dia duduk di sebelahku. Dia mengenakan pakaian kasual yang sangat biasa: jeans dan kemeja. Meski begitu, pakaiannya tampak cocok dan stylish. Kurasa perempuan memang selalu memprioritaskan penampilan tidak peduli sepanas apa cuacanya, pastinya itu sulit. 

“Aku tahu kalau kau sedang sibuk sekarang. Maaf sudah menyeretmu keluar seperti ini,” kataku.

“Kamu lagi nyindir, ya? Musim panas ini aku cuma banyak main-main. Aku tidak punya poin untuk dibelanjakan, jadi aku cuma nyantai di kamarku.” 

“Apa besok kau punya rencana?” tanyaku. 

“Aku nggak bisa ngapa-gapain kalau gak ada uang. Mungkin aku akan tiduran saja.” Kedengarannya Karuizawa benar-benar memanjakan dirinya di musim panas ini. 

“Kau harus mendapatkan banyak poin bulan depan. Kau tahu sendiri kan, setelah ujian sebelumnya.” 

Selama ujian di kapal pesiar, Karuizawa—yang pernah menjadi VIP—telah bekerja sama denganku. Kami berhasil merahasiakan identitasnya sampai ujian berakhir. Karena itu, Karuizawa akan menerima hadiah sebesar 500.000 poin di bulan September nanti. 

“Ya kukira begitu. Aku sudah pilih pakaian, aksesoris, dan barang-barang yang ingin kubeli. Tapi apa boleh menggunakan semua poin seperti itu? Bukankah sebaiknya disimpan beberapa?” 

“Memangnya kau bisa menahan diri?” tanyaku, sedikit menggodanya. Dia menggembungkan pipinya dan memelototiku. 

“Yah, tidak sesederhana itu. Ketika aku punya poin, semuanya langsung hangus kurang dari seminggu,” gumamnya. 

Karuizawa menghitung semua hal yang dia inginkan dengan jarinya. Dia kehabisan jari dalam waktu singkat. Memangnya berapa banyak barang yang mau dia beli? 

“Aku tahu kalau poin pribadi itu sangat penting. Tapi, sistem sekolah ini benar-benar aneh, bukan? Misalnya, kita bisa dapat poin yang sangat banyak selama ujian khusus. Semua orang juga penasaran tentang itu,” katanya. 

Rupanya, para siswa akhirnya mulai curiga dengan sistem sekolah ini. Kukira itu wajar. Jika kita tiba-tiba menerima uang dalam jumlah besar, secara naluri kita akan mempertanyakan motif sekolah. Kita akan mempertimbangkan kemungkinan bahwa poin pribadi tidak hanya dimaksudkan untuk digunakan pada keinginan pribadi seseorang. 

“Itu benar. Beberapa siswa mungkin ada yang bahkan mendapat 1.000.000 atau 2.000.000 poin,” kataku.

“Ya. Apa benar-benar tidak apa-apa memberi uang sebanyak itu kepada siswa SMA? Itu jelas tidak normal.” 

Poin itu penting bagi kami untuk "bertahan" di sekolah ini, mungkin itulah sebabnya Karuizawa tidak yakin bagaimana cara yang tepat untuk menggunakannya. Contohnya, jika kau membuat kesalahan yang bisa mengakibatkan kau dikeluarkan, kau bisa mengatasi masalah tersebut dengan poin pribadi yang cukup. Dengan menyimpan berjuta-juta poin sebagai asuransi mungkin adalah ide yang cukup bagus. 

“Tidak perlu berlebihan memikirkannya. Melihat terlalu jauh ke depan bisa membuatmu gila. Kalau kau bisa mempertahankan 10% hingga 20% dari poin bulananmu, itu sudah cukup,” kataku. 

Kau harus menjaga keseimbangan antara keinginan dan kebutuhanmu. Bagi Karuizawa, yang selalu menjadi seorang shopaholic, menahan keinginannya itu tentu sulit. Selain itu, jika seseorang yang biasanya boros tiba-tiba menjadi berhemat, siswa di kelas mungkin akan curiga. Aku tidak ingin ada yang mencurigaiku terkait perubahan keadaan Karuizawa ini. Aku masih ingin menghindari perhatian sebanyak mungkin.

“Aku ingin minta bantuanmu,” kataku. 

“Apa?! Kamu nggak mau minta maaf dulu sudah memanggilku ke sini sampai panas-panasan begini?” 

“Mau ini?” Aku memberinya sebotol teh yang belum kuminum. Dia ragu-ragu, lalu dengan enggan menerimanya. 

“Ini sudah agak hangat,” gumamnya. 

“Itu salah cuacanya. Tidak ada yang bisa kulakukan.” 

Beberapa tempat terdekat telah mencatat bahwa suhu mencapai 40°C atau bahkan lebih tinggi. Memikirkan angkanya saja membuatku merasa panas. 

Karuizawa berjuang untuk membuka tutup minumannya. “Hmph. Kurasa aku kurang beruntung.” 

“Kurang beruntung? Tidak mungkin ada orang yang bisa mendapat hadiah dalam bentuk tutup botol teh.” 

“Itu nggak lucu, tahu. Yang kumaksud itu tutup botol ini loh, susah sekali dibuka,” gerutunya. 

Yah, itu lelucon yang garing. Aku mengulurkan tanganku, mengambil minuman itu, memutar tutupnya, dan mengembalikannya padanya. 

“Makasih.”

Setelah apa yang terjadi di kapal, jarak antara Karuizawa dan aku semakin berkurang. Sebelum liburan musim panas, tidak mungkin bagi kami untuk bercakap-cakap seperti ini. Dia mungkin masih tidak mempercayaiku, tapi saat ini dia tidak menunjukkan tanda-tanda itu.

Karuizawa benar-benar memahami pengendalian diri. Untuk melindungi dirinya dan statusnya, dia bisa beradaptasi di lingkungan manapun. 

“Besok adalah hari terakhir liburan musim panas. Salah satu temanku mengajakku untuk membuat sebuah kenangan musim panas yang menyenangkan.” 

“Apa maksudmu, kenangan musim panas? Kita tidak punya acara kembang api atau festival atau semacamnya di sekolah ini, bukan?” tanya Karuizawa. 

“Sekolah ini punya kolam yang besar, kan? Biasanya disediakan untuk klub renang. Apa kau tahu kalau pembatasan itu dicabut untuk hari ini?” 

Kolam itu bahkan lebih besar dari yang kami gunakan selama pelajaran renang. Untuk tiga hari terakhir liburan musim panas, itu terbuka untuk penggunaan bersama. Ketika kerumunan besar siswa membanjiri kolam pada hari pertama, sekolah menetapkan aturan pembatasan tambahan. Siswa hanya bisa menggunakan kolam sekali selama tiga hari terakhir itu. Ternyata, hari kedua juga sangat ramai. 

“Ah. Kalau dipikir-pikir setelah kamu mengatakannya, aku tidak begitu tertarik untuk berenang,” gumam Karuizawa. 

Dia selalu melewatkan pelajaran renang dengan mengatakan bahwa dia tidak enak badan. Bahkan meskipun sulit untuk absen dari kelas karena sistem poin, sekolah tidak bisa benar-benar mempertanyakan kondisi fisik siswa yang buruk, terutama masalah khusus wanita. Ada gadis selain Karuizawa yang menolak untuk berpartisipasi, mungkin karena berbagai alasan. Mereka mungkin sakit, tidak ingin orang lain tahu bahwa mereka tidak bisa berenang dengan baik, atau bahkan benci berenang. Mungkin mereka tidak ingin mengumbar tubuh mereka di sekitar anak laki-laki. Dan seterusnya. 

Namun, keadaan Karuizawa berbeda. Belum lama berselang, Karuizawa telah dibully dengan kejam oleh teman-teman sekelasnya. Akibatnya, dia memiliki bekas luka yang mengerikan di perutnya, luka yang membuatnya sakit sampai hari ini. Jika seseorang melihatnya, itu pasti akan menimbulkan kegemparan. 

“Apa kau suka berenang?” aku bertanya padanya. 

“Hmm. Yah, aku tidak membencinya, sih. Aku belum pernah berenang lagi selama bertahun-tahun, jadi aku mungkin sudah lupa caranya.” Karuizawa meminum tehnya dan menatap ke depan saat dia menjawab. Aku tahu bukan itu yang sebenarnya dia rasakan. “Jadi, apa, teman-teman ingin membuat kenangan di kolam renang? Kalau kamu sih pasti cuma memikirkan hal-hal cabul.”

Aku tidak bisa menyangkal itu. Mungkin persis seperti itulah pemikiran mereka. 

“Jadi, apa hubungannya ini denganku?” tanya Karuizawa. 

“Sebelum aku menjawab itu, izinkan aku menanyakan satu hal. Apa sekolah ini benar-benar tidak tahu kalau kau dulu pernah dibully?” 

“Hah?” 

Karuizawa tampak bingung sejenak, lalu berbalik menatapku. Sikapnya yang tenang telah hilang. Aku membalas tatapannya. 

“Kamu tahu aku tidak ingin membicarakan itu, kan?” dia menggeram. 

“Aku tidak membuka kembali luka lama tanpa alasan. Aku bertanya karena itu relevan,” jawabku. 

“Tapi…” Ini pasti menjadi topik serius bagi Karuizawa. Dia sepertinya sudah membuat keputusan. “Baiklah. Aku yakin kamu pasti punya alasan untuk ini.” 

Dia mencoba menelan kecemasannya. 

“Aku benar-benar tidak berpikir kalau sekolah tahu kebenaran tentangku yang dibully. Mereka mungkin tahu tentang aku yang alfa dari sekolah, atau berapa hari absen yang kuambil selama SMP, tapi mereka mungkin berpikir itu karena aku sedang sakit atau bolos dari kelas. Atau mereka mungkin menganggapku bodoh. Mungkin itu sebabnya mereka menempatkanku di Kelas D.” 

Karuizawa terdengar mencela diri sendiri, tapi sepertinya dia benar. Sekolah ini pasti memiliki kesan buruk tentang catatan kehadirannya dan rendahnya nilai pelajarannya. Pembullyan itu menjelaskan sikap kesombongannya saat ini. 

“Bahkan jika sekolah menyelidiki masalah ini, mereka mungkin tidak akan menemukan bukti dari pembullyan itu,” tambahnya. 

“Kau menyadari kalau dunia ini sangat busuk, bukan?”

“Ya,” gumam Karuizawa. “Aku menderita selama bertahun-tahun. Aku bertanya pada guru dan teman sekelas untuk membantu, tapi itu hanya memperburuk keadaan. Mustahil untuk melarikan diri.” 

Sifat manusia cenderung kuat untuk jatuh ke dalam lingkaran setan. Bullying sangat mengakar dalam jiwa manusia. Orang mungkin tidak suka terlalu dekat menghadapi kebenaran itu, tetapi mereka harus menyadari betapa berbahayanya masalah itu. Tidak ada solusi sederhana untuk kasus bullying. Jika korban menyerang balik, itu mungkin hanya akan membuat mereka diserang lebih ganas lagi di lain waktu. "Kenapa kau mengadu? Apa yang kau rencanakan?" para pembully akan mengancam dan semakin agresif meningkatkan serangan mereka.

“Tidak peduli seberapa sering mereka memukuliku, sekolah cuma mengabaikannya, dan tidak melakukan apa-apa. Mereka hanya memberi peringatan ringan kepada para pembully. Tentu saja, itu jadi semakin memburuk.” 

Bahkan jika sekolah menemukan adanya pembullyan, mereka biasanya tidak ingin mengambil risiko dan mengurusnya secara diam-diam, agar tidak merusak reputasi mereka. Ada sekolah yang dengan keras kepala menolak untuk mengakui kebenaran bahkan setelah ada siswanya yang sampai bunuh diri akibat bullying, dengan meninggalkan catatan. 

Lebih buruk lagi, kematian mungkin tidak menyelesaikan segalanya. Siswa yang dibully mungkin masih dihina bahkan setelah mereka mati. Orang bisa mengejek mereka, atau menceritakan masa lalu mereka di media sosial sebagai lelucon. Sungguh era yang menakutkan, meskipun sudah mati tapi kau masih tetap dibully.

“Sekolah, orang-orang yang menindasku, bahkan diriku sendiri… tidak ada yang mengakui kebenaran. Teman-temanku pun melontarkan kebohongan yang sama. Itu satu-satunya cara mereka menjawab, tidak peduli betapa tidak adilnya itu.” 

Karuizawa berbicara hampir seolah-olah dia sedang membicarakan orang lain. Baginya, masa lalu tidak bisa diubah. Tidak aneh jika seseorang menangis, melihat kembali masa lalu yang menyakitkan, tetapi matanya hanya melihat ke depan. 

Bisa jadi, sekolah ini mungkin telah menyelidiki kasusnya secara menyeluruh. Mereka telah menyimpulkan bahwa dia adalah orang bebal, tidak menganggap serius sekolah, dan sering bolos? Jika semua orang percaya bahwa itu benar, maka kebenaran yang sebenarnya tidak akan menjadi masalah. Itu akan terkubur selamanya di bawah semua kebohongan. 

“Tapi aku berterima kasih kepada orang-orang yang menindasku, dan sekolah yang menutupinya,” tambah Karuizawa. “Tidak ada seorang pun di sini yang tahu tentang masa laluku. Itulah kenapa aku bisa menjadi diriku yang baru. Aku tidak bisa melakukan itu jika semua orang di sini telah mendengar tentang pembullyan itu.” 

Dia telah mengubah situasinya dengan mendapatkan dukungan dan perlindungan yang luar biasa dari Hirata yang populer. 

“Karuizawa, kupikir kau pantas dipuji, tapi aku harus memberitahumu sesuatu terlebih dahulu. Mulai sekarang, kau dilarang melakukan apa pun yang mendukung pembullyan ke siswa lainnya.”

“Hah? Apa kamu mau bilang kalau aku membully seseorang?” 

“Bersikap keras kepala itu boleh-boleh saja, tapi kau berlebihan membully Sakura. Dia jelas bukan tipe gadis yang akan menggertakmu. Bahkan jika kau melakukannya untuk mencegah dirimu menjadi korban, hentikan itu.” Terlepas dari penderitaan Karuizawa di masa lalu, ada hal-hal yang tidak bisa kutoleransi. 

“Sakura-san, ya? Kamu ingin aku membantunya karena dia sangat dekat denganmu?”

“Apa aku perlu alasan? Kau harusnya mengerti bagaimana rasanya dibully.” 

“Status sosialku adalah garis hidupku. Itu bukan sesuatu yang bisa kubuang begitu saja. Aku merasa kasihan pada Sakura-san, tapi yang lemah ada sebagai mangsa bagi yang kuat. Terutama mereka yang berpura-pura kuat, sepertiku.” tegasnya. 

“Aku meminta ini demi Sakura. Lagipula, dia sudah membantuku beberapa kali.” 

“Hmph. Kamu beneran mengakuinya ya,” dengus Karuizawa. Tidak ada ketidaksenangan ataupun ketidakpuasan di matanya. Hanya kewaspadaan. “Kamu tidak meyakinkan, tapi… baiklah. Aku akan berhati-hati mulai sekarang. Oke?” 

“Keputusanmu itu akan sangat membantu. Selain itu, Hirata sudah mengamankan popularitasmu saat ini. Seharusnya kau tidak akan berada dalam bahaya apa pun.” 

“Kurasa kamu benar. Mungkin aku sedikit berlebihan,” Karuizawa menjawab dengan lembut. Selama dia bisa melihat dirinya sendiri secara objektif, kami akan baik-baik saja. “Tapi, jika posisiku nantinya dalam bahaya, maka—”

“Ketika itu terjadi, aku akan mendukungmu. Jika perlu, aku akan membawa Hirata dan bahkan Chabashira-sensei untuk melenyapkan musuhmu. Aku janji.” 

“Hmm. Baiklah kalau begitu. Sepakat.” 

Karuizawa tidak pernah menganggapku sebagai tipe orang yang akan melakukan kekerasan ataupun intimidasi. Dia bisa berpura-pura sesukanya, tapi dia hanya memainkan peran itu untuk melindungi dirinya sendiri. Orang-orang yang telah dibully selama bertahun-tahun biasanya tidak dapat bersosialisasi dengan mudah, tetapi dia memiliki hati yang kuat, dan mampu mengatasi trauma itu. Ketika dia tidak menyerah pada ancamanku, aku menjadi yakin.

“Kenapa ya?” dia bergumam. 

“Apanya?” 

“Hanya saja aku tidak terlalu suka mengungkit-ungkit masa laluku. Kupikir aku tidak akan pernah memberitahu siapa pun tentang hal itu. Tapi akhirnya aku memberitahumu, dan lebih anehnya lagi rasanya baik-baik saja, kau tahu?” 

Rupanya bahkan Karuizawa tidak tahu mengapa dia memberitahuku tentang bullying tersebut. Aku juga tidak yakin apa alasannya. 

“Bisakah aku bertanya sesuatu? Apa caramu bertindak sekarang adalah dirimu yang sebenarnya?” Dia terdengar agak waspada. Karuizawa adalah satu-satunya orang di kelas kami yang telah melihat kedua sisiku. Aku menyilangkan tanganku dan memeras otakku untuk mencari tahu bagaimana cara menanggapinya. 

“Kurasa, aku selalu seperti ini.” 

“Tapi kamu benar-benar berbeda, tahu.”  

Yah, sebenarnya, ini bukan diriku yang sebenarnya. Namun, itu tidak sama dengan memalsukan kepribadian. 

“Aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Secara spesifik, bagaimana pendapatmu tentang perbedaan antara aku yang sekarang, dan aku yang biasanya?” 

“Biasanya, kamu itu cowok yang suram. Kamu tidak bicara sama sekali. Tapi sekarang, kamu tegas. Kamu berterus terang. Sifat-sifat itu bertolak belakang. Cara bicaramu juga berbeda. Kamu ini kenapa, sih?” 

“Apa maksudmu? Bukankah orang cenderung bertindak berbeda tergantung dengan siapa mereka bicara? Bukankah kau juga melakukan hal yang sama?” 

Itu mungkin bantahan terbaik yang bisa kukatakan, meskipun itu tidak tepat. Yang benar adalah rasanya aku baru saja dilahirkan sebagai individu. Ketika aku mendaftar di sekolah ini, aku belum sepenuhnya terbentuk. Aku seperti cairan, atau tanah liat yang dapat dibentuk. Berkembang menjadi manusia seutuhnya itu membutuhkan waktu, dan aku belum benar-benar memahami bagaimana caranya berinteraksi, atau cara yang benar untuk mengekspresikan diri. 

“Ngomong-ngomong, aku berencana untuk menjadi diriku yang biasanya,” kataku. 

“Kamu sama sekali tidak terdengar seperti dirimu yang biasanya,” jawab Karuizawa. Dia menyipitkan matanya dan mengerucutkan bibirnya. 

“Sebaiknya kita kembali ke topik sebelumnya. Kau dapat mengawasiku dari sekarang, dan tentukan orang seperti apa aku ini.”

“Aku agak merasa kalau kamu sengaja menghindari pertanyaan itu. Yah, terserahlah. Kembali lagi ke topik tentang sekolah. Memangnya ada apa?” 

“Besok, kami berempat—aku, Ike, Yamauchi, dan Sudou—berencana untuk pergi bersama, dengan Horikita, Sakura, dan juga Kushida.” 

“Itu kombinasi yang aneh. Aku tidak bisa membayangkan Horikita-san dan Sakura-san bergaul dengan orang-orang itu. Mereka berdua bisa ramah denganmu, tapi tiga cowok lainnya pasti cuma bisa melirik mereka, kan? Kasihan sekali mereka.” 

Benar. Gadis-gadis biasanya tidak akan mau pergi dengan kami jika kami mengajak mereka. Aku mengerti mengapa Karuizawa merasakan hal itu. 

“Aku ingin kau ikut dengan kami,” kataku. 

“Hah?! Kamu serius?!” teriak Karuizawa. 

Dia tidak memiliki koneksi ke grup ini. Yang ada, hanyalah ketegangan antara dia dan mereka. 

“Kau bisa pakai baju renangmu dari asrama, terus tutupi dengan pakaianmu di atasnya, selesai. Ini mungkin tidak menyenangkan, tapi kalau kau kembali ke asrama dengan pakaian yang sama, semuanya pasti baik-baik saja,” kataku. 

“Nggak nggak. Bukan itu masalahnya. Aku benar-benar tidak ingin melakukan ini.” 

“Aku paham perasaanmu, tapi kau harus ingat kalau kau tidak bisa menolak, kan?” 

“Uwahh. Kamu ini memang kejam.” 

“Keputusanku sudah final. Kau akan melakukan seperti yang diinstruksikan.” Aku mendorong catatan tulisan tangan ke arahnya, lalu menambahkan, “Aku sudah menunjukkan beberapa pertimbangan.” 

“Apa-apaan? Kamu malah menghabiskan seluruh waktu liburanku, ya? Dan lagi ini hari terakhir musim panas tahu!” 

“Kau bilang kau cuma akan menghabiskan liburanmu dengan tidur di kamar, kan?” balasku. “Aku ingin kau ikut dengan kami ke kolam renang. Tapi aku tidak menyuruhmu untuk berpartisipasi.” 

Karuizawa membaca catatanku dengan seksama. 

“Tunggu, memang apa bedanya 'ikut' dengan 'berpartisipasi'?” tanya Karuizawa. 

Aku menjelaskan secara rinci mengapa aku memanggilnya. Karuizawa mendengarkanku, lalu menenggelamkan kepalanya di tangannya.

“Ada apa?” aku bertanya padanya. “Sakit kepala?” 

“Tentu saja kepalaku sakit! Sakit karena kamu… Tidak, lupakan saja. Percuma. Kenapa tidak minta tolong Horikita-san saja sih? Bukankah kalian dekat?” 

“Aku tidak bisa mengandalkannya. Dia tidak tahu kalau aku beroperasi dari balik layar.” 

“Hah? Kenapa?” Karuizawa terdengar tidak percaya. Ketidakpercayaannya sudah kuperkirakan, tetapi meyakinkannya tentu akan sulit. Dengan tindakan yang benar sesuai rencana, aku pasti bisa menghindari pertanyaannya dan menyesatkannya, tetapi sebaliknya, aku memutuskan untuk menggerakkan semuanya selangkah lebih maju. 

“Selama ini, bahkan saat aku menghubungimu di kapal, aku sudah bertindak sepenuhnya sendiri. Aku belum membicarakan hal ini dengan Horikita, karena aku masih tidak bisa mempercayainya.” Itu semua benar; aku tidak berbohong. 

“Apa? Kamu tidak mempercayainya, bahkan setelah semua waktu yang kalian habiskan bersama? Itu aneh.” 

“Dia menjadi penutup yang bagus untukku, seperti jubah ajaib tembus pandang. Dia mencolok,” jawabku. 

“Jadi, kamu cuma menggunakan dia?” 

“Tidak juga, tapi dalam situasi khusus ini, bisa dibilang begitu.” 

“Hmm? Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan. Serius, nggak usah berbelit-belit juga kali.” Karuizawa memberiku senyuman. “Tetap saja, skemamu sudah berhasil sejauh ini, ya? Aku benar-benar berpikir kalau Horikita-san adalah dalangnya. Serius, kamu ini siapa sih?” 

Baginya, keberadaanku diselimuti misteri. Aku tidak menanggapi. 

“Yah, terserah. Kurasa menjadi lebih bisa dipercaya daripada Horikita-san adalah hal yang baik,” tambahnya. 

Itu benar. Karuizawa jauh lebih unggul dari Horikita dalam beberapa hal, meskipun aku tidak bisa menjelaskan itu padanya. 

“Jadi, aku hanya perlu menjalankan perintahmu kan?” dia bertanya. 

“Ya. Sekarang setelah semuanya oke, maukah kau ikut denganku sebentar? Kita perlu mengurus sesuatu terlebih dahulu.” 

“Yah, aku tidak punya hak untuk menolak.” Karuizawa berdiri dan menyapu kotoran dari celananya, menunjukkan betapa cepatnya dia ingin mengakhiri ini. Aku sendiri juga tidak ingin membuang waktu yang berharga. Bersama-sama, kami berjalan menuju kolam renang.

~Bersambung~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢