-->
Loading...

iklan adsense

Volume 4 Epilog Part 2 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia

Released on September 26, 2021 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Volume 4 Epilog Part 2 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, Streaming Volume 4 Epilog Part 2 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 4 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!

EPILOG
Setiap Perbedaan

PART 2

Kelompok Kelinci akan memasuki sesi diskusi keenam dan terakhir, masih tanpa harapan dan jalan keluar. Aku ingin menenangkan pikiranku, jadi ketika Hirata dan yang lainnya meninggalkan kamar, aku menuju ke pertemuan sendirian. Karena masih ada sekitar setengah jam sampai diskusi dimulai, aku berasumsi belum ada orang di sana. Namun, harapanku hancur oleh kehadiran seseorang. 

“Dia pasti sudah sampai di sini lebih awal, ya?” aku bertanya dengan suara keras. 

Ichinose tidur nyenyak di lantai. Mengapa hanya dengan melihatnya bisa menggelitik hati seorang laki-laki? Ah, ini berbahaya; ini benar-benar buruk. Karena dia berbaring miring, aku bisa melihat pahanya yang montok lebih jelas dari biasanya. 

Meskipun aku tahu aku tidak seharusnya melakukan ini, aku tidak tahan untuk tidak melihat pahanya, lalu kakinya, lalu wajahnya, lalu dadanya. Lalu kembali ke pahanya. Selagi hasrat remajaku mengalahkanku, sesuatu di dekat bagian belakang kepalanya menarik perhatianku. Itu adalah ponsel Ichinose. Dia pasti tadi menggunakannya sebelum dia tertidur. 

Ponsel kami menyimpan beberapa informasi. Ponsel tidak hanya memainkan peran penting dalam ujian ini, tetapi ponsel juga memungkinkanmu untuk mengonfirmasi detail, seperti berapa banyak poin yang dimiliki seseorang. Tentu saja, untuk mengkonfirmasi ini, kau membutuhkan ID dan kata sandi siswa tersebut. Tapi untuk menghindari kerumitan dengan harus log in setiap saat, beberapa siswa langsung menyimpan kata sandi mereka. Dengan kata lain, jika aku mengintip ponsel Ichinose sekarang, mungkin bagiku untuk mengetahui semua jenis informasi. Seperti kondisi kehidupan Ichinose, atau jumlah poin yang dia miliki. Dan aku telah mengkonfirmasi sebelumnya bahwa Ichinose menyimpan ID dan kata sandinya di perangkatnya. 

Aku mendekat dengan perlahan dan hati-hati, selangkah demi selangkah. 

“Ooh... ah...” 

Saat aku menutup jarak di antara kami, Ichinose bergerak sedikit, mungkin merasakan beberapa perubahan di udara. Tapi dia tertidur lagi, dan napasnya santai. Sepertinya aku tidak membangunkannya. Aku mencoba mendekat lagi. 

“Mmm...”

Apa sih yang kulakukan? Bahkan jika ini adalah cara yang efektif bagiku untuk mengumpulkan informasi, jika ada yang melihatku, mereka akan mengira aku orang mesum. Bagaimana jika Ichinose bangun? Akan ada kesalahpahaman besar. Bahkan meskipun tidak apa-apa bagiku untuk memasuki ruangan setengah jam lebih awal, itu aneh bagiku untuk menunggu begitu terang-terangan sementara seorang gadis tidur. 

Yah, aku tidak melakukan apapun sampai harus merasa bersalah. Oleh karena itu, aku akan tetap tenang. Selangkah demi selangkah, aku mendekat ke Ichinose. 

“Ooh... um...” dia menggumamkan sesuatu yang tidak bisa dimengerti. 

Ini tidak bagus. Setiap kali aku bergerak, Ichinose mulai terbangun. Sebagai percobaan, aku mencoba menggerakkan kakiku maju mundur di tempat yang sama, tanpa bergerak kedepan. Jika Ichinose menunjukkan respons, aku akan menganggap dia sebagai orang yang mudah terbangun. Mereka mengatakan bahwa orang-orang yang seperti itu cenderung lekas gugup...

Srek, srek. Aku meletakkan kaki kananku ke depan, dan kemudian memindahkannya kembali ke posisi awal. 

Astaga, aku menyedihkan

Kenapa aku harus menyelinap seperti ini? Aku pasti akan dicap sebagai laki-laki bejat jika seseorang melihatku sekarang. Menyadari tindakanku benar-benar bodoh, aku menyerah mencoba mengintip ponselnya, dan bergerak menjauh. Aku duduk di sisi lain ruangan. Dari sini, aku tidak bisa melihat sekilas tempat tersembunyi di balik pahanya. Kupikir aku juga tidak sengaja membangunkannya. 

Yang terpenting, ini masih terlalu cepat. Kenapa dia ada di sini? Aku bertanya-tanya. 

Sekitar 20 menit sebelum sesi diskusi seharusnya dimulai, suara musik yang lucu terdengar di seluruh ruangan. Itu berasal dari ponsel Ichinose. 

“Mmm...” gumamnya. 

Ichinose, dengan mata masih terpejam, meraih ponselnya. Dia membuka kunci layar dan menghentikan musiknya, yang ternyata adalah alarm ponselnya. Ichinose, masih terlihat agak mengantuk, mulai duduk. Segera, dia memperhatikanku. 

Aku bertanya-tanya apakah dia akan jijik dengan kehadiranku, tetapi dia tidak risau sedikit pun.

“Oh, senang... menguap... melihatmu, Ayanokouji-kun. Maaf, apa alarmku mengagetkanmu?” dia bertanya. 

“Oh, tidak. Sepertinya kau tidur nyenyak.” 

“Ha ha ha, maaf soal itu. Aku baru saja ketiduran; Aku ngantuk banget. Kamu datang ke sini lebih awal. Bukankah kita masih punya waktu 20 menit sampai diskusi dimulai?” dia bertanya. 

“Aku juga mau menanyakan hal yang sama padamu. Sejak kapan kau ada di sini?”

“Satu jam yang lalu, kurasa. Aku ingin kedamaian dan ketenangan. Karena teman-temanku terus keluar masuk kamarku, di sana jadi agak bising.” 

Rupanya, menurut dia ini adalah tempat terbaik untuk tidur sebentar. 

“Selain itu, aku ingin menenangkan pikiranku.” tambahnya. 

Daripada tampak segar karena baru bangun tidur, dia tampak dikejutkan oleh inspirasi yang tiba-tiba. 

“Bagaimana hasilnya?” aku bertanya. 

“Lumayan.”

Dia berdiri. Kemudian, untuk beberapa alasan, Ichinose berjalan mendekat dan duduk di sebelahku. Kami hanya berdua di ruangan itu. Jarak di antara kami menyusut. Meskipun aku tidak bisa menyembunyikan kegugupanku, Ichinose sepertinya tidak menyadarinya. 

“Masih ada waktu tersisa sampai diskusi dimulai. Kenapa kita tidak ngobrol sebentar? Kalau itu tidak merepotkan, sih.” katanya. 

“Oh tidak, itu tidak merepotkan. Aku tidak keberatan.”

“Oke. Sejujurnya, Ayanokouji-kun, aku ingin bertanya sesuatu padamu. Aku sudah menanyakan pertanyaan ini ke semua teman sekelasku, termasuk anak laki-laki. Tapi sekarang aku juga berpikir untuk menanyakannya ke kelas lain untuk sementara waktu. Aku hanya agak penasaran. Ayanokouji-kun, apa kamu ingin naik ke Kelas A?”

Aku penasaran apa yang akan dia tanyakan kepadaku, tetapi pertanyaannya adalah sesuatu yang sangat biasa. 

“Yah, begitulah. Tentu saja. Aku berpikir untuk naik ke Kelas A. Tidak, tunggu ... kukira mungkin lebih tepatnya kalau aku harus mengincar Kelas A.”

“Karena ada jaminan kuliah dan karir?” dia bertanya.

Di sekolah kami, siswa dari Kelas A sampai Kelas D saling berkompetisi. Hak istimewa terbesar—dijamin masuk ke universitas mana pun dan bebas memilih jalur karier—hanya terbatas pada mereka yang ada di Kelas A. Banyak orang yang mungkin berpikir itu terdengar seperti tipuan. Pamflet sekolah agak ambigu, jadi detailnya kurang jelas. 

“Saat ini, kau tidak bisa begitu saja masuk kuliah atau mendapat pekerjaan dengan mudah. Pekerjaan, terutama.” kataku. 

“Kupikir juga begitu. Tapi tidakkah menurutmu kalau terlalu percaya pada sistem itu bisa berbahaya? Ada sesuatu tentang 99,9% persen itu yang tidak mereka beritahu kepada kita. Sesuatu yang berbahaya.” kata Ichinose. 

Ichinose mengacu pada tingkat "99,9% perguruan tinggi dan penempatan kerja" yang digembar-gemborkan sekolah. Dia benar tentang adanya perangkap tersembunyi. Katakanlah aku ingin menjadi pemain bisbol profesional, tetapi tidak memiliki pengalaman bermain bisbol. Bagaimana cara sekolah membuatku menjadi profesional? Bahkan dengan koneksi profesional mereka, itu masih terbatas. Dan bahkan jika kau berlatih dengan serius di sekolah, itu tidak menjamin kalau kau akan menjadi profesional. Bahkan walaupun kau lulus dari perguruan tinggi atau melanjutkan ke sekolah pascasarjana, itu tidak menjaminmu meraih masa depan. Sungguh, hanya sebagian kecil orang yang benar-benar berhasil mencapai apa yang mereka rencanakan. 

Secara statistik, hanya satu dari enam siswa yang dapat meraih mimpi mereka. Pada awalnya, kau mungkin mengira itu persentase yang tinggi, tetapi datanya ambigu dan statistiknya kabur. Menjadi pemain bisbol profesional tidak sama dengan menjadi pemain peringkat teratas. Jika kau mengumpulkan setiap orang yang memenuhi syarat sebagai pemain bisbol profesional, termasuk peserta pelatihan, kau akan memiliki sekitar 900 hingga 1.000 orang. Namun, jika mimpinya adalah bermain sebagai pemain utama di tim dan mengalahkan lawan pada upaya pertama, kemungkinan maksimal cuma 100 orang yang bisa melakukannya. Akhirnya, bahkan jika kau mendapatkan tempat sebagai pemain utama, kau harus terus bermain melawan rival-rivalmu, berjuang sebagai pemain kunci untuk tim. 

Dengan kata lain, apa pun yang kau pilih, kecil kemungkinan kau akan meraih mimpimu. Dan itu adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Banyak siswa hanya melanjutkan kehidupan yang membosankan dan menjemukan, dengan hanya bermodal mimpi yang cuma di mulut saja seiring bergantinya tahun. Untuk mencapai mimpi dibutuhkan banyak usaha dan keberuntungan. 

“Tapi sekolah ini... Yah, itu memang punya pengaruh yang luar biasa, kan? Kebanyakan orang yang sukses dalam hidupnya itu karena ada seseorang yang berpengaruh dan membantu mereka. Atau kamu tidak tertarik dengan itu, Ichinose?”

“Tidak, aku tidak bilang begitu. Aku ingin lulus dari Kelas A. Aku punya mimpi yang ingin kuwujudkan.” jawabnya. 

Meskipun dia tersenyum, matanya tak tergoyahkan dan serius. 

“Tidak ada yang salah dengan sistem sekolah, tapi kalau kamu tidak bisa lulus dari Kelas A, itu adalah tanda kegagalan. Sekolah ini mengukur kemampuan siswanya, dan kalau kemampuanmu tidak dapat membawamu ke sini, tidak mungkin kau akan diberi label elit. Siswa diberi peringkat berdasarkan superioritas dan inferioritas mereka. Sekarang, di antara kita berdua, Ayanokouji-kun, hanya salah satu dari kita yang bisa meraih impian. Ah, tapi sekali lagi, kita berdua juga bisa kehilangan tujuan kita.” 

Meskipun kami mengobrol layaknya sepasang teman, hanya salah satu dari kami yang bisa menang. 

“Tapi ada pengecualian untuk aturan itu.” 

“Hmm? Maksudmu saat seseorang berhasil mengumpulkan 20 juta poin?” 

“Ya. Belum ada satu siswa pun dalam sejarah sekolah ini yang berhasil melakukan itu, tapi secara teori itu bisa dilakukan.” 

“Oh ya, tentu saja. Kukira kalau kita memperhitungkannya, masih ada kemungkinan kalau kita berdua bisa lulus dari Kelas A.” jawabnya. 

“Bagaimanapun, menghasilkan 20 juta poin itu bukanlah perkara yang mudah. Bahkan walaupun kau mendapat nilai bagus dalam ujian dan rajin menyimpan poin, itu mungkin tidak akan cukup.” kataku. 

Melalui ujian ini pun, siswa juga bisa mendapatkan banyak poin, tergantung pada seberapa keras kau berusaha, tapi kami hanya memiliki dua ujian yang seperti ini. Mulai saat ini, mungkin saja jumlah ujian semacam ini akan berkurang, dan kemungkinan penaltinya bisa meningkat. 

“Itu benar. Bahkan walaupun kau menghemat poinmu dengan baik, masih sulit untuk mencapai setengah dari jumlah itu.” renung Ichinose. 

“Ya. Situasi keuangan Kelas D sangat memprihatinkan. Meskipun Horikita berusaha sekuat tenaga, poin dari ujian pulau masih belum disetorkan. Sebenarnya, kami bisa saja kehilangan poin itu dalam ujian ini.” kataku. 

“Apa kau orang yang hemat, Ichinose? Kau tidak menganggapku sebagai seseorang yang berjuang untuk bertahan.”

“Hmm, entahlah. Secara pribadi, terkadang aku menggunakan poin dan terkadang aku juga menyimpannya, seperti yang orang lain lakukan. Meskipun aku di Kelas B, aku tidak terlalu punya banyak poin.” 

Ichinose menanggapi pertanyaanku dengan mudah. Aku tidak melihat indikasi kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku, tapi...

“Ayanokouji-kun.”

“Hmm?”

Ichinose tiba-tiba menoleh ke arahku. Dia menatap tepat di wajahku. 

“Sepertinya kamu melihatnya, beberapa waktu yang lalu.” katanya. 

Aku tidak bisa berpaling dari matanya yang indah. Hampir seolah-olah matanya menarikku. Ichinose bahkan lebih pintar dari yang kubayangkan. Sepertinya dia telah menyadari rencanaku. 

“Maaf. Saat kau menggunakan ponselmu waktu itu, aku kebetulan melihat layarnya. Aku sedikit penasaran, jadi aku sempat berpikir untuk menanyakan itu.”

“Ha ha, kamu tidak perlu merasa bersalah kok. Bukan berarti aku akan menyalahkanmu. Maksudku, itu memang poin yang banyak, kan?” 

Ya, memang. Sebelum semester pertama berakhir, Ichinose sudah mengumpulkan jumlah poin yang gila. Bahkan jika aku menyimpan semua poin kelas yang disetorkan pada tanggal satu setiap bulan dan tidak menghabiskan satu poin pun, aku masih tidak akan bisa menyimpan sebanyak itu. 

“Tapi aku tidak bisa memberitahumu detailnya. Maaf.” tambahnya. 

“Tidak perlu minta maaf.”

“Tentu saja, meskipun kamu berhasil mendapat informasi itu, Ayanokouji-kun, dan bahkan walaupun kamu memberitahu Horikita-san, kamu tidak akan membeberkannya ke semua orang, kan? Maksudku, meskipun kamu melihat ponselku, kalau orang lain tidak menanyakannya, kamu tidak akan bilang-bilang, kan?” 

“Aku tidak berencana memberitahu orang lain. Selain itu, aku mungkin salah lihat. Aku tidak akan membongkarnya.” 

Bahkan meskipun aku membongkarnya, sepertinya aku tidak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan. 

“Apa kau sudah menemukan cara untuk memenangkan hal ini?” aku bertanya. 

“Hm, kurasa begitu. Setidaknya, kupikir aku sudah menemukan petunjuk.” 

Aku tidak mengira dia akan menjawab itu dengan jujur, tetapi Ichinose terdengar santai dan percaya diri. Dia sepertinya tipe orang yang bertindak berdasarkan inisiatifnya sendiri dan tidak membuang-buang waktu.

“Kalau begitu, kurasa kontes ini akan menjadi pertarungan antara Kelas A dan Kelas B.” 

“Kita tidak akan tahu itu sampai akhir. Jalanku menuju kemenangan masih—” 

Tepat sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, anggota kelompok kami bergerombol masuk ke dalam ruangan, satu demi satu. Siswa Kelas A adalah yang pertama tiba, mereka mengambil tempat duduk mereka tanpa memberi kami salam. 

“Oh, apa ini? Kau sudah di sini toh, Ayanokouji?” 

“Sendirian dengan Ichinose-dono? Ya ampun, sangat mencurigakan. Sebuah pertemuan rahasia, ya?” 

Yukimura dan Profesor membombardirku dengan pertanyaan saat mereka berjalan masuk ke ruangan bersama-sama. Aku tidak tahu apakah mereka tidak sabar atau tertekan, tetapi sepertinya mereka menyerah untuk menang. Di sisi lain, siswa Kelas B tampak agak santai. 

“Ini akhirnya, ya? Jadi, apa kau sudah menemukan petunjuk?” tanya Hamaguchi. 

Dia berbicara dengan pelan kepadaku saat kami menunggu dimulainya diskusi terakhir. 

“Sejujurnya, aku tidak tahu. Sebagian besar orang belum bisa terus terang, yang berarti kita belum bisa menyerang.” kataku. 

Itu adalah jawaban resmiku, tetapi aku sudah menjalankan strategi yang telah kurencanakan sejak ujian ini dimulai. Rencanaku melibatkan ponsel yang kami semua terima dari sekolah. Aku telah menukar ponsel VIP sebagai kamuflase. Kushida adalah VIP kelompok Naga, tapi bagaimana jika Kushida dan Horikita bertukar ponsel? Jika seseorang memata-matai ponselnya, mereka akan curiga bahwa Horikita adalah VIP. 

Kemudian, jika seorang pengkhianat mengajukan nama Horikita sebagai jawabannya, dia akan membuat kesalahan. Kami akan menang. 

“Selamat malam. Senang bertemu kalian semua.” kata Ichinose dengan hangat. 

Dia tersenyum, seperti biasanya. Aku segera memasang perangkap. Kami tidak tahu siapa lagi yang punya agenda tersembunyi. Aku sudah menunggu Ichinose untuk berbicara, dan memutuskan untuk memotong sebelum dia berbicara lagi.

“Emm, maaf. Kalau semua orang setuju dengan—” 

“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan—” 

Hamaguchi dan aku mulai berbicara pada saat yang bersamaan. 

“Oh maaf. Silakan, Ayanokouji-kun.” 

“Oh tidak. Kau bisa duluan. Aku tidak keberatan.” kataku. 

Menyebalkan sekali. Yah, ini tidak menghalangi rencanaku sih, tapi apapun masalah tak terduga bisa membuat segalanya tidak stabil. Aku memutuskan untuk membiarkan Hamaguchi berbicara dulu. Aku sudah berniat menyela Ichinose setelah memikirkan semuanya. Kemudian, Hamaguchi menghancurkan rencanaku dengan cara yang tidak terduga. 

“Selama tiga hari terakhir, aku sudah memikirkan tentang cara supaya kita bisa mencapai Hasil #1.” katanya. 

Hamaguchi meluncurkan penjelasan tentang rencananya yang, mengejutkan, itu agak seperti rencanaku. 

“Ada cara bagi semua orang di sini untuk mencapai Hasil #1.” dia melanjutkan. 

Secercah harapan samar bersinar di mata semua orang. 

“Apa itu benar, Hamaguchi?” 

“Ya. Aku mendapat ide ini setelah mendengar semua orang di sini, termasuk Ichinose-san dan Machida-kun.” 

“Aku tidak percaya. Tidak mungkin kita bisa mencapai Hasil #1 tanpa diskusi.” Machida mendengus. 

“Mari kita dengarkan dia dulu. Hamaguchi-kun bukanlah tipe orang yang bicara tanpa berpikir dulu.” Ichinose menawarkan.

“Aku akan menunjukkan ponselku kepada kalian semua. Kita semua sudah tahu, sekolah mengirimi kita semua email. Kurasa kalian semua mengerti maksudku, kan? Karena kita dilarang mengutak-atik ataupun merubah isi email yang kita terima dengan cara apa pun, tidak ada cara untuk menipu satu sama lain. Itu sebabnya jawabannya sederhana. Kita saling menunjukkan email kita, dan kemudian kita cari tahu siapa VIP-nya. Begitulah cara kita menemukan kebenaran.” 

“Ini bodoh. Memangnya siapa yang mau menunjukkan ponselnya hanya karena kau menyuruh kami? Seseorang bisa saja mengkhianati kita saat kita sibuk menunjukkan email kita. Tidak ada seorang pun yang mau melakukan ini.” jawab Machida datar.

Itu adalah rencana tanpa harapan. Tentu saja, Machida-kun terperangah. 

“Memang benar jika VIP tahu dia bakal ketahuan, dia tidak akan menunjukkan ponselnya. Namun, dari sudut pandang seseorang yang bukan VIP, tidak ada risiko dengan mengungkap identitas. Ujian akan cepat berakhir. Kalau kita tidak bergerak, kita akan kehilangan kesempatan untuk menang. Coba pikirkan, mungkin saja ada kelas yang bekerja sama untuk melindungi VIP itu. Memang benar bahwa tidak satupun dari mereka yang akan menunjukkan ponsel mereka. Tapi dengan cara ini, kita bisa mempersempit daftar tersangka.” 

“Bahkan meskipun kau tahu identitas VIP itu atau dari kelas mana dia berasal, saat seseorang memutuskan untuk mengkhianatimu, itu semua akan berakhir. Masalahnya belum terselesaikan. Atau mungkin kau menyarankan agar orang pertama yang mengkhianati kita akan menang?” balas Machida. 

Melalui strategi Hamaguchi, kami mungkin dapat menarik keluar VIP itu. Tapi itu percuma saja. Pada akhirnya, orang-orang tidak akan bermain jujur. 

“Kalau begitu, tolong diam dan lihat saja. Kalau kau tidak berpartisipasi, Machida-kun, itu tetap tidak masalah.” jawab Hamaguchi. 

Hamaguchi menunjukkan email yang dia terima kepada semua orang. 

“Aku setuju dengan Hamaguchi-kun. Aku juga akan menunjukkan emailku.” 

Setelah Hamaguchi menunjukkan ponselnya, Beppu dari Kelas B mengikutinya. Sepertinya ini bukan ide mendadak. Ini tampak seperti strategi yang telah dibuat oleh Ichinose. Anehnya, rencananya sama persis dengan rencanaku. Namun, aku tidak tahu seberapa jauh Ichinose memikirkan ini, ataupun pergerakannya. Jika dia percaya bahwa semua orang akan menyetujui ini, maka itu cukup sembrono. 

“Kupikir ini strategi yang sangat bagus. Aku tidak keberatan.” kata Ichinose. 

Sambil tersenyum, Ichinose meraih ponselnya di saku kiri roknya. 

“Sampai sekarang aku hanya diam saja tentang hal ini, tapi setelah mendengar rencana Hamaguchi-kun, aku mengerti.” 

Ichinose mengeluarkan ponselnya. Aku memutuskan untuk masuk dan menyela sebelum dia bisa menjalankan strateginya. 

“Kau serius tentang ini, ya? Yah, kalau kalian semua bertaruh untuk itu, kupikir aku juga akan bergabung.” kataku.

Sebelum Ichinose menunjukkan kepada semua orang isi emailnya, aku mengeluarkan ponselku sendiri dan menawarkannya. Tapi itu sebenarnya bukan ponselku; aku sudah menukarnya dengan ponsel orang lain. 

“Ayanokouji-kun... apa kamu tidak keberatan dengan ini?” tanya Ichinose. 

“Tentu saja. Setelah mendengar Hamaguchi, sejujurnya kupikir kita sudah tidak punya pilihan lain. Aku sangat buruk dalam berkomunikasi, jadi yang bisa kulakukan hanyalah menunjukkan kepada kalian yang sebenarnya.” jawabku. 

“Tunggu, Ayanokouji. Tidak mungkin strategi semacam ini akan bekerja.” kata Yukimura. 

Dia mencoba menghentikanku, tetapi aku menunjukkan kepada semua orang email di ponselku. Semua orang melihat bahwa aku bukan VIP. Jumlah air yang luar biasa telah terkumpul di belakang bendungan yang tak terlihat ini. Meskipun hanya lubang terkecil yang terbuka, bendungan itu akan runtuh, dan kami akan tersapu oleh aliran air berlumpur. Tindakanku telah membuka lubang itu.

“Ya. Oke. Jadi kamu bukan VIP, Ayanokouji-kun.” 

“Baiklah. Aku juga akan menunjukkan ponselku.” 

Di antara sejumlah besar orang yang masih mencemooh strategi Hamaguchi, seorang gadis penyendiri setuju. Itu adalah orang yang paling tidak kuduga: Ibuki Mio. 

“Apa kau gila? Kita tidak akan dapat apa-apa dari ini!” teriak Manabe. 

Namun, tanggapan Ibuki cukup beralasan. 

“Siapa pun yang bukan VIP atau yang tidak berada di kelas yang sama dengan VIP tidak akan dapat apa-apa kalau semuanya tetap seperti ini. Kelas B mengerti itu. Kalau kita cuma duduk-duduk saja, kita tidak akan bisa mengejar kelas atas. Itu sebabnya mereka menunjukkan ponsel mereka kepada semua orang. Aku setuju dengan ide mereka.” jawabnya. 

“Itu—” 

“Atau mungkin kau itu VIP-nya.” kata Ibuki. 

Ibuki tidak berbicara dengan Manabe seolah-olah dia adalah rekan. Dia berbicara seperti sedang menghadapi musuh. 

“Ti-Tidak. Aku...”

“Kalau begitu, tunjukkan ponsel kalian pada semua orang.” 

Kata-kata Ibuki mengancam teman-teman sekelasnya. Manabe dan teman-temannya, seolah-olah menerima perintah Ibuki, menunjukkan ponsel mereka kepada semua orang. Perburuan VIP telah dimulai. Karuizawa mengeluarkan ponselnya, yang dipasangi gantungan hp, dan menyerahkannya. 

“Tunggu. Bukan hanya Ayanokouji? Kau juga, Karuizawa? Kau setuju dengan ini?” Yukimura bingung. 

“Aku melakukan ini demi diriku sendiri. Aku ingin poin pribadi itu.” kata Karuizawa. 

Emailnya mengatakan bahwa dia bukan VIP. Karuizawa sudah jelas. 

“Um, jadi apa yang harus kulakukan?” gumam Profesor. 

“Pikirkan sendiri, Sotomura. Ini sukarela.” 

“Uh... yah, aku tidak ingin terlibat dalam hal ini, jadi ya sudahlah.”

Profesor, melihat gelombangnya telah berubah, meraih ponselnya. Yukimura meraih lengannya dan menghentikannya. 

“Apa kalian benar-benar berpikir bahwa menunjukkan ponsel kalian kepada semua orang adalah langkah yang tepat?” tanya Yukimura.

“Kau ini gelisah sekali. Jangan-jangan kau ini VIP-nya, ya?” tanya Ibuki. 

Ekspresi Yukimura menegang. 

“Whoa, yang benar saja.” 

“Yukimura bukan VIP. Aku yakin itu.” kataku. 

Namun, beberapa siswa tertawa terbahak-bahak. 

“Kau pikir kami akan percaya itu? Kau bisa saja berbohong.” 

Manabe melemparkan tatapan keraguan ke arah Yukimura. 

Jika aku terus menyangkalnya, itu hanya akan mengundang lebih banyak kecurigaan. Tapi aku belum bisa bergerak. Itu karena Yukimura...

“Terlalu dini untuk menarik kesimpulan. Yukimura-kun ada benarnya.” kata Ichinose. 

Sekali lagi, Ichinose merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. 

“Aku tadi melewatkan kesempatanku, tapi sekarang aku akan menunjukkannya pada kalian.” kata Ichinose. 

Ichinose membuktikan bahwa dia bukan VIP. 

“Tunggu, Ichinose. Tadi, kau bilang kau diam tentang sesuatu sampai sekarang?” Machida jelas tidak lupa. 

“Ah, itu? Tadi aku memikirkan hal yang sama seperti yang Hamaguchi-kun katakan, dan ingin membicarakannya. Itu dia.”

“Hal yang sama?”

“Sebagai perwakilan Kelas B, aku sedikit cemburu karena Hamaguchi-kun mendahuluiku.” 

Sekarang, semua orang kecuali siswa Kelas A dan Yukimura telah membuktikan bahwa mereka bukanlah VIP. 

“.........” 

Semua orang mengerti arti di balik keheningan panjang Yukimura. Machida dan siswa Kelas A lainnya menatapnya dengan rasa ingin tahu. 

“Baiklah. Aku akan menunjukkannya kepada kalian. Yang harus kulakukan hanyalah menunjukkannya, bukan?” gumam Yukimura. 

Yukimura, yang tidak lagi mampu menghadapi tekanan, mengeluarkan ponselnya. 

“Sebelum itu, aku ingin kalian berjanji satu hal kepadaku.” kata Yukimura.

“Janji? Apa maksudmu, Yukimura-kun?” 

“Aku tidak ingin siapa pun di sini menjadi pengkhianat. Terutama kalian, Kelas A. Aku ingin kalian mengeluarkan ponsel kalian dan meletakkannya di depan kalian. Itu berlaku untuk semua orang. Semuanya, letakkan ponsel kalian di tempat yang bisa kulihat.” tuntut Yukimura. 

Dia mengarahkan pernyataannya pada Machida, yang menanggapi dengan dengusan. 

“Apa yang kau bicarakan?” tanya Machida. 

“Persis seperti yang kukatakan. Tidak lebih, tidak kurang.” 

“Yah, baiklah. Terserah. Kalau kau ingin melihat ponselku, nih.” 

Para siswa Kelas A, yang duduk agak jauh, dengan tenang mendekat dan meletakkan ponsel mereka di atas meja. Setelah mereka melakukan itu, Yukimura bergerak, tertunduk. Dia mengeluarkan ponselnya dan menyalakannya. Dia memasukkan kata sandi enam digit, dan log in. Yukimura membuka email sekolah dan mengangkatnya sehingga kami semua bisa melihatnya. 

“Aku minta maaf karena berbohong padamu, Ayanokouji.” gumamnya. 

Kelas D adalah yang paling terkejut dengan terungkapnya rahasia itu. 

“Aku adalah VIP-nya.”

Email yang berbeda dari email orang lain ditampilkan di layar. 

“Ap— Yu-Yukimura-dono, kamu VIP?!” Profesor tergagap. 

Dia tampak tercengang, seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Ini pada dasarnya berarti kami telah menyerahkan 500.000 poin yang telah Kelas D peroleh. Namun, aku bertukar ponsel dengan Yukimura secara rahasia. 

“Kalau aku tahu semuanya akan jadi seperti ini, aku seharusnya mengatakannya sejak awal...”

Karuizawa terlihat sangat terkejut dan gelisah. Dari reaksi Karuizawa dan Profesor, kau akan mengira kalau mereka berdua tidak pernah membayangkan bahwa Yukimura adalah VIP-nya. Machida berdiri dan mengintip ke ponsel Yukimura. 

“Email ini sepertinya asli. Semua email pribadi lainnya adalah milik Yukimura, tidak ada yang salah.” 

Machida, setelah memeriksa email pribadi dan riwayat chat Yukimura, mengkonfirmasi kebenarannya. Namun dia masih tampak ragu, Ichinose pun mencoba menjelaskan situasinya dengan tenang.

“Tidak mungkin itu palsu. Bagaimanapun, sekolah sudah menjelaskan aturannya, kan? Dilarang menyalin dan mentransfer email. Selama email dikirim dari alamat email sekolah, berarti kemungkinan kalau itu palsu adalah 0%.”

Ichinose benar. Membuat informasi palsu sangat dilarang. Jika kau melanggar aturan itu, kau akan dikeluarkan. Oleh karena itu, sudah jelas kebenarannya. 

“Jadi itu artinya VIP-nya Yukimura-kun.” 

Manabe mengangguk. Yang penting di sini adalah proses yang telah menyebabkan terungkapnya Yukimura. Apakah orang yang memegang ponsel itu adalah pemilik sebenarnya dari ponsel itu tidaklah relevan. Dengan kata lain, menilai apakah ponsel itu milik Yukimura adalah hal yang sangat sulit. Gagasan bahwa seseorang telah menukar ponsel juga menjadi salah satu kemungkinan. 

Namun, dengan menunjukkan kepada semua orang proses memasukkan enam digit kata sandi dan membuka kunci ponsel adalah cerita yang sama sekali berbeda. Tidak mungkin seorang siswa dapat mengetahui kata sandi ponsel orang lain. Setiap orang tanpa sadar mengakui bahwa Yukimura pastilah pemilik ponsel tersebut. Ini bukan hasil dari pengambilan kesimpulan, melainkan dari praduga. 

“Maaf, Yukimura. Ini terjadi karena aku setuju dengan ide ini pada menit-menit terakhir.” gumamku. 

“Tidak apa-apa. Ini mungkin yang terbaik. Kupikir aku bisa terus berbohong demi keuntunganku sendiri, tapi aku salah. Aku yakin kalau kau, Sotomura, dan Karuizawa akan setuju bahwa ini langkah yang terbaik.” kata Yukimura. 

Semua orang sekarang menganggapnya sebagai tipe orang yang ingin mengamankan poin hanya untuk dirinya sendiri. 

“Nah, sekarang semua orang tahu jawabannya. Akulah VIP-nya.” kata Yukimura. 

Jika kami semua menyelesaikan ujian ini bersama, semua orang di kelompok kami akan menerima 500.000 poin. Hasil #1, yang pada awalnya tampak mustahil untuk dicapai, sekarang tampaknya berada dalam genggaman kami. Ichinose mengangguk, dan memohon dengan sangat kepada Kelas A. 

“Kumohon. Bekerja samalah dengan kami. Jangan biarkan keberanian Yukimura-kun sia-sia. Aku tidak ingin kalian mengkhianati kami.”

“Kami bertindak atas instruksi Katsuragi-san dari awal. Kami tidak akan melakukan apapun sendirian.” jawab Machida. 

Dia mengatakan itu, tetapi diskusi kelompok ini akan bubar tepat sebelum ujian berakhir. Selama jeda waktu 30 menit itu, kami harus percaya tidak hanya pada teman sekelas sendiri, tetapi pada siswa dari kelas lain. 

“Aku ingin percaya ... Tidak, aku percaya pada semua orang.” Yukimura memohon dengan sangat. 

Dia memohon kepada semua orang, dari setiap kelas. Aku bertanya-tanya apakah para siswa yang telah menghabiskan begitu banyak waktu bersama selama beberapa hari terakhir ini mulai membentuk ikatan pertemanan. Aku bertanya-tanya apakah mereka akan menerima keinginan Yukimura, dan mau bekerja sama. 

Tidak, mereka tidak akan melakukannya. Aku yakin akan hal itu. 

Seseorang akan berubah menjadi pengkhianat. Tidak diragukan lagi. 

Dan jika itu terjadi, maka mereka yang telah menukar ponsel—Kelas D—akan merebut kemenangan. 

Yukimura pasti juga percaya itu. Aku membayangkan bahwa dia saat ini sedang mati-matian menahan tawanya. Namun, kegembiraannya menghilang ketika ponsel itu mulai bergetar karena panggilan masuk. Panik, Yukimura menerjang ke depan untuk mengambil ponsel itu, tetapi menjatuhkannya. Karena kebetulan belaka, ponsel itu jatuh menghadap ke atas. 

Karena ponsel itu dalam mode senyap, meja itu bergetar karena getaran ponsel itu. ID penelepon menampilkan "Ichinose." Ichinose, memegang ponselnya di telinganya, menatap Yukimura dan aku. 

“Apa yang kau lakukan, Ichinose? Tidak ada gunanya menelepon ponsel Yukimura di saat seperti ini.” kata Machida, tampak curiga. 

Hanya Yukimura dan aku yang mengerti apa yang sedang terjadi. Ichinose diam-diam menutup teleponnya. 

“Sekolah mengatakan bahwa dilarang mengubah ataupun menyalin email, itu benar. Itu sebabnya email yang kita lihat adalah yang asli. Tapi, tidak ada aturan yang mengatakan kalau kamu tidak dapat menipu orang dengan ponsel itu sendiri. Apa kalian mengerti maksudku?”

Ichinose mengambil ponsel itu dan menyerahkannya padaku.

“Pemilik ponsel ini, VIP yang sebenarnya ... itu kamu, bukan? Ayanokouji-kun? Yang kutelpon barusan itu kamu, bukan Yukimura-kun.” 

Aku telah bertukar nomor telepon dengan Ichinose beberapa waktu lalu. Dan bahkan walaupun Ichinose tidak mengetahuinya, dia akan melakukan penyelidikannya hanya untuk jaga-jaga. 

“Ta-Tapi bukankah itu aneh? Yukimura membuka kunci ponsel itu tepat di depan kita. Aku bahkan memeriksa riwayat email pribadinya untuk memastikan.” kata Machida. 

“Itu semua palsu. Dia bisa dengan mudah mendapat kata sandi beberapa waktu yang lalu hanya dengan bertanya pada Ayanokouji-kun. Selain itu, seseorang juga bisa mereplikasi riwayat panggilan, email, aplikasi, dan sebagainya, meskipun itu membutuhkan sedikit usaha.” kata Ichinose. 

Wajah Machida memancarkan warna kemarahan yang berbeda. Dia menyambar ponsel itu dari tanganku. 

“Tidak mudah bagi seseorang untuk berbohong seperti itu, terutama ketika tujuannya sudah berada dalam jangkauannya. Di saat-saat terakhir itu, entah karena kelalaian atau gugup, dia akan meninggalkan semacam celah. Yukimura-kun berbohong, gerak-gerik tubuh dan perilakunya tampak berbeda dari biasanya.” 

Ichinose benar-benar telah menyadari upaya dan dalihku. Yukimura menjadi pucat saat Ichinose berbicara.

“Kami juga sudah memikirkan strategi ini untuk sementara waktu sekarang. Kalau VIP itu ada di kelasmu, salah satu opsi adalah dengan menukar ponsel. Kamu bisa menyesatkan orang lain dengan menunjukkan kata sandi untuk membuka kunci ponsel itu.” 

Rupanya, Ichinose dan yang lainnya telah menemukan strategi yang sama seperti strategi yang kumiliki. 

“Tapi, ada titik lemah dari strategi itu: nomor telepon. Bahkan meskipun kamu menduplikasi semuanya dengan sempurna, mulai dari riwayat panggilan hingga aplikasi, kamu tidak dapat mengubah nomor telepon. Hamaguchi-kun dan aku sudah mencoba bertukar kartu SIM sekali untuk melihat apa yang akan terjadi, tetapi kartu SIM itu terkunci ke terminal ponsel. Kalau kamu menukarnya, aku tidak akan bisa meneleponmu. Tidak penting siapa yang bertukar dengan siapa: Begitu aku mendengar ponsel berdering, aku bisa menemukan pemiliknya. Kalau aku tidak bisa melakukan itu, aku tidak akan mengusulkan ide ini dari awal.” kata Ichinose. 

Ichinose dan Hamaguchi sudah dua langkah di depan. Mereka mungkin telah mengatur segalanya, menyetujui bahwa Hamaguchi harus menjadi orang yang memulai pembicaraan. Dalam satu detik, kebenaran pun terungkap.

“Kalian melakukan segalanya dengan hampir sempurna. Tapi kalian berdua tidak mengantisipasi kalau kartu SIM kita dikunci untuk perangkat tertentu, bukan?” Ichinose bangga. 

Pengumuman datang melalui speaker, memberitahu kami bahwa kami memiliki 5 menit tersisa sebelum waktu diskusi berakhir. Kami disuruh menghentikan diskusi kami di waktu 5 menit yang tersisa dan disuruh kembali ke kamar kami. 

“Sial!” teriak Yukimura. 

“Sayang sekali, Yukimura. Itu tadi upaya yang sangat bagus.” kata Machida. 

Machida dan yang lainnya tertawa, melanjutkan ejekan itu. 

Mereka melirik ke arahku, yang juga terlibat dalam rencana ini. Yukimura masih terlihat kesal dan gemetar, begitu juga dengan siswa Kelas C lainnya. Kelas C dan Kelas A tampak terkejut. Aku yakin mereka memiliki banyak pertanyaan, tetapi aturannya melarang kami berbicara lebih jauh. 

“Ngomong-ngomong, kita sudah mengkonfirmasi bahwa Ayanokouji-kun adalah VIP-nya. Machida-kun, berjanjilah padaku bahwa kita akan mengincar Hasil #1, dan tidak ada yang akan mengkhianati orang lain.” desak Ichinose. 

“Ya, tentu saja. Kau dapat mempercayaiku. Ayo pergi.” kata Machida. 

Tiga siswa Kelas A segera meninggalkan ruangan, sebelum orang lain. 

“Ada banyak hal yang bisa didapat dengan bekerja sama. Itu sebabnya kami tidak akan pernah menjadi pengkhianat. Itulah kenapa aku ingin kalian di Kelas C melakukan hal yang sama. Kumohon, tahan selama 30 menit.” pinta Ichinose. 

Manabe dan yang lainnya mengangguk dan meninggalkan ruangan. Yukimura melihat ponsel yang kupegang. 

“Aku seharusnya tidak mengikuti rencanamu. Ini menyebalkan.” gerutu Yukimura. 

Satu per satu, semua orang meninggalkan ruangan, meninggalkanku sendirian dengan Ichinose. 

“Sekarang yang bisa kita lakukan adalah mempercayai semua orang.” kata Ichinose. 

“Ya. Kurasa begitu.” jawabku. 

“Kamu benar-benar tenang, Ayanokouji-kun. Apa kamu tidak khawatir?”

“Tidak juga. Aku tidak bisa melakukan apa-apa selain percaya pada mereka. Aku akan kembali ke kamarku.” 

Tidak ada untungnya tinggal di sini. 

“Hei, tunggu sebentar.” 

Ichinose meletakkan tangannya di bahuku. Pada saat itu, aku merasakan ketegangan di antara kami. 

“Siapa yang memikirkan strategi bertukar ponsel?” dia bertanya. 

“Tentu saja, Horikita.”

“Begitu, ya. Tolong beritahu Horikita-san. Katakan padanya kalau rencananya sukses.” 

“Sukses? Bukankah yang kau maksud itu kekalahan telak? Kami sudah gagal. Kau menyadari semuanya.” 

“Ha ha ha. Kamu tidak menyangka kalau kami juga memikirkan rencana yang sama, ya?”

“Maafkan aku. Maaf karena mencoba menipumu seperti itu, terutama setelah aku setuju untuk menjadi rekanmu. Apa kau marah?”

“Tentu saja tidak. Kami melanjutkan rencana kami sendiri tanpa memberitahumu, jadi kita seimbang.” 

“Begitu, ya. Kalau kau bersungguh-sungguh, aku yakin Horikita akan lega.” 

Aku meraih ponselku dan menuju pintu keluar. 

“Tu-Tunggu, tunggu sebentar. Kita masih belum sampai ke bagian pentingnya.” katanya. 

“Bagian penting?”

“Ayolah. Kamu itu sangat buruk dalam berurusan dengan orang-orang, Ayanokouji-kun. Memang benar kalau kartu SIM terkunci di masing-masing perangkat. Tapi ada cara untuk melepaskan kunci itu. Benar, kan? Aku menanyakannya ke Hoshinomiya-sensei untuk mengkonfirmasi. Hoshinomiya-sensei bilang bahwa dengan poin yang cukup, kamu bisa membuka kunci perangkat.” kata Ichinose. 

Pada saat itu, aku merasakan arus listrik mengalir di tulang belakangku. 

“Setelah kepalsuan terungkap, kebanyakan orang akan mengakui kebenaran tersebut. Tapi Yukimura-kun masih bertekad kalau dia bukanlah VIP, bahkan setelah dia menunjukkan kepada semua orang bagaimana dia membuka kunci ponselmu menggunakan kata sandi. Saat kebohongan itu terungkap, kebenaran kalau kamu adalah VIP-nya muncul ke permukaan. Kartu SIM adalah faktor penentu. Tidak ada yang akan mencurigai orang lain sebagai VIP sekarang. Tapi itu jebakan. Aku bilang kalau bertukar ponsel itu strategi yang tidak sempurna, tapi itu bohong. Itu karena bertukar ponsel sangat efektif. Tentu saja, itu harus memiliki dua perangkap berlapis supaya bekerja. Dalam hal ini, kebenaran akan tetap berada di kegelapan. Tidak akan ada cara bagi siapa pun untuk menentukan, dengan akurasi 100%, identitas VIP yang sebenarnya.”

Ichinose mengerti rencanaku. Dia telah menyadari bahwa ada rencana di balik rencana. Dia menyadari kebenaran yang kusembunyikan bahkan dari Yukimura. Pertama, Ichinose tahu kalau aku bukanlah VIP, tapi aku mendekati Yukimura dengan berpura-pura menjadi target. Sebagai buktinya, aku menggunakan ponsel VIP yang sebenarnya untuk menghubungi Yukimura. Tapi target sebenarnya—VIP yang sebenarnya dan pemilik ponsel itu—adalah Karuizawa. Karuizawa menyembunyikan fakta itu dengan sangat baik. Satu-satunya orang yang diam-diam Karuizawa beritahu adalah Hirata. Pada awalnya Hirata merahasiakannya dariku dan Yukimura. Itu sebabnya dia pura-pura tidak tahu siapa VIP itu ketika kami membicarakannya. Namun, setelah aku mengetahui tentang masa lalu Hirata dan masa lalu Karuizawa, Hirata memberitahuku kebenarannya. Kemudian, setelah aku menggunakan Manabe untuk menggertak Karuizawa, aku mengambil kesempatan itu untuk menukar ponsel kami. 

Tentu saja, aku mereplikasi email dan riwayat panggilan, seperti yang kulakukan dengan Yukimura. Tentunya, aku kemudian menggunakan poinku untuk melakukan pelepasan kunci SIM. Melakukan itu tidaklah ilegal dan dapat dilakukan secara gratis di pengecer besar mana pun. Meskipun saat ini kami berada di kapal di tengah laut, tetapi aku yakin sekolah sudah mempersiapkan segalanya untuk mengganti ataupun memperbaiki ponsel kami jika terjadi kerusakan. Itu sebabnya, saat menggunakan ponsel Karuizawa, aku juga bisa mentransfer atas nomorku. 

Lalu, aku menukar ponsel itu dengan ponsel Yukimura. Tentu saja, aku memberitahunya bahwa itu ponselku, dan dia percaya padaku. Jika penipuanku terungkap, Yukimura akan sangat marah. 

Orang yang berpikir sederhana tidak akan pernah menyadari bahwa Yukimura dan aku bertukar ponsel. Orang yang pintar akan menyadari pertukaran itu dan menuduhku sebagai VIP. Tapi mereka tidak akan pernah sampai pada kesimpulan bahwa Karuizawa adalah VIP sebenarnya. 

“Kalau VIP itu bukan dari Kelas D, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Ichinose.

“Sama seperti yang kau lakukan. Aku akan mencoba mencari tahu siapa VIP itu, meminjam ponsel orang itu, dan menyiapkan hal-hal lainnya. Lalu, aku akan mengaku sebagai VIP itu sendiri.” 

Jika VIP yang sebenarnya melangkah maju untuk menunjukkan kebohongan, semuanya akan berantakan. Dengan mempercayai bahwa Ichinose adalah VIP-nya berarti ujian ini akan berakhir dengan pengkhianat membuat kesalahan. Dalam situasi itu, Kelas B tidak akan mendapat poin, dan selisih poin antar kelas entah itu akan berkurang atau bertambah. 

“Jadi aku ketahuan, ya?”

Ichinose mengeluarkan dua buah ponsel dari kedua sakunya. Yang satu adalah milik VIP dari siswa Kelas B di kelompok lainnya, dan yang satunya adalah ponsel dari seorang siswa yang berbeda yang, kemungkinan besar, bukan VIP. 

“Ini hanya prediksiku, tapi berdasarkan jalannya diskusi hari ini...”

Ichinose dengan cepat mengetik pesan singkat di ponselnya sendiri. 

“VIP yang sebenarnya adalah Karuizawa Kei-san. Apa aku benar?”

Dia menunjukkan ponselnya. Itu adalah pesan pengkhianatan yang akan dia kirim ke sekolah. Namun, sebelum itu terjadi, ponselku dan ponsel Ichinose berdering pada saat yang bersamaan. 

[Ujian kelompok Kelinci telah berakhir. Mohon tunggu pengumuman hasilnya.]

“Ahh, sepertinya seseorang berubah menjadi pengkhianat, ya? Aku ingin tahu, apa orang itu dari Kelas A atau Kelas C?” 

“Kenapa menurutmu kalau VIP-nya itu Karuizawa?” aku bertanya. 

“Alasannya sama dengan Yukimura-kun. Perilaku Karuizawa-san tidak biasa. Dia biasanya tidak terlalu peduli padamu, Ayanokouji-kun, tapi dia terus menatapmu, dan wajahnya menegang. Tapi masih ada kemungkinan kalau dia bukan VIP-nya, jadi aku tidak bisa mengirim email itu.” 

Rupanya, Ichinose telah sepenuhnya menyadari rencanaku. 

“Kenapa kau tidak bilang apa-apa? Paling tidak, kau bisa mengungkap kebohonganku.” kataku.

Ichinose tersenyum. Senyum yang dia perlihatkan sekarang mungkin yang paling asli yang pernah kulihat darinya. 

“Itu sudah jelas. Kalau salah satu siswa Kelas A atau Kelas C membuat kesalahan, itu akan jadi kemenangan bagi kita. Sejak awal, aku tidak pernah bermaksud untuk menghapus Hasil #1, atau untuk menjadi pengkhianat dan mendapatkan Hasil #3. Saat aku tahu kalau VIP-nya bukan dari Kelas B, aku berencana membiarkan kelas lain mengkhianati kita. Kupikir pengkhianat itu mungkin dari Kelas A.” katanya. 

“Machida?” 

“Tidak, tidak. Morishige-kun. Dia anggota faksi Sakayanagi. Aku ragu dia akan diam-diam mengikuti rencana Katsuragi-kun. Dia mungkin mengira kalau lebih baik baginya untuk mengkhianati kelompok dan mengambil poin. Tidakkah menurutmu begitu?” 

Ichinose tertawa dan memunggungiku. 

“Ayanokouji-kun, kamu itu luar biasa ya? Percakapan kita barusan membuktikan kalau kamu itu sangat licik, tahu?” 

“Kau seharusnya memuji Horikita. Dia hanya memberiku petunjuk, itu saja.” 

Sepertinya aku perlu mengevaluasi kembali Ichinose Honami. Dia berhasil menghindari risiko sambil menyusun strategi yang membawanya menuju kemenangan. 

“Yah, aku akan pergi kalau begitu. Bisa gawat kalau kita melanggar aturan, kan?”

Namun, saat Ichinose mengatakan itu, kedua ponsel kami mengeluarkan suara yang unik. Itu diputar empat kali, dengan cepat. 

“A-Apa maksudnya ini?” tanya Ichinose. 

Dia tampak benar-benar terkejut saat dia melihat layar ponselnya lalu perlahan menatapku.

~ Bersambung ~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢