PART 2
[Apa kamu sudah tidur?] Isi pesan Horikita.
[Belum.]
[Aku ingin bicara denganmu. Apa kamu punya waktu?] Itu kira-kira 2 jam setelah kami terakhir berbicara.
[Aku akan meneleponmu.]
Horikita mengangkatnya pada dering pertama.
“Ada apa?” tanyaku.
“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu.”
Seperti sebelumnya, Horikita terdengar lelah. Dia berhenti sebelum berbicara lagi.
“Katakanlah ada kura-kura,” dia mulai bicara.
“Hah?”
Horikita memulai cerita yang benar-benar gila.
“Dia adalah kura-kura yang sangat pintar dan berbakat. Jika aku tidak sengaja menabraknya, dan membuat tubuhnya terbalik, itu akan mengerikan, iya kan? Dia tidak bisa bangun dan memperbaiki dirinya dengan usahanya sendiri.”
“Seharusnya begitu. Tapi sebenarnya, dalam banyak kasus, kura-kura bisa memanjangkan lehernya dan menggunakan kaki mereka untuk bangun sendiri. Satu-satunya spesies kura-kura yang tidak bisa melakukan itu adalah kura-kura raksasa dan penyu,” jelasku.
“…………”
Horikita terdiam mendengar penjelasanku.
“Ini akan lebih mudah jika kita berasumsi bahwa kura-kura itu tidak bisa bangun sendiri dan mendengarkanku,” katanya setelah beberapa saat.
Ya. Itu masuk akal.
“Oke. Jadi, mereka tidak bisa bangun sendiri. Apa ada yang salah dengan itu?”
“Dalam situasi seperti itu, apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku mungkin akan membalik tubuh kura-kura itu. Toh itu tidak terlalu merepotkan.”
Aku tidak punya alasan untuk menyelamatkan kura-kura itu, tetapi aku juga tidak punya alasan untuk membiarkannya begitu saja. Kupikir mungkin aku juga bisa membantu. Namun, aku bertanya-tanya apa sebenarnya yang Horikita maksudkan. Mungkin dia sedang dalam masalah, seperti kura-kura yang tidak bisa bangun sendiri?
Aku tidak mendapat kesan bahwa dia panik. Dia terdengar tenang. Mungkin berarti ini bukan masalah yang mendesak.
“Jadi, ada apa?” tanyaku.
“Yah, bukannya aku marah atau apa,” jawabnya.
“Yah, sepertinya ke sanalah arahnya.”
“Aku baru saja bicara tentang kura-kura yang terbalik. Itu tidak ada hubungannya denganku.”
“Oke. Lalu kenapa kita membicarakan tentang kura-kura?”
“Aku hanya… ingin bicara denganmu tentang kura-kura yang terbalik,” dia bersikeras.
Oke, ini mulai aneh.
“Ini tidak sepertimu,” kataku. “Yah, kurasa meminta bantuan juga bukan sifatmu, tapi … kau meneleponku karena tidak ada orang lain yang bisa kau mintai tolong, kan? Jika itu masalahnya, katakan saja.”
Horikita diam.
“Jika kamu bilang kalau kamu tidak dapat mencegah keinginan untuk membantu orang, maka mungkin aku tidak bisa meminta nasihatmu,” katanya.
“Hah? Tidak apa-apa. Bicaralah padaku,” kataku padanya.
Horikita akhirnya terbuka. “Aku hanya mengalami sedikit masalah.”
Setidaknya dia akhirnya mengakuinya. “Kau ada di mana sekarang?”
“Aku ada di kamarku.”
“Tunggu. Apa ada serangga?”
Jika itu masalahnya, aku mengerti mengapa Horikita tidak mau membicarakannya. Aku mungkin tepat sasaran, meskipun pada umumnya kebersihan asrama tetap terjaga, dan Horikita tinggal di lantai atas—itu tidak menutup kemungkinan, tetap saja peluang adanya serangga itu rendah.
“Bukan itu. Kalau serangga, aku bisa menanganinya sendiri.”
“Bagaimana kau akan menanganinya? Dengan deterjen? Air panas? Sandal?” Tidak peduli seberapa bagus kekuatan penalaran deduktifku, aku tidak bisa membayangkan situasi Horikita saat ini.
“Yah, aku dalam masalah karena… Tidak, tidak apa-apa. Aku akan mengurusnya.”
“Kau bilang kau akan mengurusnya sendiri, tapi ini sudah lebih dari 2 jam, dan kau belum melakukan apa-apa, kan?” aku menekannya kembali. Jika sebelumnya dia menelepon karena masalah ini, maka dia telah berjuang selama beberapa waktu.
“Haahh. Yah… Memang benar aku hampir mencapai batas fisikku. Akan kuceritakan semuanya.”
Akhirnya.
Alih-alih menjelaskan, Horikita tiba-tiba mengajukan permintaan. “Bisakah kamu datang ke kamarku?”
Dia terdengar malu sekaligus jijik.
“Sekarang? Tapi ini sudah jam 9 lebih,” protesku.
“Aku tahu, tapi... untuk mengatasi ini, kamu harus berada di sini.” Horikita berbicara seolah-olah dia frustrasi atau lebih tepatnya kesakitan.
“Yah, aku mungkin bisa mendapat masalah karena pergi ke lantai perempuan di jam malam begini,” kataku.
“Aku tahu, tapi aku tidak bisa melakukan ini kecuali kamu di sini,” jawabnya.
Dengan itu, Horikita tiba-tiba menutup telepon.
“Ini agak menakutkan. Tapi sepertinya aku harus pergi,” gumamku.
Aku meraih ponsel dan kunci kamar, lalu bergegas keluar. Aku tidak mau membuatnya menunggu.
~Bersambung~
Komentar
Posting Komentar