PART 3
Waktu pertemuan kami adalah pukul 4 sore. Aku datang 10 menit lebih awal dan melihat Sakura sudah menunggu, dengan ekspresi sedih dan rumit terlihat di wajahnya. Dia mungkin tidak bisa tenang, karena ekspresinya terus berganti. Dia tampak kecewa, lalu gugup, lalu khawatir. Aku ingin tahu apa yang dia pikirkan.
“Apa aku membuatmu menunggu?” tanyaku.
“Oh!”
Sakura mendekatiku dengan ragu. Kuharap aku bisa meringankan bebannya meskipun sedikit.
“Terima kasih sudah datang ke sini, Ayanokouji-kun.”
“Hm, tidak masalah. Jadi, ada apa?”
“Eng, ini tentang surat yang kamu berikan padaku kemarin.”
“Apa ada yang terjadi?”
Mungkin Sakura masih ragu untuk membicarakannya. Dia sepertinya tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Ketika aku baru saja akan memberitahunya untuk tidak menahan diri, aku melihat beberapa siswa berjalan melewati kami. Mereka pasti sedang melakukan kegiatan klub, karena mereka mengenakan kaus.
“Maaf. Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar?” tanyaku pada Sakura.
“Hah? Oh, baiklah,” jawabnya.
Tidak bagus jika membiarkan seseorang melihat kami di situ. Kami menuju tempat yang ditumbuhi pepohonan di belakang gedung sekolah. Ini adalah tempat tersembunyi di mana kebanyakan orang tidak akan lewat, lokasi ini kelihatannya terawat dengan baik.
Akan sangat merepotkan jika Yamauchi datang lebih awal dan melihat kami di sini, jadi aku tahu kalau kami harus menyelesaikan semuanya dengan cepat. Sakura memiringkannya kepala, mengulurkan tangan kanannya, dan melihat ke arah langit.
“Apa yang—”
Setetes air mendarat di pipiku. Itu bukan berasal dari penyemprot, melainkan—
“Hujan,” kata Sakura.
Langitnya cerah beberapa saat yang lalu, tapi sekarang, turun hujan. Mungkin akan segera berlalu, tetapi hujannya turun sangat deras. Pakaian kami jadi basah kuyup dalam hitungan menit.
“Ayo berteduh!” aku berteriak.
Sakura mengangguk. Aku membawanya kembali ke tempat kami datang tadi, dan kami berteduh di belakang gedung sekolah. Kami hanya terkena hujan sebentar, tapi karena saking derasnya, pakaian Sakura jadi basah. Bahkan rambutnya jadi lepek.
“Duh, sial banget. Kau tidak apa-apa, Sakura?”
“A-Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu, Ayanokouji-kun?”
“Aku baik-baik saja.”
Aku sedikit menghela nafas saat aku melihat hujan, yang turun semakin deras. Timingnya sangat buruk.
“Nih, kamu bisa pakai ini.” Sakura dengan patuh menyerahkan saputangan kepadaku. Itu saputangan yang sama yang pernah kupinjam waktu di pulau itu.
“Aku baik-baik saja. Kau saja yang pakai. Nanti kau masuk angin,” jawabku.
Aku tidak bisa mengeringkan diriku ketika ada seorang gadis yang sedang basah kuyup. Walaupun demikian, Sakura berdiri jinjit dan menyeka sisa air dari rambutku. Aroma tubuhnya, yang terbawa oleh hujan, menggelitik hidungku.
“Aku ini cukup tangguh, tahu,” katanya. Dia mengelap air dari wajahku, lalu pipi dan kemudian leherku.
“…………”
Aku melihat ke arah Sakura, yang berdiri di sampingku dalam diam. Sekarang aku mengerti apa yang sebenarnya Yamauchi inginkan. Hujan turun tiba-tiba. Kami berdua panik, berteduh di bawah atap. Lebih romantis lagi jika Sakura dan aku mengenakan seragam sekolah, daripada pakaian biasa, karena sekarang adalah pertengahan liburan musim panas.
Tidak ada yang disembunyikan satu sama lain. Kami akan ngobrol sampai kami kehabisan topik untuk dibicarakan. Kemudian, mata kami saling bertemu. Kami bisa mendengar hembusan napas lawan bicara. Itu adalah skenario yang diimpikan oleh anak laki-laki. Untuk beberapa alasan, aku bisa membayangkannya dengan sangat jelas. Mungkin yang diinginkan Yamauchi adalah situasi seperti ini.
“Hujannya masih lama nggak ya?”
“Menurut perkiraan cuaca di ponselku, Sepertinya hujan ini cuma lewat. Sebentar lagi pasti reda,” kataku padanya.
“Begitu ya.”
“Maaf. Sudah membuatmu basah kuyup, padahal ada sesuatu yang penting yang harus kau lakukan setelah ini,” kataku.
“Oh tidak, tidak apa-apa. Lagian itu tidak terlalu penting,” jawab Sakura.
Dengan kata lain, itu berarti…
“Aku… aku ingin tahu apa yang harus kulakukan…” lanjutnya.
“Jawab saja menurut perasaanmu. Kau bisa menerima Yamauchi, ataupun menolak dia, atau kau bisa mulai dengan berteman,” kataku. Apa yang dia inginkan terserah padanya, bukan aku. “Tentu saja, kau juga bisa menunda jawabannya. Dan kalau itu terlalu memalukan, biar aku saja yang memberitahu Yamauchi.”
Yamauchi tidak menginginkan itu, tapi jika Sakura memintanya, aku akan melakukannya.
“Tidak, aku akan melakukannya. Harus kulakukan sendiri,” jawabnya.
“Kurasa begitu, demi Yamauchi.”
“Ya. Aku tahu. Aku akan menolaknya.”
“Begitu ya.” aku sudah menduganya. Penting baginya untuk memberitahukannya sendiri.
“Hanya saja… Yah, kurasa aku tidak memenuhi syarat untuk menolak seseorang. Menurutku mungkin saja aku ini lancang, tapi…tapi…”
Entah kenapa, Sakura tampak diliputi rasa bersalah.
“Tidak ada yang perlu kau sesali. Ketika kau pergi ke sana, salah satu pihak akan hancur. Menolak seseorang karena kau tidak merasakan hal yang sama itu bukanlah hal yang aneh. Dalam situasi ini, tidak ada yang namanya tidak memenuhi syarat.” aku mengatakannya dengan tegas, karena aku tidak ingin dia salah paham.
Hujan masih turun dengan deras. Kupikir sebentar lagi reda, tapi tidak ada yang tahu kapan Yamauchi akan muncul.
“Kurasa, sebaiknya aku kembali sekarang,” kataku.
“Ja-Jangan! Kalau kamu tidak di sini, Ayanokouji-kun, aku tidak akan bisa mengatakan apa pun. Jadi, kumohon…”
Sakura mencengkram lengan bajuku dengan erat.
“Kumohon jangan tinggalkan aku sendiri,” pintanya.
“Kalau itu maumu,” jawabku. Lagipula, Sakura telah banyak membantuku sebelumnya. Aku memutuskan kalau aku harus membalas budi.
Sekitar 15 menit kemudian, Yamauchi datang, ekspresinya jauh lebih kaku dari yang pernah kulihat.
“Ke-Kenapa kau ada di sini, Ayanokouji?” tanyanya.
“Maaf. Sakura bilang dia tidak berani bicara denganmu sendirian, jadi dia memintaku untuk datang kesini. Jangan pedulikan aku.”
Aku yakin Yamauchi tidak merasa nyaman karena ada aku di sana. Namun, dia tidak punya pilihan selain menghadapinya. Dia tampak curiga, tapi kemudian, dia memusatkan perhatiannya pada Sakura.
“Ma-Maaf membuatmu menunggu. Jadi, apa kamu sudah baca suratku?”
“Ya. Eng. Kumohon, izinkan aku menanyakan satu hal padamu.”
“Tentu, tanyakan saja.”
Sakura menggenggam roknya dan berbicara seolah-olah dia sedang meremas suaranya keluar dari tenggorokannya. “Ke-Kenapa kamu suka… aku? Padahal masih banyak perempuan yang lebih cantik dariku.”
“Aku menyukaimu, Sakura!” teriak Yamauchi. Sakura tersentak mendengar itu. “Ma-Maaf. Aku tidak bermaksud berteriak. Ja-Jadi, apa jawabanmu?”
Sambil mendengarkan, aku bisa melihat sejumlah cara potensial untuk menangani situasi ini. Tapi Yamauchi sangat gugup, seolah jantungnya akan melompat dari dadanya, pikirannya tidak dapat menemukan solusi apapun, apalagi memilih pilihan terbaik.
“Aku ... aku minta maaf!” jawab Sakura, membungkuk dalam-dalam, matanya sedikit merah. Jawaban canggung untuk pengakuan yang canggung. Percikan harapan terakhir Yamauchi hancur menjadi debu dan diterbangkan angin.
“Aku, hanya saja, y-yah, aku tidak bisa, em, membalas perasaanmu,” tambah Sakura. Dia pasti membutuhkan banyak keberanian untuk mengeluarkan kata-kata itu. Aku sedang menyaksikan kisah romansa untuk pertama kalinya, meskipun dari jarak dekat yang tidak nyaman. Yamauchi mungkin juga tidak ingin ditolak di depan pihak ketiga.
“Begitu ya,” jawab Yamauchi.
Kedengarannya dia mati-matian mencoba mencerna apa yang telah terjadi. Suaranya bergetar, sama seperti Sakura. Aku tidak dalam situasi untuk menertawakannya.
“Terima kasih, Sakura. Sudah jauh-jauh datang ke sini, um, dan memberitahuku secara langsung,” tambahnya.
“Sa-Sampai jumpa!” Sakura, tidak lagi mampu menghadapi situasinya, membungkuk dan melarikan diri.
“Ah,” desah Yamauchi.
Dia mengulurkan lengannya dengan lemah, seolah mencoba menangkap Sakura yang pergi menjauh. Aku tidak bisa melakukan apa-apa selain berdiri di sana dengan tenang, menonton secara langsung kejadian romansa untuk pertama kalinya yang berakhir tragis. Yamauchi menahan rasa frustrasi dalam diam selama beberapa menit, tetapi akhirnya, dia mengangkat kepalanya dan menatapku. Mungkin dia akan meneriakiku, mengolok-olokku, hanya karena aku ada di sana dan mengganggu? Melampiaskan amarahnya padaku?
“Ha-Hadeh, memalukan sekali. Ditolak oleh seorang gadis di depan temanmu. Mukaku rasanya seperti terbakar.” Yamauchi menghela nafas, tidak menyalahkanku sama sekali. Aku masih melihat keterkejutan atas penolakan di wajahnya, tapi bukan itu saja. “Wah. Ini seperti ... Bagaimana bilangnya, ya? Aku jadi merasa agak lega, tahu?”
Yamauchi terdengar lebih ceria sekarang.
“Aku benar-benar idiot. Aku cuma membuat Sakura kerepotan. Dia berusaha agar tidak menyakitiku, laki-laki yang tidak dia sukai. Aku merasa sangat bersalah. Maksudku, aku bebas untuk menyukainya, tapi sekarang aku mengerti kalau menyampaikan perasaanmu kepada seseorang itu tanggung jawabnya besar.”
Aku menyadari bahwa pakaian Yamauchi basah. Jelas, sebelumnya dia cuma mengamati dari jauh dan sekarang dia harus berhadapan langsung dengan Sakura. Mungkin dia terus merenungkan pengakuan itu sampai gugup.
“Kau tidak sesedih yang kukira,” kataku.
“Yah, ini mengejutkan, tapi tidak terlalu buruk. Sakura itu imut, dan aku ingin dia jadi pacarku. Tapi yang kulihat cuma wajah dan tubuhnya, tahu? Itu hal yang wajar. Kupikir, rasanya seperti, aku tidak benar-benar mencintainya. Kalau aku benar-benar menyukainya, aku akan merasa lebih buruk ketika dia menolakku.”
Aku tidak berani mengatakan apa-apa. Aku hanya mendengarkan dengan tenang.
“Makanya aku ingin move on. Aku akan menemukan seorang gadis yang sangat kucintai.” Rupanya, Yamauchi jadi sedikit dewasa setelah Sakura menolaknya. Dalam catatan waktu juga. “Terima kasih ya, Ayanokouji. Maaf sudah melibatkanmu dalam situasi yang sangat aneh.”
“Tidak apa-apa, lagian… kita kan teman,” jawabku.
“Nih, kupinjamkan ini padamu. Kau bilang ingin pinjam ponsel, bukan?”
“Bukankah kau bilang itu tergantung kalau pengakuanmu berhasil?”
“Untuk kali ini saja. Tapi kau lebih baik segera mengembalikannya,” tambahnya.
Dengan itu, Yamauchi lari mengejar Sakura. Saat itulah aku melihat sinar matahari yang menyinari melalui celah-celah di antara awan-awan hujan.
~Bersambung~
Komentar
Posting Komentar