-->
Loading...

iklan adsense

VOLUME 4.5 CHAPTER 1 PART 5

Released on Mei 14, 2022 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download VOLUME 4.5 CHAPTER 1 PART 5, Streaming VOLUME 4.5 CHAPTER 1 PART 5, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 4.5 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!

PART 5

“Jadi, bagaimana pengalaman pertamamu tentang ramalan?” tanya Ibuki. 

“Kau sendiri bagaimana?”

“Aku cukup puas, sih. Peramal itu sebenarnya cukup terkenal. Orang-orang bilang kalau ramalannya sangat akurat.” 

“Begitu ya. Kelihatannya seperti profesi sederhana, tapi kurasa itu sebenarnya sulit,” jawabku. 

Ramalan sebagiannya didasarkan pada pola. Seorang peramal memulainya dengan mengatakan hal yang terlintas di pikirannya, dan juga sedikit kebenaran, itu semua untuk menggairahkan pendengar. Mereka tidak hanya mengandalkan keberuntungan, tetapi juga pada latihan panjang dan pengalaman.

“Aku tidak akan meremehkan ramalan mulai sekarang,” tambahku. 

“Ah, begitu ya.” 

Balasan Ibuki singkat, terdengar tidak tertarik. Kami pun menuju lift. 

“Geh. Di sini benar-benar ramai lagi,” gerutuku. 

Jika aku terus maju, aku akan menghadapi neraka. Jika aku berbalik, aku juga akan menghadapi neraka. Banyak siswa yang memadati area lift. 

“Maaf, tapi kurasa aku akan mencari jalan pulang lain. Aku akan mengambil jalan memutar,” kataku kepada Ibuki. 

“Ya, aku juga.”

Saat kami berjalan ke lift lain, aku teringat dengan yang dikatakan peramal itu. 

“Ini mengingatkanku, sebelumnya ...”

“Peramal itu bilang supaya tidak mengambil jalan memutar,” kata Ibuki. 

Mataku bertemu dengan mata Ibuki untuk sesaat. Entah itu kebetulan, atau— keniscayaan, kami memutuskan untuk mengambil jalan memutar. 

“Yah, ini mungkin menarik. Mari kita lihat seberapa akurat prediksinya,” renungku.

Kami tiba di lift tanpa insiden. Tidak ada orang lain di sekitar ketika kami menekan tombol lift. 

“Lantai satu, kan?”

“Ya,” kata Ibuki. 

Dari sini kami akan segera berpisah. Aku menekan tombol untuk lantai satu. Pintu lift tertutup, dan lift mulai bergerak. Karena Ibuki dan aku tidak punya hal lain untuk dibicarakan, kami pun menunggu dalam diam. 

Namun, saat lampu lantai tiga berkedip, lift menjadi berat dan terdengar suara gesekan, lalu berhenti. 

Sepertinya kami tidak berhenti karena seseorang memanggil lift di lantai tiga; sepertinya lift ini macet tiba-tiba. Lampu padam, dan untuk sesaat, semuanya gelap gulita sebelum lampu darurat menyala. 

“Mati lampu, ya?” tanya Ibuki. 

“Sepertinya begitu,” jawabku. Jika ini yang dimaksud si peramal tentang terjebak, maka ramalannya tepat. 

“Bukankah sebaiknya kita menggunakan telepon darurat?” 

Tidak perlu panik. Lift memiliki mekanisme dalam menanggapi keadaan semacam ini. Ada kamera pengintai di dalamnya, dan tombol interkom yang terhubung ke pusat pengiriman darurat. Ibuki bersandar ke dinding belakang lift. Meskipun aku tidak terlalu pandai bicara ke orang-orang, aku memutuskan untuk menekan tombol panggil. 

Namun… 

“Tidak ada jawaban,” kataku. 

Aku tidak tahu apakah telepon di sisi lain berdering atau tidak, tetapi aku tidak melihat indikasi bahwa kami terhubung dengan siapa pun dalam panggilan darurat. 

“Apa panggilannya nggak tersambung karena listriknya mati?” tanya ibuki. 

“Bukan. Lift itu biasanya memiliki baterai cadangan yang tahan selama beberapa jam. Fakta bahwa lampu darurat menyala sekarang adalah bukti adanya baterai. Ini berarti ada beberapa kegagalan komponen internal lainnya.”

Aku menekan tombol yang dimaksudkan untuk orang dengan gangguan pendengaran, tetapi tidak mendapat tanggapan juga. Mungkin panel kontrol itu sendiri sudah mati. Baterai menyala, dan AC masih bekerja. Ini masih mendingan, tapi apa yang harus kami lakukan? 

“Bisakah kau mencoba menelepon pihak sekolah dari ponselmu? Dari sini pasti masih dapat sinyal,” kataku. 

“Maaf, tapi bagaimana kalau kau saja yang telepon?” dia bertanya. 

“Aku tahu kau tidak ingin berbicara dengan orang lain, tapi setidaknya bisakah untuk kali ini saja?”

“Ugh,” gumamnya. 

Dengan ekspresi tidak puas, Ibuki mengeluarkan ponselnya. Ketika dia melihat ke layar, ekspresinya segera memburuk. Dia menunjukkan layar ponselnya padaku. Sebuah pesan mengatakan bahwa baterai hampir habis. Segera setelah itu, ponselnya mati. 

“Tidak ada orang yang bisa kuajak bicara, jadi aku biasanya tidak memperhatikan kapan baterai ponselku hampir habis. Kau saja yang telepon,” gerutu Ibuki. 

“Kurasa aku tidak punya pilihan,” jawabku. 

Aku mengeluarkan ponselku. Begitu aku melihat layarnya, aku menjadi kaku. 

“Cepatlah,” desak Ibuki. 

“Rupanya, situasi kita jauh lebih serius daripada yang kupikirkan.”

Baterai ponselku hanya tersisa 4 persen. Itu seperti kedipan nyala lilin yang dapat dipadamkan oleh angin kapan saja. 

“Kau mempermainkanku ya,” geram Ibuki. 

“Aku sama denganmu. Karena tidak banyak orang yang bisa kuajak bicara, aku tidak terlalu memperhatikan baterai ponselku.” 

“Kau ini benar-benar pria yang tidak berguna.”

“Kau tahu, itu agak jahat, meskipun kita berdua di posisi yang sama persis. Oke, sekarang siapa yang harus ditelepon.” 

Aku melihat sekeliling untuk melihat apakah aku dapat menemukan informasi kontak untuk layanan darurat, dan menemukan nomor sepuluh digit di dekat panel tombol. Namun, berkat beberapa orang brengsek yang mungkin menganggapnya lucu, empat angka terakhir dicoret dengan spidol.

“Lelucon seperti ini benar-benar keterlaluan,” gumamku. 

“Kenapa nggak telepon saja seseorang yang kau kenal?” tanya Ibuki. 

“Seseorang yang kukenal, ya?” Siapa yang bisa kuhubungi? “Mungkin Horikita?”

“Ditolak,” balasnya. 

“Sudah kuduga kau akan bilang begitu.”

“Jika kau memanggilnya, maka itu berarti dia akan datang untuk menyelamatkan kita, kan? Jangan bercanda.” 

Aku tidak berpikir itu benar-benar penting tentang siapa yang menyelamatkan kami. Selain itu, bukan berarti Ibuki yang bertanggung jawab untuk ini. Lift rusak begitu saja. Tidak ada alasan baginya untuk khawatir; mungkin dia hanya tidak menyukai gagasan untuk menunjukkan kelemahan di depan saingannya. 

“Jadi, kau tidak ingin semuanya berantakan?” pikirku. Ibuki mengangguk pelan. 

Jadi, kami membutuhkan seseorang yang bisa datang untuk menyelamatkan kami tanpa menyebabkan keributan, ya? Itu berarti ketiga idiot itu tidak mungkin. Mereka akan membuat masalah besar dari hal ini, dan mungkin memberi tahu semua orang sesudahnya. Sakura tidak akan bergosip, tapi situasinya mungkin akan membuatnya bingung. Itu akan menjadi sulit baginya untuk membantu kami. 

Kushida dan Karuizawa mungkin juga tidak cocok untuk tugas itu. Seseorang yang bisa datang membantu tanpa menimbulkan masalah? Satu orang yang bisa kami andalkan adalah ... orang itu. 

“Aku sangat menghargai keinginanmu, tapi biarkan aku memilih orang yang bisa kita hubungi,” kataku. 

“Selama itu bukan Horikita.”

Aku langsung meneleponnya. Setelah ponsel berdering selama beberapa detik, sesama pendiam menjawab dengan tenang. Aku menjelaskan situasi kami dan meminta bantuan. Namun, tidak lama setelah aku mulai berbicara, ponselku mati. Layarnya diam-diam memudar menjadi hitam. 

“Baterai habis,” kataku pada Ibuki. 

“Apa dia menerima pesannya?”

“Mungkin.”

Satu-satunya hal yang tersisa untuk dilakukan adalah duduk dan menunggu. Tidak perlu panik—seseorang pasti akan menyadari kami sebelum terlalu lama. Jika kami mencoba keluar dari lift dengan paksa, seperti dalam drama TV atau film, kami bisa berisiko terluka. 

Namun, kemudian, situasinya berkembang ke arah yang tidak terduga. aku mendengar suara yang terdengar seperti gerinda keras di dalam lift. Udara sejuk yang menyegarkan yang berasal dari ventilasi berhenti. 

“Tidak mungkin,” erang Ibuki. 

Dia akhirnya mulai terlihat kesal. Kami terjebak di ruang tertutup di tengah musim panas. Suhu kemungkinan akan meningkat secara dramatis. Udaranya hanya menjadi sedikit lebih hangat untuk saat ini, tetapi tak lama lagi, kami akan berkeringat. 

“Tidak bisakah kita keluar sendiri?” tanya Ibuki. 

“Sepertinya ada pintu darurat, tapi…” 

Hanya ada beberapa lift yang memiliki lubang palka, dan di dalam lift ini ada panel persegi di langit-langit. Hal seperti itu sering dijumpai di film, tetapi pada kenyataannya, itu tidak biasa. 

“Bagaimana cara kita membukanya?” tanya Ibuki. 

Orang biasanya tidak dapat membuka pintu keluar dari dalam. Palka itu ada di sana sebagai upaya terakhir, sehingga penyelamat masih bisa masuk dan mengeluarkan orang ketika pintu lift rusak. Pintu palka itu mungkin dikunci dari luar, kecuali selama inspeksi rutin. 

“Kupikir kita harus menunggu. Dalam situasi darurat di dalam lift, langkah yang terbaik adalah menunggu saja.” Itu adalah langkah yang paling aman dan paling pasti. 

“Jika kau memang terbiasa betah berada di sauna, tentu saja,” bentak Ibuki. 

Selagi kami saling bertukar argumen, suhu terus meningkat. Aku mengerti keinginan untuk segera keluar, tetapi aku juga ingin menghindari keputusan yang buruk. Aku melepas jaketku dan duduk di lantai. Di saat seperti ini, penting untuk tetap tenang. 

“Bagaimana kalau kau duduk juga? Jika terlalu panas, buka saja pakaianmu,” saranku. 

“Hah? Kau tidak sedang memikirkan sesuatu yang mesum dalam situasi seperti ini, kan?” tanya Ibuki. Dia menafsirkan kata-kataku dengan cara yang berbeda dari yang kumaksudkan.

“Kudengar kau seimbang saat bertarung dengan Horikita. Tidak mungkin aku bisa mengalahkan seseorang sepertimu dalam perkelahian,” kataku padanya. 

“Yah, itu benar, tapi…” 

“Tentu saja, aku akan balik badan jika kau ingin melepas pakaianmu. Tenang saja,” kataku. 

“Aku tidak akan melepas pakaianku!” bentaknya. 

Ibuki dengan cepat duduk dengan bunyi gedebuk. 

Kami menunggu dengan tenang selama sekitar 30 menit, tetapi masih belum ada seorang pun yang datang. 

“Ini tidak bagus,” gerutuku. Napas Ibuki menjadi tidak teratur. 

Keringat mengalir di dahi kami dan menetes dari rambut kami. Bajuku basah kuyup sehingga tampak seperti berada di bawah air terjun. Situasi menjadi jauh lebih berbahaya daripada yang kubayangkan sebelumnya. Lift ini terhubung ke dinding luar Keyaki Mall. Aku tidak memperhatikan itu sebelumnya, karena adanya AC, tetapi di dalam lift akan menjadi sangat panas dalam kondisi ini. 

Ada kasus di mana anak kecil meninggal setelah terjebak di dalam mobil yang terkunci di tengah musim panas, dan bahaya yang sama dapat berlaku untuk orang dewasa juga. Rasanya seperti kami berdua akan menderita sengatan panas. 

“Aku tidak tahan lagi! Terbukalah!” teriak Ibuki. 

Dia melompat dan menendang dinding lift dengan sekuat tenaga, sampai berbekas penyok. Dia menendang di tempat yang sama lagi. Liftnya sedikit bergoyang, tapi tidak menunjukkan tanda-tanda benar-benar bergerak. 

“Kau hanya membuang-buang tenagamu. Tapi duduk diam dan tak melakukan apapun juga bukan pilihan teraman sih,” gumamku. 

Bahkan jika seseorang di luar segera menyadari lift yang tidak berfungsi ini setelah tiba-tiba berhenti, kru penyelamat akan membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk tiba di lokasi. Bantuan mungkin akan segera datang, tetapi jika kami terjebak terlalu lama, sengatan panas tidak bisa dihindari. Nyawa kami mungkin dalam bahaya. 

“Kurasa kita tidak punya pilihan,” gumamku. 

Aku tidak ingin terpanggang sampai mati di dalam sauna lift ini.

“Gimana kalau kita dobrak saja pintunya? Hei, haruskah kita menendangnya?” Ibuki sudah kehilangan kesabaran. 

“Ayo coba buka palka di atas itu,” usulku. Yang paling penting adalah membuat celah, bahkan jika kami tidak bisa keluar melaluinya. “Tinggi langit-langitnya sekitar dua meter. Mungkin 2.2 atau 2.3 meter…” 

Bahkan jika aku melompat sejauh yang kubisa, aku tidak bisa mencapai setinggi itu. 

“Minggir,” bentak Ibuki. 

Ibuki melompat ke atas tepat di bawah palka. Itu lompatan yang luar biasa. Dia mengulurkan tangan dan mendorong dengan sekuat tenaga, tetapi palka tidak bergerak sedikit pun. Ketika dia mendarat, goncangannya membuat lift bergetar. 

“Sepertinya macet,” katanya. 

“Sepertinya begitu.”

“Yah, sesuai perkiraanmu itu memang terkunci, tapi bagaimana palka itu dikunci? Bagaimana mekanismenya?” 

“Kupikir itu dikunci dengan gembok, jika demikian, apa yang harus kita lakukan ya?” jujur aku ​​tidak punya ide. 

“Aku akan menendangnya.”

“Tidak. Itu percuma saja,” kataku. 

Ibuki mungkin sangat percaya diri dengan kekuatannya, tapi lift ini bukanlah sesuatu yang bisa dibuka begitu saja. 

“Itu palka darurat, kan? Itu berarti kru penyelamat pasti bisa membukanya dari luar. Jika kita melihatnya dari perspektif itu, jumlah kekuatan yang dibutuhkan seharusnya cukup,” jawabnya. 

Aku mengerti apa yang Ibuki katakan, tapi situasinya tidak sesederhana itu. Selain itu, karena palka itu terletak di langit-langit, akan sulit untuk menendangnya. 

“Kita tidak akan tahu jika kita tidak mencobanya,” lanjut Ibuki. Dia mulai mengamati dinding lift. Dia tidak berencana untuk menendang dinding dan menabrakkan dirinya, bukan? 

“Wow. Jadi, peringatan peramal itu benar-benar jadi kenyataan, ya?” aku bertanya.

“Hah? Apa yang kau bicarakan?”

“Wanita tua itu mengatakan kepadaku untuk tidak panik jika aku terjebak. Dia menyuruhku untuk bekerja sama.” Aku mengalihkan pandanganku ke tombol lift. “Tombol darurat tidak merespon, dan panggilan tidak tersambung. Tapi bagaimana dengan tombol yang lain?” 

Karena tombol lantai pertama menyala, baterainya mungkin masih hidup. Aku mencoba menekan tombol lantai dua, dan itu menyala. Ini layak dicoba. Aku mulai menekan tombol secara acak. 

“Tidak ada gunanya,” Ibuki menegurku. “Kita tidak punya pilihan lain selain mendobrak keluar, kan?” 

“Tidak, ada cara lain. Lift memiliki semacam mekanisme seperti pembatalan fungsi perintah, bukan?” 

Aku tidak terlalu paham tentang lift, tetapi aku tahu beberapa hal. Ada cara untuk membatalkan perintah setelah kita menekan tombol untuk lantai yang salah karena kesalahan. Perintahnya berbeda, tergantung produsen liftnya, tetapi jika kita terus menekan tombol batal, cara itu bisa menghentikan lift. 

Ketika aku terus menekan tombol untuk lantai dua, lampu pun mati. 

“Pasti ada beberapa perintah dalam mode ekspres,” aku bergumam. 

“Ekspres?”

“Misalnya kita berada di lantai tiga. Jika kita menuju ke lantai pertama, lift biasanya akan berhenti dalam hitungan detik, jika orang di lantai itu menekan tombol panggil. Namun, jika kita menggunakan perintah ekspres, lift akan mengabaikan perintah lain dan membawa kita langsung ke lantai pertama.” 

Aku tidak tahu apakah lift ini memiliki mode ekspres. 

“Apakah itu layak untuk dicoba?” tanya Ibuki. 

“Yah, itu lebih baik daripada mencoba menerobos langit-langit.”

Sebenarnya, aku tidak berpikir kalau cara ini akan membuat lift bergerak dengan menggunakan mode ekspres. Aku ingin mengulur waktu dengan mengubah topik pembicaraan, dan dengan memberi Ibuki secercah harapan. Dia berada di ambang kehilangan ketenangannya.

“Bantu aku memikirkan ini. Jika kita berdua punya ide, kita mungkin bisa dapat solusi,” saranku. 

Aku mencoba menekan tombol untuk lantai pertama berulang kali, juga secara bersamaan menekan tombol untuk semua lantai lainnya. Tidak peduli apa yang kulakukan, bagaimanapun, lift tidak merespon. 

“Biar aku coba.”

“Oke.”

Ibuki mulai menekan berbagai tombol. Kami benar-benar membutuhkan rencana jika bantuan tidak datang. Mungkin mendobrak pintu layak dipertimbangkan. Bahkan jika kami tidak bisa membukanya sepenuhnya, membuka jalur yang cukup untuk kami lalui itu sudah cukup. 

Aku lebih suka keluar dari lift tanpa menggunakan kekerasan, tetapi selama kami bisa keluar dari sini, aku tidak terlalu peduli dengan caranya. 

“Aku tidak begitu tahu tentang pembatalan perintah, tapi bukannya kita tidak bisa mengaktifkan mode ekspres lift hanya dengan menekan kombinasi tombol, ya?” kata Ibuki. 

Itu sudah jelas. Anak-anak biasanya suka menekan-nekan tombol lift sampai rusak, dan lift dalam mode ekspres juga akan sangat merepotkan untuk penumpang lainnya. Kami mungkin tidak dapat mengaktifkan mode itu dengan menekan kombinasi tombol. 

“Kalau begitu, mungkin lebih baik untuk mengecualikan perintah yang rumit,” kataku. 

Katakanlah, untuk menggunakan mode ekspres, kita harus memasukkan 1655424 dan kemudian lantai tujuan kita. Itu sulit untuk dihafal, dan memiliki persyaratan ketinggian setidaknya enam lantai. Sebuah kode seperti itu akan aneh jika lift hanya mencakup tiga lantai. 

“Kita harus mencoba menekan tombol darurat, bukan? Jadi, etto… satu, dua, atau tiga? Dengan tombol buka dan tutup, jadi totalnya ada lima tombol.” 

“Kurasa itulah kombinasi dari tombol-tombol itu,” kataku. 

Jika ada lebih banyak kombinasi, akan sangat sulit untuk menguji semua tombol. Ibuki mulai mencoba berbagai kombinasi. Saat kuperhatikan, aku mencoret kombinasi yang tidak berfungsi di pikiranku.

“Ah, sialan! Panas sekali!” Ibuki merengek. 

Dia meninju dinding untuk menghilangkan rasa frustrasinya. Mengingat betapa putus asanya dia, aku memutuskan untuk turun tangan. 

“Ini tidak terbuka. Apa kita sudah menguji semua kombinasinya?” dia bertanya. 

“Hampir. Jika ada kombinasi tombol yang tersisa…” 

Ada satu kemungkinan. Aku memutuskan untuk mencoba satu perintah terakhir. 

“Kenapa kau tidak mencoba menekan tombol untuk lantai yang kau inginkan, ditambah tombol tutup pintu pada saat yang sama?” aku menyarankan. 

“Tombol tutup pintu? Baiklah.” Ibuki bergumam dengan acuh, tapi dia menguji kombinasinya. 

Aku tidak berharap liftnya akan merespons, tetapi lift mulai bergerak. Ibuki dan aku memandang satu sama lain. Setelah beberapa detik, lift tiba di lantai pertama, dan pintu perlahan terbuka. Udara sejuk mengalir ke dalam. Kami melihat dua orang dewasa melihat kami, memasang ekspresi terkejut. 

“Apakah kalian baik-baik saja?! Apakah kalian terluka?!”

“Kami baik-baik saja, kami tidak terluka. Panas banget,” jawabku. 

Melihat keadaan kami yang berkeringat, mereka mungkin bisa menebak betapa panasnya cuaca saat itu. Mereka segera menawari kami minuman, dan menginstruksikan kami untuk pergi ke dokter untuk pemeriksaan, hanya untuk berjaga-jaga. 

“Um, bolehkah saya bertanya? Mungkinkah kami yang menggerakkan liftnya?” 

“Oh, bukan, kami yang menggerakkannya langsung dari sini.”

Sebuah remote control khusus mengoperasikan lift dari lantai pertama. Rupanya, Ibuki dan aku bukanlah yang menyebabkan lift bergerak menggunakan mode ekspres, atau apa pun. Kami kebetulan menekan tombol pada saat yang sama saat mereka mengoperasikan lift dari jarak jauh. 

“Kalian pasti mengalami masa-masa sulit di dalam sana.” 

“Ya, itu adalah bencana. Ramalan adalah bisnis yang serius,” kata Ibuki. 

Saat aku mengucapkan terima kasih kepada mereka, seorang pria yang dari tadi memperhatikan kami mendekat. 

“Apa kau baik-baik saja, Ayanokouji?” pria berbadan besar itu bertanya. Dia tampak lebih cemas untuk orang seukuran itu.

“Kau menyelamatkan kami,” kataku padanya. 

Pria ini, Katsuragi, adalah orang yang menyelamatkan hari itu. 

“Aku mengerti inti dari situasinya dari informasi yang kau berikan kepadaku di telepon. Aku yakin kau pasti senang bisa keluar,” jawabnya. 

“Aku harus pergi menemui dokter sekarang, aku akan berterima kasih lagi nanti,” kataku. 

“Tidak perlu. Kau dan Sudou sudah banyak membantuku. Ada beberapa batasan yang tidak bisa kita lewati, karena kita dari kelas yang berbeda, tapi kebetulan aku berpikir kalau bekerja sama adalah hal yang luar biasa,” jawab Katsuragi. 

“Sepertinya semuanya berjalan baik untukmu,” kataku. 

“Ya. Sudou tampil cemerlang. Tolong beri tahu dia sekali lagi bahwa aku sangat menghargainya.” 

“Tentu saja.” 

“Aku juga harus berterima kasih padamu, Ayanokouji. Meskipun berlimpah bukti, pasti ada perlawanan yang cukup besar terhadap rencana yang kuajukan.”

Katsuragi menundukkan kepalanya sebagai rasa terima kasih. Aku juga berhutang padanya. Jika saja aku terjebak di lift itu lebih lama lagi, aku mungkin bisa dalam bahaya.

“Jika kau membutuhkan sesuatu yang lain, silakan hubungi aku. Aku akan dengan senang hati membantumu… selain ujian, tentu saja.” Katsuragi tertawa. 

Dengan itu, dia berbalik dan pergi. 

Katsuragi dan aku mulai menjadi teman dekat. Sedekat aku dengan trio idiot, bahkan mungkin lebih. Tapi bagaimana aku tahu informasi kontak Katsuragi, meskipun dia berada di Kelas A? Dan mengapa kami bisa dekat? 

Kisah pertemanan kami dimulai beberapa waktu yang lalu.

~ Bersambung ~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢