-->
Loading...

iklan adsense

Volume 4.5 Chapter 1 Intro “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia

Released on September 28, 2021 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Volume 4.5 Chapter 1 Intro “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, Streaming Volume 4.5 Chapter 1 Intro “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 4.5 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!

CHAPTER 1
Mengejutkan, Ibuki Mio ternyata adalah Seorang Gadis Normal

INTRO

“Ujian khusus.” Kata-kata itu biasanya berarti ujian tulis, atau semacam ujian atletik. Namun, di SMA Koudo Ikusei, ujian khusus bukanlah urusan sepele. Kontes bertahan hidup di pulau tak berpenghuni. Pertempuran akal di atas kapal pesiar. Ujian-ujian aneh itu datang satu demi satu selama liburan musim panas kami. 

Di antara dua ujian itu, aku, seorang siswa tahun pertama, hanya memiliki 7 hari istirahat yang sebenarnya. Itu termasuk hari ini. Sebentar lagi semester kedua akan dimulai. Aku menghabiskan hari-hari libur dengan sederhana. Aku tidak menelepon siapa pun, dan tidak ada yang meneleponku. Dengan kata lain, itu kesepian. 

“Yah, aku tidak terlalu peduli.” kataku keras. 

Kebebasan saja sudah cukup. Aku tidak akan meminta lebih. Memiliki banyak teman belum tentu hal yang baik. 

Semakin banyak orang yang terhubung denganku, semakin merepotkan untuk mengelola semua hubungan itu. Jika seorang teman meneleponku, aku mungkin akan sangat gembira. Tetapi ada juga kemungkinan bahwa aku tidak akan merasa seperti itu. 

Bahkan sendirian, ada banyak hal yang harus kulakukan. Aku melakukan salah satu dari hal-hal itu hari ini: menggunakan ponselku untuk memeriksa sisa saldo poinku (106.219 poin). 

Aku mentransfer 100.000 poin itu ke seseorang dari kelasku—Sudou Ken. Segera setelah itu, Sudou meneleponku. 

“Yo, Ayanokouji. Sedang apa kau sekarang?” dia bertanya. 

“Tidak banyak. Hanya memikirkan menu makan malam nanti.” 

“Aha. Aku baru saja makan ayam tender beberapa saat yang lalu. Lumayan lho. Rasanya enak, tapi aku pasti akan bosan kalau memakannya terlalu sering, jadi aku mencoba mengubah resepnya sedikit. Aku bisa menggorengnya, merebusnya... Tunggu, apa yang kubicarakan sih? Aku ingin bicara denganmu tentang ramalan.”

Ramalan? Aku tidak pernah mengira kata-kata itu keluar dari mulut Sudou. Dia adalah tipe laki-laki yang melihat dunia secara hitam dan putih. Dia menyukai kesederhanaan, seperti ayam yang baru saja dia makan. 

“Sebenarnya, aku pernah dengar ada peramal yang sangat akurat di Keyaki Mall, tapi dia hanya akan berada di sana selama liburan musim panas. Ini jadi bahan pembicaraan di antara para senior. Bahkan waktu aku latihan di klub, semua orang membicarakan peramal itu. Aku mendapat uang ekstra, jadi aku merasa ingin bersenang-senang sedikit, tahu? Ayo kita cek kesana. Tentu saja, aku yang traktir.” 

Keyaki Mall adalah sebuah kompleks di lingkungan sekolah, tempat yang sering dikunjungi para siswa. Karena siswa dipaksa untuk tinggal di lingkungan sekolah, sekolah dilengkapi dengan segala macam fasilitas, meskipun itu tidak bisa memberi kami semua pilihan hiburan dunia luar. Kami tidak memiliki konser idola, taman hiburan, atau kebun binatang. Dunia kami kecil. Ketika sesuatu yang baru muncul, tentu saja itu langsung menjadi topik hangat di kalangan siswa. 

Meski begitu, ramalan adalah sesuatu yang tidak terduga. 

Karena sudah lama tidak ada yang mengajakku keluar untuk nongkrong, aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku. 

“Kapan kita pergi?” 

“Besok pagi. Dari yang kudengar itu dimulai pukul 10:00, tapi ternyata, kalau kau tidak mengantre lebih awal, kau akan menunggu lama. Aku ingin ke sana sekitar jam 9:30.” kata Sudou. 

Rupanya, dia sudah merencanakan jadwal. 

“Kapan pun waktunya aku pasti bisa, lagian aku tidak punya rencana lain. Tapi apa klubmu sudah mengijinkan?” 

“Ya. Besok hari liburku. Turnamen sudah berakhir, jadi tidak apa-apa. Selain itu, kami tidak melakukan apa pun selain berlatih seharian. Kalau mereka tidak membiarkan kami beristirahat, tubuh kami bisa remuk.” katanya kepadaku tanpa basa-basi. 

Sudou baru saja mengikuti turnamen basket. Meskipun aku melihatnya diam-diam berlatih hari demi hari untuk persiapannya, aku memang agak penasaran dengan hasil turnamennya. Satu hal lagi untuk dipikirkan. 

“Apa ada masalah?” aku bertanya. 

Aku menekankan kata "masalah" untuk memastikannya. Sudou mengerti apa yang kumaksud. 

“Ya. Itu cukup sulit. Mereka mengawasi kami dengan lebih ketat—kapten tim dan pelatih selalu mengawasi kami sepanjang waktu. Tidak seperti waktu aku bermain basket di SMP. Aku tidak bisa membuka mulutku sama sekali, kecuali saat kami perlu bicara selama pertandingan. Sekolah memberi banyak batasan pada kami, bahkan saat ijin ke kamar mandi sekalipun. Kupikir itu akan jadi mustahil.” kata Sudou.

Meskipun kegiatan klub terpisah dari pelajaran utama, aturan sekolah ketat. 

“Tapi, semuanya berjalan lancar. Aku melakukannya dengan cukup baik, karena aku punya kemampuan yang hebat.” dia menambahkan. 

“Begitu, ya. Yah, itu melegakan. Bagaimana dengan Yamauchi?” aku bertanya. 

“Aku memastikan untuk menghapus datanya sebelum kembali.” kata Sudou, sekali lagi mengacu pada bisnis rahasia kami. “Aku tidak akan khawatir. Bahkan aku tidak sebodoh itu.” 

Kehidupan sekolah Sudou bergantung pada hasil ini. Dia mungkin tidak akan melakukan hal yang ceroboh. Meski begitu, mungkin sebaiknya menghubungi Yamauchi dulu, untuk mengonfirmasi bahwa datanya sudah berhasil dihapus. Untuk berjaga-jaga. 

“Ngomong-ngomong, apa kau benar-benar bermain di pertandingan besar?” aku bertanya. 

“Ya. Aku adalah satu-satunya dari semua siswa tahun pertama yang bermain. Aku bahkan mencetak angka. Tapi kami kalah pada akhirnya, jadi aku tidak terlalu bangga.” 

Aku tidak terlalu memahami seluk-beluknya, tetapi seorang siswa tahun pertama yang bermain dalam pertandingan seperti itu patut berbangga. Aku merasakan penerimaan, daripada frustrasi, dari Sudou. Dia mungkin berlatih keras untuk turnamen, dan melihat hal ini sebagai kemajuan yang terus-menerus. 

Dia harus berlatih keras, karena siswa tahun pertama meninggalkan lingkungan sekolah untuk berpartisipasi dalam ujian khusus itu. Itu berarti Sudou hanya punya sedikit waktu untuk berlatih daripada siswa senior. 

“Jadi, bagaimana? Dengan ramalan itu—kau akan pergi atau tidak?” 

“Yah, aku tidak punya rencana apa-apa. Jadi, tentu saja, aku akan pergi.” 

Sekarang setelah aku setuju, Sudou langsung mendesak. 

“Jangan lupa ajak Suzune juga. Harus. Mengerti?” katanya. 

“Aku mengerti.” jawabku. 

Rupanya, Sudou sebenarnya tidak ingin pergi menemui peramal denganku, melainkan, dengan Horikita. Dia mungkin tahu itu, jika dia sendiri yang mengajaknya, peluang keberhasilannya tipis.

“Yah, hanya saja... kurasa dia tidak tertarik dengan ramalan.” tambahku. 

“Meski begitu, ajak dia. Ini salah satu keahlian khususmu, kan?” 

Keahlian khusus macam apa? Aku benar-benar berharap dia berhenti mencoba menggunakanku sebagai semacam Mesin Undangan Horikita. 

“Yah, aku akan mencobanya. Tapi jangan terlalu berharap.” kataku. 

“Mencoba itu masih belum cukup.” jawabnya. 

“Masih belum cukup?”

Kata-kata tegas Sudou mengandung jejak kemarahan. Dia berencana pergi esok hari dengan asumsi bahwa Horikita pasti ada di sana.

“Kau harus melakukannya. Kalau kau tidak mengajak Horikita, maka tidak akan ada gunanya.” katanya padaku. 

“Dengar, aku tidak tahu rencana apa yang mungkin dia punya besok. Dan aku tidak tahu apakah dia bahkan tertarik dengan ramalan. Bukankah lebih mudah mengajaknya berbelanja atau menonton festival film?” 

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua gadis suka diramal.” dia menjawab. 

Itu adalah pernyataan yang bisa menimbulkan arti yang sangat luas. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan bahwa Horikita akan menunjukkan rasa ingin tahunya tentang hal-hal yang disukai gadis biasa. 

“Mengerti? Nanti, setelah kau mengajaknya, hubungi aku. Oke? Kau harus mengajaknya.” 

Dengan itu, Sudou tiba-tiba mengakhiri panggilan. Kupikir aneh jika Sudou mengajakku melihat peramal, ternyata inilah yang sebenarnya dia inginkan. Yah, sepertinya dia benar-benar mengejar Horikita. Selagi aku merasa sedikit kecewa, aku segera menghubungi Horikita. Jika Sudou tahu bahwa aku mengabaikan permintaannya, itu akan jadi merepotkan nantinya. 

Horikita segera menjawab teleponnya. 

“Hei, Horikita. Apa kau suka ramalan?” aku bertanya. 

Jika ada satu wanita di dunia ini yang mampu menghancurkan prasangka siapa pun bahwa semua gadis menyukai ramalan, itu adalah Horikita.

“Kamu membuka percakapan dengan cara yang sangat aneh.” jawabnya.

Benar. Tapi aku benar-benar tidak punya hal lain untuk dikatakan. 

“Kau akan menyelamatkanku kalau kau memberiku jawaban.”

“Jadi, kalau aku tidak menjawabmu, ada kemungkinan kamu tidak akan terselamatkan?” dia bertanya.

Itu jelas sebuah kemungkinan. Permintaan Sudou mengganggu pikiranku.

“Jadi, apa kau akan menyelamatkanku?” aku bertanya.

“Kalau kamu tidak keberatan berutang budi padaku.” jawabnya.

Aku harus berutang budi padanya hanya untuk menjawab pertanyaan? Aku sempat berniat untuk menekan tombol "akhiri panggilan", tapi aku membayangkan wajah marah Sudou dan mengurungkan niatku.

“Baiklah. Kalau kau menjawabku, aku akan berutang budi padamu.” kataku padanya.

Horikita, menyadari betapa pentingnya jawabannya, diam sejenak. 

“Begitu, ya. Yah, aku bukan penggemar fanatik, tapi bohong kalau kubilang aku tidak suka ramalan.”

Ini tidak terduga. 

“Apa kau pernah meramal nasibmu sebelumnya?” aku bertanya.

“Tentu saja belum. Aku hanya pernah mendengar tentang horoskop dan hal-hal semacam itu di berita pagi.” 

Mungkin yang dia maksud adalah horoskop harian yang biasanya meramal nasib berdasarkan bulan lahir. Aku tidak bisa membayangkan Horikita sebagai tipe gadis yang akan berganti pakaian, atau membeli aksesoris baru, jika seseorang di TV mengatakan bahwa warna keberuntungannya adalah merah dan putih. 

“Apa kamu kecanduan ingin mendapatkan keberuntunganmu?” dia bertanya. 

“Tidak, bukan itu. Ada beberapa rumor yang beredar belakangan ini tentang seorang peramal. Apa kau sudah dengar?”

“Seorang peramal?” 

Horikita terdiam beberapa saat, lalu akhirnya menjawab dengan nada yang terdengar seolah-olah dia mengerti. 

“Ya, tampaknya hal itu cukup membuat gempar. Aku pernah mendengarnya.” 

“Yah, aku sedikit penasaran. Mereka bilang kalau ramalannya benar-benar akurat, jadi aku ingin tahu seberapa akuratnya itu. Tapi sejujurnya aku tidak terlalu yakin kalau sesuatu seperti ramalan bisa begitu tepat.”

Kukira dia akan setuju denganku, tetapi dia sepertinya memiliki pendapat yang berbeda. 

“Benarkah? Kupikir seseorang dengan kekuatan nyata-lah yang bisa akurat.” 

“Tidak mungkin. Itu berarti dia adalah cenayang.” jawabku. 

Kekuatan untuk memprediksi masa depan dengan membaca wajah atau garis tangan seseorang, atau berdasarkan tanggal lahir mereka? Itu konyol, dan aku tidak percaya bahwa itu ada. 

“Tidak, bukan itu maksudku. Peramal tidak memiliki kekuatan untuk meramal masa depan. Itu sudah jelas, bukan? Itu sama bodohnya dengan seseorang yang mengatakan bahwa mereka percaya pada hantu. Namun, perbedaan utama antara peramal dan cenayang adalah kalau peramal menerawang berdasarkan sejumlah besar data masa lalu. Dengan kata lain, mereka menafsirkan pola untuk memahami orang-orang.” 

Horikita bukan gadis yang aneh. Jawabannya didasarkan pada logika dan alasan. 

“Dengan kata lain, kau membicarakan tentang kemampuan cold reading seorang peramal, kan?” aku bertanya. 

“Bicaramu itu agak sombong, tapi kurasa kamu sudah tahu beberapa hal.” 

Horikita terdengar sedikit geli. 

“Kita tidak bisa menilai diri kita sendiri secara objektif. Namun, peramal yang hebat dapat mengekstrak informasi dari orang yang mereka baca melalui percakapan singkat. Mereka dapat menangkap hal-hal yang bahkan orang itu sendiri tidak menyadarinya. Tidakkah menurutmu begitu?” lanjutnya.

Cold reading. Secara harfiah, istilah itu berarti membaca pikiran seseorang tanpa persiapan sebelumnya. Itu mengacu pada teknik yang mengekstrak informasi melalui percakapan biasa, dan dengan demikian, orang yang diterawang akan mendapat kesan bahwa kau tahu lebih banyak daripada mereka. Kau menggunakan observasi dan mengambil kesimpulan untuk mendapatkan informasi tentang targetmu, lalu buat orangnya percaya bahwa kau bisa melihat masa lalu dan masa depan mereka. Kedengarannya sederhana, tapi sebenarnya, mengekstrak informasi tanpa persiapan adalah hal yang sangat sulit. Itu membutuhkan keterampilan tingkat tinggi. 

“Aku sedikit tertarik.” aku mengakui. 

“Baguslah. Kurasa kamu harus menemui peramal itu.” kata Horikita. 

“Bagaimana kalau kau ikut?”

“Apa kamu bercanda?”

“Tidak, aku serius.”

“Aku menolak.” jawabnya. 

Dia langsung menolakku, tapi aku tidak bisa begitu saja menerimanya. 

“Aku ini masih pemula kalau berkaitan dengan hal-hal semacam ini. Kupikir akan lebih baik kalau aku mengajakmu, Horikita, jadi aku bisa lebih mengerti.”

“Maaf, tapi aku tidak bisa. Kamu tahu kalau aku tidak suka berurusan dengan orang banyak, kan?”

Itu memang benar. Rumor tentang peramal ini sangat populer, pasti akan ada banyak siswa yang datang kesana. Beberapa orang dewasa di kampus mungkin juga akan pergi kesana. Aku tentu tidak bisa membayangkan Horikita akan memasuki tempat yang ramai seperti itu. 

Jika aku terlalu memaksanya, aku mungkin hanya akan merusak suasana hati Horikita. Sejauh yang kutahu, aku telah menerima keputusan Horikita. Sudou mungkin tidak akan terlalu mempermasalahkannya. Mungkin. 

Setelah aku mengakhiri panggilan, aku mengirimi Sudou pesan singkat. Aku segera melihat tanda "baca" muncul. Tak lama kemudian, aku menerima balasan ketidakpuasan. 

“Kalau begitu lupakan saja.” bunyi pesan itu. 

Aku hanyalah sarana bagi Sudou untuk mengajak Horikita. Karena aku sudah gagal mengajaknya, aku tidak lagi berguna bagi Sudou. Yah, lagipula itu akan aneh jika dua orang laki-laki melihat peramal bersama-sama. 

“Meski begitu... Peramal, ya?” aku bergumam keras. 

Setelah percakapan dengan Horikita itu, minatku terusik. Aku memutuskan untuk pergi dan memeriksa peramal itu besok.

~ Bersambung ~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢