CHAPTER 3
Pertanyaan Dua Laras
PART 7
Setelah aku memastikan bahwa Manabe dan teman-temannya sudah pergi, aku masuk lagi ke ruangan itu. Karuizawa seharusnya mendengar suara pintu terbuka, tapi dia tetap meringkuk dan menangis di lantai. Mungkin dia tidak memperhatikanku datang karena dia begitu diliputi rasa takut. Jadi beginilah rupa sebenarnya dari pemimpin gadis-gadis yang begitu arogan dan keras kepala?
Mungkin berkat saran yang kuberikan kepada Manabe dan teman-temannya, Seragam Karuizawa dan bagian tubuhnya yang mudah dilihat tampak tidak rusak. Jika seragamnya robek, atau jika mereka memotong rambutnya, akan sulit bagi gadis-gadis Kelas C untuk menghindari hukuman. Walaupun bullying itu biasa terjadi, peraturan unik sekolah kami dapat menekan kasus bullying.
Jika ada yang perlu dikhawatirkan, itu adalah pipinya, memerah karena ditampar berulang kali. Meski begitu, bekas itu pasti akan memudar keesokan harinya.
“Karuizawa.”
Ketika aku memanggilnya, dia akhirnya memperhatikanku. Dia mengangkat kepalanya.
“Ke-Kenapa kau...” ucapnya terbata-bata.
Aku tidak seharusnya berada di sini. Dia panik karena aku melihatnya dalam kondisi seperti itu, tapi dia tidak bisa berhenti menangis dan bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Dia akhirnya akan berhenti menangis. Dia akhirnya akan tenang. Jika aku pergi sekarang, apa yang kuinginkan tidak akan terjadi. Aku terus menunggu dengan tenang, tanpa mencoba berbicara dengannya. Setelah beberapa waktu berlalu, Karuizawa secara bertahap berhenti menangis, dan dia mulai tenang.
Jika dua orang sendirian bersama di ruangan yang gelap dan tertutup, semacam keintiman alami akan terbentuk. Bahkan jika mereka itu biasanya saling membenci, jarak psikologis di antara mereka akan berkurang.
“Apa kau sudah sedikit tenang?”
“Agak.”
Karuizawa masih tidak berdiri. Dia menyeka air matanya dengan lengan seragamnya. Aku mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri, tetapi dia tidak bergerak untuk meraih tanganku.
“Di mana Hirata-kun?” dia bertanya.
“Dia yang seharusnya bertemu denganmu di sini. Tapi tadi dia sedang dipanggil guru. Aku kebetulan bersamanya waktu dia bilang kalau dia akan menemuimu di sini, jadi aku datang ke sini menggantikannya.”
Penjelasan itu seharusnya cukup untuk memuaskannya dan tidak perlu ada pertanyaan lebih lanjut. Tidak perlu mengatakan yang sebenarnya padanya sekarang. Pertama-tama, aku perlu membuatnya rileks, dan kemudian mengisi celah-celah di hatinya.
“Kenapa kau menangis?” aku bertanya.
“Manabe dan teman-temannya... Aku tidak akan membiarkan mereka lolos dari ini.”
Karuizawa mulai gemetar saat dia mengingat apa yang telah mereka lakukan padanya. Bahkan walaupun dia tidak ingin mengungkapkan sisi dirinya yang menyedihkan ini, traumanya telah terkubur begitu dalam sehingga rasa sakitnya tidak mudah disembunyikan.
“Kau harus merahasiakan ini. Kalau ada orang lain yang tahu, aku tidak akan pernah memaafkanmu.” dia memperingatkanku.
Kelemahan Karuizawa adalah dia tidak tahan dilihat sebagai korban oleh seluruh sekolah. Jika orang-orang mengetahui bahwa Manabe dan teman-temannya telah menggunakan kekerasan, maka sekolah pasti akan mengekspos detailnya tentang apa yang telah terjadi dan mengapa. Untuk melindungi status sosialnya, Karuizawa tidak bisa membiarkan itu terjadi. Itulah mengapa dia berencana menggunakan Hirata untuk menghentikan Manabe dan teman-temannya.
“Kau bisa saja membalas Manabe dan yang lainnya, tahu. Karena mereka perempuan, bahkan orang sepertimu bisa menang.” dia menyarankan kepadaku.
“Itu permintaan yang gila.” jawabku datar.
“Apa kau takut membalas Manabe dan teman-temannya? Kau itu seharusnya bertindak seperti laki-laki.” cacinya.
“Kalau kau menyerang mereka, semuanya akan berakhir. Kau harus tahu dari apa terjadi dengan Sudou kalau ini bukan masalah sepele. Apa kau tidak mengerti? Mata dibalas mata tidak akan menyelesaikan apa pun. Situasinya hanya akan semakin tidak terkendali. Sekolah akan melakukan investigasi dan melakukan wawancara. Kau tidak ingin itu terjadi, kan, Karuizawa?”
“Jadi kau menyuruhku untuk diam dan menerimanya?” dia bertanya.
Aku tahu bagaimana menanggapinya, tetapi aku memutuskan untuk tetap diam.
“Tapi mereka akan... Mereka akan terus melakukan hal-hal buruk padaku.” gumam Karuizawa.
Dia mulai gemetar lagi. Sebenarnya, tidak ada jaminan bahwa Manabe dan teman-temannya akan berhenti. Karuizawa dapat menemukan banyak cara untuk melarikan diri begitu kami kembali ke sekolah, tapi dia tidak bisa terus bermain petak umpet dengan Manabe selamanya. Pada akhirnya, teman-teman sekelasnya akan melihat perubahan pada perilaku Karuizawa.
Karuizawa sangat ingin memperbaiki situasi ini. Aku sudah menunggu keputusasaan itu.
“Akan sangat buruk kalau semuanya kembali seperti yang terjadi di masa lalu. Aku mengerti kalau kau ingin mencegahnya.” kataku padanya.
“Hah? Apa maksudmu?”
Karuizawa seharusnya sudah membereskan semuanya. Walaupun aku sudah tahu bahwa Manabe dan teman-temannya telah membullynya, dia seharusnya bertanya-tanya bagaimana aku bisa tahu tentang masa lalunya.
“Aku serius dengan apa yang kukatakan. Kau telah berhasil melarikan diri dengan masuk ke sekolah bergengsi ini dan menapaki kasta tertinggi dan menjadi pemimpin gadis-gadis di Kelas D. Tapi pada akhirnya, kau tidak berubah sama sekali. Kau masih tetap menjadi gadis kecil yang selalu ditindas.”
“Si-Siapa yang kau bicarakan?!” dia berteriak.
“Kau, Karuizawa.”
Aku meraih lengannya dan memaksanya berdiri.
“H-Hei, apa yang kau lakukan?!”
Aku menjepitnya ke dinding dan memaksanya untuk menatap mataku.
“Manabe baru saja menyiksamu, kan? Dia dan teman-temannya menarik rambutmu dan menampar wajahmu. Mereka menendang dadamu, dan juga perutmu, kan? Itu sebabnya kau berakhir seperti ini: sengsara, menyedihkan, menangis di lantai seperti gadis cengeng.”
“Ap—”
Mata kami bertemu. Kami menatap seolah-olah kami sedang tersedot ke dalam satu sama lain. Tentu saja, tidak ada tanda-tanda cinta di sana. Hanya kegelapan.
“Kau selalu diintimidasi sejak kau masih kecil. Kau adalah korban sewaktu SD dan SMP. Kau bersikap keras agar kau tidak lagi diganggu. Apa aku benar?”
“A-Apa kau mendengar ini... dari Hirata-kun?”
“Hirata adalah rekan semua orang. Dia akan membantumu, seperti dia akan membantu siapa pun. Bahkan walaupun kau mendapatkan posisimu di Kelas D dengan berpura-pura menjadi pacar Hirata, dia tidak akan berguna bagimu dalam situasi seperti ini. Dia bukanlah inang yang cukup baik untuk parasit sepertimu.”
Karuizawa jauh lebih pintar daripada yang dipikirkan orang lain. Dia telah mempertimbangkan untuk tidak bertindak berlebihan di kelompok Kelinci justru karena dia mengerti sikap netral Hirata. Mungkin itulah mengapa dia begitu pendiam pada awalnya. Namun, sebagai citra statusnya, dia memulai masalah dengan Rika, yang menyebabkan semua kesulitan ini.
“Apa yang kau... Kenapa kau melakukan ini, hah?!”
“Kenapa? Sudah jelas, bukan? Kau perlu memahami situasimu. Tidakkah kau tahu siapa yang berdiri di depanmu sekarang? Ini bukan Hirata; ini aku. Aku tahu segalanya. Aku tahu tentang masa lalumu. Aku tahu tentang hubungan palsumu dengan Hirata. Aku bahkan tahu kalau Manabe dan teman-temannya menyiksamu dengan kejam sampai kau menangis.”
Aku tahu semua yang ingin disembunyikan Karuizawa Kei.
Kini nyawanya ada di telapak tanganku. Saat ini, akulah yang memutuskan apakah dia akan hidup atau mati.
“Kalau kau tidak melakukan apa yang kukatakan, aku akan membongkar semuanya tentang dirimu.” tambahku.
Karuizawa mengerti lebih baik daripada siapa pun tentang betapa menakutkannya ancaman itu.
“Ja-Jangan main-main denganku! Kau pikir kau ini siapa?!” dia berteriak.
“Seseorang yang mengetahui kebenarannya. Tidak lebih, tidak kurang.”
Aku begitu dekat dengannya sehingga wajah kami hampir bersentuhan. Ketika dia memalingkan wajahnya dan mencoba mengalihkan pandangannya, aku meraih dagunya dan memaksanya untuk melihatku. Dia ingin memalingkan muka, tetapi dengan kekuatan seorang laki-laki yang menahannya, dia tidak bisa bergerak. Dia menutup matanya, seolah mencoba melarikan diri dari pandanganku.
“Apa, apa yang kau inginkan dariku?! Kau hanya mengincar tubuhku, kan?” dia menjerit.
“Tubuhmu, ya? Kau tahu, kedengarannya itu tidak terlalu buruk.”
Aku menggerakkan ujung jariku ke paha Karuizawa. Pahanya terasa sangat lembut, sebuah sensasi yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Kulitnya mulus seperti sutra. Rasanya sangat berbeda dari saat aku menyentuh kulitku sendiri.
“Tidak!”
Dia mencoba melepaskan diri dari sentuhanku. Aku mencengkeramnya lebih erat dan memaksanya untuk menatap langsung ke mataku.
“Jangan lari. Kalau kau berani melakukannya lagi, aku akan memberitahu semua orang di sekolah segala yang kutahu tentangmu.”
Kata-kata itu seperti mantra sihir. Dia menegang.
“Kau ... Menyebalkan ...” dia tergagap.
Marah, panik, takut, putus asa: Berapa banyak perasaan negatif yang telah Karuizawa rasakan? Dia sekarang menyadari bahwa aku benar-benar berbeda dari orang lemah lembut yang dia kenal di sekolah. Dia mungkin menganggapku menakutkan.
“Lebarkan kakimu.” perintahku.
Karuizawa perlahan membuka kakinya, air mata mengalir di wajahnya saat dia melakukannya. Bahkan walaupun dia tahu bahwa dia akan diperkosa, dia tetap ingin melindungi posisinya. Rasa sakit yang dia rasakan selama bertahun-tahun dibully telah berakhir. Aku meletakkan tanganku di ikat pinggangku dan berpura-pura melepaskannya. Meski begitu, Karuizawa tidak lari. Dia mencoba menerima ini. Dia menatapku dengan pandangan kosong.
Tidak diragukan lagi. Karuizawa Kei telah menjadi alat yang sempurna untukku. Aku sebenarnya tidak peduli dengan tubuhnya; Aku hanya perlu mengancamnya untuk melihat seberapa jauh dia bersedia untuk melakukan apapun, seberapa banyak yang akan dia lakukan. Dia mungkin mengerti itu.
Mengungkapkan diriku yang sebenarnya padanya adalah risiko besar. Jika Karuizawa melaporkanku ke sekolah, aku akan berada dalam masalah besar. Namun, dia takut akan masa lalunya dan kehilangan status sosialnya saat ini lebih dari apa pun. Itu sebabnya dia melangkah lebih jauh dengan menawarkan tubuhnya jika seseorang memintanya, jika itu berarti akan melindungi rahasianya.
“Aku tidak akan pernah tunduk padamu. Aku tidak akan ditindas oleh orang-orang sepertimu. Kau hanya ingin memperkosaku! Kau pikir kau dapat melakukan apa pun yang kau inginkan, dasar mesum?!” dia berteriak.
Karuizawa meraung marah, seolah-olah itu mengalir dari dalam hatinya.
“Yah, terserah. Ini bukan pertama kalinya seseorang menggunakan paksaan untuk melawanku. Jadi. Apa kau juga tahu tentang itu? Menurutmu bagaimana aku harus bertindak dalam situasi seperti ini?” dia bertanya.
Masih gemetar, dia tersenyum tipis dan menatapku dengan kegelapan yang intens di matanya.
“Setelah beberapa saat, aku menyerah mencoba untuk melawan. Benar sekali; aku adalah korban semua orang. Aku menjadi dingin, seperti robot. Aku bisa menangis, menjerit, atau meronta-ronta, tapi itu tidak masalah. Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Yang bisa kulakukan hanyalah menerimanya.”
Karuizawa, seolah menerima semuanya, mengangkat roknya dan menyentuh celana dalamnya. Aku meraih lengannya yang ramping dan mendorongnya ke dinding.
“Apa yang terjadi denganmu?” aku bertanya.
“Apa yang terjadi? Semuanya. Segala macam hal. Mereka menaruh paku payung di sepatuku atau mengisi mejaku dengan bangkai binatang. Ketika aku pergi ke kamar mandi, aku disiram air kotor. Mereka menulis kata-kata seperti 'pelacur' pada seragamku. Mereka menarik rambutku dan memukul dan menendangku. Hal-hal semacam itu. Aku ditindas dalam segala hal. Berulang kali, tak terhitung jumlahnya. Apa yang baru saja kukatakan kepadamu hanyalah sebagian kecil dari apa yang kualami. Itulah 'masa laluku' yang kelam. Itu membuatku ingin tertawa. Jadi, kenapa kau tidak tertawa? Kenapa kau tidak menertawakan pecundang menyedihkan yang selalu ditindas sepanjang hidupnya?”
Bahkan setelah semua yang dia derita, dia masih bangkit kembali. Dia terlihat siap untuk bertarung lagi. Ketangguhannya telah memotivasinya untuk mendaftar di sekolah ini. Tetap saja ... pengalaman yang dia ceritakan itu masih belum cukup menjelaskan semuanya.
“Apa lagi yang kau derita?” aku bertanya.
“Hah?”
“Apa kau sudah memberitahuku seluruh kebenarannya?”
Aku percaya bahwa sesuatu yang kritis telah menghancurkan semangatnya jauh sebelum kejadian ini. Pasti ada alasan lain di balik ketakutannya yang tidak normal, sesuatu yang sangat ingin disembunyikan Karuizawa sampai-sampai bersedia untuk menyerahkan tubuhnya.
“Apa yang kau sembunyikan?”
“A-Apa?”
Karuizawa memalingkan kepalanya dariku dan menurunkan matanya untuk melihat ke bawah di pinggang kirinya. Aku memperhatikan itu, tentu saja. Aku mengulurkan tangan dan menyentuh bagian tubuhnya itu, di balik seragamnya.
“He-Hentikan!” dia berteriak.
Teriakannya bergema di dalam dinding ruangan yang tertutup. Aku meraih seragamnya dan menariknya ke atas. Di sana, di kulitnya yang indah, ada bekas luka yang jelek. Sebuah bekas luka yang dalam, bekas luka yang diciptakan oleh pisau tajam.
“Ini ya? Ini kegelapanmu?”
“U-Ugh!”
Ini bukan hasil dari bullying sepele. Bekas luka serius seperti ini berasal dari serangan yang mengancam nyawa. Meskipun dia terbebani dengan masa lalu yang mengerikan itu, dia tetap tegar. Dia kembali bangkit.
Selama beberapa hari terakhir, aku mengamati Karuizawa Kei dengan teliti. Untuk melindungi dirinya sendiri, dia memaksa orang-orang untuk menjadi sekutunya. Dia melindungi statusnya, bahkan jika itu berarti dia akan dibenci.
“Keputusasaan datang dalam berbagai bentuk. Dan kau pernah mengalami keputusasaan, bukan?” aku bertanya.
Mata gelap Karuizawa bertemu dengan mataku. Orang yang membawa kegelapan di dalam dirinya akan saling tarik-menarik satu sama lain. Perlahan, mereka saling mengikis. Orang-orang yang menyembunyikan kegelapan yang mendalam akan siap merangkul kegelapan orang lain.
“A-Apa yang kau ... kau ...” dia tergagap.
Jika masa lalunya menahannya, maka aku harus dengan paksa membebaskannya dari belenggunya. Bahkan walaupun kami tidak begitu akrab, aku bisa merasakan kegelapan darinya, melalui kulitnya. Ya.
Ada hal-hal yang sangat gelap yang tersisa di dunia ini yang bahkan Karuizawa sendiri belum mengetahuinya.
“Aku bisa menjanjikanmu satu hal. Mulai sekarang, aku akan melindungimu dari intimidasi. Aku jauh lebih bisa diandalkan daripada Hirata ataupun Machida.” kataku padanya.
“Tunggu. Maksudmu kau bisa menghentikan Manabe dan teman-temannya?” dia bertanya.
“Sekarang, kau harus mengerti apa yang kukatakan. Jika angin bertiup, api kecil akan padam. Namun, api yang lebih besar hanya akan menjadi lebih besar. Menjadi begitu kuat sehingga tidak akan padam, bahkan saat menghadapi angin topan ataupun hujan deras. Kau akan membantuku, dan aku akan membantumu. Kebaikan tidak ada hubungannya dengan ini. Apa kau keberatan dengan pengaturan ini?”
“Pertama-tama. Aku akan menghilangkan kecemasanmu.” tambahku.
Aku mengeluarkan ponselku.
“Aku punya cara untuk menghentikan Manabe dan teman-temannya.”
Aku menunjukkan ponselku padanya. Di layar ponsel ada foto Karuizawa ketika ia sedang dibully di tangga darurat.
“Itu—”
“Kalau aku mengirim gambar ini kepada mereka, mereka tidak akan berani berbuat macam-macam lagi. Kalau mereka masih memutuskan untuk mengganggumu, mungkin dengan menyebarkan desas-desus, maka aku akan turun tangan dan menghentikannya. Dengan menggunakan ini.”
Sejauh menyangkut Manabe dan teman-temannya, insiden ini seharusnya sudah cukup untuk memuaskan mereka. Jika mereka terbawa suasana dan mencoba menyakiti Karuizawa lagi, mereka akan menyebabkan masalah bagi Ryuuen. Kemudian mereka akan membahayakan diri mereka sendiri. Aku melepaskan dagu Karuizawa, dan berbicara dengan nada datar, tanpa emosi.
“Yang kuinginkan adalah orang-orang bekerja sama denganku. Aku ingin kau membantuku di masa depan, melakukan apa pun yang kubutuhkan.”
“Apa? Membantu? Apa yang kau ingin aku lakukan?”
“Kalau semuanya terus seperti ini, Kelas D tidak akan pernah menyusul Kelas A. Tentu saja siswa-siswa di Kelas D itu tidak kompeten, kita tidak punya rasa persatuan. Kelas kita tercerai-berai. Tapi, kalau kau mengendalikan gadis-gadis itu untukku, situasinya akan berangsur-angsur membaik.”
Daya tarik sosialnya membuatnya menjadi sekutu yang lebih berharga daripada Horikita.
“Apa yang kau coba...”
Sampai detik ini, dia hanya menganggapku sebagai laki-laki rendahan dan tidak mencolok. Melihat diriku yang sebenarnya pasti membuatnya takut. Tapi aku sudah selesai menjelaskan. Selain itu, semakin sedikit aku berbicara, semakin menakutkan aku di matanya. Semakin sulit dia menolak.
“Sekarang, hal pertama yang kubutuhkan. Kita harus memimpin kelompok kita menuju kemenangan dalam ujian ini.”
“Bagaimana aku bisa membantu memimpin mereka menuju—”
“Kau bisa, karena kau itu ... Benar, kan?”
Meskipun aku tidak mengartikulasikan kata kunci dalam kalimat itu, Karuizawa sepertinya tahu apa itu. Dia menatap mataku. Kebenaran bergema jauh di dalam dirinya, di dalam hatinya.
Dia mencoba terlihat bingung, tapi itu hanya akting. Bagaimanapun, parasit tidak bisa hidup tanpa inang. Dengan menemukan inang baru, Karuizawa hanya punya satu cara untuk terus hidup: yaitu bersamaku.
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar