PART 3
“Panas. Ini panas sekali, rasanya seperti mau mati…”
Keesokan harinya, aku bersiaga di persimpangan jalan yang menghubungkan rute ke berbagai asrama, aku memilih tempat di bawah pohon-pohon yang berjejer di sepanjang jalan. Persimpangan jalan ini adalah lokasi yang tepat jika kita ingin bertemu dengan seorang siswa senior. Rute ini juga bersinggungan dengan jalan menuju Keyaki Mall dan gedung sekolah. Tidak peduli kemana Katsuragi memutuskan untuk pergi, aku tidak akan kehilangan jejaknya.
Akan lebih baik menunggu di lobi yang nyaman, tapi sayangnya, beberapa gadis dari kelas lain telah memutuskan untuk berkumpul dan minum teh di sana. Rasanya seperti saat kita ingin memasuki restoran tapi tempatnya sudah penuh. Aku tidak cukup percaya diri untuk mencoba menyelinap ke lobi, jadi aku akan coba duduk dan rileks ketika ada kursi kosong.
Tentu saja, semua siswa berpakaian santai. Itu membuatku berpikir tentang pakaian Katsuragi kemarin, yang masih mengenakan seragamnya. Tidak ada aturan yang menyatakan bahwa kami tidak boleh mengenakan seragam selama liburan musim panas, kesampingkan tentang fashion, memakai seragam di cuaca seperti ini pasti akan terasa sangat panas. Katsuragi bahkan memakai kemeja seragam lengan panjang, bukan yang lengan pendek untuk musim panas.
Karena poinku biasanya sedikit, aku tidak menyadarinya sampai saat ini bahwa pakaian musim panas dijual dengan harga yang agak tinggi. Ada gadis-gadis di kelas kami yang menginginkannya, tetapi tak mampu membelinya. Pasti ada alasan mengapa sebagian orang lebih memilih memakai seragam sekolah—dan bukan hanya orang-orang seperti Katsuragi, meskipun dia adalah orang pertama yang kusadari. Cuma sedikit orang selain dia yang tampaknya juga menyukainya.
Ada sepasang siswa yang berjalan keluar dari asrama kakak kelas—seorang laki-laki dan seorang gadis. Ketika mereka melihatku, mereka mengubah arah dan berjalan ke arahku.
“Yo. Lama tak ketemu.”
“Kupikir siapa tadi yang masih mengenakan seragam sekolah di tengah cuaca sepanas ini. Ternyata kakak Horikita ya,” gumamku.
Tidak seperti Katsuragi, keduanya mengenakan seragam musim panas. Tetap saja, aku merasa ada sesuatu yang tidak pada tempatnya.
“Uwah. Ketua, ekspresi siswa ini benar-benar tidak mengenakkan,” kata gadis di sebelah Ketua OSIS Horikita Manabu. Dia berbicara dalam bahasa yang keras, sedikit berlebihan. Dia adalah siswi tahun ketiga, Sekretaris Tachibana.
Seragam anak gadis tampak tidak terlalu panas seperti seragam anak laki-laki.
“OSIS tampaknya agak sibuk, bahkan selama libur musim panas,” kataku. Sekretaris Tachibana memegang buku catatan. Untuk sesaat, aku hampir mendapat kesan bahwa semester kedua sudah dimulai.
“Kami memutuskan untuk melakukan beberapa perombakan tugas di ruang OSIS,” jelas Sekretaris Tachibana.
“Oh, begitu.”
“Itu tadi respon yang sangat bodoh. Kamu harus hati-hati dengan apa yang kamu katakan, tahu? Apa kamu tahu dengan siapa kamu berbicara? Ini adalah Ketua OSIS yang paling ditakuti!”
Ya, aku tahu itu. Aku juga tahu kalau Horikita Manabu punya pengaruh yang luar biasa. Aku mempertimbangkan untuk menggunakan nada yang lebih hormat, tapi membuang pemikiran itu. Lagipula, kakak Horikita sepertinya tidak mengharapkan itu dariku.
Sementara itu, Sekretaris Tachibana sangat berbeda dari yang kubayangkan. Kupikir dia tipe gadis yang lebih serius, tapi sebenarnya dia agak lunak.
“Apa kau ingin menghukumku? Sekarangpun aku benar-benar kehabisan poin.” aku menjawab apa yang dikatakan Sekretaris Tachibana.
Kupikir kakak Horikita tidak akan mau menghabiskan waktunya dengan seseorang sepertiku. Tapi ketua OSIS menyipitkan matanya dan berkata, “Ayanokouji, jika kau sedang senggang, aku ingin kau menemaniku.”
“Ke-Ketua?” Sekretaris Tachibana terkejut oleh ajakan itu. Aku juga. Tapi…
“Jadwalku padat. Maaf.”
“Hah?! Kamu menolaknya?!” Sekretaris Tachibana benar-benar tercengang.
“Kapan pun kau senggang tidak apa-apa. Aku tidak keberatan menemukan waktu yang tepat untukmu, bahkan setelah semester dimulai,” kata Horikita.
Rupanya, dia tidak punya niat untuk menyerah. Menghindari masalah tidak akan membantu. Aku tidak ingin membuang waktuku nantinya. Mungkin lebih baik menerima permintaannya.
“Baiklah. Kalau begitu sekarang saja. Aku masih punya waktu sebelum jadwalku berikutnya,” jawabku.
“Tapi bukankah kamu tadi bilang kalau jadwalmu padat?"
Aku mengabaikan Sekretaris Tachibana.
“Kau berencana pergi kemana? Aku tidak keberatan mengubah jadwalku dan menyesuaikannya dengan jadwalmu,” kata Horikita.
“Eng, aku sedang menunggu seseorang. Jika memungkinkan, aku lebih suka tidak bergerak.”
“Tapi bukankah di sini sangat panas? Di sini tidak cocok untuk tempat ketemuan.”
“Aku sangat tahu itu.” aku tidak keberatan sedikit menderita. Jika aku boleh sedikit sombong, kupikir itu akan keren.
“Yah, kurasa kita bisa bicara di sini saja. Kalau kau merasa tidak nyaman, kau bisa kembali ke asrama duluan,” kata ketua kepada Tachibana.
“Tidak. Naluri saya mengatakan untuk tidak meninggalkan Anda sendirian dengan bocah ini, Ketua!” jawab Sekretaris Tachibana dengan hormat, seolah-olah dia adalah pengawalnya.
Horikita berbalik ke arahku. “OSIS telah menerima laporan dari hasil ujian pulau, dan ujian di kapal. Apa itu sulit?” dia bertanya.
“OSIS benar-benar mengamati semuanya, ya? Tak kusangka kau sudah mendapatkan hasil ujian itu,” jawabku.
“Yah, aku tidak tahu seberapa detail laporan itu. Tindakan individu yang diambil selama ujian tetap tidak jelas.”
“Syukurlah.”
“Kamu bersyukur karena ketua belum menemukan kegagalanmu, iya kan?” gumam Tachibana.
Sekretaris Tachibana sepertinya benar-benar tidak menyukaiku. Itu bisa dimengerti, mengingat betapa santainya aku bercakap-cakap dengan Ketua OSIS.
“Bagaimanapun juga, beberapa informasi pasti selalu bocor. Aku tahu kalau kau sudah mengakali kelas lain di pulau itu, dan VIP Kelas D di kelompok Kelinci tidak terdeteksi, dia berhasil menyembunyikan identitasnya,” kata Ketua Horikita.
Dia mengatakan bahwa segala sesuatunya tidak jelas, tetapi sepertinya dia tahu sedikit. Aku curiga ada kolusi.
Horikita melanjutkan, “Nama Horikita Suzune muncul setelah ujian pulau. Kudengar dia menjadi pemimpin sejati kelasnya dan telah mengakali semua orang. Namun, kupikir itu ulahmu.”
“Apa kau tidak terlalu melebih-lebihkan aku?” aku bergumam.
“Pada akhirnya, nama pemimpinnya berubah menjadi namamu. Bagaimana kau menjelaskan itu?”
“Kau bahkan tahu tentang semua itu, ya?”
“Komite ujian khusus dan aku adalah satu-satunya yang tahu hal ini. Nah, dan sekarang Sekretaris Tachibana juga tahu. Guru wali kelas tidak memiliki informasi ini, jadi tenang saja.”
Berapa banyak kaki tangan yang dimiliki orang ini? Organisasi sekolah itu biasanya bersifat dekoratif. Mereka tidak memiliki otoritas yang nyata. Mereka sampai bisa memiliki akses informasi yang bahkan tidak diketahui oleh guru? Sama sekali tak terpikirkan.
“OSIS itu sebenarnya apa?” aku bertanya.
“OSIS itu sendiri tidak memiliki kekuatan. Kemampuan orang yang duduk di atasnyalah yang terpenting.”
“Wow, itu pernyataan yang mengesankan. Kau benar-benar siswa Kelas A, ya?”
“Bukankah itu sudah jelas?!” bentak Tachibana.
“Tapi ada yang masih belum kumengerti. Perbedaan antara Horikita dan aku sangat jauh. Jika kau memeriksa datanya, Horikita jauh lebih unggul. Kenapa kau repot-repot memperhatikan pecundang Kelas D sepertiku?”
“Kau salah paham. Aku tidak menganggap orang-orang di Kelas D itu bodoh. Sekolah ini tidak hanya memasukkan semua siswa yang punya kemampuan superior ke dalam Kelas A,” jawabnya.
“Eng, Ketua? Anda mungkin terlalu banyak bicara,” kata Tachibana. “Bukankah terlalu berlebihan mengatakan semua itu?”
“Tidak masalah. Aku yakin dia ini sudah mengerti tentang hal itu.”
Ketua OSIS tampak sangat fokus padaku sejak pertemuan pertama kami. Berapa lama dia berencana untuk terus begini?
“Kalau begitu, kenapa kau memandang rendah Horikita? Bukankah itu karena dia berada di Kelas D?” aku bertanya.
“Aku sudah tahu tentang semua kemampuan adikku. Dia itu siswi gagal yang masuk ke dalam Kelas D. Tidak lebih, tidak kurang,” jawabnya.
Dia memandang adik perempuannya dalam cara yang sangat keras.
“Semuanya adalah strategi Horikita. Adikmu itu tidak punya teman kecuali aku, jadi dia mempekerjakanku untuk memainkan peran yang diperlukan,” jawabku.
“Itu tidak benar. Dia tidak akan pernah memikirkan hal seperti itu.”
Sepertinya dia memiliki pemahaman yang sempurna tentang Horikita, mungkin karena mereka tumbuh bersama. Meski begitu, sekarang aku mengerti tentang sesuatu. Orang ini mungkin memperhatikanku karena alasan yang sama seperti Chabashira-sensei.
Jika dia tahu bahwa aku mencetak nilai tepat 50 di semua ujian masukku, dia mungkin juga memperhatikan perbedaan antara resumeku dan laporan siswaku.
“Berhentilah mencari informasi tentang kehidupan pribadiku. Aku hanya ingin menghabiskan hari-hariku di sekolah ini dengan tenang,” kataku.
Sebagai tanggapan, Ketua OSIS mendorong kacamatanya dan mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan.
“Aku pernah menanyakan ini padamu sebelumnya. Maukah kau bergabung dengan OSIS?”
Mata Sekretaris Tachibana melebar karena terkejut.
“Wow, itu terdengar sangat mudah. Apa masih ada posisi yang belum terisi atau semacamnya?” tanyaku.
“Ke-Ketua?” Sekretaris Tachibana tergagap. “Bukankah kita baru saja menerima seorang gadis tahun pertama ke OSIS tempo hari? Kita juga mendapat lamaran baru dari siswa tahun kedua. Semua kursi harusnya sudah terisi.”
“Masih ada satu posisi lagi, bukan?” tanyanya.
“Satu lagi? Ja-Jangan bilang Anda—?!”
“Ayanokouji, jika kau mau, aku akan menunjukmu menjadi wakil ketua,” kata ketua.
“Tu-Tunggu sebentar!” Sekretaris Tachibana dalam sekejap menentang hal ini. Menarik sekali. “Ini benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya! Dia ini siswa tahun pertama, dan dari Kelas D, kasta terbawah! Kita tidak bisa begitu saja menunjuk anak laki-laki kasar ini menjadi wakil ketua!”
“Aku sudah pernah bilang, tapi aku menolak apapun posisi yang kau tawarkan,” kataku.
“Dan terlebih lagi, dia terus menolak!” Tachibana meratap.
Ini semua agak aneh. Aku tidak dapat membayangkan bahwa ketua sedang bercanda; penilaiannya terhadapku tampak jujur. Kakak Horikita memang memiliki akses ke berbagai macam informasi, dan aku bisa mengerti mengapa dia memilihku, daripada orang-orang seperti Ike dan Yamauchi (bukan berarti merendahkan mereka). Tapi dia seharusnya lebih tertarik dengan orang-orang seperti Katsuragi dan Ichinose, atau bahkan Hirata. Ada juga kandidat lain dengan kemampuan laten yang kuat, seperti Kouenji.
Ketua tidak punya motif untuk terpaku padaku. Pasti ada alasannya.
“Aku tidak tahu apa aku harus mengatakan ini, tapi mulai tahun depan, sekolah ini akan berubah secara dramatis. Bukan ke arah yang lebih baik. Ketika saatnya tiba, aku akan membutuhkan kekuatan untuk melawan perubahan itu. Mungkin sudah terlambat. Kebutuhan selalu tumbuh lebih kuat setiap harinya.”
“Ketua, Anda sedang berbicara tentang apa yang akan terjadi ketika Nagumo-kun terpilih menjadi ketua selanjutnya, kan? Saya tidak bisa membayangkan kalau dia akan mengubah sekolah ini secara sewenang-wenang,” kata Tachibana.
Aku belum pernah mendengar nama "Nagumo" dari siswa tahun pertama mana pun. Jika ketua mengatakan bahwa perubahan itu akan terjadi tahun depan, itu berarti Nagumo adalah siswa tahun kedua.
“Bisa ada dua wakil ketua OSIS. Biasanya hanya ada satu dari angkatan tertentu, tapi jika kau menginginkan posisi itu, itu tidak mustahil,” katanya kepadaku.
“Ti-Tidak, tidak, tidak, Ketua! Itu tidak mungkin…! Tidak mungkin Nagumo-kun akan mengizinkan hal seperti itu,” protes Sekretaris Tachibana.
“Dengar, aku tidak tahu tentang wakil ketua, atau orang bernama Nagumo ini, atau apa pun itu. Aku tidak menerimanya. Selain itu, kau sebentar lagi lulus, kan? Kau tidak perlu khawatir tentang angkatan di bawahmu. Atau itu memang harus dikhawatirkan?” aku berhenti sejenak, menggunakan keheningan singkat itu untuk menekankan pentingnya apa yang terjadi selanjutnya. “Yah, jika kau ingin aku membantumu karena kau khawatir tentang adikmu, aku mungkin bisa memintamu untuk berkonsultasi.”
“Begitu ya.”
Horikita Manabu sepertinya sudah menyerah padaku.
“Maaf telah menyita waktumu. Silahkan mampir ke OSIS kapan pun kau mau. Aku dengan senang hati akan menawarkan teh padamu,” katanya.
Bahkan seseorang seperti ketua OSIS sedang bergulat dengan kecemasannya sendiri, pikirku. Aku ingin kembali ke asrama, tapi tidak bisa. Aku harus menunggu Katsuragi.
~Bersambung~
Komentar
Posting Komentar