PART 9
Satu jam kemudian, aku menghubungi Sudou saat dia kembali dari aktivitas klub. Dia akan berpartisipasi dalam turnamen yang akan diadakan besok lusa, untuk itulah Katsuragi dan aku membutuhkan bantuannya.
“Hah? Jangan bercanda. Serius saja, orang waras manapun nggak akan mau melakukan hal seperti itu?” dengus Sudou. Dia dengan tegas menolak permintaan kami dan langsung mengeluarkan kata-kata itu. Tentu saja jika ada yang tahu bahwa dia melanggar aturan, tidak ada yang tahu hukuman apa yang akan dia hadapi.
“Lagi pula, aku tak punya kewajiban untuk mendengarkan permintaan si botak ini,” tambahnya.
“Maaf?” Katsuragi sepertinya tidak mempercayai Sudou. Dia masih merasa skeptis terhadap rencana tersebut.
“Kesampingkan dulu masalah itu, aku ingin menanyakan sesuatu padamu, Sudou. Pemeriksaan seperti apa yang biasanya dilakukan sekolah?”
“Entah,” jawabnya tak peduli. Sudou tampaknya masih belum memahami situasinya.
“Tergantung bagaimana keadaannya, Katsuragi mungkin akan memberimu imbalan,” kataku.
“Imbalan?” kata Sudou tertarik.
“Benar sekali. Aku tahu kalau aku perlu membayar, tentu saja,” jawab Katsuragi.
Sudou mulai memikirkan masalah ini dengan serius.
“Mereka memeriksa tas kami di pagi hari, sebelum kami naik bus ke lokasi turnamen. Setelah itu, mereka menyita ponsel kami. Ketika kami sampai di sana, kami berganti pakaian dan menuju ke lapangan. Untuk makannya, kami makan di sana, saat turnamen selesai. Aku tidak tahu detail yang lain,” jelas Sudou.
“Bagaimana dengan tempat untuk berganti pakaian? Dan tasnya?” tanyaku.
“Biasanya, kami menggunakan area loker dan barang-barang. Saat kami ganti baju, tidak ada guru di sekitar, tapi mereka tetap mengawasi kami dengan ketat. Bahkan kamar mandinya juga terpisah, jadi kami tidak bisa berbicara dengan siswa dari sekolah lain,” lanjut Sudou.
Katsuragi mendengarkan dengan seksama.
“Itu semua terdengar cukup ketat. Kurasa sejak awal menyelinapkannya di tas itu bukan ide yang bagus,” kata Katsuragi.
“Apa tidak apa-apa kalau membawa makanan?” tanyaku.
“Ya, tentu saja. Beberapa orang membawa bekal sendiri,” jawab Sudou.
“Jika itu benar, maka itu terdengar cukup sederhana untuk mengangkut hadiahnya.” aku mengambil kotak makan siang dan botol air dari rak-ku, lalu kembali ke tempat dudukku. “Aku akan memasukkannya ke dalam kotak makan siang. Harusnya muat. Untuk tasnya, aku akan menggulungnya dan memasukkannya ke dalam botol air. Dengan begitu, tidak akan ada yang tahu.”
Para guru tidak akan sampai memeriksa isi dari kotak makan siang siswa.
“Tunggu. Bahkan jika aku membawa hadiahnya, bagaimana aku akan mengirimkannya? Aku tidak punya uang ataupun waktu,” kata Sudou.
“Jika kau khawatir tentang uangnya, tenang saja. Gunakan saja ini.” aku menyerahkan faktur yang kuambil dari kantor pos. “Bergeraklah jika ada kesempatan, dan kemudian gunakan kesempatan itu untuk mengirimkannya.”
“Kau mengatakannya seolah itu mudah. Itu bagian tersulitnya, kan?” balas Sudou.
“Yah, risikonya besar,” kata Katsuragi.
Katsuragi tidak hanya akan melanggar peraturan sekolah, dia juga akan melibatkan Sudou. Normalnya, Katsuragi pasti akan mundur sekarang, tapi ini sangat penting baginya. Ini adalah tentang betapa berartinya memberikan hadiah itu kepada adiknya.
“Sayangnya, aku tidak bisa mempercayai siapa pun di kelasku untuk menangani sesuatu seperti ini. Maukah kau membantuku?” tanya Katsuragi kepada Sudou.
“Sudou, aku tahu kau biasanya tidak melakukan ini. Tapi ini juga ada manfaatnya, bukan?” tanyaku.
“Manfaat? Maksudmu imbalannya?”
Katsuragi mengangguk. “Aku akan membayarmu 100.000 poin jika kau berhasil.”
Itu tawaran yang cukup luar biasa. Sudou menegang. Untuk seseorang yang berjuang dari hari ke hari dengan 1.000 atau 2.000 poin, 100.000 adalah jumlah yang sangat menggiurkan.
“Kenapa kau sampai segitunya hanya untuk mengirimkan sebuah paket?” tanya Sudou. Hadiah itu membuatnya waspada.
“Aku punya saudara kembar. Ayanokouji juga sudah tahu itu,” kata Katsuragi.
Memang. Namun, alasan sebenarnya jauh lebih berat daripada yang kubayangkan.
“Adikku sakit-sakitan. Karena orang tua dan kakek nenek kami sudah meninggal, yang saat ini merawatnya adalah kerabat kami. Aku lebih seperti orang tua pengganti. Jika bukan aku yang merayakan ulang tahunnya, siapa lagi?” tanya Katsuragi. “Aku memahami peraturan sekolah ketika aku mendaftar di sini, kupikir aku masih bisa mengirim sebuah paket. Itu adalah kesalahanku. Tapi, aku tetap ingin memberi adikku hadiah, apa pun yang terjadi.”
Yah, aku belum melihat hal yang secara khusus membahas itu di peraturan sekolah. Peraturannya cuma menyebutkan bahwa meninggalkan pekarangan sekolah tanpa izin tidak diperbolehkan. Tidak ada rincian tentang bagaimana komunikasi dengan dunia luar itu dilarang.
“Jadi, itu sebabnya kau minta bantuanku, ya?” Sudou meraih bahuku, berbisik dengan suara yang cukup keras sehingga Katsuragi pun bisa mendengarnya. “Aku harus bagaimana kalau dia memutuskan untuk mengkhianatiku? Aku tidak ingin terlibat masalah lagi, seperti yang terjadi dengan Kelas C, tahu?”
Itu benar. Sudou telah jatuh ke dalam jebakan, dan sebagai hasilnya, dia hampir dikeluarkan dari klub basket.
“Tidak perlu khawatir. Aku yakin dia sudah memikirkan hal itu,” kataku kepada Sudou.
Katsuragi mengangguk.
“Aku akan memberimu 20.000 poin sekarang, sebagai pembayaran di muka. Aku akan membayar 80.000 poin sisanya sebagai hadiah setelah kau menyelesaikan tugasnya.”
Pembayaran 20.000 poin akan membuktikan bahwa Katsuragi terlibat langsung dalam rencana ini. Jika salah satu pihak berkhianat, mereka berdua akan menerima konsekuensinya.
“Jadi, 20.000 sebagai uang muka? Tapi…”
Meskipun itu jumlah yang besar, aku mengerti mengapa Sudou masih ragu-ragu. Dia sedang memikirkan masa depannya di klub basket. Jika sekolah tahu bahwa dia telah melanggar aturan selama kegiatan basket, dia bahkan mungkin akan dikeluarkan dari tim.
“Kupikir itu rencana yang sempurna. Tentu saja, jika kau ketahuan, aku juga akan kena getahnya,” kata Katsuragi. Sekolah mungkin akan menghukumnya sama seperti Sudou. Rencana ini tidak akan berhasil kecuali Katsuragi memiliki resolusi untuk mengatasinya, tapi aku percaya dia sudah menemukannya.
“Jadi, masalahnya adalah apa aku akan ketahuan, ya?” Sudou menimbang pilihannya, berpikir tentang tingginya jumlah poin yang terlibat. Apa yang akan dia lakukan?
Matanya berkedip sebentar ke arahku. Dia tampaknya telah memutuskan.
“Baiklah. Yang harus kulakukan adalah mengirim paket itu, kan? Kukira cuma aku orang yang berani mengambil risiko itu,” katanya.
“Apa kau yakin?” tanya Katsuragi. Sudou telah menjadi penyelamatnya yang tidak terduga.
“Yah, karena kau memberitahuku tentang adikmu yang sakit-sakitan dan sebagainya, agak sulit untuk menolaknya.” Sudou menggaruk kepalanya, terlihat simpatik.
Namun, Katsuragi tidak menunjukkan tanda-tanda kegembiraan. Dia berdiri di sana dalam diam, menyilangkan tangannya dan tampak tegas.
“Oi? Aku sudah bilang aku akan melakukannya. Sekarang apa lagi?” tanya Sudou.
“Mungkin dia masih ragu. Mungkin dia bertanya-tanya apakah kita akan mengkhianatinya,” kataku.
“Yang benar saja? Dia sendiri yang datang minta bantuan, dan sekarang dia meragukanku?” kata Sudou.
Katsuragi adalah tipe orang yang memprioritaskan bermain aman. Mungkin itu sudah jadi sifatnya untuk mencurigai hal-hal yang berjalan dengan baik. Dan aku pun sudah tahu itu. Sayangnya, itu adalah kecemasan yang tidak perlu. Sudou bukan orang yang bermuka dua. Tentu saja, hal yang sama berlaku untukku juga. Aku tidak pernah berpikir akan memasang jebakan untuk Katsuragi dalam rencana ini. Aku benar-benar percaya bahwa ada keuntungan tersendiri dengan membuat Katsuragi berutang pada kami.
Selain itu, bahkan jika Katsuragi mengkhianati kami, kami juga bisa menjatuhkannya. Aku memperkenalkan Sudou sebagai perantara setelah mencapai kesimpulan itu. Aku tidak tahu berapa banyak poin yang akan ditawarkan Katsuragi, tetapi 100.000 poin itu terdengar cukup fantastis.
“Untuk amannya, aku tidak akan mentransfer poinnya langsung ke Sudou. Alih-alih, poinnya akan disetor ke Ayanokouji. Maaf, Ayanokouji, tapi aku ingin kau mentransfer poinnya ke Sudou setelah dia berhasil,” jelas Katsuragi.
“Kenapa harus pakai cara ribet seperti ini?” tanya Sudou.
“Untuk jaga-jaga, kurasa,” jawabku.
Jika seseorang dari sekolah melihat Sudou mengeluarkan atau mengirimkan hadiah, dan sekolah kemudian melihat sejumlah besar poin tersimpan di dalam akunnya, mereka pasti akan curiga. Namun, jika poin itu melewati pihak lain, poin tersebut tidak akan terlacak sampai ke Katsuragi. Sudou terlihat sedikit kesal, tetapi memberikan persetujuannya.
“Ada satu hal lagi. Aku ingin bukti kuat kalau kau tidak berbohong kepadaku,” kata Katsuragi.
“Hah? Kau bercanda?” Sudou mendengus.
“Aku tidak yakin apakah kau akan memberikan hadiah itu.” Katsuragi masih khawatir bahwa Sudou mempermainkannya. Karena dia tidak bisa menghubungi keluarganya di luar, dia harus menunggu sampai dia lulus untuk mengetahui apakah adiknya telah menerima hadiah tersebut.
Aku telah memikirkan beberapa cara untuk memberikan “bukti.” Metode yang paling sederhana dan paling dapat diandalkan adalah bukti foto melalui ponsel. Namun, hal itu membuatku berpikir. Aku tidak ingin mengacaukan kepercayaan Katsuragi untuk alasan yang salah.
“Anjir? Nggak mungkin aku bohong tentang itu. Kau ini bodoh ya?”
“Tentu saja aku ingin mempercayaimu. Tapi hubungan kita belum sedekat itu,” jelas Katsuragi. Dia menyilangkan tangannya. “Bagaimana kalau kau pakai ponselmu? Aku ingin kau merekam video saat kau mengirim paketnya.”
Rupanya Katsuragi dan aku satu pikiran.
“Woi bang, kau ini tidak dengar ya? Kan tadi aku sudah bilang kalau nantinya ponsel kami akan disita,” balas Sudou.
“Aku tahu. Itu sebabnya aku juga ingin kerja samamu dalam rencana ini, Ayanokouji.”
“Maksudnya?” tanyaku.
“Masih ada ruang di botol air itu. Masukkan ponselmu ke dalamnya. Dengan begitu, Sudou bisa membawanya tanpa ketahuan,” jelas Katsuragi.
Aturan umumnya, setiap siswa diberi satu ponsel. Jika Sudou menyerahkannya selama inspeksi tas, tidak akan ada lagi kecurigaan.
“Tentu saja, aku juga akan memberimu imbalan,” tambah Katsuragi.
Dia bilang dia akan membayarku 10.000 poin. Bukan kesepakatan yang buruk.
“Baiklah. Aku akan melakukannya.”
“Kau yakin, Ayanokouji?” tanya Sudou.
“Ya. Aku bisa bantu, jadi aku akan melakukannya. Selain itu, poinnya juga akan berguna untukku.”
“Kalau begitu, aku serahkan semuanya pada kalian,” kata Katsuragi.
Dia membungkuk dalam-dalam dan berterima kasih sebelum meninggalkan ruangan.
“Ya ampun, sekarang aku gugup,” Sudou menghela nafas.
“Kau baik-baik saja, Sudou?”
“Ini kali keduaku ikut turnamen. Kupikir aku sudah terbiasa dengan ini, tapi...”
Aku mengerti mengapa dia sedikit ragu untuk membantu dengan melanggar peraturan. Karena itulah, sejarah kerasnya sifat Sudou memberinya sikap yang relatif fleksibel terhadap seluruh masalah ini.
“Jadi, kapan kau akan memberikan ponselmu padaku?”
“Oh. Yah, akan mudah bagi sekolah untuk melacak keterkaitanku, karena banyak poin akan ditransfer ke akunku. Jika memungkinkan, aku ingin menggunakan ponsel pihak ketiga,” kataku padanya. Pilihan terbaik adalah ponsel milik seseorang yang sama sekali tidak ada hubungannya, seperti Ike atau Yamauchi.
“Tapi tidak mungkin ada orang yang akan meminjamkan ponselnya padamu,” kata Sudou.
“Jika aku bilang aku akan membayar mereka 5.000 poin, mereka akan meminjamkan apa pun yang kuinginkan.”
“Kau ini licik juga, ya.”
Sudou dan aku bersiap untuk mengirimkan paket. Singkat cerita, dia berhasil menghindari deteksi sekolah, lolos pemeriksaan tas tanpa insiden, dan mengirimkan hadiah itu. Dia juga berhasil mengambil video pengirimannya, lalu mengirim filenya ke Katsuragi sebelum menghapusnya. Aku tidak tahu apakah adik Katsuragi menerima hadiahnya, tetapi bagian yang kami kendalikan berjalan dengan baik. Sudou menangani semuanya dengan sempurna.
Aku ingin tahu apakah kakak Horikita ikut andil dalam hal ini. Dia pasti sudah menyadari bahwa kami mencoba melakukan sesuatu. Sebagai ketua OSIS, dia seharusnya bisa membuat pengaturan yang diperlukan. Di sisi lain, dia juga bisa mengamati waktu yang tepat ketika Sudou melanggar peraturan sekolah.
Mungkin aku hanya berlebihan memikirkannya, tapi aku ingin tahu yang sebenarnya. jika keterlibatan ketua adalah sebuah kemungkinan, kebenarannya mungkin akan muncul di kemudian hari.
~Bersambung~
Komentar
Posting Komentar