PART 1
Butuh waktu kurang dari setengah jam bagiku untuk menghubungi Sakura. Bagaimana reaksinya terhadap ajakan Kushida, aku penasaran? Dia mungkin merasa kebingungan. Aku, di sisi lain, bersiaga di tempat yang telah disepakati, menunggu Sakura datang.
Ponselku bergetar di sakuku. Aku menjawabnya.
“Halo?”
“Ba-Bagaimana? Apa Sakura sudah datang?” tanya Yamauchi.
“Belum. Dia mungkin tidak akan muncul sampai sekitar 10 menit lagi, kan?”
“Be-Begitu ya. Sial, aku sangat gugup!”
Yamauchi melambai dari tempatnya berdiri, agak jauh. Bahkan meskipun dia tidak ingin terlihat, dia mungkin penasaran, dan datang lebih dekat untuk melihat.
“Hei, Yamauchi. Haruskah aku yang menyerahkan surat ini untukmu? Kupikir sebaiknya kau sendiri saja yang menyerahkannya ke Sakura.”
“I-Itu mustahil. Setiap kali aku merasa benar-benar gugup, tanganku gemetaran. Aku sudah merasakan trauma itu sejak aku masih kecil.”
Kebanyakan orang memang terguncang di bawah tekanan yang ekstrem, sih.
“Aku mengerti kalau kau tidak ingin mengacaukannya, tapi pikirkanlah. Apakah surat cinta yang tidak langsung ini benar-benar memiliki arti?”
“Kau tahu ketika seorang gadis imut memintamu untuk bertemu dengannya sepulang sekolah, tapi ketika kau menemuinya, seorang gadis yang sama sekali berbeda dari yang kau harapkan muncul, dan gadis yang tidak menarik ini menyatakan perasaannya padamu? Rencana ini seperti kebalikannya. Aku meminta Kushida-chan untuk tidak memberitahu Sakura kalau akulah yang memintanya untuk bertemu. Dengan kata lain, ketika Sakura menyadari kalau kau yang sedang menunggunya, dia akan kecewa. Tapi begitu dia tahu kalau akulah orangnya, kesempatanku akan jauh lebih baik ketika dia membandingkan kita, tahu? Jadi, ketika kau menyerahkan surat itu, jangan pernah sebut namaku. Lebih baik jika Sakura menganggap kalau kau yang menembaknya,” katanya.
Yamauchi tampaknya tidak peduli kalau dia benar-benar menghinaku. Aku tidak punya ruang untuk mengkritik tujuannya, tetapi dia benar-benar perlu mempertimbangkan perasaan Sakura.
“Dengar, aku cuma berpikir kalau mendapatkan pengakuan cinta dari seseorang yang tidak bisa kau lihat itu rasanya menakutkan,” jawabku.
“I-Itu—”
Aku ingin membuatnya berubah pikiran. Dengan pengakuan cinta, kau memiliki satu tembakan. Kupikir bahkan Yamauchi seharusnya tidak melakukannya dengan cara ini karena mungkin akan meninggalkan penyesalan nantinya.
“Masih ada waktu. Kupikir kau harus mempertimbangkannya kembali. Itu sebabnya kau menulis surat ini, kan?”
“Ya, kurasa begitu, tapi... ugh, haruskah aku menembak Sakura secara langsung?” akhirnya, kesimpulan yang tepat tampaknya telah terbentuk di dalam kepala Yamauchi.
“Ayanokouji-kun?” tepat setelah itu, aku mendengar suara langkah kaki yang samar, dan sebuah suara memanggilku.
“Itu Sakura! Aku serahkan sisanya padamu!” bisik Yamauchi. Panik, dia menutup teleponnya.
Yah, mungkin tidak ada lagi yang bisa kulakukan saat ini. Yang tersisa adalah menyerahkan surat Yamauchi.
“Ini kebetulan, kan?” tanya Sakura.
“Kushida memanggilmu ke sini, kan?”
“Y-Ya. Dia bilang kalau dia perlu membicarakan sesuatu denganku. Dia bilang itu penting,” jawab Sakura lemah lembut. Dia melihat sekeliling, tapi tentu saja, dia tidak bisa melihat siapa pun kecuali aku.
“Sejujurnya, aku minta bantuan Kushida. Aku yang menyuruhnya memanggilmu kesini,” kataku. Nyatanya, itu tidak benar, tapi aku tidak bisa membiarkan Sakura kebingungan.
“Kamu, Ayanokouji-kun? Be-Begitu ya. Itu melegakan. Biasanya aku tidak pernah ngobrol dengan Kushida-san, jadi aku sempat khawatir kalau aku mungkin melakukan sesuatu yang membuatnya marah.” Sakura meletakkan tangannya di dadanya dan menghela nafas lega. Dia tidak lagi terlihat cemas. Aku memutuskan untuk to the point.
“Meski begitu, kau datang cukup awal. Masih sekitar setengah jam sebelum waktu pertemuannya,” kataku.
“Aku merasa cemas, jadi aku datang lebih awal.” Sakura masih terlihat bingung. “Tapi bagaimanapun juga ternyata itu kamu, Ayanokouji-kun. Aku benar-benar lega.”
Ketika dia menepuk dadanya, ekspresinya menjadi lebih tenang.
“Tapi kenapa minta bantuan Kushida-san, Ayanokouji-kun? Kalau kamu ada perlu, kamu bisa tanya langsung padaku, kok.”
“Oh, em. Tentang itu. Ini situasi yang rumit.”
“Situasi yang rumit?”
Bagaimana aku menjelaskannya? Aku cukup tahu tentang perbedaan biologis antara pria dan wanita melalui studiku, tapi aku tidak punya pengetahuan apa pun tentang romansa. Dan juga, masalahnya bukan hanya perbedaan jenis kelamin kami. Aku juga harus memperhitungkan kepribadian dan perasaan Sakura. Bahkan dalam masyarakat kita yang modern, efektif, dan cerdas, permasalahan kecil ini tetap menjadi misteri yang rumit.
Waktu berlalu selagi aku mempertimbangkan apa yang harus dilakukan. Semakin lama aku terdiam, Sakura akan menjadi semakin waspada.
“Sebenarnya, aku menyuruh Kushida memanggilmu ke sini karena aku ingin memberimu ini.” aku menyerahkan surat Yamauchi padanya.
“Apa ini?”
“Kalau kau membaca isinya, kau pasti akan mengerti,” kataku.
“O-Oke.”
Merasakan sesuatu yang mirip dengan rasa bersalah, aku mengalihkan pandanganku. Sakura menatap bolak-balik antara aku dan surat itu, seolah mencoba memahami situasinya.
“Su-Surat… di belakang sekolah… laki-laki…” bisiknya. Wah! Dia berpikir kalau aku menembaknya. Ini gawat.
“Seseorang yang ingin tetap anonim memintaku untuk memberikan ini padamu. Dia bilang, kalau kau membacanya, kau akan mengerti. Tulisan tangannya jelek, tapi dia benar-benar mencurahkan hati dan jiwanya ke dalam surat ini,” kataku.
“Ah, ahhh. I-Ini... astaga. Ya ampun. Ahhh!”
Ketenangan Sakura hilang. Dia menatap ke angkasa seolah-olah melihat ke masa depan. Aku khawatir tentang reaksinya jika dia membuka amplop dan membaca surat itu, jadi aku memutuskan untuk cabut.
“Baiklah. Aku sudah menyerahkan surat itu. Sisanya terserah padamu bagaimana menanggapinya. Kau bisa mengirim pesan atau meneleponku jika rasanya sulit menjawab secara langsung,” kataku.
Karena ini Sakura, dia mungkin akan kesulitan mengatakan ya atau tidak. Aku harus membantunya sebisaku.
“A, a, a, a, a, a, a, aku—!” dia tergagap. “A-aku cuma, yah… aku tidak bisa! Maksudku, i-ini surat ci-ci—”
“Ya, surat cinta.”
“Eeh!”
“Whoa!” aku bergegas untuk menopang Sakura saat dia hampir saja terguling. “Kau baik-baik saja?”
Aku tahu dia terasa sangat hangat hanya dengan menyentuh punggungnya. Ini pasti benar-benar tak terduga untuknya. Dia mungkin mencoba mencari tahu siapa yang mengirim surat itu.
“Em, em, em!”
Mata Sakura terbuka lebar. Dia menegang dan berdiri tegak. Setelah aku yakin kalau dia sudah stabil, aku melepaskannya.
“Bagaimana dengan… Horikita-san?! Apa menurutmu dia akan marah?!”
“Hah? Horikita?”
Kenapa Horikita harus marah? Jika dia melihatku menyerahkan surat untuk Yamauchi, dia mungkin hanya akan menghela nafas dengan putus asa, dan berkata, “Ya ampun, kamu itu selalu saja terlibat dengan sesuatu yang bodoh.” Itu tentu saja tidak akan membuatnya marah.
Apa Sakura masih berpikir kalau aku menembaknya? Aku telah memastikan untuk mengatakan bahwa aku hanya disuruh menyerahkan surat itu.
“Emm.. Ahh…” wajah Sakura terus memerah. Dia terlihat seolah-olah akan pingsan. Aku tidak dapat membayangkan bahwa surat itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya bereaksi seperti itu.
Jika dia masih berpikir kalau aku yang menulis surat itu, aku mengerti mengapa dia sampai membawa-bawa Horikita.
“Sakura. Aku tegaskan lagi, surat ini dari laki-laki lain. Apa kau paham?”
Bahu Sakura bergetar.
“Eh? I-Ini bukan darimu, Ayanokouji-kun?” dia tergagap.
“Aku sudah memberitahumu kalau aku cuma disuruh menyerahkannya, bukan?”
“Be-Begitu ya. Tentu saja itu yang… ta-ta-ta-tapi, apa yang harus kulakukan dengan ini surat?!” tanyanya.
“Baca saja dan jawab.”
Aku mencoba pergi, tapi Sakura menahan lengan bajuku. “Tapi aku tidak bisa… aku tidak bisa melakukannya! aku tidak bisa…”
“Apa kau tidak pernah ditembak laki-laki sebelumnya?”
“Tidak pernah!” Sakura langsung menjawab.
HHah. Aku mengira kalau dia sudah pernah ditembak berkali-kali, mengingat betapa manisnya dia. Namun, seperti itulah dia sekarang. Mungkin tidak selalu seperti itu.
“Surat ini… Maukah kamu membacanya bersamaku? Kumohon?”
Bersama? Yah, Yamauchi sebenarnya menulisnya dengan bantuanku. Namun, jika Sakura tidak memiliki keberanian untuk membaca surat itu sendiri, aku tidak bisa membantunya. Yamauchi mungkin tidak akan menyukainya.
“Bisakah kau coba baca sendiri? Sebagai utusan, itu tugasku untuk menanyakannya padamu. Kuharap kau mengerti.”
“Oke…”
Sakura tampaknya tidak sedikit pun senang tentang itu.
“Mungkin surat itu dari seseorang yang kau sukai,” kataku.
“Sekarang itu tidak mungkin,” katanya sedih.
“Hah?”
“Ah tidak! Itu cuma, yah, itu karena aku sedang tidak menyukai siapa pun! Maksudku, A-Aku akan coba membacanya!” dia tergagap.
Sakura menundukkan kepalanya, terlihat sedikit tertekan saat dia berbalik dan menuju kembali ke asrama. Dia mungkin akan membaca surat Yamauchi di dalam kamarnya.
Yamauchi bergegas menghampiriku segera setelah Sakura meninggalkan tempat itu. “Ba-Bagaimana hasilnya?! Bagaimana reaksinya?! Apa dia terlihat bahagia?!” tanyanya dengan gugup. Aku memahami rasa ingin tahunya, tetapi sungguh, dialah seharusnya yang mengantarkan surat itu sendiri.
“Dia belum membacanya. Kita tunggu saja penilaiannya,” jawabku.
“Ja-Jangan gunakan kata menakutkan seperti itu! Aku yakin itu pasti berhasil!” jawab Yamauchi, panik.
“Kenapa kau bisa seyakin itu?”
“Mungkin karena sikapnya waktu dia ngobrol denganku, kurasa,” jawabnya malu-malu.
“Memang bagaimana sikapnya?”
“Kau tahu, waktu dia membuang muka, terlihat malu. Dia tidak bisa melihat wajahku karena dia benar-benar menyukaiku, bukankah begitu?”
Sebenarnya, kupikir itu mungkin karena Sakura kurang bisa bersosialisasi.
“Itu belum semuanya. Setiap kali dia ngobrol denganku, dia selalu mendesah berat sesudahnya. Bukankah itu desahan cinta? Kau tahu, waktu kau memikirkan tentang orang yang kau sukai, lalu kau menghela nafas, seperti 'Ahh!' Itu seperti pertanda, lo,” kata Yamauchi.
Sakura mungkin menghela nafas karena kelelahan setelah berurusan dengan seseorang yang terlalu bersemangat seperti Yamauchi. Orang-orang biasanya tidak menyadari kenyataan dan logika ketika memikirkan gadis-gadis yang mereka sukai, sih.
~Bersambung~
Komentar
Posting Komentar