CHAPTER 1
Mengejutkan, Ibuki Mio ternyata adalah Seorang Gadis Normal
PART 1
Siapa sebenarnya yang berpikir bahwa menemui peramal adalah ide yang bagus?
“Pikiranku mungkin sudah kacau.” gumamku.
Suhu panas di akhir bulan Agustus yang intens berkobar di seluruh tubuhku. Aku melihat kabut panas berkilauan di kejauhan, di atas beton, dan di sepanjang trotoar yang dipenuhi pepohonan. Kamar asrama dilengkapi dengan AC, jadi kami tidak terlalu merasa panas ketika di dalam ruangan. Namun, saat itu musim panas, dan di bawah sinar matahari langsung, keringat pun mulai bercucuran.
Suhu panas membuat orang-orang merasa tidak nyaman. Aku putus asa mencari naungan. Untungnya, sekolah ini memiliki kampus yang luas yang ditumbuhi banyak pepohonan.
Saat itu pukul 09:30 pagi, jauh sebelum dimulainya sebagian besar kegiatan siswa, aku menuju tempat peramal itu. Layanan ramalan seharusnya akan dibuka mulai pukul 10:00 pagi, tetapi aku tidak berencana untuk berlama-lama. Aku akan melakukan peramalan keberuntunganku, lalu pergi dengan cepat. Itulah rencanaku.
Tapi, ketika aku mendekati tujuanku, aku menyadari bahwa rencanaku berantakan.
Kukira Keyaki Mall tidak akan terlalu ramai hari ini. Namun sebaliknya, banyak siswa yang berlalu-lalang dengan mengenakan pakaian musim panas mereka. Kuharap mereka di sini bukan untuk alasan yang sama denganku, tetapi aku curiga demikian. Aku memutuskan untuk menghindari keramaian yang padat ini dan memasuki gedung, aku mulai mencari lift, karena peramal itu berada di lantai lima.
“Geh.”
Aku mengeluarkan gerutuan. Hampir sepuluh siswa mengantre di depan lift. Aku bertanya-tanya apakah ada di antara mereka yang akan mengerti keadaanku. Setiap kali aku naik lift sendirian, aku adalah tipe orang yang menekan tombol "tutup" berkali-kali. Aku tidak nyaman saat naik lift dengan sekelompok besar orang seusiaku. Aku membutuhkan banyak keberanian untuk berbaur dengan kerumunan itu.
Meskipun akan merepotkan, aku memutuskan untuk mengambil jalan memutar dan menuju lift yang lain. Lift lain, di seberang jalan, tidak terlalu ramai.
“Ini menenangkan.” gumamku.
Menuju lift lain membutuhkan lebih banyak waktu dan usaha, tetapi meski begitu ini membuatku lega karena pikiranku bisa tenang. Setelah aku mencapai lantai lima, aku menuju ke tempat peramal itu. Namun, situasi yang tidak nyaman telah menungguku.
“Ada pasangan di mana-mana.”
Anak laki-laki dan perempuan berdiri berpasangan di mana-mana. Beberapa dari mereka sepertinya adalah sepasang kekasih. Tentu saja, ada juga kelompok laki-laki dan kelompok perempuan, tapi mereka jauh lebih sedikit.
Kurasa menemui peramal untuk mengetahui masa depan pasangan dan kecocokan romantis itu hal yang umum. Namun, itu membuat kunjungan ini jauh lebih canggung daripada yang kuperkirakan. Tidak banyak orang yang datang sendirian untuk meramal nasib mereka. Kaum jomblo jumlahnya sedikit.
Bagaimanapun, antrean terbentuk. Aku memutuskan untuk mengantri. Ketika aku melakukannya, seorang wanita yang sepertinya adalah petugas di area itu memanggilku.
“Selamat pagi. Apa pasangan Anda akan bergabung dengan Anda nanti?” dia bertanya.
“Pasangan? Uh, tidak, saya sendirian.”
Tentu saja, tidak aneh baginya untuk menanyakan pertanyaan itu padaku, tapi dia mengatakannya dengan agak aneh. Kuharap dia lebih sensitif terhadap kaum jomblo sepertiku.
“Umm ...”
Petugas yang mengawasi antrean itu menatapku dengan ekspresi malu-malu.
“Maafkan saya. Begini, jika Anda mau dibaca peruntungannya hari ini, Anda harus punya pasangan. Jadi...”
“Saya tidak bisa masuk jika saya sendirian?”
Dia mengangguk kecil dan menunjuk papan pemberitahuan.
“Hanya untuk pasangan. Kami dengan rendah hati meminta pengertian Anda.”
Sekarang aku mengerti mengapa Sudou bersikeras mengajak Horikita. Dia dan Horikita harus datang sebagai pasangan jika ingin menemui peramal itu.
“Itu berarti Sudou tidak pernah menginginkanku untuk datang, sejak awal.” aku bergumam.
Perilaku Sudou memiliki arti yang sama sekali berbeda, sekarang. Dia tidak pernah ingin mengajakku. Dia mungkin akan menyingkirkanku supaya dia dan Horikita bisa berduaan. Itu sangat menyedihkan.
“Saya sedikit penasaran, apakah aturannya juga sama untuk antrean di sebelahku?” aku bertanya.
“Ya. Ukon-sensei hanya membaca peruntungan untuk pasangan.” wanita itu menjawab.
“Begitu, ya.”
Aku menundukkan kepalaku dan keluar dari barisan. Murid di belakangku maju satu langkah ke depan.
Aku tidak mengira akan menemui situasi seperti ini. Kukira peramal itu adalah seorang wanita tua yang duduk di pinggir jalan, dibayar dengan uang receh, tetapi kenyataannya tidak begitu. Rupanya, ramalan romantis semacam ini sangat populer sekarang. Aku ingin mencoba layanan peramal, tetapi tidak ada yang bisa kulakukan. Mencoba mengajak Horikita lagi hanya akan buang-buang waktu.
Aku memutuskan untuk menyelinap pergi diam-diam.
“Hah? Jadi, aku tidak bisa membaca peruntunganku kalau sendirian?”
Aku mendengar suara marah. Korban jomblo lainnya yang juga sedang mengantre di barisan lain. Merasa agak simpatik, aku meliriknya. Namun, aku justru menarik perhatian orang itu.
“Ah.”
Itu adalah Ibuki Mio, seorang siswi Kelas C. Ketika aku pura-pura tidak melihat dia, dia mengejarku. Aku mempercepat langkahku.
“Tunggu!”
Mungkin Ibuki berpikir bahwa aku mencoba melarikan diri (memang sih). Dia meraih bahuku.
“Apa kau ada perlu denganku?” aku bertanya.
“Di mana Horikita?”
Dia melihat sekeliling saat dia menanyakan ini. Ibuki seperti Sudou; dia melihatku tidak lebih dari seorang perantara ke Horikita. Kuharap dia menemui Horikita sendiri dan tidak melibatkanku.
“Meskipun aku dekat dengannya, bukan berarti aku harus bersamanya sepanjang waktu. Aku sendirian hari ini.” kataku.
“Ah, begitu ya.”
Selama ujian pulau tak berpenghuni, Ibuki telah dikirim untuk menyusup ke Kelas D. Misinya adalah untuk memata-matai kami dan menimbulkan kekacauan, dia dan Horikita akhirnya terlibat baku hantam dalam pertarungan. Sejak saat itu, Ibuki selalu menaruh perhatiannya pada Horikita. Dia mungkin menganggapnya sebagai musuh bebuyutan.
Meskipun Ibuki adalah seorang gadis pemarah dan tidak ramah, dia memiliki selera mode yang bagus. Dia tampak mempesona. Kalau sikapnya sedikit berbeda, dia bisa menjadi populer.
“Ramalan semacam ini biasanya dilakukan satu lawan satu, bukan? Aku benar-benar tidak mengharapkan ini sama sekali. Bukankah menurutmu begitu?” dia bertanya.
“Ya. Itulah yang kupikirkan.”
“Jadi, apa kau akan mengajak Horikita?”
Pertama Sudou, sekarang Ibuki. Sepertinya Horikita adalah satu-satunya topik percakapan setiap kali aku terlibat.
“Tidak. Kalau kau sebegitu inginnya bicara dengan Horikita, kenapa kau tidak menghubunginya sendiri? Coba katakan padanya kalau kau ingin pergi untuk membaca peruntunganmu bersama dia.”
“Hah? Itu tidak mungkin. Lagian tidak ada sesuatu yang bisa kubicarakan dengannya.”
Jika itu benar, maka berhentilah membicarakan dia.
“Sejak awal aku tidak terlalu tertarik untuk membaca peruntunganku, sih. Bagaimana denganmu?” aku bertanya.
“Sejujurnya aku merasa kesal, tapi ...”
Ibuki mengguncang kepalanya, merasa frustrasi.
“Yah, aku tidak punya pilihan selain menyerah. Lagipula, aku buruk dalam percakapan.”
Jawaban itu terdengar mencurigakan. Ibuki bilang dia buruk dalam percakapan, tapi tidak seperti Sakura, dia tidak pernah menganggapku sebagai orang asing. Faktanya, dia tampak nyaman berbicara denganku secara setara—setidaknya itulah yang kulihat.
“Kenapa kau tidak mengajak Ryuuen?” aku menawarkan.
Aku mengatakan itu dengan setengah bercanda, tapi Ibuki menatapku dengan tatapan mencemooh yang penuh dengan rasa jijik.
“Kau bercanda kan? Aku benci melihat wajahnya, bahkan saat aku harus bicara dengannya. Aku lebih memilih menghindari dia selama liburanku.”
“Tapi sewaktu di kapal kalian selalu bersama, bukan? Bukankah itu normal untuk berpikir bahwa kalian berdua mungkin dekat?” kataku.
Ibuki menoleh.
“Itu akibat kesalahanku karena aku tidak berhasil menemukan pemimpin Kelas D.” jawabnya pelan.
Jika itu benar, Ibuki bekerja dengan Ryuuen untuk menebus kegagalannya. Itu tidak menjelaskan semuanya, tapi kurasa hanya Kelas C yang tahu alasan sebenarnya. Sebenarnya, Ibuki telah mengetahui identitas pemimpin kami selama tantangan bertahan hidup di pulau itu. Dia mengetahui bahwa Horikita adalah pemimpinnya, dan dia tidak salah. Dia akan berkontribusi besar pada kelasnya jika aku tidak menggagalkannya.
“Aku mau tanya. Selama ujian bertahan hidup, siapa pemimpin Kelas D yang sebenarnya?”
“Entahlah?” aku mengangkat bahuku.
“‘Entahlah?’ Bukan berarti kau tidak tahu.”
“Meskipun aku tahu, aku tidak bisa memberitahumu. Sejujurnya, aku tidak tahu. Kebanyakan dari kami di Kelas D tidak tahu. Kurasa Horikita bertindak secara rahasia, dan entah bagaimana dia berhasil melakukan semuanya sendiri. Itulah satu-satunya yang bisa kukatakan tentang semua yang telah terjadi.”
Sepertinya Ibuki menatapku seolah melihat ke dalam diriku. Namun, aku bukan tipe orang yang mudah dibaca.
“Kalau Ryuuen bukan pilihan, kenapa kau tidak mengajak gadis lain dari kelasmu? Aku yakin kau pasti punya satu atau dua teman.” kataku.
“Kalau aku memang punya, aku tidak akan berada dalam situasi ini. Aku benar-benar membenci gadis-gadis di kelasku.” jawabnya.
Ibuki sama seperti Horikita. Sebenarnya, dia mungkin bahkan lebih antisosial dari Horikita. Dengan kesempatan yang tepat, keduanya mungkin bisa akrab.
“Kau tahu, kau bahkan bisa mengobrol denganku sekarang. Bukankah seharusnya kau juga bisa bicara dengan orang lain? Aku tidak berpikir kau buruk dalam berurusan dengan orang-orang.” kataku.
“Itu tidak benar. Saat kau bicara denganku, kau merasakan sesuatu, bukan? Kau pasti merasa aku ini menyebalkan.”
“Yah begitulah. Kurasa begitu.”
Berinteraksi dengan Ibuki selalu membuatku merasa seperti daging yang diiris dengan pisau tajam. Itulah yang bisa kugambarkan tentang kepribadiannya yang terisolasi. Aku yakin siswa lain juga merasakan hal yang sama.
“Tidak peduli apa pun yang kulakukan, suasananya sepertinya selalu berubah jadi suram. Itu benar kan?” dia bertanya.
Aku masih ragu tentang Ibuki yang buruk dalam berinteraksi, tapi tidak diragukan lagi bahwa dia itu angkuh, bahkan dengan teman sekelasnya sendiri. Aku bisa membayangkan sikap keras kepala nya semisal dia bertemu peramal itu.
“Meskipun kau buruk dalam berkomunikasi, kau masih ingin membaca peruntunganmu, itu mengejutkanku.”
“Itulah masalahnya. Ini seperti seseorang yang menyukai kucing, tapi alergi dengan kucing.” jawabnya.
Hal itu tentu membuatnya frustrasi.
“Tapi kau melakukannya dengan baik waktu memata-matai Kelas D.” jawabku.
Meskipun sikapnya keras dan tidak ramah, Ibuki sama sekali tidak terlihat terganggu saat dia bekerja sebagai mata-mata. Kelas kami bahkan menerimanya tanpa curiga.
“Itu beda lagi. Bagaimanapun juga, bicara dengan orang lain membuatku cemas. Dan saat aku cemas, itu membuatku gelisah. Aku benci itu. Bukan berarti aku ingin jadi seperti ini—tunggu, kenapa aku malah memberitahumu hal ini? Orang-orang mungkin akan salah paham dengan kita!”
Bingung, Ibuki tiba-tiba berbalik. Sungguh, seharusnya aku yang mengatakan itu. Semua orang yang mengantri di dekat kami bergerak maju, dan hanya tinggal kami berdua. Siswa lain mungkin bisa salah mengartikannya.
Jadi, berbicara dengan orang-orang membuat Ibuki cemas, ya? Jika itu benar, solusinya mungkin mudah. Bahkan meskipun aku tidak tahu akar penyebab kecemasannya, aku bisa mengatasinya.
“Tadi, kau bilang kalau menjadi mata-mata itu berbeda, bukan?” aku bertanya.
“Ya. Karena itu fakta.”
“Terus, apa bedanya pada waktu itu dan sekarang?”
Ibuki terdiam beberapa saat.
“Aku tidak tahu. Pokoknya itu berbeda.” katanya.
Sepertinya dia menyerah untuk mencoba mengartikulasikan perbedaannya.
“Kau belum memikirkannya, ya.” kataku.
“Yah, aku tidak bisa menjelaskan kenapa itu berbeda. Waktu itu aku hanya akting.”
“Tidak, kupikir itu sederhana. Perbedaan antara dirimu yang sekarang, dan dirimu waktu itu, adalah kesadaran.”
“Kesadaran?” Ibuki menoleh ke arahku, minatnya sedikit terguncang.
“Kecemasanmu berasal dari kesadaran akan situasi waktu itu. Kau memproyeksikan rasa tidak amanmu ke orang lain, sehingga kau membeku ketika kau bertemu seseorang untuk pertama kalinya.” aku menjelaskan.
“Apa yang kau bicarakan? Mungkin itu berbeda untuk orang yang pandai berkomunikasi, tapi hampir semua orang menjadi gugup ketika mereka bertemu seseorang untuk pertama kalinya, bukan?”
“Tentu saja. Aku juga sama. Tapi apakah kau masih merasa gugup kalau kau bicara dengan petugas di toserba?” aku bertanya.
“Hah?”
“Petugas di toserba yang sering kau kunjungi. 'Apakah Anda punya kartu kredit? Apakah Anda ingin makanannya dihangatkan?' Kau tidak cemas ketika petugas menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu, kan?”
“Yah, i-itu ...” dia tergagap.
Jika kau menganggap komunikasi sebagai keterampilan, seperti atletik, itu sederhana. Kau harus melatih bakatmu. Ibuki menjadi gugup karena dia sangat sadar dengan siapa dia berbicara. Aku ingin tahu apa yang mereka pikirkan tentangku. Aku ingin mereka menyukaiku. Kuharap mereka adalah orang yang baik.
Ketika Ibuki menyusup ke Kelas D, dia mungkin tidak punya waktu untuk mempertimbangkan hal-hal itu. Dia memainkan peran, tidak memikirkan bagaimana orang-orang akan bereaksi terhadap dirinya yang sebenarnya. Dan dia memanfaatkan statusnya sebagai orang buangan, yang berfungsi sebagai penyamaran yang sempurna.
“Saat kau mengatakannya seperti itu, kurasa kau ada benarnya.” gumamnya.
“Kau sudah siap untuk bicara dengan peramal itu secara langsung. Itu wajar untuk merasa cemas, tapi tidak ada alasan untuk itu. Jika kau tidak terlalu berlebihan memikirkan bagaimana kau berkomunikasi, kau tidak akan terlalu tegang.”
“Begitu ya. Tunggu, kenapa kau jadi menceramahiku?” Ibuki melotot, terlihat siap menerkam.
“Saat kau sudah lama menyendiri, kau akan memahami hal-hal seperti ini. Kau bertanya-tanya kenapa kau tidak bisa berteman, dan kau berpikir tentang perbedaan antara orang-orang yang membuatmu gugup dan mereka yang tidak. Akhirnya, kau memikirkan dari mana orang-orang itu berasal dan ke mana mereka akan pergi.”
“Kau menyeramkan. Kau terdengar seperti orang yang akan berubah menjadi pembunuh berantai di kemudian hari. Apa kau selalu seperti ini?” tanya Ibuki.
“Kurang lebih begitu.”
Percakapan ini telah berbelok ke arah yang agak canggung. Di matanya aku mungkin terlihat seperti orang aneh.
“Yah, aku akan pulang. Bagaimana denganmu?” aku bertanya.
“Aku mungkin juga akan pulang. Lagian, aku bisa membaca peruntunganku sendiri. Aku sangat tertarik dengan tenchuusatsu.” katanya.
“Tenchuusatsu?”
Itu bukan jenis kata yang sering kudengar.
“Tunggu. Kau datang kesini tanpa tahu itu?” Ibuki menghela nafas. “Sederhananya, ini adalah jenis cara meramal yang memberitahumu tanggal-tanggal yang tidak menguntungkan bagimu.”
Apakah benar-benar mungkin untuk menunjukkan dengan tepat aspek takdir seseorang seperti itu? Pengetahuanku tentang ramalan terbatas pada takhayul seperti "pakai warna merah," dan "berhati-hatilah agar tidak kehilangan sesuatu bulan ini." Namun, Ibuki membuatnya terdengar seperti masih ada banyak hal tentang ramalan.
“Makanya aku datang kesini. Ramalan itu tidak hanya tentang romansa.” Ibuki terdengar kecewa saat dia melihat kembali ke antrean panjang.
“Mungkin ada juga beberapa dari mereka yang datang ke sini untuk mencari tahu tentang tenchuusatsu, atau apapun itu namanya.” jawabku.
“Meski begitu, aku merasa kalau mereka hanya mencari tahu tentang hal-hal romantis, bahkan peramal itu memaksa kita untuk datang berpasangan.” jawabnya.
Dan dengan itu, Ibuki pergi.
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar