-->
Loading...

iklan adsense

VOLUME 4.5 CHAPTER 3 PART 4

Released on Agustus 27, 2022 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download VOLUME 4.5 CHAPTER 3 PART 4, Streaming VOLUME 4.5 CHAPTER 3 PART 4, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 4.5 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!
PART 4

“Kamu tidak bawa apa-apa?” 

Horikita, perempuan yang tangannya tersangkut botol air, memelototiku, tapi itu tidak masalah. Tidak ada yang bisa kulakukan. 

“Aku ingin mengambil beberapa air dari kamarku, tapi aku sudah menggunakan semuanya.” 

Tragedi ini lahir dari banyak kemalangan. 

“Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?” 

“Kalau kau mau, kita bisa minta air ke Ike atau Sudou.” 

“Nggak,” jawabnya. 

Sudah kuduga dia akan menjawab begitu. 

“Aku bisa berbohong dan bilang kalau air itu untukku.” 

“Aku tidak mau pakai air apa pun dari mereka. Bisa jadi mereka memasukkan sesuatu ke dalamnya?” gumamnya. 

Dia memperlakukan mereka seperti kuman berbahaya atau semacamnya. Aku ingin bilang tidak setuju, tetapi tak bisa menyangkalnya. Mereka itu memang tipe orang yang tidak menutup gelas setelah minum teh dan membiarkan air minum tergeletak di mana-mana. 

Mereka mungkin akan mencoba mencari air bersih untuk Horikita, tapi mereka mungkin tak peduli jika aku bilang kalau air itu untukku. Bersikap baik tapi hatinya merasa benci adalah hal yang jahat. 

“Oke. Mau coba sekali lagi?” 

“Ya. Meskipun sakit,” jawabnya. 

Horikita menyerahkan lengan kanannya, menguatkan dirinya. Dia ingin bebas secepatnya. Aku melihat keringat menetes di lengannya. 

“Oke, sekarang aku akan benar-benar menariknya dengan kuat.”

Aku ingin membebaskan Horikita dan kembali ke kamarku, jadi aku menggenggam botol minum itu dengan erat, menempatkan diriku dalam pose konyol. Aku menarik dua kali lebih kuat dari usahaku sebelumnya. Horikita terlihat kesakitan, tapi dia menahannya tanpa mengeluh. Namun, botol itu tidak bergeming.

“Kurasa kita benar-benar butuh air,” kataku. 

Botolnya mungkin tidak akan lepas kecuali aku membuat lengan Horikita licin. Jika masih gagal setelah itu, kami mungkin perlu menghubungi layanan darurat. 

“Kamu menyuruhku menunggu sampai jam 12? Seperti ini?” 

“Yah, satu-satunya laki-laki yang bisa diandalkan cuma tersisa Hirata,” kataku. 

“Aku tidak akan khawatir tentang kualitas air Hirata, tapi... aku tidak mau berhutang padanya,” jawab Horikita. 

“Yah, aku akan bilang kalau akulah yang butuh air, demi penampilan. Dengan begitu tidak akan jadi masalah,” kataku padanya. 

“Kurasa itu benar,” jawabnya. 

Horikita masih terdengar agak tidak puas, tetapi tampaknya menerima fakta bahwa kita tidak dapat membuat telur dadar tanpa memecahkan telur. Aku mencoba menelepon Hirata. Tidak peduli berapa kali ponsel berdering, dia tidak mengangkatnya. Bahkan ketika aku mencoba mengiriminya pesan obrolan, itu tidak terbaca. 

“Mungkin dia sudah tidur. Tidak ada tanggapan sama sekali.” 

“Begitu ya. Ini terasa seperti gembira dan putus asa di saat bersamaan,” jawabnya. 

“Yah, kita mungkin tidak punya pilihan lain. Kupikir kita cuma bisa mengandalkan Kushida atau Sakura.” 

“Tolong tanya Sakura-san,” jawab Horikita dengan cepat. 

“Apa hubunganmu dengan Kushida masih seburuk itu?” 

“Tidak ada alasan bagi kami untuk bergaul. Selain itu, masih ada beberapa hal tentang dia yang tidak bisa kuterima,” katanya. 

“Apa maksudmu, 'tidak bisa menerima'?” 

“Ujian khusus di kapal. Dari awal dia tidak mencoba untuk menang dengan benar. Dia ingin kelompok Naga berakhir imbang.” 

Horikita menyilangkan tangannya saat dia mengingat kejadian di ujian sebelumnya. Sayangnya, tangannya masih tersangkut di botol, jadi intensitas perkataannya kurang berdampak.

“Itu karena dia seorang pasifis. Dia mungkin memilih opsi di mana semua orang merasa senang,” kataku. 

“Aku tidak bermaksud untuk sepenuhnya menolak Hasil #1. Tapi itu sesuatu yang sama sekali berbeda untuk VIP sendiri untuk mengarahkan kami ke arah itu,” jawab Horikita dengan tajam. 

Selama ujian, siswa dipisah menjadi dua belas kelompok. Memainkan permainan di mana kami harus menemukan identitas tersembunyi dari VIP dalam setiap kelompok, dengan total empat kemungkinan hasil. Hasil yang paling sulit dicapai adalah Hasil #1, yang mengharuskan semua orang dalam kelompok untuk menemukan identitas VIP dan menunggu hingga waktu yang ditentukan untuk menyerahkan jawaban, tanpa ada yang mengkhianati kelompok dengan menyerahkan jawaban lebih awal. Kelompok yang mencapai Hasil #1 akan mendapat 500.000 poin pribadi yang diberikan kepada setiap anggota, dan 1.000.000 poin pribadi diberikan kepada VIP-nya. 

Satu-satunya kelemahan dari Hasil #1 adalah kelas VIP tidak mendapat poin kelas sama sekali. Itu yang menyebabkan beberapa perselisihan. Kushida tidak memanfaatkan hak istimewanya sebagai VIP, dan Horikita membenci itu. 

“Kushida-san yang menjadi VIP kelompok kami seharusnya memberi keuntungan bagi Kelas D. Kami semua cuma harus menyembunyikan identitas VIP, tapi semua orang tahu kalau Kushida-san adalah VIP. Kupikir Kushida-san sendirilah yang membocorkan identitasnya itu.” 

“Tapi itu cuma spekulasimu saja.” 

“Ya. Kemungkinan itu tetap ada. Karena itulah, aku berasumsi kalau dia bersalah.” 

Kata-kata Horikita menjadi kuat. Aku mengerti bagaimana perasaannya, tapi kesampingkan dulu masalah itu, karena lengan Horikita masih tersangkut di botol. Aku harus mengatasinya dengan hati-hati. 

“Aku mengerti bagaimana perasaanmu, tapi itu tidak akan berhasil,” kataku. 

“Maksudmu, aku mengatakan semua ini tanpa bukti?”

“Maksudku situasi itu adalah tanggung jawabmu juga. Coba kita asumsikan kalau Kushida memang mengkhianati kita. Jika demikian, itu artinya kau bersalah karena sudah membiarkannya mengkhianati kita. Kau harus menang dengan segala cara. Apa aku salah?”

Horikita sepertinya mengerti maksudku. Namun, dia keberatan. “Yang kamu katakan itu absurd. Bukankah itu tidak realistis sama sekali?”

“Tidak realistis? Aku tidak bisa membayangkan kenapa itu terjadi. Kalau Kushida memang memanipulasi kalian semua demi mendapat Hasil #1, itu benar-benar menakjubkan. Dengan kata lain, dia sudah mengalahkanmu dalam ujian itu.”

Tentu saja, ini semua berdasarkan asumsi bahwa Kushida benar-benar mengkhianati kelompok Naga. Sejujurnya, itu bisa saja Ryuuen atau Katsuragi. Aku tidak tahu yang mana. Bagaimanapun, seseorang dengan kekuatan lebih telah memaksa semua orang di kelompok Naga mendapat hasil tertentu. Tetap saja, faktanya tetap bahwa Horikita telah diakali.

“VIP itu ada di kelasmu. Kalau kau tidak bertindak karena kau yakin dengan kemenanganmu, itu artinya tanggung jawab ada di tangan orang-orang yang ada di tim-mu. Kalau kau mengincar Kelas A, kau harus bisa mengorganisir orang dengan lebih baik,” tambahku.

“Kamu membicarakan hal-hal yang sangat rumit,” balas Horikita.

“Aku mengerti kalau kau frustrasi. Tapi ini jalan yang kau pilih. Selain itu, kau semakin dewasa. Kalau aku mengatakan hal yang sama padamu saat pertama kali kita bertemu, kau tidak akan mendengarkanku sama sekali.”

Itu benar. Perlahan, Horikita mulai berpikir seperti orang dewasa. Dia bukan lagi seorang gadis yang menolak segala sesuatu di sekitarnya berdasarkan insting.

“Aku mengerti. Aku menerima hasil ujian itu. Mungkin aku terlalu optimis. Tapi, saat ini, tujuan utamaku adalah membebaskan lenganku,” dengusnya. 

“Kurasa aku akan tanya Sakura apakah dia bisa membantu.” 

Karena sudah larut, aku memutuskan untuk menghubungi Sakura melalui pesan obrolan. 

[Sakura, kamarku kehabisan air minum. Mesin penjual otomatis juga sudah kosong. Bisakah kau membagi airmu?] 

Aku menunggu beberapa saat setelah mengirim pesan, tetapi tidak terlihat tanda-tanda kalau Sakura membacanya. 

“Tidak ada respons. Aku tidak tahu apakah dia sudah tidur atau belum.” 

“Jujur saja, ini adalah hari yang sial,” Horikita menghela nafas. 

“Itu artinya, kau mau botolnya lepas sekarang juga, kan?” 

“Kalau aku berencana untuk menunggu, aku tidak akan meneleponmu.”

“Kalau begitu, kau juga harus mengambil risiko,” kataku. 

“Risiko?” Horikita langsung waspada. 

“Kita harus pergi ke Keyaki Mall untuk mengambil air. Tidak ada jalan lain.” 

“Jadi, itu pilihan terakhir kita, ya.” Horikita meletakkan tangannya di dahinya. Sejujurnya, tidak peduli pose tragis apa yang dia ambil, dia masih terlihat konyol. 

“Kebanyakan orang sedang makan sekarang, jadi inilah kesempatan kita.” faktanya, aku tidak bertemu teman sekelas kami malam ini. 

“Aku tidak bisa mengambil risiko. Tidak bisakah kamu tanyakan ke salah satu temanmu?” dia mendesak. 

“Sayangnya, aku tidak bisa. Kupikir mereka sedang pergi karaoke sekarang. Mereka tidak ada di asrama.” 

“Ini memang hari yang sial,” desahnya. 

“Kalau begitu, ayo kita selesaikan ini.” 

“Tu-Tunggu. Aku benar-benar tidak bisa keluar seperti ini,” kata Horikita. 

“Terus bagaimana, apa kau ingin menyembunyikan tanganmu? Kukira itu sudah tersembunyi di dalam botol,” candaku. 

“Itu sama sekali tidak perlu,” bentaknya, sambil mengangkat tangannya seolah hendak menyerang. 

“O-Oke, aku mengerti. Tolong turunkan tanganmu. Apa kau punya kain atau semacamnya?” 

"Kain? Kalau sapu tangan sih, aku punya.” Horikita menarik sapu tangan putih dari rak. Aku meletakkannya di atas botol itu. 

“Ini terlihat sangat mencurigakan. Ini tidak cukup besar untuk menutupi semuanya.” 

“Apa kau tidak punya sesuatu yang lebih besar?” tanyaku. 

“Bagaimana kalau handuk mandi?” 

Aku meletakkan handuk di lengannya. “Yah, kurasa ini bisa.” 

Sejujurnya, aku khawatir kalau handuk mandi mungkin malah membuatnya semakin menarik perhatian. 

“Kalau handuknya sedikit miring, ini akan jatuh,” kata Horikita. 

“Yah, tidak bisakah kau memegangnya dengan tanganmu yang satunya?”

Horikita melipat handuk mandi itu dan menempelkannya ke tubuhnya, memberikan kesan bahwa dia hendak mandi. Ya, itu terlihat jauh lebih baik. 

“Kalau ada yang melihatku, bagaimana kesan mereka?” dia bertanya. 

“Hmm…” 

Tidak ada siswa yang biasanya berjalan-jalan di sekitar asrama sambil membawa handuk mandi, ataupun membawanya keluar. Orang-orang tentu akan curiga. 

“Tergantung situasinya, kurasa mereka mungkin mengira kalau kau ingin memakai kamar mandiku,” kataku. Itu mungkin hanyalah lompatan logika, tapi begitulah aku melihatnya. 

“Ditolak.” 

Horikita melepas handuknya. Kurasa aku juga tidak ingin siapa pun untuk berpikir begitu tentang kami. 

“Bagaimana kalau kau masukkan tanganmu ke dalam tas?” 

“Ditolak. Tidak bisakah kamu memikirkan cara yang lebih baik?” dia tak tertandingi ketika waktunya mengeluh. 

“Kenapa kita tidak langsung saja pergi ke sana? Kita tidak perlu khawatir tentang handuk ataupun sapu tangan.” 

“Kurasa begitu.” 

Sekarang kami hanya perlu bertindak. Aku mengintip ke koridor, menuntun Horikita yang sedikit ragu untuk keluar kamar. 

“Oke, tidak ada tanda-tanda siapa pun. Ayo pergi,” kataku. 

“Tu-Tunggu sebentar. Aku masih belum memakai sepatuku.” 

Karena Horikita hanya bisa menggunakan satu tangan, memakai sepatunya membutuhkan waktu yang cukup lama. Akhirnya, kami berdua melangkah keluar ke koridor. 

“Tunggu. Ada keran di jalan menuju sekolah, kan? Kalau kita berhasil sampai di sana, kita akan baik-baik saja.” 

Jika kami berjalan dengan kecepatan normal, kami akan sampai di tempat keran itu sekitar 5 menit. Kami akan baik-baik saja di bawah naungan kegelapan, selama kami keluar dari asrama. Kami pun mencapai lift, tapi— 

“Tidak ada gunanya, Ayanokouji-kun. Kita tidak bisa menggunakannya,” kata Horikita.

“Apa?” 

“Ada monitor pengawas di lobi lantai satu, kan? Bisa jadi ada orang yang mungkin akan melihat kita.”

Monitor di lantai satu memang menampilkan apapun yang tertangkap kamera di dalam lift. Horikita khawatir jika terlihat. Bahkan jika dia berhasil menyembunyikan lengannya, tingkah lakunya itu masih terlihat misterius.

“Haruskah kita pakai tangga?”

Itu mungkin akan memakan waktu yang cukup lama. Dan juga, fakta bahwa Horikita tidak bisa menggunakan satu tangan membuatnya sedikit lebih berisiko.

“Aku lebih suka pakai tangga daripada dilihat orang lain,” katanya.

Horikita lebih memilih harga diri daripada keselamatan. Dua tangga darurat masing-masing terletak pada jarak yang sama dari lift. Tidak peduli tangga mana yang kami ambil, kami harus melewati kamar siswi lagi. Tidak ada jalan memutar. 

Aku membawa Horikita menuju tangga. Dia tetap di belakangku, seolah-olah menyembunyikan dirinya dari pandangan. Aku mulai setuju dengan kata-katanya tadi. “Ini hari yang sial,” memang. 

Aku mendengar suara pintu terbuka sekitar tiga kamar di belakang kami. 

“Ga-Gawat. Itu kamar Maezono-san.” 

Maezono dari Kelas D, ya? Tidak ada cara bagi kami untuk melarikan diri. Namun, bukan Maezono yang keluar dari kamar. Melainkan temannya Kushida. Lagi-lagi nasib buruk bagi Horikita. 

“Terima kasih, Kushida-san. Aku akan membalasnya lain kali!” 

“Oh tidak, tidak apa-apa. Tidak perlu sungkan. Selamat malam, Maezono-san.” 

Aku tidak melihat wajah Maezono. Saat pintu ditutup dengan suara ce-klek, Kushida menuju lift tanpa menyadariku ataupun Horikita. 

“Hampir saja,” kata Horikita. 

“Ya.” 

Jika Kushida melihat ke belakang, dia akan memergoki kami. Aku berkeringat. Kami terlalu mencolok seperti ini. 

Kami menuju ke pintu darurat secepat mungkin, tapi aku mendengar pintu kamar Maezono terbuka lagi.

“Kushida-san, ada yang ketinggalan!” Maezono berteriak saat dia melangkah ke luar. Kushida berbalik.

“Ah, Ayanokouji-kun. Horikita-san. Selamat malam.” 

“Ha-Hai.” 

Percakapan kami berlangsung singkat. Sepertinya Kushida ingin memeriksa apa yang dia lupakan. Dia kembali ke kamar Maezono, dan Maezono akhirnya juga menyadari kami. Horikita membeku.

“Ponselmu ketinggalan!”

“Ah maaf. Terima kasih!”

“Ayo pergi, Ayanokouji-kun. Kita tidak perlu berlama-lama di sini,” kata Horikita. Dia mendorong botol minum itu ke punggungku, menekankan bahwa ini adalah kesempatan kami.

Jika Horikita terlihat dalam keadaan ini, harga dirinya akan benar-benar hancur. Kami mencapai pintu darurat, lalu aku mencoba membuka pintu. 

“Tidak bisa dibuka.” 

“Kamu bercanda kan? Tidak mungkin pintu keluar darurat tidak bisa dibuka, kan?” 

“Aku serius. Ini tidak bisa dibuka.” Mengunci pintu darurat itu dilarang, itu artinya… 

“Kalian mau kemana?”

Oh tidak. Kushida mendekati kami. 

“Oh, eh. Kami cuma ingin turun lewat tangga.” 

Itu adalah jawaban terbaik yang bisa kuberikan. 

“Oh? Tapi tangga darurat timur ini listriknya mati sekarang. Jadi tidak bisa digunakan. Bahaya banget lo kalau turun ke tempat gelap gulita begitu. Kurasa tangga barat baik-baik saja.” 

“Jadi, itu sebabnya dikunci. Hah,” kataku. 

Horikita tidak mengatakan apa-apa, terus bersembunyi di belakangku. 

“Horikita-san kelihatannya sedikit berbeda dari biasanya. Apa ada yang terjadi?” tanya Kushida. Dia terus bergerak ke arah kami, semakin mendekat.

Horikita mengangkat suaranya. “Tidak ada apa-apa!” jawabnya singkat. 

Perkataannya berhasil. Kushida berhenti. 

“Begitu ya. Yah, kalau ada apa-apa, tolong beri tahu aku. Oke? Tadi Maezono-san sedang kesulitan karena kehabisan air. Aku punya lebih dari cukup,” kata Kushida. 

Kushida memiliki apa yang paling kami inginkan. Jika saja Horikita meminta bantuannya, dia akan mendapatkan air dengan mudah. 

Namun, Horikita mendorong botol itu ke punggungku seperti moncong senjata. Dia tidak menginginkan bantuan Kushida. 

“Kalau begitu, selamat malam kalian berdua,” kata Kushida dengan manis. 

“Ya, malam.”

~Bersambung~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢