-->
Loading...

iklan adsense

VOLUME 4.5 CHAPTER 3 PART 3

Released on Agustus 23, 2022 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download VOLUME 4.5 CHAPTER 3 PART 3, Streaming VOLUME 4.5 CHAPTER 3 PART 3, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 4.5 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!
PART 3

Aku tidak ingin bertemu dengan gadis lain, jadi aku menunggu sampai tidak ada orang lain yang menggunakan lift. Menyelinap seperti itu menyedihkan, tapi hei. Itu aku. Aku berhasil mencapai lantai 13 tanpa terdeteksi. Ketika aku sampai di depan kamar Horikita, aku membunyikan bel pintu. Setelah menunggu beberapa saat, aku mencoba perlahan membuka pintu kamarnya. Itu tidak terkunci. 

“Horikita?” 

Kamar Horikita adalah model satu kamar tidur dan dapur, tapi aku tidak bisa melihat ke dalam area kamar tidur. Itu tersembunyi di balik pintu tertutup. Tidak ada tanda-tanda kalau Horikita ada di dapur ataupun di lorong. Sepertiku, dia hampir tidak mendekorasi kamarnya. 

“Kamu sendirian, kan?” aku mendengar suaranya dari belakang pintu kamar tidur. 

“Kau terlalu berisik,” kataku padanya. 

“Tidak masalah. Bahkan jika ada seseorang yang berani masuk, aku akan menikam mereka dengan tangan kananku,” jawabnya. 

Apaan sih maksudnya? Dengan hati-hati, aku masuk ke kamar tidur Horikita. Dia membelakangiku, jadi aku tidak bisa melihat ekspresinya. Ruangannya didekorasi secara sederhana. Tidak ada yang terlihat aneh. 

“Oke, aku sudah di sini. Apa masalahnya?” tanyaku. 

“Begitu kamu melihatnya, kamu akan mengerti.” 

Horikita perlahan berdiri dan berbalik menghadapku. Dua emosi yang mengalir di dalam diriku bercampur pada saat yang sama. 

“Begitu ya. Jadi. Ini, ya?” 

“Ya, beginilah.” 

Aku merasa malu saat melihat tangan kanannya, yang benar-benar tersangkut di dalam botol minum kecil. 

“Bagaimana bilangnya ya? Ini benar-benar tidak seperti dirimu. Jangan bilang kalau kau hanya bermain-main.”

“Jangan bodoh.” 

“Ini seperti ketika kau berusaha untuk menggunakan jarimu untuk mengambil secuil popcorn, kan?” 

Itu pasti membuatnya kesal, karena dia mengayunkan lengan kanannya ke arahku. 

“I-Itu hanya lelucon.” 

“Tidak ada gunanya menceritakan lelucon yang tidak lucu. Kau gagal.” 

“Itu tidak lucu karena aku menggodamu, kan?” 

“Tanganku tersangkut di botol minum ini karena aku mencoba mencucinya. Bisakah kamu bantu aku melepaskannya?” 

Jadi, itulah yang terjadi. Aku meraih botol minum itu dan menariknya, tapi yang ada aku cuma menarik Horikita ke arahku. 

“Ayolah. Kalau kau tidak menarik dirimu, tanganmu akan tetap tersangkut. Setidaknya gerakkan sedikit,” kataku. Jika dia tidak memberi gaya tarikan, situasi ini tidak akan berakhir. 

“Aku sudah tahu itu. Hanya saja aku lelah. Mari kita selesaikan ini dengan cepat,” jawabnya. 

Setelah mencoba membebaskan dirinya sendiri selama lebih dari 2 jam, Horikita kelelahan. Aku menggenggam botol minum itu lagi, menaruh sedikit kekuatan ke dalamnya, dan menariknya. Horikita bergerak mundur saat aku melakukannya, menahan rasa sakit. Namun, lengannya tetap tersangkut. 

“Tidak ada gunanya. Kalau terus begini, botolnya tidak akan pernah lepas,” kataku padanya. 

“Begitu ya. Seperti yang kuperkirakan.” Horikita terlihat pasrah akan situasi ini.

“Kurasa kita harus menggosok lenganmu dengan sabun dan perlahan-lahan menarik botolnya. Ayo kita ke dapur,” kataku. 

“Apa kamu lupa kalau sekarang ada pemadaman air?” 

Itu benar. Kami tidak bisa memakai air sampai pukul 12. Satu-satunya air yang bisa digunakan ada di toilet, tapi Horikita mungkin tidak akan menyukainya. 

“Aku akan pergi ke kantin.” 

Kami kekurangan pilihan, tetapi selama aku bisa mendapatkan air, kami bisa mengeluarkan botolnya. Aku meninggalkan kamar Horikita dan langsung menuju ke kantin. Namun, kejutan yang tidak menguntungkan menungguku di sana. 

“Saya minta maaf. Ada begitu banyak siswa yang datang sampai-sampai kami kehabisan air,” kata mbak penjaga kantin. 

Rupanya, mereka yang membutuhkan air untuk makan malam telah mengambil semuanya. Kalau begitu, aku akan pergi membeli beberapa di mesin penjual otomatis. Aku tidak membutuhkan banyak air untuk membebaskan lengan seseorang dari botol. Mungkin sekitar dua gelas minum akan cukup. 

Aku berjalan menuju mesin penjual otomatis, dan menyadari bahwa kemalangan baru saja dimulai. Semua minuman, teh, dan jus terjual habis. 

“Aku belum pernah melihat mesin penjual otomatis yang terjual habis sebelumnya,” gumamku.

~Bersambung~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢