-->
Loading...

iklan adsense

VOLUME 4.5 CHAPTER 2 PART 2

Released on Juli 07, 2022 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download VOLUME 4.5 CHAPTER 2 PART 2, Streaming VOLUME 4.5 CHAPTER 2 PART 2, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 4.5 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!
PART 2

“Hei. Kalian ini, kenapa harus selalu di kamarku?” aku bertanya. 

Untuk beberapa alasan, kelompok kami selalu berkumpul di kamarku setelah makan malam. Ike dan Yamauchi ada di sana, seperti yang mereka janjikan. Kushida juga datang, begitupun Sudou, setelah dia menyelesaikan kegiatan klubnya. Jika Horikita juga datang, semuanya akan lengkap. 

“Kikyou-chan, apa kamu tahu ulang tahun gadis-gadis lain?” tanya Ike. 

“Ya. Kupikir aku sudah hafal tanggal lahir semua orang yang memberitahuku, sih. Kamu ingin tahu ulang tahun siapa?” dia menjawab. 

“Yah, masalahnya, dia mungkin bukan seseorang dari Kelas D,” tambah Ike. 

“Jika itu kakak kelas, jujur saja aku kurang tahu sih. Tapi jika dia siswi tahun pertama, mungkin aku mengenalnya,” kata Kushida, sama seperti yang kuharapkan. 

“Siapa gadis yang berulang tahun tanggal 29 bulan ini?” tanya Ike.

“Seorang gadis yang ulang tahunnya tanggal 29? Tunggu sebentar,” kata Kushida. 

Dia mengeluarkan ponselnya dan melihat ke layar yang sepertinya adalah daftar hari ulang tahun semua orang. Setelah dia menggulir sebentar, dia melihat kembali ke arah kami. 

“Maaf, tapi sepertinya orang-orang yang kukenal tidak ada yang berulang tahun di tanggal itu.” 

“Kupikir dia mungkin gadis dari Kelas A.”

“Kelas A? Hmm… Aku sih tahu semua hari ulang tahun mereka.” 

Namun, Kushida sepertinya tidak tahu hari ulang tahun seorang gadis yang jatuh pada tanggal itu, tepatnya lusa nanti. 

“Jika dia gadis tahun pertama, aku seharusnya mengenalnya, tapi aku tidak bisa memikirkan siapa orangnya,” renung Kushida. Bahkan jika jaringan sosialnya yang luar biasa tidak bisa membantu kami mengetahui namanya, berarti gadis itu mungkin berasal dari kelas yang berbeda.

“Apa ini artinya dia itu kakak kelas?” kata Ike sambil melempar tangannya ke atas dalam kekalahan dan ambruk ke punggungnya. 

“Memangnya ada apa ya dengan gadis yang lahir tanggal 29?” tanya Kushida. 

Ike menjawab tanpa basa-basi. “Dengarkan ini! Kamu tahu si botak dari Kelas A, Katsuragi?” 

“Ya. Katsuragi-kun itu terkenal. Dia itu pemimpin kelas. Aku satu kelompok dengannya selama ujian di kapal,” jawab Kushida. 

“Yah, si botak itu bakalan memberi hadiah ulang tahun kepada seseorang tanggal 29 nanti. Meskipun dia itu botak!” 

Ike terus mengulangi kata "botak," menyebabkan Kushida memberinya kata peringatan. “Katsuragi-kun kehilangan rambutnya ketika dia masih muda, karena sakit. Kamu tidak boleh mengolok-oloknya seperti itu.” 

“Eh…” 

Dimarahi, Ike terdiam. Dia seharusnya menyadari kalau mengejek orang sakit itu memalukan. Bahkan jika itu hanya untuk lelucon semata. 

“Oke, jadi, mulai sekarang, kamu harus memanggilnya dengan benar, ya?" 

“Te-Tentu saja. Maaf, Kikyou-chan.” 

“Tidak apa-apa, asalkan kamu sudah mengerti sekarang.” Ada jeda singkat. Sepertinya ada satu hal lagi yang ingin Kushida bicarakan. “Dan juga, tentang apa yang terjadi hari ini dengan Shinohara-san…” 

“Eh…” 

Ike rupanya lupa tentang kejadian itu, tapi Kushida tidak. 

“Kamu mengerti apa yang harus kamu lakukan tentang itu, kan?” Dia tidak menyentuh subjek itu secara langsung, tetapi hanya menanyakan pertanyaan itu dengan cara yang lembut. 

“Aku akan minta maaf,” jawab Ike dengan cemberut. Dia tampak tidak puas, tapi dia terdengar bersungguh-sungguh. Dia memelototi Yamauchi, yang tertawa. 

“Bagus. Jika kamu melakukan itu, kupikir Shinohara-san akan memaafkanmu.” 

Ike mungkin menjadi sedikit lebih dewasa, berkat Kushida. 

“Jadi, kamu membicarakan tentang Katsuragi-kun yang akan memberi hadiah ulang tahun ke seseorang ya?” tanya Kushida.

“Oh, ya, ya. Aku ingin tahu apa kamu mungkin tahu sesuatu tentang hal itu, Kikyou-chan.” 

Kushida tampak sedang mengingat-ngingat dengan serius jaringan sosialnya, tapi tidak bisa menghasilkan apa-apa. “Hmm. Aku tidak pernah mendapat kesan kalau Katsuragi-kun itu tipe orang yang romantis,” renungnya. “Setidaknya, sebelumnya belum pernah.” 

“Mungkinkah hadiah itu untuk kakak kelas?”

“Kurasa begitu. Lagi pula, masih banyak yang tidak kuketahui.” 

Akan sangat mengesankan jika Katsuragi sudah berkencan dengan kakak kelas walaupun baru masuk ke sekolah ini. Aku benar-benar kagum dengan pemimpin Kelas A. Dengan demikian, haruskah kami mempersempit pencarian di tahap ini? Kami berspekulasi kalau dia memang punya pacar. 

“Karena sudah begini, ayo kita cari tahu siapa pacar Katsuragi itu bagaimanapun caranya!” Ike mendesak. 

Aku merasa tidak enak karena menyela ketika mereka sedang bersemangat, tetapi kurasa aku harus menunjukkan kemungkinan lain. “Apa kita benar-benar harus menyimpulkan kalau Katsuragi itu berbelanja untuk seorang gadis senior?” aku bertanya. 

“Kikyou-chan bilang dia tidak mengenal gadis yang berulang tahun di tanggal 29, jadi tidak ada pilihan lain, kan? Atau aku mungkin melewatkan sesuatu? Tidak mungkin kalau itu Horikita-san, kan?” 

Itu adalah asumsi yang sama sekali tidak berdasar, tapi aku tidak bisa mengecualikan kemungkinan itu. 

“Yah, kurasa itu mungkin saja.” 

“Hah? Kau bercanda, kan?” Sudou, yang dari tadi mendengarkan dengan tenang percakapan kami, tiba-tiba meraih kerah Ike dan memelototiku. 

“Geh! A-Ayolah. Aku kan cuma bilang 'mungkin'!” teriak Ike, panik. 

“Hei, Ayanokouji. Kapan ulang tahun Suzune?” Sudou menggeram. 

“Entahlah,” jawabku. 

“Hah!? Yang benar saja!” bentaknya. 

Aku masih tidak tahu kapan ulang tahun Horikita. 

“Kurasa tidak ada orang di sekolah kita yang tahu hari ulang tahunnya,” jawabku. Satu-satunya orang yang mungkin tahu adalah kakak laki-lakinya, Horikita Manabu, sang ketua OSIS.

“Begitu ya. Ya, kukira kau ada benarnya. Hanya karena aku tidak tahu, dan Ayanokouji tidak tahu, bukan berarti dia tahu, kurasa.” Sudou mengangkat bahunya. 

“Aku tahu kok ulang tahun Horikita-san. Tanggal 15 Februari. Kupikir itu tidak terlalu ada hubungannya dengan hal ini,” Kushida mengumumkan. 

“Kerja bagus, Kushida,” kataku. 

Aku memujinya tanpa berpikir. Aku bahkan tidak menyangka kalau Kushida akan mendapatkan informasi tentang seorang penyendiri yang keras kepala seperti Horikita dan Ibuki, terutama Horikita. Aku adalah salah satu dari sedikit orang yang tahu bahwa Kushida membenci Horikita, dan Horikita membenci Kushida. 

Aku tidak mengira mereka berhubungan baik sampai-sampai mereka saling memberi tahu hari ulang tahun masing-masing. 

“15 Februari, ya? Sepertinya aku baru dapat info yang bagus,” Sudou tertawa. Dia memasang seringai lebar. Ike, yang masih dipiting, mencoba untuk melepaskan diri sampai-sampai wajahnya menjadi biru. “Oh maaf. Salahku. Aku lupa kau masih di situ.” 

“Ken, kau benar-benar harus lebih berhati-hati. Kau itu sangat kuat!” Ike mengerang, mengatur nafas. 

“Kau yang memintanya,” jawab Sudou. 

“Kalau begitu kau juga harus melakukan itu pada Ayanokouji! Kenapa kau cuma menyerangku?!”

“Karena kau yang paling dekat.” 

“Kau ini bego ya!?”

“Hah?”

Sudou bergerak untuk meraih kerah Ike lagi, Ike pun panik dan menjauh darinya. Kuharap mereka tidak menyebabkan keributan di kamar orang lain. Atau setidaknya, tidak di kamarku. 

“Yah, percakapannya agak keluar jalur, tapi aku memikirkan beberapa kemungkinan. Ada kandidat potensial lain yang juga jadi target hadiah Katsuragi. Bisa jadi itu guru, atau salah satu pekerja Keyaki Mall. Maksudku, orang-orang yang kita lihat saat kita berbelanja hari ini semuanya cantik, kan?” kataku.

“Be-Begitu ya. Dari perkataanmu, itu ada benarnya.” 

Siapa yang tahu apakah orang dewasa bahkan akan mempertimbangkan untuk berkencan dengan siswa SMA tahun pertama? Dari perspektif hukum dan moral, hampir tidak ada cara mereka bisa menjadi pasangan. Aku yakin Katsuragi juga mengerti hal itu. Namun, kami tidak dapat mengecualikan kemungkinan itu. Kami harus berhati-hati untuk tidak memutuskan begitu saja kalau orang itu adalah kakak kelas. 

Aku ingin Ike dan Sudou mengerti bahwa mungkin jalan yang terbaik adalah membiarkannya saja. 

“Bagaimana kalau kita sudahi saja ini, kupikir kita tidak perlu terlalu terbawa suasana mencari siapa pun pasangan Katsuragi itu, kan?” 

“Kau yakin?! Bagaimana kalau si botak itu punya pacar berdada besar, yang benar-benar menyukainya, meskipun dia lebih tua?!” 

“Maksudku, dia itu siswa Kelas A. Tidak aneh jika dia populer di kalangan gadis-gadis yang lebih tua.” Dan jika dia memang memiliki pacar ideal seperti ini, aku tak habis pikir kalau dia segila itu. 

Kami, di sisi lain, berasal dari Kelas D. Hanya menjadi sedikit menarik atau memiliki kepribadian yang baik tidak cukup untuk membuat kami populer. Meskipun begitu, Hirata populer di kelas kami dan di kalangan kakak kelas. Kouenji sepertinya juga memiliki tingkat popularitas yang luas. 

Pada akhirnya, satu kesamaan yang kumiliki dengan Ike dan yang lainnya adalah bahwa kami tidak terlalu populer. 

“Aku benar-benar benci memikirkan kalau si Katsuragi itu mendahuluiku!” Ike merengek. 

“Tidak ada yang bisa kita lakukan, kan?” 

“Itu tidak benar! Hanya karena kita mungkin akan kalah darinya bukan berarti kita tidak memiliki peluang untuk menang!” Sudou berteriak. 

Dia menatap ke arah kami, menepuk pahanya yang berbalut celana pendek. 

“Dalam basket, kita dapat menggunakan permainan yang hampir tidak diperbolehkan. Kita bahkan bisa melakukan pelanggaran, jika benar-benar diperlukan untuk menang. Keinginan yang kuat untuk meraih kemenangan adalah hal yang benar-benar penting. Jika Katsuragi memberikan hadiah kepada seorang gadis dan itu akan membuat mereka semakin dekat, maka kita cuma harus menghentikannya,” lanjut Sudou. 

Itu sewenang-wenang. Dalam kompetisi atletik, logika Sudou mungkin masuk akal, tetapi apa yang dia katakan saat ini tidak berasal dari kecemburuan, bukan pula rasionalitas. Itu tidak bagus, meskipun Sudou sepertinya sangat termotivasi.

“Aku jadi ingat, sebentar lagi kau ikut turnamen, kan?” kata Yamauchi ke Sudou. 

“Ya. Sekarang hari Kamis. Aku tidak tahu apa aku akan dimainkan, tapi aku sudah siap, pastinya,” jawab Sudou. Desh! Dia membanting tinju kanannya ke tangan kirinya yang terbuka. 

“Baiklah, sip! Aku akan menghalangi si Katsuragi itu!” Ike sangat setuju dengan rencana Sudou untuk mengganggu Katsuragi. 

“Kushida, tolong katakan sesuatu padanya,” kataku. 

“Kanji-kun, kamu tidak bisa ikut campur,” kata Kushida. 

“Hah? Tapi… Kikyou-chan, kamu juga tertarik dan penasaran kan tentang pacar si Katsuragi itu?” 

“Tentu saja aku penasaran, tapi ikut campur urusan orang lain itu tidak baik.” 

Dalam sekejap, Kushida memadamkan kegembiraan Ike seolah dia memadamkan kobaran api. Ike tampak kecewa. Dia berbalik ke arahku, mungkin dia merasa tidak puas bahwa Kushida telah menolak rencananya untuk ikut campur, atau mungkin dia juga mengingat dengan apa yang terjadi dengan Shinohara sebelumnya. 

“Oke. Kalau begitu, kau saja, Ayanokouji. Selidiki identitas orang misterius itu. Cari tahu untuk siapa Katsuragi memberikan hadiah itu.” 

“Itu mustahil.”

“Kau harus melakukannya. Kau punya waktu luang, kan?” 

Aku tidak dapat menyangkal itu, tetapi aku lebih suka kalau Ike sendiri yang menyelidiki masalah ini. 

“Baiklah, tentu, kau ingin aku mencari tahu tentang orang ini. Tapi aku bahkan tidak sekelas dengan Katsuragi, dan kami juga bukan teman,” jawabku. 

Mencoba menyelidiki seseorang yang namanya bahkan tidak aku ketahui, mendapatkan informasi kontaknya dan nomor kamarnya, akan menjadi tugas yang berat. 

“Aku punya nomor kontak Katsuragi-kun kok. Mau aku bagikan?” tanya Kushida.

“…………” 

Tidak aneh jika dia mengetahui informasi kontak Katsuragi. Kushida adalah seorang gadis cantik dengan jaringan sosial yang luas. Bagaimanapun, dia bahkan juga tahu hari ulang tahun Horikita. 

“Bagaimana kau bisa tahu nomor Katsuragi?” aku bertanya padanya. 

“Kami ditempatkan di grup yang sama selama ujian khusus kemarin, aku memintanya waktu itu.” Bertukar informasi kontak dengan santai seperti itu benar-benar luar biasa. “Jadi, mau kubagikan?” 

“Tidak, tak perlu. Jika aku tiba-tiba menghubungi dia, Katsuragi pasti akan terkejut,” aku beralasan. Dia mungkin akan mengabaikan panggilan masuk dari nomor yang tidak dia kenal. 

“Kau menghentikanku untuk ikut campur dalam rencana Katsuragi, jadi kau harus tanggung jawab,” kata Ike padaku. 

“Oke, tapi bahkan jika kau menyuruhku untuk melakukan ini ...” 

“Aku juga penasaran. Kau harus menyelidikinya,” tambah Sudou, memberiku perintah yang agak sewenang-wenang. 

“Bukankah sebaiknya kau yang harus melakukannya sendiri?” aku bertanya. 

“Hah? Aku ada turnamen besar hari Kamis nanti. Aku tak punya banyak waktu luang. Aku hanya punya beberapa hari lagi untuk berlatih, tahu?” 

Saat aku tetap diam, Sudou memelototiku. 

“Haruskah aku memaksamu?” dia bertanya. Dia mengayunkan tangannya, bersiap untuk menyerang. 

Sepertinya dia bermaksud untuk membuatku terpojok. Tidak akan ada jalan keluar jika dia memutuskan untuk memaksaku. 

“Baiklah aku mengerti. Aku akan cari tahu besok. Jangan berharap terlalu banyak. Aku tidak tahu bagaimana nanti hasilnya,” kataku kepada mereka. 

Untuk saat ini, kukira lebih baik terima saja dan turuti permintaan mereka. Jika nanti aku melaporkan kembali ke Ike dan Sudou, dan mengatakan bahwa aku tidak dapat menemukan informasi apapun, aku bisa kena semprot.

~Bersambung~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢