PART 4
“Selanjutnya.”
Saat itu tengah hari ketika aku mendengar suara kecil itu datang dari dalam tenda.
“Maaf membuat saudara menunggu.”
Pada akhirnya, meramal untuk setiap pasangan membutuhkan waktu sekitar 15 menit, hal itu memaksa Ibuki dan aku untuk mengantre lebih lama dari yang kami perkirakan. Tepat ketika aku mulai bertanya-tanya tentang semua hal yang berkaitan dengan bisnis ramalan ini, aku melewati tirai dan memasuki ruangan di mana peramal itu menunggu.
Ketika aku masuk, aku melihat sebuah ruangan yang tampak seperti hal yang kulihat dari acara televisi. Di dalamnya gelap, pencahayaannya mungkin sekitar 30 lux. Peramal itu tampaknya adalah seorang wanita tua, tetapi tudung menutupi wajahnya, jadi aku tidak bisa melihat ekspresinya. Dia duduk dengan ditemani buku tebal, entah apa isinya, dan ada semacam bola kristal. Itu tampak seperti salah satu dari bola-bola yang biasa dilemparkan dalam olahraga lontar martil.
Atmosfer di ruangan ini dibangun dengan sangat baik.
Bola kristal itu segera mulai bersinar, seolah-olah itu akan mencerminkan masa depan Ibuki. Ada dua kursi tanpa sandaran di depan peramal itu. Ketika kami duduk, peramal itu tertawa kecil dan menggerakkan tangan kanannya.
“Pertama... kalian harus membayar,” perintahnya.
Dia mengeluarkan small card reader dari bawah meja dan meletakkannya di depan kami. Benda peradaban modern seperti itu terasa tidak pada tempatnya, terutama karena kontras dengan pemandangan di sekitarku. Bukannya aku berharap bahwa ramalan ini akan gratis, tentu saja.
“Hal semacam apa yang akan kau ramal?” tanya Ibuki, sambil mengeluarkan kartu pelajarnya.
“Ini bisa tentang akademis, karier, kehidupan cinta, atau apa pun itu,” jawab peramal itu dengan seringai meresahkan. Ekspresi yang dia tunjukkan menyatu dengan baik ke dalam atmosfer ruangan, tapi dia tidak tampak seperti peramal, dia lebih seperti penyihir.
Daftar harga yang dia tunjukkan pada kami sepertinya tidak cocok. Daftar itu dipisahkan menjadi beberapa kategori. Paket "Rencana Dasar" sepertinya termasuk layanan yang telah disebutkan si peramal. Ada beberapa paket, salah satunya tampaknya terkait dengan tenchuusatsu. Di daftar itu bahkan juga terdapat pilihan yang memungkinkan seseorang melihat akhir hidupnya. Tentu saja, karena ini adalah aktivitas pasangan, banyak pilihan yang terkait dengan romansa.
Aku bertanya-tanya apa yang akan dilakukan sepasang kekasih jika si peramal meramalkan bahwa mereka tidak memiliki kecocokan. Terlepas dari itu, setiap opsi yang ditawarkan agak mahal. Kami kemungkinan bisa menghabiskan sampai lebih dari 5.000 poin.
“Biayanya lumayan mahal,” aku menghela nafas.
Untuk siswa Kelas D sepertiku, yang harus menghemat poin setiap hari, ini adalah pil yang sulit untuk ditelan. Meski begitu, mungkin tidak akan ada gunanya jika aku pulang tanpa mencari tahu lebih banyak tentang tenchuusatsu. Aku bisa saja hanya mendengarkan ramalan Ibuki dan pulang, tapi jika begitu, aku tidak akan tahu seberapa andalnya peramal ini.
Untuk jaga-jaga, aku memeriksa saldo poin pribadiku di ponselku. Aku punya kira-kira 6.000 poin tersisa: hampir tidak cukup.
“Aku pilih Rencana Dasar,” kata Ibuki.
Terlepas dari minatnya yang tak terduga dalam hal ramalan, Ibuki tampaknya tidak menginginkan ramalan yang mendetail.
“Dan kamu?” tanya si peramal.
“Aku ambil yang sama,” jawabku.
Rasanya seolah-olah aku sedang memesan di sebuah restoran. Aku memberikan kartu ID siswaku, dan card reader itu berbunyi bip, menunjukkan bahwa poin telah ditransfer.
“Baiklah, mari kita mulai dengan nona muda ini. Siapa namamu?”
“Ibuki. Ibuki Mio,” jawabnya datar.
“Ketika aku meramal, aku melihat wajah, tangan, dan kemudian hati orang yang kubaca. Aku mungkin juga akan melihat sesuatu yang tidak kamu sukai. Apakah kamu siap untuk itu?” tanya si peramal.
“Lakukan sesukamu,” jawab Ibuki.
Aku melihat sedikit kulit keriput si peramal di bawah tudungnya, bersama dengan kilatan tajam di matanya. Dia menginstruksikan Ibuki untuk mengulurkan kedua tangannya, kemudian mengungkapkan ramalannya.
“Pertama, membaca telapak tangan. Kamu memiliki garis hidup yang panjang. Kamu memiliki kehidupan yang sangat panjang yang sedang menantimu. Aku tidak bisa melihat kalau kamu akan menderita penyakit keras apa pun sejauh ini,” kata peramal itu memulai ramalannya.
Sebuah awal yang khas. Aku tidak dapat membayangkan bahwa seseorang dapat meramalkan sesuatu seperti itu hanya dengan melihat garis di telapak tangan seseorang. Mungkinkah peramal ini mendasarkan penglihatannya dari pengalaman pribadi?
Jika itu aku, aku hanya akan mendasarkan jawabanku pada kondisi kesehatan si pelanggan. Aku sampai pada kesimpulan berdasarkan warna kulit, bentuk tubuh, dan sebagainya.
Peramal itu melanjutkan ramalannya dengan panjang lebar, dengan hati-hati memberikan Ibuki prediksi tentang akademis, kesuksesan finansial, cinta, dan seterusnya. Prediksinya terdengar biasa dan tidak berbahaya bagiku, dan Ibuki sendiri mendengarkannya dengan penuh kepuasan. Peramal itu tidak mengatakan hal-hal yang negatif. Sebagian besar prediksinya adalah tentang masa depan yang cerah. Dia kadang-kadang mengeluarkan peringatan, tetapi itu tampaknya tidak menimbulkan dampak ancaman yang signifikan.
“Terima kasih banyak,” kata Ibuki. Dia menundukkan kepalanya dengan rasa terima kasih.
Sekarang sepertinya giliranku, kesempatan bagiku untuk memahami bisnis meramal ini.
Peramal itu mengikuti proses yang sama yang dia gunakan pada Ibuki, dan jawaban yang kuterima sebagian besar tidak jauh berbeda dari jawaban Ibuki. Pada dasarnya hal-hal yang dia ucapkan positif, tetapi peramal itu mengatakan bahwa akan ada waktu di masa depan ketika aku harus berhati-hati untuk menghindari bencana.
“Begitu, ya... Sepertinya kamu memiliki masa kecil yang keras,” lanjutnya.
Pernyataan yang agak luas. Kebanyakan orang akan mengaku pernah melalui satu atau dua pengalaman pahit selama masa muda mereka, terutama anak laki-laki. Aku ingin dia memberiku jawaban yang lebih konkrit. Lebih penting lagi, aku menemukan fakta misterius bahwa seorang peramal, yang seharusnya meramal masa depan, malah membicarakan masa lalu.
Ibuki duduk tanpa menyela, atau bahkan menguap, dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Mungkin seperti inilah seharusnya ramalan nasib. Atau mungkin ini adalah ritual yang diperlukan? Mungkin peramal itu perlu menelusuri masa lalu dulu.
Manusia adalah makhluk yang mendambakan kenyamanan. Begitu seseorang mendapatkan ramalan bahwa mereka akan mendapat "keberuntungan," mereka dengan bebas akan menafsirkan bahwa hal tersebut akan berjalan sesuai harapan mereka dan akan menjadi kenyataan. Ah, jadi keberuntunganku itu benar, begitulah yang mereka pikirkan. Namun, kenyataannya adalah bahwa semua orang memiliki "keberuntungan" di beberapa titik, karena hidup ini memberikan kebahagiaan dan kesengsaraan dalam jumlah besar dan kecil.
“Ini ...” Peramal itu berhenti menggerakkan tangannya. “Kamu adalah pemegang takdir tenchuusatsu!” serunya.
“Ap—? Serius?” Ibuki tersentak.
Meskipun itu adalah ramalanku, aku adalah orang yang paling tidak terkejut di sana. Tenchuusatsu bukanlah kata yang bahkan aku sadari sampai sehari sebelumnya. Si peramal dan Ibuki tampak jauh lebih terkejut dengan kenyataan ini.
“Sederhananya, kau telah menjalani kehidupan yang dipenuhi kemalangan sejak kau lahir,” jelas Ibuki.
“Ini luar biasa!” seru peramal itu.
Itu mungkin murni kebetulan, tapi klaim itu akurat. Meskipun tetap samar-samar. Selain itu, dari sudut pandang sinis, beberapa orang akan menyebut diri mereka terus-menerus tidak beruntung. Kukira itu berisiko untuk si peramal jika membuat prediksi yang tidak membahagiakan.
“Jadi, apakah nasib tenchuusatsu ini akan berlaku padaku mulai sekarang?” aku bertanya.
“Gadis kecil ini tidak benar ketika dia mengatakan bahwa tenchuusatsu berarti kamu hidup dalam kemalangan,” jawab peramal itu.
“Gadis kecil?” kata Ibuki, kesal.
“Nasib tenchuusatsu memang langka. Namun, itu belum tentu berarti bahwa seluruh hidupmu akan ditandai dengan kemalangan. Memang benar bahwa pada dasarnya ini dipandang buruk. Ada yang negatif: kamu tidak akan mendapat berkah dari orang tuamu, atau keluargamu. Namun, sisanya terserah dirimu, secara individu. Kamu sendiri yang memutuskan apa yang bisa dan tidak bisa kamu lakukan,” peramal itu menjelaskan.
Dia menunjukkan ekspresi muram di wajahnya, tapi aku bisa melihat belas kasihan di matanya.
“Kamu tidak perlu pesimis, dan kamu juga tidak perlu menertawakannya,” lanjutnya.
Aku telah mendengar beberapa hal yang menarik hari ini, tetapi pada akhirnya, itu hanyalah ramalan. Aku mulai beranjak dari kursiku. Ketika aku mencoba untuk berdiri, tiba-tiba, peramal itu menghentikanku.
“Aku punya satu nasihat lagi untukmu. Ambil jalan lurus saat pulang, jangan mengambil jalan memutar. Jika kamu tersesat, kamu mungkin bisa terjebak untuk waktu yang cukup lama. Bahkan jika kamu terjebak, jangan panik. Jika kamu tetap tenang dan bekerja sama, kamu pasti bisa mengatasinya,” katanya kepadaku.
Sungguh kata-kata yang diharapkan dari seorang peramal.
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar