-->
Loading...

iklan adsense

VOLUME 4.5 CHAPTER 2 PART 1

Released on Juli 06, 2022 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download VOLUME 4.5 CHAPTER 2 PART 1, Streaming VOLUME 4.5 CHAPTER 2 PART 1, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 4.5 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!
PART 1

Saat aku merasakan panas yang mendidih di kulitku, aku menyeka keringat di dahiku. 

“Oi…kenapa Kikyou-chan tidak ada disini?! Hah, Ayanokouji?! Dia itu orang yang paling penting!” teriak Ike. 

Hal pertama yang keluar dari mulut Ike ketika kami bertemu adalah kekhawatirannya tentang ketidakhadiran Kushida. Kuharap dia tidak memintaku untuk menjelaskannya. Aku bukanlah orang yang tahu jadwal keseharian Horikita dan Kushida. Mungkin Ike menganggapku mudah untuk diajak curhat, tapi sejujurnya aku mulai muak. 

“Cobalah untuk tenang. Ingat, Kushida tidak pernah bilang kalau dia akan pergi bersama kita.” Kushida tampaknya mengajak teman-teman perempuannya yang lain untuk berbelanja, daripada menghabiskan waktu dengan sekelompok anak laki-laki yang kepanasan. 

“Aku tidak yakin! Jika Kikyou-chan tidak ada di sini, maka tidak ada gunanya!” Ike berteriak. 

Itu terlalu berlebihan. Kuharap dia berhenti mencoba bersikeras seperti itu. 

“Sekarang aku harus berbelanja untuk hadiah yang bahkan tidak kupedulikan dengan kalian para pecundang!” Yamauchi mengeluh. 

Aku mengerti mengapa dia bilang begitu, tetapi aku sendiri juga tidak ingin bergaul dengan sekelompok orang bodoh seperti kalian. Yah, seharusnya aku menikmati ini walaupun sebentar. Ini adalah pertama kalinya aku bergaul dengan laki-laki lain selama liburan musim panas, selain ketika di ujian khusus. Orang normal pada umumnya melakukan hal-hal seperti berbelanja atau pergi ke bioskop dengan teman-teman mereka. 

“Males banget kalau pergi belanja untuk hadiah ulang tahun kalau hanya kita bertiga, ya? Haruki, kuserahkan sisanya padamu. Pilihlah sesuatu yang Kokoro-chan inginkan,” kata Ike. 

“Lah. 'Kan kau sendiri yang ingin pergi, jadi kau yang harus berbelanja!” balas Yamauchi. 

Mereka berdua bertengkar sampai aku angkat bicara. 

“Bagaimana kalau kalian berdua tenang? Akan lebih baik jika kita berbelanja bersama, kan? Sudou juga mempercayakan pembagian poinnya kepada kita,” kataku.

“Itu benar, tapi kurasa tidak perlu kita bertiga juga yang pergi,” Ike merengek. 

“Kita sudah sejauh ini. Tinggal beli saja hadiahnya, dan pulang,” jawabku. “Kita cuma buang-buang waktu dan tenaga jika hanya berdiri di sini dan mengeluh di tengah panas ini, tidakkah kalian setuju?” 

“Cukup, aku sudah mengerti. Ayo beli dan pulang. Ah, ini sangat membosankan!”

Berbeda dengan dua orang lainnya, aku sedikit bersemangat saat kami menuju ke toko. Melewati semua toko yang berjejer di kampus, kami sampai di toko yang sering dikunjungi para gadis. Petugas tokonya cantik walaupun sudah berumur, dan interiornya serba merah muda. Benda-benda seperti boneka binatang dan aksesoris ponsel berjajar di rak. Rasanya seolah-olah toko itu mencoba memeras poin pribadi dari para siswi. 

“Yah, karena sekolah yang memberikan poinnya, kita tidak benar-benar rugi,” gerutuku. 

“Apa yang sedang kau gumamkan? Ayo, bantu kami memilih hadiah yang harus dibeli,” kata Ike. Mereka berdua seharusnya malu pada diri mereka sendiri. Mereka melirik petugas toko yang cantik dan gadis-gadis lain saat mereka berbelanja, mereka jelas bersenang-senang. 

Kami berpisah dan berburu di dalam toko untuk mencari hadiah ulang tahun. Tentu saja, aku tidak pernah bermaksud untuk memutuskannya sendiri. Aku tidak tahu harus memilih apa. 

“Sesuatu yang Kokoro-chan inginkan, ya? Sejujurnya, aku tidak tahu,” aku bergumam. 

Ini adalah pertama kalinya aku memberi seseorang hadiah ulang tahun, tapi aku tidak yakin apakah aku bisa mengkategorikan ini sebagai pemberian "pertama" dariku, karena hadiahnya berasal dari kami bertiga. Bagaimanapun, aku tidak punya pengalaman berbelanja hadiah ulang tahun. Satu-satunya ide yang kudapatkan adalah hal-hal seperti buket mawar, atau cincin, yang hampir tidak masuk akal. Itu bahkan bukan hadiah ulang tahun; itu semua adalah benda-benda yang dibawa saat lamaran pernikahan. Aku ingin mencari sesuatu yang aman. 

Setelah mengitari toko, aku bertemu dengan Yamauchi lagi. Dia memegang boneka beruang putih kecil. Sementara itu, aku mengambil ponsel case. Ketika Yamauchi melihat itu, dia meringis.

“Kembalikan saja ponsel case itu. Kokoro-chan pasti sudah punya. Selain itu, benda begituan sangat berbeda dari apa yang dia suka, jujur saja, kupikir itu hanya akan menimbulkan masalah,” katanya. 

“Begitu ya. Nah, bagaimana dengan pelindung layar ini?” aku menunjukkan kepadanya benda yang kupilih sebagai rencana cadangan. Yamauchi mengerutkan keningnya. 

“Tidak tidak tidak. Dia tidak membutuhkan benda seperti itu. Kau benar-benar tidak punya pengalaman dalam hal-hal semacam ini, Ayanokouji.” 

“Tapi bukankah boneka binatang hanya akan memenuhi kamarnya?” aku bertanya. Menghadiahi boneka binatang tidak akan terlalu berguna. 

“Tentu, mungkin begitu, tapi dia bisa menggunakannya untuk menghias kamarnya. Ini cocok untuk interiornya. Kokoro-chan menyukai serial beruang putih, jadi dia seharusnya senang dengan hadiah ini. Selain itu, aku tidak ingin mendengar ejekan dari pria yang memilih pelindung layar,” bentak Yamauchi. 

Ketika dia mengolok-olokku seperti itu, itu benar-benar mengejutkan. Tetap saja, aku benar-benar terkesan bahwa dia telah meneliti selera penerima hadiah. Aku saja sudah cukup kesulitan mengingat nama dan wajah Inogashira. 

“Jadi, di mana Kanji?”

“Entahlah…”

Kami menemukan Ike berdiri diam di dekat bagian gantungan kunci. Dia tampak sangat serius, jadi kami mendekat dengan perlahan. Ike memegang beberapa jenis objek dengan motif karakter oranye. Dia juga memegang kain dengan karakter beruang putih seperti yang dibilang Yamauchi tadi. 

“Hei, Kanji.” 

“Ap—?! Ja-Jangan mengejutkanku seperti itu! Kurang ajar!” Bingung, Ike menjatuhkan gantungan kunci. Kemudian, untuk beberapa alasan, dia segera meletakkannya kembali di rak, seolah berusaha menyembunyikannya. 

“A-Apa kau sudah memutuskannya?” Yamauchi bertanya. 

“Ya, kupikir aku akan membelikannya handuk beruang putih ini. Ha ha ha,” Ike menjawab. 

“Terus, kenapa kau melihat-lihat gantungan kunci?” 

“Hah? Bukan apa-apa kok. Sudahlah, ayo lihat yang ada di sana.” Ike mencoba mengubah topik pembicaraan. Yamauchi menatapnya dengan curiga.

“Tunggu. Kalau aku tak salah ingat, bukankah Shinohara menyukai karakter oranye itu?”

Aku tentu tidak menyangka akan mendengar nama Shinohara. Dia adalah seorang gadis dari Kelas D. Selama ujian di pulau tak berpenghuni, dia bentrok dengan Ike berkali-kali. 

“Be-Benarkah? Oh gitu? Tidak, aku cuma ingin tahu apa yang akan dipilih Kikyou-chan, itu saja,” Ike menggertak. Terlepas dari kata-katanya, dia jelas terguncang. 

“Tunggu sebentar. Kau tidak sedang memikirkan Shinohara, kan?” Yamauchi bertanya. 

“Hah?! Apa?! Tidak mungkin, lah! Cewek jelek itu? Tidak mungkin!”

Memang benar kalau dilihat-lihat Shinohara itu polos, jika dibandingkan dengan Kushida. Tapi di sisi lain dia juga manis. Dia memiliki sedikit kepribadian yang dingin, tetapi bahkan itu bisa dianggap menarik. 

“Serius? Ini jelas sangat mencurigakan, bukankah kau pikir begitu, Ayanokouji?” 

“Yah, itu jelas bukan reaksi Ike yang biasanya,” aku menjawab. Meskipun Ike umumnya memang senang melihat semua gadis, dia tampaknya secara terbuka menyatakan tidak menyukai Shinohara. Mungkin dia memikirkannya lebih dari yang dia sadari, dan tidak mau mengakuinya. 

“Dengar, jangan salah paham!” teriak Ike. “Shinohara tidak imut sama sekali, dan sikapnya itu menyebalkan! Jika aku berkencan dengan gadis seperti dia, mau ditaruh di mana mukaku, aku bisa malu!” 

“Ah.”

Yamauchi dan aku sama-sama menyadari kehadiran orang lain di toko. Kami dengan panik mencoba membuat Ike mengubah topik pembicaraan. 

“Oke oke. Kami mengerti. Kami sudah paham maksudmu. Ayo pergi pilihlah hadiah ulang tahun untuk Kokoro-chan,” desak Yamauchi. 

“Tidak, kalian tidak mengerti. Kalian ingin tahu seberapa jelek menurutku Shinohara itu? Dengar ya. Bukan hanya wajahnya, kepribadiannya juga jelek, lho? Belum lagi tubuhnya itu seperti tongkat—dia, seperti, tidak memiliki lekukan. Bahkan di antara cewek jelek lainnya, dia mungkin yang paling jelek!”

“Ba-Baiklah, kami paham. Hentikan itu, Kanji! Lihat di belakangmu!”

“Hah?”

Ike perlahan berbalik. Shinohara berdiri di belakangnya, tampak seolah-olah dia akan menyemburkan api. Melirik ke sekeliling toko, aku melihat teman-temannya, termasuk Kushida, berada agak jauh. Kukira itu wajar saja. Mereka mungkin berada di toko untuk mencari hadiah ulang tahun untuk Inogashira, seperti kami. 

“Mati aja sana, Ike!”

Dengan kata-kata panas itu, Shinohara keluar dari toko. Ike menyaksikannya pergi, tampaknya tidak dapat merespons. Dia hanya berdiri di sana, tercengang, melihat Shinohara pergi. 

“A-Apa maksudnya, 'mati'? Apaan sih gak jelas, dasar cewek jelek. Be-Benar kan, teman-teman?” 

Terlepas dari keterkejutannya, Ike mencoba berpura-pura dia masih tenang. Kami tidak bisa melakukan apa-apa, jadi kami hanya mengangguk. 

“He-Hei, lihatlah, Ayanokouji! Si botak itu ada di sini!” Yamauchi meraih bahuku. 

Dia jelas ingin mengubah topik pembicaraan. Aku langsung tahu siapa orang yang dimaksud. Seorang pria raksasa yang penampilannya sangat kontras dengan toko lucu ini sedang melihati rak yang dipenuhi barang-barang. Punggungnya membelakangi kami. 

Dia adalah Katsuragi dari Kelas A. Dia mondar-mandir, mengenakan ekspresi yang sangat tegas. 

“Kau pikir dia mau mengutil?”

Aku benar-benar meragukan itu. Tetap saja, aku bersembunyi tanpa berpikir, dan mengawasinya bersama Ike dan Yamauchi. Aku prihatin dengan penampilannya. Mengapa dia mengenakan seragam sekolah lengkap dalam cuaca panas seperti ini? Ekspresi Katsuragi tetap tidak berubah, dia melirik sekitar seolah-olah khawatir tentang sesuatu. Dia memang terlihat seperti seseorang yang mencoba untuk mencuri. 

Tanpa sadar aku meraih ponselku. Jika aku menangkap Katsuragi sedang beraksi, itu bisa berguna nanti… tidak. Aku menolak pemikiran itu. 

“Kenapa aku memikirkan hal seperti itu?” aku bertanya pada diri sendiri.

“Hah? Kau bilang apa, Ayanokouji?” 

“Bukan apa-apa.” Jika Katsuragi mencoba mengutil, itu tidak ada hubungannya denganku. 

“H-Hei. Si botak itu benar-benar mencurigakan!” 

Yamauchi dan Ike sangat ingin menyaksikan kejahatan, seolah-olah mereka—adalah polisi yang sedang menyamar. Namun, Katsuragi mengembalikan kotak kecil itu ke rak. Dia mengambil barang serupa, lalu melakukan hal yang sama lagi. Sepertinya dia tidak berniat mencuri apa pun, dia lebih seperti kebingungan dengan apa yang mau dia beli. Ike memperhatikan gerak-geriknya itu, dan tampak bingung. 

“Mungkin dia tidak ingin ada yang melihat apa yang dia beli?” pikir Ike. 

“Ya, kau mungkin benar.”

Jadi, Katsuragi datang ke sini untuk membeli hadiah untuk seseorang. Sepertinya dia sudah membuat keputusan. Akhirnya, dia mengambil sebuah kotak dari rak dan berjalan ke konter, bergerak dengan hati-hati, seolah-olah dia tidak ingin orang-orang di sekitar dia tahu.

Ike dan Yamauchi bergegas ke tempat Katsuragi memilih hadiah. Kotak-kotak itu tampak seperti papan tipis. Mereka mengambil satu, membaliknya, dan melirik informasi produk. 

“Ini… coklat.” 

Ike dan Yamauchi gemetar, seolah-olah ada sesuatu yang membuat mereka bersemangat. 

“Tu-Tunggu, jangan bilang kalau si botak itu sudah punya pacar?!” 

“Serius?! Jadi, itu ya keuntungan menjadi siswa Kelas A?!” 

Ike dan Yamauchi gemetar karena cemburu tentang sesuatu yang begitu sepele. 

“Itu mungkin hanya hadiah untuk seorang teman, kan?”

“Siapa juga yang memberikan hadiah dengan kertas kado yang lucu hanya untuk seorang teman?! Itu tidak mungkin kan?!”

“Kurasa tidak.”

Jelas sulit membayangkan memberikan kotak kecil yang lucu, dihiasi dengan pita, hanya untuk seorang teman. Paling tidak, aku tidak bisa membayangkan kalau dia akan memberikannya kepada seseorang dengan jenis kelamin yang sama. Itu pasti untuk seorang gadis yang dekat dengan Katsuragi. Itu memang menunjukkan bahwa dia mungkin punya pasangan. 

Ike dan Yamauchi melirik Katsuragi lagi saat mereka bersembunyi di balik rak, mengumpulkan informasi. 

“Apakah ini hadiah ulang tahun untuk seseorang?” tanya petugas kasir itu pada Katsuragi. 

“Ya.”

“Apakah Anda ingin memasukkan kartu ulang tahun?”

“Ya silahkan. Tanggal ulang tahunnya 29 Agustus.” 

Katsuragi menjawab pertanyaan petugas kasir itu. Sebenarnya untuk siapa hadiah itu? Ike dan Yamauchi mulai berbisik. 

“Kalian dengar itu? Gadis mana yang berulang tahun tanggal 29?” 

“A-Aku tidak tahu. Hari ini hari Minggu, tanggal 21, jadi… ulang tahunnya hari Senin minggu depan, kan? Apa kau tahu siapa orangnya, Ayanokouji?” 

“Tidak tahu.”

Jika mereka berdua tidak tahu, tidak mungkin aku bisa tahu.

~Bersambung~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢