CHAPTER 4
Masalah dan Bencana Romansa: Iblis yang Tersenyum seperti Malaikat
INTRO
Terbangun oleh bel pintu, aku menghela nafas ketika melihat tamuku. “Ada apa sih pagi-pagi begini? Kau ini semangat sekali, Yamauchi.”
“Maaf mengganggu!” dia berteriak.
Untungnya, Ike dan Sudou tidak bersamanya. Tapi sebenarnya apa yang dia inginkan dariku?
“Apa, kau lagi tidur? Bro, kau ini santai sekali, meskipun liburan musim panas akan berakhir dalam beberapa hari,” kata Yamauchi. “Ngomong-ngomong, aku memutuskan bahwa hari ini akan menjadi spesial. Biarkan aku masuk.”
Aku bersikap santai justru karena kami hanya punya beberapa hari liburan tersisa. Karena masih mengantuk, aku tidak bisa mengikuti jalan pikiran Yamauchi, tapi aku tetap membiarkan dia masuk. Aku menyiapkan secangkir teh barley untuknya dan kemudian menyajikannya.
“Jadi, apa aku terlibat dalam hari spesialmu ini?” tanyaku.
“Aku tidak akan membiarkanmu kabur, Ayanokouji. Apa kau ingat ketika aku minta nomor telepon Sakura?” katanya.
Tekad Yamauchi sangat jelas. Matanya berubah menjadi merah.
“Begitu, ya.”
Aku tidak bisa menolaknya begitu saja. Lagipula, seluruh situasi ini adalah kesalahanku. Beberapa waktu lalu, aku membodohi Yamauchi dengan menjanjikan nomor Sakura padanya. Itu telah merusak nilai keuangan pribadinya, terutama di mata Horikita. Aku memang berutang padanya. Tetap saja, karena aku melakukan tawar-menawar itu tanpa persetujuan Sakura, aku tidak akan memberikan nomornya kepada Yamauchi.
Aku memang masih perlu membayar hutangku padanya.
“Yah, kalau kau datang untuk bertanya tentang nomor Sakura, kurasa itu mungkin agak sulit.”
“Oh bukan. Bukan itu. Aku sudah tidak memikirkan itu lagi.” Yamauchi mengeluarkan sebuah surat. “Aku sudah menuliskan semua perasaanku untuk Sakura di kertas ini!”
“Menulis... tunggu, ini surat cinta?”
“Benar! Aku sudah menulis tentang betapa cintanya aku pada Sakura! Ini, bacalah!”
Yamauchi menunjukkan padaku catatan di dalam amplop yang tidak disegel.
Sakura Airi-sama tersayang, selama ini aku selalu memikirkanmu. Kumohon berpacaranlah denganku.
“Ini benar-benar… simpel. Dan kalimat pembukanya terlalu formal,” kataku.
Yamauchi tampak tersiksa. “Bahkan kalaupun aku menulisnya panjang lebar, belum tentu hasilnya bagus, kan?”
Itu mungkin benar. Namun, ini terlalu pendek. Jujur saja, aku bisa membayangkan si penerima surat—terutama Sakura—menjadi tidak nyaman.
“Tunggu. Kenapa ini dicetak, bukannya ditulis tangan langsung?” tanyaku.
“Jujur saja, tulisan tanganku jelek. Aku mencetak suratnya agar lebih mudah dibaca. Aku agak khawatir kalau dia mungkin tidak bisa memahaminya, tahu?”
Yamauchi menggaruk hidungnya dengan jari telunjuknya, terlihat sedikit bangga. Kupikir ini bukan hal yang pantas untuk dibanggakan.
“Selain itu, bahkan jaman sekarang resume juga dicetak, kan?” tambahnya.
“Kalau kau benar-benar ingin menyampaikan perasaanmu, tulisan tangan itu lebih baik. Dan juga, kenapa kau menggunakan font yang terlihat menakutkan seperti ini?”
Itu adalah jenis font yang dipilih untuk menulis sesuatu seperti “The Conjuring!” Ini jadi terlihat seperti merapal kutukan.
“Tetap ada pengaruhnya, kan? Surat ini punya kekuatan yang mengatakan 'aku selalu memikirkanmu selama ini,' begitu.”
“Untuk saat ini, argumenmu itu akan kuterima. Yang jadi masalahnya ada di bagian terakhir,” jawabku, sambil menunjukkan apa yang sudah dia tulis.
Kalau kamu pacaran denganku, aku akan memberimu semua poinku setiap bulannya sebagai upeti!
“Ini tidak bagus.”
“Maksudnya apa? Bukankah gadis-gadis menyukai pria yang dompetnya tebal? Kalau pacaran dengan Sakura berarti aku harus menyerahkan semua poin milikku, aku akan melakukannya. Begitulah caraku menyampaikan perasaanku.”
Aku tidak dapat menyangkal bahwa gadis-gadis menyukai stabilitas keuangan, tetapi ini terlihat seperti seolah-olah Yamauchi menawarkan uang untuk membayar Sakura demi berpacaran dengannya.
“Sudahlah, bro. Bahkan kalau dia cuma mengejar uang, itu bukan masalah. Pokoknya aku ingin berpacaran dengannya. Apa itu hal yang buruk?”
Ketika aku menegaskan bahwa itu memang buruk, Yamauchi mulai memahami apa yang kumaksud. “Apa kau serius berencana untuk menyatakan cintamu kepadanya?” tanyaku.
“Ya. Di semester kedua nanti, aku membidik kehidupan sekolah impianku! Aku sudah minta bantuan Kikyou-chan. Aku menyuruhnya menelepon Sakura.”
Ini semua sangat normal bagi Yamauchi, dan ternyata aku tidak bisa menegurnya. Mungkin seharusnya aku menghentikannya, demi Sakura, tapi setidaknya dia jujur dengan metode yang dia pakai. Aku mempertimbangkan untuk menawarkan bantuan padanya.
“Jadi apa yang harus kulakukan? Mengoreksi surat ini?” tanyaku.
“Ya, tentu saja, tapi aku punya satu lagi peran yang sangat penting untukmu. Aku ingin kau menyerahkan surat itu ke Sakura.”
“Apa?” kupikir aku salah dengar.
“Aku ingin kau menyerahkan surat itu. Dengar, aku merasa sangat gugup dari tadi pagi, tahu? Terakhir kali aku merasa segugup ini, waktu aku memenangkan pertandingan final di Aula Sumo Ryougoku Kokugikan. Itu sebabnya aku tidak percaya diri untuk menyerahkan surat itu langsung kepada Sakura,” jelasnya.
Tunggu, pertandingan final apa yang dia ikuti di Kokugikan? Aku ingin menginterogasi kemungkinan kebohongan itu lebih jauh. Sejujurnya itu adalah pernyataan yang lemah, dan tidak seperti Yamauchi yang biasanya.
“Kalau surat itu yang jadi masalahnya, akan kutulis ulang. Kumohon!” Yamauchi menepuk tangannya, menundukkan kepalanya, dan memohon padaku. “Sebagai gantinya, kalau kau ada masalah, Ayanokouji, aku akan membantumu!”
“Kalau kau bersikeras, kurasa aku akan membantu,” jawabku.
“Benarkah?!”
“Tapi yang terpenting adalah bagaimana perasaan Sakura. Apa kau mengerti?”
“Ya, aku bukan orang bodoh. Aku tahu peluangku tidak setinggi itu.”
Setidaknya Yamauchi mengerti bahwa peluang keberhasilannya rendah. Faktanya, Sakura secara aktif menghindar dari laki-laki, yang membuat peluangnya menjadi sangat rendah. Meski begitu, dia tetap bertekad untuk mencobanya.
“Aku mengerti. Aku akan menyerahkan suratmu. Oke?”
“Ayanokouji! Kau memang penyelamat!”
Yamauchi meraih tanganku dan menundukkan kepalanya dengan hormat, seolah menyembah dewa.
Pertama, aku perlu meninjau surat ini dengan hati-hati. Mengingat ini untuk Sakura, bahasanya harus lebih lembut jika ingin berhasil. Sejujurnya, ini masih terlalu cepat. Mengakui cintanya, ketika dia dan Sakura bahkan belum bertukar kontak, sangat berisiko. Jika Yamauchi ingin meningkatkan peluang kesuksesannya, dia harus benar-benar berbicara dengannya.
Dan lagi, mungkin Yamauchi ada benarnya. Kisah romantis itu terjadi secara spontan. Orang sering berubah 180° dengan sangat cepat.
Seperti Yamauchi, aku tidak memiliki pengalaman romantis, tetapi kupikir setidaknya aku harus melakukan sesuatu untuk membantunya.
“Ah, itu mengingatkanku. Aku ingin menambahkan satu hal lagi ke surat itu. Aku ingin mendengar tanggapan Sakura atas pengakuanku di belakang gedung sekolah,” tambah Yamauchi.
“Di belakang gedung sekolah? Di sebelah gedung olahraga Nomor Dua?”
“Ya, ya. Ini seperti rumor itu, kau tahu? Kalau kita nembak cewek di sana, itu pasti akan berjalan dengan baik.”
Kedengarannya mirip dengan pengakuan legendaris “di bawah pohon.” Legenda itu tampaknya bermunculan di mana-mana.
“Jadi, itu panggung yang kau pilih untuk seluruh rencana ini?”
“Asal tahu saja, itu bukan cuma rumor. Mereka bilang, kalau seorang siswa menyatakan cintanya, pasti di belakang sekolah. Itu seperti aturan emas.”
Aku tidak dapat melihat hubungan apa pun antara memberi tahu seseorang bagaimana perasaanmu dan belakang gedung sekolah. Namun, aku mengerti pemikirannya.
~Bersambung~
Komentar
Posting Komentar