-->
Loading...

iklan adsense

Volume 4.5 Chapter 1 Part 3 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia

Released on Oktober 15, 2021 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Volume 4.5 Chapter 1 Part 3 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, Streaming Volume 4.5 Chapter 1 Part 3 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 4.5 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!

CHAPTER 1
Mengejutkan, Ibuki Mio ternyata adalah Seorang Gadis Normal

PART 3

Namun, sehari setelah aku menyerah, aku kembali mengunjungi peramal itu lagi. 

“Ah.”

Namun pertemuan aneh lainnya; takdir telah mempertemukanku kembali dengan Ibuki. Kami bertemu di tempat yang sama dan pada waktu yang sama. 

“Kenapa kau datang ke sini lagi? Dan sendiri lagi?” Ibuki tampak jijik. Aku mendapat kesan bahwa kedatanganku benar-benar ditolak. 

“Aku bisa menanyakan pertanyaan yang sama padamu,” balasku. 

“Yah, kubilang aku suka ramalan, bukan? Kupikir mungkin aku bisa membaca peruntunganku, bahkan jika aku sendirian,” jawabnya. 

Jadi, Ibuki datang ke sini berharap peraturannya sudah berubah dari yang kemarin. Aku bertanya-tanya apakah dia benar-benar suka ramalan, dan jika iya, yang mana yang dia suka. 

“Aku mau tanya. Ibuki, apa kau percaya dengan ramalan?” aku bertanya. 

“Apa kau mau bilang kalau aku seharusnya tidak mempercayainya?”

“Tidak. Tapi itu umumnya bukan sesuatu yang orang-orang percayai begitu saja, kan?” 

Tidak semua orang mengerti bahwa meramal hanyalah penerapan belaka dari teknik cold reading. Banyak orang yang benar-benar percaya pada kekuatan misterius sebuah ramalan. 

“Kukira banyak orang mulai berpikir seperti itu. Tapi kalau kau tidak bisa menerima itu, ramalan mungkin bukan hal yang cocok untukmu,” kata Ibuki. 

“Jadi, maksudmu orang-orang yang tidak mempercayainya tidak sepatutnya diramal?” 

“Tidak, bukan itu. Begini ya. Bukan berarti aku percaya ramalan begitu saja. Namun, orang yang terlalu skeptis tidak akan mendapatkan apa-apa dari ramalan. Orang yang mengolok-olok ramalan sering menjalani kehidupan yang penuh dengan kontradiksi. Mereka akan bilang bahwa mereka tidak percaya pada Kami atau Buddha, misalnya—tapi ketika mereka dalam kesulitan, mereka meminta bantuan dengan berdoa, bukan?”

Itu argumen yang bagus. Dewa tidak ada, dan begitu juga hantu. Namun banyak orang yang membuat pernyataan pedas seperti "Tuhan tidak ada" tapi masih juga mengunjungi kuil di Tahun Baru untuk berdoa. Mereka berdoa agar dihindarkan dari segala macam penyakit, kesuksesan dalam bisnis, atau masalah cinta. Mereka menggenggam tangan mereka dan berkata, "Kumohon, Kami-sama, kabulkan doaku." 

Apa yang diyakini dan apa yang diharapkan adalah dua hal yang berbeda, dan tidak ada orang yang bisa menyangkalnya. 

Bisa dibilang, ramalan bukanlah kekuatan yang hebat. Peramal hanyalah manusia biasa, seperti halnya kau dan aku. Sungguh, tidak ada yang bisa kulakukan selain bersikap skeptis. 

“Apa kau mengerti?” tanya Ibuki. 

“Ya.”

Aku masih ragu, tetapi aku mengerti intinya. Aku memutuskan untuk membuat saran. 

“Peramal itu hanya menawarkan ramalan untuk pasangan, tapi mereka tidak hanya meramal dalam hal romansa, kan?” aku bertanya. 

“Ya, begitulah.” 

“Kalau begitu, kenapa kita tidak masuk bersama? Kita berdua benar-benar tertarik pada ramalan. Lagipula ini tidak akan terlalu merepotkan, kurasa tidak ada yang perlu kita khawatirkan.” 

Sejujurnya aku sama sekali tidak merasakan perasaan apa-apa pada Ibuki. Emosiku datar, tidak baik ataupun buruk. Rasanya seperti berurusan dengan pelanggan di toko. 

“Yah, aku sih tidak keberatan. Bagaimanapun juga, aku ingin diramal. Apa kau tidak apa-apa dengan ini?” dia bertanya. 

“Bahkan jika Horikita ada di sini, dia itu hanya seorang teman.”

“Bukan itu maksudku. Beberapa siswa di kelasmu pasti masih menyimpan dendam padaku karena kejadian di pulau itu.” 

Ibuki waspada padaku, di satu sisi. Dia khawatir bahwa, jika teman sekelasku melihat kami bersama, mereka mungkin akan membenciku. 

“Kupikir kau tidak perlu khawatir tentang itu.”

Ibuki menjulurkan lehernya seolah merasa bingung. “Aku tidak mengerti.”

“Jika semua orang di sekolah ini akur, maka ya, apa yang kau lakukan akan dianggap sebagai pelanggaran moral besar-besaran. Namun, sekolah percaya bahwa kemampuan adalah segalanya. Selain itu, kelas saling bersaing satu sama lain. Memata-matai dan menyabotase adalah taktik alami yang bisa digunakan di dalam keadaan itu. Apa aku salah?”

“Tapi banyak orang bertindak berdasarkan perasaan, bukan logika, dan mereka tidak akan yakin akan hal itu. Tidak semua orang cukup fleksibel secara mental.”

“Aku tidak berpikir orang seperti itu akan diterima di sekolah ini sejak awal.”

Ibuki menyilangkan tangannya dan tampak berpikir sejenak. “Kau itu ternyata tidak tahu malu, ya?” 

“Aku cuma seorang siswa yang biasa-biasa saja. Aku tidak tertarik untuk mencoba naik ke kelas atas atau dikeluarkan dari sekolah. Kalau bekerja sama dengan siswi seperti Horikita bisa membuatku lulus, maka aku beruntung.” 

“Itu tidak biasa, tahu. Setiap siswa di sekolah ini mengincar hak-hak istimewa saat kelulusan. Tapi tidak ada yang menduga kalau sekolah akan membuat kita bersaing seperti ini, jadi aku yakin sebagian besar siswa bingung.” 

Rupanya, siswa Kelas C tidak jauh berbeda dari Kelas D. Itu mungkin berarti Ibuki, yang telah menarik perhatian Ryuuen sejak awal, harus menjadi tangguh. Faktanya, setelah identitasnya sebagai mata-mata terbongkar, Ibuki berada di sisi Ryuuen pada beberapa kesempatan. Ibuki mengatakan bahwa dia hanya membantu Ryuuen untuk menebus kegagalannya, tapi sepertinya Ryuuen mempercayainya, setidaknya dalam beberapa batasan. 

Ibuki dan aku sama-sama mengantre. Petugas yang kutemui tempo hari datang lagi untuk memastikan bahwa kami adalah pasangan, lalu memberikan kami tiket. Di sana delapan pasangan berjejer di depan kami. 

“Sepertinya kita harus menunggu dulu,” aku menghela nafas. 

Jika hanya satu peramal yang tersedia, Ibuki dan aku harus menunggu lebih dari satu jam, bahkan jika mereka mengatur waktu secara efisien. Bagaimana kami berdua menghadapi itu? Aku mungkin tidak bisa melakukan percakapan dalam kurun waktu yang selama itu.

“Kita cuma bersama supaya bisa diramal, jadi kita tidak terlalu butuh obrolan yang tidak ada gunanya, kan?” Ibuki bertanya padaku. 

“Kurasa kau ada benarnya,” jawabku. 

Dia menangkap apa yang kupikirkan. Bagus. Aku telah terselamatkan dari hal yang merepotkan.

~ Bersambung ~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢