CHAPTER 3
Bahaya Mengintai Kehidupan Sehari-hari
Semuanya dimulai pada pukul 6 sore pada hari itu. Sebuah pesan teks dari sekolah memberi tahu kami bahwa air di seluruh asrama tidak akan mengalir untuk sementara waktu, karena ada masalah dengan departemen air. Aku memutar keran untuk mengkonfirmasinya, dan tidak ada air yang keluar.
Kedengarannya perbaikannya tidak akan selesai sampai besok pagi. Sementara itu, sekolah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menyediakan kebutuhan air bagi siswanya. Mereka akan membagikan 2 liter air dari kantin sesuai kebutuhan, dan karena itulah pesan tersebut juga memperingatkan kami bahwa kantin diperkirakan akan menjadi ramai. Toserba akan ditutup untuk sementara waktu, tetapi Keyaki Mall masih akan menyediakan air minum gratis. Namun, kami dilarang menyimpan air ke botol minum dan membawanya pulang. Itu benar-benar bukan masalah bagiku.
Tidak, masalah besarku adalah toilet. Meskipun ada air di dalam tangki, kami harus berhati-hati, karena kami hanya bisa menyiramnya satu kali.
Teh di kulkas seharusnya cukup untuk satu cangkir, yang bisa membuatku melewati hari. Untuk makan malam, aku akan memasak sesuatu tanpa menggunakan air. Ketika aku baru saja mulai menyiapkan makan malam, ponselku tiba-tiba berdering. Saat aku hendak mengangkatnya, itu berhenti setelah berdering dua kali.
Setelah kulihat, ternyata Horikita Suzune yang menelepon. Tidak biasanya dia meneleponku. Bahkan jika Horikita punya urusan denganku, dia biasanya hanya mengirim pesan. Karena penasaran, aku memutuskan untuk meneleponnya balik. Namun, tidak peduli berapa kali ponsel berdering, Horikita tidak menjawab.
Aku memang berpikir itu aneh, tetapi aku memutuskan untuk menyerah. Aku meletakkan ponselku di atas meja dan kembali membuat makan malam. Karena aku masih punya nasi, aku memilih untuk memasak nasi goreng sebagai pilihan sederhana. Aku memasukkan telur, setelah itu menambahkan sentuhan akhir.
Tiba-tiba, ponselku berdering lagi.
Pada saat aku mematikan kompor dan mengambil ponselku, deringnya berhenti. Panggilan lain dari Horikita. Aku mencoba menelepon kembali, tetapi dia tidak menjawab. Ini mulai mencurigakan.
Mungkin Horikita kebetulan menjadi sibuk setelah dia mencoba menelepon? Mempertimbangkan kepribadiannya, sulit untuk membayangkan bahwa itu masalahnya. Dia adalah tipe orang yang hanya menelepon saat merasa tenang. Bahkan jika sesuatu terjadi, mengakhiri panggilan dua kali berturut-turut, dan tidak mengangkat, itu aneh. Aku menyimpulkan bahwa Horikita mungkin terlibat oleh sesuatu yang tidak terduga.
“Ya, benar,” gumamku.
Kesal pada diriku sendiri karena terlalu dalam menafsirkan panggilan Horikita, aku pun memutuskan untuk berhenti memasak dan mengiriminya pesan.
[Hei, sepertinya tadi kau sudah mencoba meneleponku dua kali. Apa terjadi sesuatu?]
Tanda terima baca langsung muncul, tetapi tidak ada jawaban yang datang. Aku menunggu cukup lama, tapi tidak ada pesan yang masuk.
[Aku sedang memasak sekarang, jadi aku mungkin tidak akan langsung merespons. SMS saja, nanti akan kujawab.]
Sekali lagi, tanda terima baca muncul, tetapi dia tidak menjawab. Aku kembali menyiapkan makan malamku.
~Bersambung~
Komentar
Posting Komentar