PART 7
“Kalian semua sedang apa?”
Katsuragi, yang biasanya begitu tenang, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika Ike dan yang lain mengelilinginya. Kushida dengan cepat angkat bicara. Setelah ujian terakhir, Katsuragi semakin akrab dengannya.
“Maaf sudah mengganggumu, Katsuragi-kun. Bisa kita bicara sebentar?” tanya Kushida.
“Kushida? Ada apa ini?”
“Sejujurnya, aku mendengar tentang semua ini dari Ike-kun dan yang lainnya. Bukankah hari ini hari ulang tahunmu, Katsuragi-kun?”
“Yah, ya, tapi… aku tak menyangka kau bisa tahu.” ekspresi Katsuragi sedikit bingung, seolah-olah dia tidak ingat memberitahu siapa pun tentang hari ulang tahunnya.
“Kami berempat ingin merayakannya denganmu, Katsuragi-kun,” jelas Kushida.
“Oh, tidak usah. Kalian tidak perlu melakukan semua itu.”
Jauh dari ramah, Katsuragi tampak waspada. Seperti yang diharapkan. Dia mungkin mengira ini adalah jebakan yang dipasang oleh Kelas D. Fakta bahwa dia tidak segera menolak kami kemungkinan karena adanya Kushida.
“Apa kamu sudah punya rencana hari ini?” tanya Kushida.
“Eng, tidak. Tidak ada.”
Kushida menepuk tangannya dan tersenyum, seolah-olah dia berkata, “Aku senang mendengarnya!” Jika seorang pria biasa melihat senyum itu, dia pasti akan langsung terpukau. Namun Katsuragi, pemimpin Kelas A, mungkin bukanlah target yang mudah.
“Aku sangat menyesal sudah bersikap kasar, tapi kita bukan teman dekat. Jika kalian punya motif tersembunyi, tolong beri tahu aku,” kata Katsuragi.
“Tidak, tak ada motif tersembunyi kok. Kami benar-benar cuma ingin merayakan ulang tahunmu, Katsuragi,” kata Ike, memasang tampang serius. Dia mungkin merasakan simpati yang tulus.
“Hrm.”
Mulut Katsuragi mengencang, dan sepertinya dia akan menolak ajakan kami. Kemudian aku menyadari bahwa dia masih memegang tas hadiah ulang tahun kemarin. Dia membelinya dua hari yang lalu; kenapa dia masih terus membawanya? Ike dan yang lainnya sepertinya tidak mencurigai itu (atau pura-pura tidak sadar).
“Maaf, tapi aku masih punya urusan di gedung sekolah. Aku permisi dulu,” kata Katsuragi.
“Sekolah? Kau tahu, itu mengingatkanku. Akhir-akhir ini kau sering memakai seragam. Ada apa sebenarnya?” tanya Ike.
“Maksudmu apa?” tanya Katsuragi. Ekspresinya berubah, seolah-olah dia telah beralih ke mode pertempuran.
“Hah? Maksudku?” Ike tampak terkejut.
“Bagaimana kau tahu kalau akhir-akhir ini aku sering memakai seragam?” Katsuragi melotot dengan saksama, seolah-olah dia sedang melahap Ike.
“Hah? Yah, tidak. Itu bukan—” Ike refleks menelan ludah.
“Setelah pembicaraan kita kemarin, aku bertemu dengan Ike dan yang lainnya. Aku memberitahu mereka. Apa itu tidak boleh?” tanyaku. Karena tidak ada pilihan lain, aku menawarkan Katsuragi sebuah penjelasan. “Kupikir memakai seragam selama liburan musim panas itu agak tidak biasa.”
“Begitu ya. Yah, kalau kau bilang begitu, benar juga sih,” jawab Katsuragi.
“Ya. Itu maksudku, bro,” tambah Ike.
“Jadi, kenapa kau pergi ke sekolah?” tanyaku. Aku berhasil mengubah topik pembicaraan, setidaknya untuk saat ini.
“Ini urusan pribadi. Tidak ada hubungannya denganmu,” jawabnya.
“Yah, mungkin aku terlalu banyak ikut campur, tapi apa ada sesuatu yang mengganggumu?”
“Apa maksudmu?”
“Kemarin kau juga membawa tas itu, kan? Agak tidak wajar membawa tas seperti itu ke sekolah. Kau selalu membawanya sejak kita bertemu di toko kemarin. Kupikir aku sudah melihatmu membawanya setidaknya tiga kali sejauh ini.” tanyaku.
“Aku punya urusan dengan OSIS. Itu saja,” katanya.
Sekali lagi, nama organisasi tertentu muncul.
“Jadi kemarin kau pakai seragam karena kau berencana mengunjungi ruang OSIS?” tanyaku.
“Benar sekali. Tapi sayangnya, mereka sedang tidak ada,” jawab Katsuragi.
“Jika aku tak salah ingat, ruang OSIS sedang direnovasi. Seharusnya belum dapat digunakan,” kataku padanya.
Katsuragi tampak terkejut. Dia bertanya bagaimana aku bisa tahu.
“Kebetulan aku punya sedikit hubungan dengan ketua OSIS,” kataku padanya.
“Kau kenalannya?” tanya Katsuragi.
“Yah, aku tak bisa bilang kalau kami benar-benar akrab, tapi … semacam itulah.”
“Ah, aku mengerti. Horikita dari Kelas D itu adik ketua OSIS, kan?” Katsuragi telah sampai pada kesimpulan itu. “Kalau begitu, mungkin sebaiknya kau menemaniku, jika waktunya memungkinkan. Apa kau keberatan?”
Dengan itu, kurang lebih aku mengerti niat Katsuragi yang sebenarnya.
“Kebetulan sekali. Aku juga punya beberapa urusan dengan OSIS,” jawabku.
“Itukah sebabnya kau memakai seragam?” dia bertanya.
Tentu saja, aku hanya memakainya untuk mengetahui niat Katsuragi. Sekarang, kupikir aku pasti bisa mendekat dan menyelinap ke ruang OSIS dengan mudah.
Katsuragi mengangguk. Meninggalkan yang lainnya, kami pun menuju ke gedung sekolah.
“Permisi,” kata Katsuragi dengan suara keras dan jelas, saat dia mengetuk pintu ruang OSIS. Ketua OSIS Horikita Manabu dan Sekretaris Tachibana menyambut kami. Horikita yang lebih tua segera menyadari kehadiranku.
“Sepertinya kita punya beberapa pengunjung yang tidak terduga.”
Aku membungkuk sedikit untuk memberi salam. Sekretaris Tachibana tampak jijik.
“Saya datang ke sini hari ini dengan sebuah permintaan. Saya dengar bahwa permintaan siswa diproses melalui OSIS,” kata Katsuragi.
“Rupanya, kau mampir kemarin. Sehari sebelumnya juga. Kami sedang tidak ada karena ruangan sedang direnovasi. Aku minta maaf,” jelas Horikita yang lebih tua.
“Oh tidak, tidak apa-apa. Ini liburan musim panas. Itu murni kesalahan saya. Namun, saya senang bisa bertemu dengan Anda hari ini. Saya sempat berpikir untuk pergi langsung ke gedung asrama untuk menemui Anda,” lanjut Katsuragi.
Mengapa Katsuragi ingin sekali datang ke ruang OSIS di tengah liburan musim panas? Apa sebenarnya niatnya?
“Sekolah melarang siswanya untuk menjalin kontak dengan siapa pun dari luar kampus selama kami terdaftar di sekolah ini. Saya datang untuk menanyakan lebih jauh tentang itu.”
“Sepertinya kau sudah menelaah peraturan sekolah. Tentu saja, kontak dengan orang luar tidak diperbolehkan, kecuali ada alasan kuat seperti sakit parah atau cedera.”
“Benar. Namun, saya ingin mengirim paket dan pesan ke keluarga saya di luar kampus. Tentu saja, saya tidak mengharapkan balasan,” kata Katsuragi.
Jadi maksudnya komunikasi satu arah, ya?
“Bahkan jika itu komunikasi satu arah, itu tetap tidak diizinkan,” jawab ketua, dengan cara yang sangat profesional.
Namun, Katsuragi tidak akan datang ke ruang OSIS jika dia belum punya persiapan. “Saya dengar bahwa aturan tentang memutus kontak tidak berlaku terkait pengiriman paket. Tentunya, jika yang dikirim tidak termasuk teks, informasi, atau komunikasi, itu tidak akan melanggar aturan, bukan?”
“Aturannya sudah jelas melarang. Batasan itu ada karena suatu alasan. Ketika sekolah ini didirikan, peraturannya tidak seketat sekarang,” jelas Horikita yang lebih tua. Dia memandang Sekretaris Tachibana dan mengangguk.
“Seperti yang dikatakan ketua. Awalnya, pengiriman paket masih diizinkan. Namun, beberapa siswa melanggar janji mereka. Mereka menyembunyikan surat dalam paket mereka tanpa terlebih dahulu meminta izin. Jadi, kontak semacam itu sekarang benar-benar dilarang,” katanya.
“Begitulah,” tambah Horikita yang lebih tua, memupuskan harapan Katsuragi.
Katsuragi belum siap untuk mundur. Meskipun dia siswa tahun pertama, dia masih ditugaskan memimpin Kelas A. Dia segera menilai kembali situasinya dan menenangkan dirinya.
“Saya harus bertanya pada Anda sekali lagi. Tolong izinkan saya untuk meminta pengiriman langsung dari toko itu. Saya akan membayar paket yang akan dikirim ke alamat tujuan saya, hanya itu. Saya bahkan tidak akan menyentuh barangnya. Di bawah ketentuan itu, tidak ada cara bagi saya untuk melakukan penipuan.”
“Tapi itu masih melanggar aturan—”
“Melanggar aturan? Sekolah ini adalah tentang mengembangkan kemampuan seseorang. Saya pernah dengar bahwa kita dapat melakukan apa saja, dengan poin yang cukup. Kita dapat membeli nilai ujian, atau bahkan bertransaksi dengan siswa lain. Sistem poin memiliki banyak kegunaan. Apakah saya salah?” dia bertanya.
Jelas sekali, hadiah ulang tahun ini sangat penting bagi Katsuragi.
“Itu membuat segalanya sedikit berbeda.” Kata-kata Katsuragi merubah sikap kakak Horikita. “Sebelum kita membahas tentang pengeluaran poin, dapatkah kau memberitahuku kepada siapa kau ingin mengirimkan paket ini?”
“Adik perempuan kembarku. Karena kami yatim piatu, hanya saya yang merayakan ulang tahunnya,” jawab Katsuragi.
Alasan itu sama sekali berbeda dari teori remeh yang kami bicarakan sebelumnya.
“Aku harus mengoreksi teorimu. Sistem poin itu bukanlah segalanya. Sangat mungkin menggunakan poin untuk membeli nilai ujian atau bertransaksi dengan siswa lain, tetapi hal-hal itu tidak pernah secara eksplisit disebutkan dalam aturan. Hal-hal yang secara eksplisit dilarang tidak dapat dengan mudah diubah menggunakan poin. Tanpa izin sekolah, itu tidak mungkin,” jelas Horikita.
Situasi yang rumit. Mari kita gunakan nilai ujian sebagai contoh. Aku pernah menggunakan poin untuk membeli nilai ujian untuk Sudou beberapa waktu lalu, suatu tindakan yang tidak ilegal. Kita diizinkan untuk membeli nilai ujian dengan poin. Namun, menyontek dalam ujian, bertentangan dengan aturan, dan tidak bisa dibuat legal melalui penggunaan poin.
“Peraturan sekolah harus dipatuhi.”
“Nah, itu anehnya. Jika itu benar, berarti aturannya penuh dengan celah.”
“Tidak ada yang aneh. Sekolah memang sengaja membuat peraturan yang penuh celah,” Horikita segera menjawab, seolah-olah ini mudah dipahami.
“…………”
Ketua adalah lawan yang sulit, bahkan untuk orang yang cerdas seperti Katsuragi. Perbedaan posisi mereka sangat mencolok. Horikita, yang merupakan siswa tahun ketiga, Kelas A, dan menduduki posisi ketua OSIS, tidak memiliki kelemahan.
“Jadi, maksud Anda tidak ada yang bisa saya lakukan?” tanya Katsuragi.
“Benar. Jika peraturan sekolah melarang itu, kau tidak bisa mengelak dari aturan itu, bahkan dengan poin.”
Katsuragi mungkin sudah siap untuk menghabiskan banyak uang, tapi tampaknya diskusi ini sudah berakhir.
“Jika kau sudah selesai, silakan pergi.”
“Baiklah. Saya mengerti. Kalau begitu, saya permisi.”
Katsuragi melirikku sekali. Ketika aku memberi isyarat bahwa aku akan tetap tinggal di sini, dia diam-diam meninggalkan ruangan.
“Kau tidak pergi?” tanya Horikita.
“Sebelumnya, kau berbicara tentang apa yang terjadi ketika pelanggaran aturan terungkap, kan?”
“Apa maksudmu?”
“Apa kau ingat insiden yang terjadi beberapa waktu lalu? Sudou, dari kelas kami, berkelahi dengan beberapa siswa dari Kelas C.”
Horikita mengangguk. Bagaimanapun, itu adalah masalah besar.
“Saat itu, kasusnya diadili justru karena siswa Kelas C mengajukan banding ke sekolah. Katsuragi, di sisi lain, belum melakukan kesalahan apapun. Dia hanya ingin bertanya tentang melakukan sesuatu yang bisa berpotensi melanggar aturan. Hanya kalian berdua, Katsuragi, dan aku yang menyadari hal ini. Bukankah seharusnya kau bisa mengesampingkan kejadian khusus seperti ini?”
Aku memilih kata-kataku dengan hati-hati, tetapi aku yakin mereka pasti mengerti maksudku. Katakanlah kita melakukan pelanggaran lalu lintas; kita akan ditanyai oleh polisi, tetapi kita bisa menyuap petugas untuk mengabaikan masalah ini.
“Mengirim paket biasanya memang sulit, tapi mungkin itu masalah biasa untukmu. Benar, kan?” tanyaku.
“Aku mengerti. Kau ingin menyelesaikan semuanya tanpa melibatkan sekolah,” jawab Horikita. Seseorang yang terhormat seperti Katsuragi mungkin tidak akan pernah memikirkan celah seperti itu.
“Melanggar aturan! Dasar siswa tak tahu diuntung,” bentak Sekretaris Tachibana. Sebisa mungkin abaikan saja.
“Bagaimana kau bisa sampai pada kesimpulan ini?” tanya Horikita.
“Aturan sekolah menyatakan bahwa tindakan kekerasan itu dilarang. Tapi, ketika pertama kali kita bertemu, kau tidak menunjukkan belas kasihan, kan? Kau sendiri yang membuktikan itu, selama sekolah tidak tahu, siswa bisa lolos dengan mudah,” jawabku.
Ketua atau bukan, Horikita seharusnya tidak menggunakan kekerasan untuk menyerang seseorang di depan umum.
“Benar sekali. Hanya ada satu cara untuk menghubungi seseorang dari luar. Tapi Katsuragi tidak menyadarinya, dan dia melewatkan kesempatannya,” kata Horikita.
“Maukah kau membantunya sekarang?” tanyaku.
“Sama sekali tidak. Aku tidak akan melanggar aturan demi dia.”
“Kau ini ketat juga ya.”
“Jika menurutmu begitu, kau seharusnya memberi tahu Katsuragi tentang celah itu sebelum dia pergi. Tapi kau tidak melakukannya.”
Berurusan dengan pria pintar seperti dia rasanya menyebalkan. Dia mengetahui niatku. Dia mengerti bahwa aku tidak ingin memberitahukannya ke Katsuragi.
“Yah, aku sudah selesai di sini. Kalau begitu aku pergi dulu,” kataku.
“Aku bisa minta Tachibana untuk menyiapkan segelas teh, jika kau mau?”
“Tidak, terima kasih. Lagipula aku tidak tahu apa yang akan kau masukkan ke dalamnya.”
“Ka-Kamu ini bisa sopan sedikit nggak sih jadi siswa!” bentak Tachibana.
Untuk beberapa alasan, saat aku berjalan pergi, kakak Horikita menemaniku menuju pintu keluar.
“Secara resmi, aku tidak bertemu dengan Katsuragi hari ini. Bahkan jika kau bertindak di belakang layar, aku tidak akan menyelidikinya. Lakukan apapun yang kau mau,” katanya.
“Tapi aku benar-benar tak ingin melakukan apa pun.”
“Aku hanya memberitahumu bahwa aku tidak akan terlibat.”
Lampu hijau telah menerangi jalanku menuju upaya menipu sekolah. Tatapan Horikita menembusku. Dia mungkin sudah tahu niatku yang sebenarnya.
“Astaga, dia itu cerdik sekali,” gerutuku.
~Bersambung~
Komentar
Posting Komentar