-->
Loading...

iklan adsense

VOLUME 4.5 CHAPTER 2 PART 4

Released on Juli 13, 2022 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download VOLUME 4.5 CHAPTER 2 PART 4, Streaming VOLUME 4.5 CHAPTER 2 PART 4, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 4.5 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!
PART 4

30 menit setelah aku berbicara dengan kakak Horikita, akhirnya Katsuragi pun muncul. Dia mengenakan pakaian yang sama dengan yang dia kenakan kemarin dan memegang semacam tas belanja. Mungkin isinya barang yang dia beli. 

Sekarang bagaimana? Aku bertanya-tanya. 

Masih ada waktu tersisa sebelum tanggal 29. Tapi jika Katsuragi membawa hadiah itu bersamanya sekarang, itu berarti dia berencana untuk menyerahkannya secepat mungkin, kan? 

Bagaimanapun, aku masih ingin tahu mengapa dia mengenakan seragamnya. Mungkin dia berencana untuk bertemu dengan orang ini dalam pakaian formal, tapi jujur aku tidak bisa membayangkan melakukan sesuatu yang begitu penting sambil mengenakan seragam lengkap di tengah cuaca panas. Aku menahan napas saat melihat Katsuragi tiba di persimpangan jalan. 

Dia tidak mengambil jalan menuju asrama kakak kelas. Tak kusangka, dia menuju ke arah yang tidak kuduga: menuju sekolah. Aku mengikutinya, berhati-hati agar dia tidak menyadariku. 

“Jadi itu sebabnya dia memakai seragamnya, ya?”

Aku akhirnya mengerti. Dia memakai seragam bukan karena dia menyukainya—itu karena dia hendak memasuki gedung sekolah. Katsuragi berjalan lurus melalui pintu masuk utama, aku tidak bisa mengikutinya lebih jauh lagi. Memasuki gedung sekolah sambil memakai pakaian santai itu dilarang. 

[Apa kau bertemu Katsuragi?!] 

Ponselku bergetar tanda adanya pesan masuk, tidak diragukan lagi itu pasti dikirim oleh salah satu dari mereka. Aku kembali memasukkan ponsel ke sakuku, lalu mengubah rencana seranganku. 

Aku menuju ke toko tempat Katsuragi memilih hadiah di Keyaki Mall kemarin. Karena penasaran dengan jenis barang yang dijual di toko lain, aku pun awalnya memasuki toko yang khusus melayani anak perempuan, tapi aku tidak bisa memahami perbedaan antara item yang dijual. Pada akhirnya, aku kembali ke toko tempat Katsuragi kemarin. Aku berdiri di depan tumpukan kotak cokelat dan mencoba membayangkan dia membeli hadiah untuk seorang laki-laki, tetapi sepertinya itu tidak mungkin. Kotak-kotak itu berhiaskan gambar hati dan desainnya imut yang tentunya sangat menarik terutama untuk anak perempuan.

“Ha ha ha! Iya kan?”

Beberapa siswi yang riuh lewat di belakangku. Aku merasakan benturan ringan di belakangku. 

“Aduh.” 

Secara refleks, sikuku menyapu tumpukan kotak-kotak itu. Cokelatnya berjatuhan seperti longsoran salju. Gadis-gadis itu, benar-benar terpaku dalam percakapan mereka, tidak memperhatikan tragedi yang baru saja terjadi. Mereka terus berjalan. 

“Astaga,” gerutuku. Setidaknya aku ingin mereka menyadari keberadaanku ... 

“Kau sedang apa?”

“Eh!” 

Saat aku dengan panik mencoba untuk menyusun kembali kotak-kotak itu, seorang pria memanggilku. Dia adalah Katsuragi. Dia tampak sangat bingung. 

“Aku datang ke sini untuk membeli…hadiah ulang tahun,” aku tergagap. 

Itulah satu-satunya jawaban yang bisa kuberikan. Katsuragi melihat ke kotak-kotak yang berserakan itu, lalu membungkuk dan mulai memungutnya. 

“Ah, tidak apa-apa. Aku bisa melakukannya sendiri,” kataku. 

“Jangan khawatirkan itu. Kupikir kekacauan ini mungkin bisa membuat pelanggan lain merasa tidak nyaman. Sebaiknya kita segera membereskannya. Berdua itu lebih baik daripada sendirian.” 

Tidak ada tanda-tanda ketidaksukaan dalam suaranya. Mungkin sudah sekitar 30 menit semenjak aku tiba di mal. Aku ingin tahu apakah Katsuragi telah menyelesaikan urusannya di sekolah, itu lumayan cepat. Namun, dia masih memegang tas hadiahnya. Aku diam-diam mengintip ke dalamnya dan melihat sebuah kotak kecil yang terbungkus kado. Hadiah itu. Dia belum memberikannya. 

Kami akhirnya selesai membereskan semuanya. Untungnya, baik pegawai toko maupun pelanggan lain tidak ada yang menyadari tindakan kami. 

“Terima kasih banyak.”

Katsuragi adalah pria yang baik. Bahkan ketika ujian di pulau tak berpenghuni, dia menunjukkan niat baiknya terhadap kelas kami ketika kami menemukan jagung. Kuharap dia tidak melakukan semua itu cuma karena terpaksa, tetapi dari yang kulihat dia tampaknya bukan orang jahat.

“Apa kau sedang membelikan hadiah untuk pacarmu?” dia bertanya padaku. 

“Hah? Eh, tidak, aku tidak punya pacar. Cuma hadiah untuk teman sekelas. Kupikir aku akan membelinya lain kali,” jawabku. 

Aku menjauh dari rak. Katsuragi, yang seolah sinkron denganku, juga menjauh. Aku memutuskan untuk mencoba mengekstrak lebih banyak informasi. 

“Kau membeli hadiah ulang tahun?” aku bertanya. 

“Hmm? Kenapa kau berpikir begitu?” 

“Yang kau pegang itu tas dari toko ini,” kataku. 

“Begitu ya. Yah, ya, kau memang benar. Aku tak menyadarinya,” renung Katsuragi. 

Matanya bertemu dengan mataku. 

“Aku tidak menemukan apa yang kuinginkan. Pilihannya tidak bagus. Kau sendiri beli apa?” aku bertanya. 

“Bukan barang yang penting. Cuma sekotak cokelat. Kupikir pilihan di toko ini tak terlalu buruk, tapi kukira itu tergantung pada selera setiap orang. Aku harus melihat-lihat di tempat lain,” jawabnya. 

Katsuragi berjalan menuju pintu keluar, aku pun mengikutinya. Kami meninggalkan toko itu bersamaan sebelum aku sempat bertanya untuk siapa hadiah itu. 

“Kenapa kau pakai seragam?” aku bertanya. Sebenarnya aku tak ingin membicarakan topik terkait hal ini, tapi dia sudah memakainya selama dua hari berturut-turut. 

“Kita diharuskan memakai seragam jika ingin masuk area sekolah,” dia menjawab. 

“Jadi, kau berniat pergi ke sekolah?” Tentu saja, aku sudah tahu itu. Yang sebenarnya ingin kutanyakan adalah untuk siapa hadiah itu. Kupikir informasinya akan mudah didapat, tapi sayangnya, tidak demikian. 

“Eng, yah, ada beberapa urusan pribadi yang harus kuselesaikan,” jawabnya. 

Meskipun jawaban Katsuragi tidak jelas, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Ia melirik sekilas ke arah sekolah.

“Hei, apa kau pernah memikirkan kerugian masuk sekolah ini?” dia bertanya. 

“Kerugian?” 

“Ya. Maksudku bukan tentang pembagian kelasnya. Tapi sesuatu yang mempengaruhi semua siswa secara setara.” 

Aku mempertimbangkan pertanyaan misterius itu. Sistem pembagian kelas tentu saja memiliki kerugian, tetapi masalah yang ditimbulkan dari sistem itu sebagian besar memengaruhi kelas yang lebih rendah—seperti kekurangan poin yang dialami Kelas D saat ini. Sulit membayangkan jika Kelas A berada dalam situasi yang sama. 

Karena Katsuragi mengatakan tentang kerugian yang berlaku untuk semua siswa secara setara, mungkin bukan tentang itu. Terus, apa yang dia bicarakan? Tidak ada satupun yang terlintas dalam pikiranku. 

“Kau tahu. Ketentuan bahwa kita tidak dapat menghubungi siapa pun dari luar sekolah,” jelasnya. 

“Ah, jadi itu ya maksudmu.” aku pribadi menganggap itu sebagai keuntungan, tapi hal itu mungkin terasa buruk dari sudut pandang orang normal. 

“Apa kau tidak ingin menghubungi orang tua atau saudaramu?”

“Eh. Yah, kurasa kebanyakan siswa juga pasti akan setuju denganmu,” jawabku. 

Beberapa gadis, khususnya, di antara mereka pasti ada yang merasa kesepian. Sekolah ini sangat ketat tentang pengendalian arus informasi, sehingga melarang komunikasi dengan dunia luar. Jika melanggar aturan itu, siswa yang bersangkutan akan dikeluarkan. 

“Tapi keuntungan yang kita dapatkan dari sekolah ini luar biasa. Kerugian semacam itu tidak cukup untuk membuat kita merasa tidak puas, kan?” aku bertanya. 

“Benar. Baik itu sistem poin, maupun lengkapnya fasilitas di sekolah ini, itu semua adalah hal-hal yang selalu diimpikan oleh siswa biasa,” jawabnya. 

Selain itu, Katsuragi juga akan lulus dari Kelas A. Tunggu, kenapa aku bisa berbicara begitu santai dengan Katsuragi? Dan lagi selama liburan musim panas. 

“Kau dekat dengan Horikita, kan?” dia bertanya. 

“Apa kesalahpahaman itu sudah jadi rumor atau semacamnya?” aku bertanya. 

“Kesalahpahaman? Kulihat kalian berdua bekerja sama sebelumnya.”

“Yah, cuma sebatas itulah. Bukan berarti kami berdua menginginkannya, tapi kami agak dipaksa bekerja sama, begitulah. Kami benar-benar hanya bicara karena kami duduk bersebelahan,” jelasku. 

Katsuragi sepertinya mengerti. Dia mengangguk. “Ah, jadi begitu. Yah, meskipun aku tahu banyak tentang kelas lain, ada juga hal yang tidak aku tahu. Jika aku menyinggungmu, tolong maafkan aku. Aku tidak punya niat buruk,” jawabnya. 

“Nggak, banyak yang bilang begitu. Jangan dipikirkan. Horikita itu cukup aktif, dan dia melakukan banyak hal,” jawabku. 

“Kelihatannya memang seperti itu.” sepertinya Katsuragi tidak ingin membicarakan hal ini lebih jauh lagi. Sebaliknya, dia mengubah topik pembicaraan. “Sejujurnya, ini adalah ketiga kalinya aku mengunjungi toko ini. Aku ini tipe orang yang cenderung kepikiran dengan hal-hal kecil. Bahkan hanya untuk sebuah hadiah, aku tidak bisa membuat keputusan yang cepat ketika melibatkan perasaan seseorang.” 

Seseorang yang membuatnya menderita karena sebuah hadiah? Siapa orang yang bisa melakukan itu? Aku memutuskan untuk mencoba menggali lebih dalam. 

“Kau benar-benar orang yang tulus. Rela berbelanja ke toko dan membelikan hadiah ulang tahun untuk seseorang,” jawabku. 

“Apa aneh kalau aku ingin merayakan ulang tahun seseorang?”

Melihat pria botak raksasa di depanku ini, aku merasa bahwa penampilannya sangat bertentangan dengan tindakan baiknya. Tapi itu hanyalah anggapanku sendiri. Bahkan, di dunia ini ada berandalan yang rela memungut seekor kucing yang dibuang di tengah derasnya hujan. 

“Oke, aku langsung saja. Untuk siapa hadiah itu?” tanyaku. Bertanya ke Katsuragi secara tidak langsung tidak akan membawaku kemana-mana. 

“Untuk siapa?” dia tampak bingung. “Ini urusan pribadi. Kau tak boleh tahu.” 

Dia mengelak dari pertanyaan itu. Jika kami berteman baik, aku mungkin saja mampu mendorongnya lebih jauh lagi, tetapi untuk saat ini, aku tidak bisa berbuat banyak. 

“Kalau begitu, aku duluan,” tambahnya. Dengan itu, Katsuragi kembali menuju asrama. 

Aku berhasil memecahkan misteri mengapa dia mengenakan seragam, tetapi banyak misteri bermunculan setelahnya. Mengapa Katsuragi pergi ke gedung sekolah? Mengapa dia kembali ke toko? Aku tidak tahu sama sekali.

~Bersambung~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢