-->
Loading...

iklan adsense

Volume 4 Chapter 3 Part 6 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia

Released on September 22, 2021 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Volume 4 Chapter 3 Part 6 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, Streaming Volume 4 Chapter 3 Part 6 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 4 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!

CHAPTER 3
Pertanyaan Dua Laras

PART 6

Terkadang suara yang dalam dan berat bergema di seluruh lantai yang gelap. Mungkin itu suara kapal yang mengubah arah, atau mungkin itu karena kapal menabrak sesuatu. Aku tidak sepenuhnya yakin. Tapi seorang gadis yang sendirian datang ke sini, tempat di mana semua yang bisa kau dengar hanyalah suara mesin. 

“Ada apa ini? Aku tidak bisa terhubung... Tidak ada sinyal.” 

Masih ada lebih dari 10 menit sebelum waktu pertemuannya dengan Hirata. Mungkin dia datang sedikit lebih awal untuk menenangkan diri. Setelah dia menyadari bahwa dia tidak dapat menggunakan ponselnya, dia memasukkannya kembali ke dalam sakunya dan bersandar ke dinding, tampak bosan. Dia menutup matanya dan membuka mulutnya sedikit, menggumamkan sesuatu pada dirinya sendiri. 

Karena betapa pelannya dia bergumam, aku tidak bisa mendengarnya sama sekali. Apa yang dia bicarakan? Sayangnya, Hirata tidak akan mendengarnya. Saat jam menunjukkan pukul empat, pintu terbuka. Aku mendengar suara yang samar. Tiga gadis dari Kelas C melangkah masuk—Manabe dan teman-temannya. Tunggu... ada satu orang lagi bersama mereka. 

Dia tampak lemah lembut, agak seperti Sakura. Ini mungkin Rika. 

“Tidak apa-apa.” kata Manabe. 

Kemudian dia melihat Karuizawa. Tentu saja, Karuizawa memperhatikan mereka juga. 

“A-Apa yang kau lakukan di sini?!” dia bertanya, gemetar. 

Lorong di dalam kapal itu sempit, jadi tidak banyak rute untuk melarikan diri. Melarikan diri akan sulit. 

“Aku hanya kebetulan melihatmu datang ke sini, itu saja. Yah, kukira ini adalah kesempatan yang sempurna. Biar kuperkenalkan padamu. Ini Rika. Apa kau ingat dia, Karuizawa-san?” tanya Manabe. 

Manabe meraih Rika, yang bersembunyi di belakangnya, dan menariknya maju. Dia dan Karuizawa sekarang saling berhadapan. Karuizawa menghindari matanya, berpura-pura tidak mengenalnya, tapi menilai dari perilakunya jelas dia ingat. 

“Hei, Rika. Karuizawa-san yang mendorongmu, kan?” tanya Manabe.

“Ya, dia orangnya.” kata Rika. 

Setelah mendengar jawaban yang begitu jelas, Manabe tersenyum, terlihat sangat senang. Karuizawa, di sisi lain, tampak semakin cemas dan bingung. Yang bisa kulakukan sekarang adalah tetap diam dan mengamati peristiwa menyedihkan yang akan terungkap. Bahkan jika Karuizawa mendapat siksaan yang sangat kejam daripada yang bisa kubayangkan, aku tidak punya niat untuk menyelamatkannya. 

“Minta maaflah pada Rika.” tuntut Manabe. 

“H-Hah? Siapa juga yang mau minta maaf? Aku tidak melakukan kesalahan apa pun.” kata Karuizawa. 

“Masih sok keras. Kau ini sangat menyebalkan, ya? Tapi kupikir aku mengerti sekarang, kurang lebih.” kata Manabe. 

“Mengerti apa?” tanya Karuizawa. 

“Perilakumu. Kau sangat ketakutan. Karuizawa-san, kau dulu dibully, bukan?”

“Ap—?!”

Dia selalu berusaha menyembunyikan kebenaran, tetapi masa lalunya telah terbongkar. 

“Aku benar, bukan? Aku tahu itu. Aku bisa merasakannya sejak awal.” lanjut Manabe. 

“Tidak, kau salah!” Karuizawa menyangkalnya, tapi kata-katanya lemah. 

Bahkan jika dia adalah aktris yang hebat, itu tidak ada gunanya. Bukan berarti Manabe langsung mengetahuinya. Dia tahu karena aku sudah memberitahu dia segalanya sebelumnya. Aku telah mengatakan kepadanya bahwa Karuizawa sering dibully dengan kejam sejak kecil. Bahwa dia menyimpan trauma yang mendalam. 

“Kalau kau berlutut dan memohon ampun sekarang, aku mungkin akan memaafkanmu. Bagaimana? Kau pandai merendahkan diri, kan? Berlutut memuaskan laki-laki?” 

Manabe mengejek Karuizawa. 

“Ti-Tidak, tidak akan! Aku belum pernah melakukan hal semacam itu sebelumnya!” Karuizawa berteriak. 

Karuizawa mencoba menyelinap melewati Manabe, tapi Manabe menyambar rambut panjangnya dan menariknya, membantingnya ke dinding. Manabe yakin bahwa panggung telah disiapkan untuk balas dendamnya, jadi aku tidak bisa mengendalikannya di sini. Aku hanya berjanji bahwa di tempat ini dia akan “bertemu” dengan Karuizawa.

Dia seharusnya ragu apakah akan menggunakan kekerasan. Namun, ketika dia akhirnya memiliki kesempatan untuk berduaan dengan Karuizawa, dia melepaskan semua kekhawatirannya. Karena teman-temannya mengharapkan dia untuk melakukan pembalasan terhadap Karuizawa, ini tidak akan berakhir sampai Manabe selesai meremukkan dan menyiksanya habis-habisan. Itulah tujuanku. 

Itu seperti eksperimen Milgram, sebuah studi psikologis yang dilakukan di tahun 1960-an. Tes itu, juga disebut sebagai eksperimen Eichmann, dilakukan oleh dua kelompok orang di fasilitas yang terisolasi. Anggota dua kelompok ini memainkan peran sebagai guru dan murid. Pertama, orang yang berperan sebagai guru—subjek eksperimen—akan memberikan tegangan listrik rendah kepada murid sehingga mereka akan mengingat rasa sakit dan ketakutannya. Murid akan dipisahkan dari guru dan diletakkan di sisi lain kaca. Kemudian perangkat dipasang di tubuh murid, yang akan mengirimkan sengatan listrik, sedangkan saklar untuk mengatur tegangan dipercayakan kepada guru. 

Pada saat itu, pengawas yang mengawasi eksperimen menginstruksikan guru untuk memberikan serangkaian pertanyaan kepada murid. Jika murid membuat kesalahan, guru diperintahkan untuk menyalakan arus listrik. Guru disuruh menaikkan tegangan setiap kali murid menjawab salah. Saklar dapat memberikan tegangan sampai lebih dari 450 volt, cukup kuat dan terbukti fatal. Namun, di sisi lain, tegangan yang diberikan untuk pertanyaan pertama yang salah hanya 45 volt, yang terasa seperti gatal ringan. 

Subjek bisa mendengar suara murid, yang berarti setiap kali tegangan diberikan, guru bisa mendengar teriakan penderitaan murid. Namun, yang tidak diketahui oleh subjek, perangkat tegangan listrik yang terpasang di tubuh murid itu sebenarnya palsu. Murid itu hanya berpura-pura tersengat listrik. Meskipun guru bisa mendengar penderitaan murid. Pada tahap awal, tidak ada banyak reaksi. Saat tegangan meningkat, teriakan penderitaan murid semakin keras. Akhirnya murid itu terdiam. 

Subjek, guru, tidak diancam. Mereka hanya diberitahu bahwa mereka akan dihargai dan bebas melakukan apa yang mereka suka. Dengan kata lain, bahkan jika guru meminta untuk menghentikan tes, mereka akan baik-baik saja. Meskipun demikian, hampir 66% dari subjek meningkatkan tegangan sampai mereka memberikan sengatan listrik yang cukup kuat untuk membunuh seseorang. Eksperimen itu menunjukkan bahwa, tergantung pada situasinya, siapa pun mampu melakukan kekejaman dan kebrutalan yang luar biasa.

“Aw, aw! Itu sakit! Lepaskan aku!” teriak Karuizawa. 

Karuizawa menangis karena rambutnya ditarik, dan memohon, tapi Manabe hanya tertawa seolah dia menikmatinya. Saat ini, mereka berada di lantai terendah kapal, lingkungan tertutup. Manabe adalah subjeknya, dan Karuizawa adalah muridnya. Aku telah berhasil mengatur panggung untuk situasi seperti eksperimen Milgram. Meskipun bisa dibilang kondisinya tidak sama persis, mengingat hubungan yang telah terbentuk di antara mereka berdua, situasinya agak seperti percobaan asli. Melihat Karuizawa menderita, terutama setelah perilakunya yang sombong, mungkin terasa menyenangkan bagi mereka. 

“Agh!” teriak Karuizawa. 

“Wow, Shiho. Bukankah kau memukulnya terlalu berlebihan? Wow, kau sangat kasar.” 

Manabe terus mendorong lututnya ke perut Karuizawa. Tentu saja, Manabe tidak terbiasa memukul orang seperti itu, jadi gerakannya lamban. Seharusnya tidak terlalu menyakitkan. Tapi rasa sakit Karuizawa adalah hadiah terbesar Manabe. 

Tampaknya dalam suasana hati yang baik, dia mengajak Rika untuk bergabung. Rika berdiri agak jauh, mengawasi dengan cemas. 

“Ayolah Rika. Cobalah juga.” desak Manabe. 

“Ti-Tidak. Tidak usah.” jawab Rika. 

“Kami melakukan ini demi dirimu, tahu? Ayolah, tidak ada siapa-siapa di sini.” jawab Manabe. 

Rika ingin menolak untuk membalas dendam, tapi itu tidak diperbolehkan sekarang. Jika temanmu merayu dan membujukmu untuk ikut bersenang-senang, akan sulit untuk terus menolak. Rika tahu bahwa jika kemarahan Manabe diarahkan padanya, dia bisa menjadi korban berikutnya. 

“O-Oke. Akan kucoba.”

Terdengar suara tamparan ringan yang menyedihkan. pap

“Se-Seperti itu?” tanya Rika.

“Tidak, tidak, bukan seperti itu. Kau harus memberikan lebih banyak kekuatan ke dalamnya, seperti ini.”

Plak! 

Suara itu menggema di seluruh ruangan. Karuizawa terlihat sangat kesakitan setelah menerima pukulan itu. Rika menampar Karuizawa lagi dan lagi, sama seperti yang diinstruksikan padanya. Tamparannya secara bertahap semakin kuat. 

“H-H-H-Hentikan!” pinta Karuizawa. 

“Ha ha. Ini menyenangkan! Ha ha!”

Yah, mungkin lebih tepatnya Rika-lah subjek eksperimen Milgram. 

“Tolong maafkan aku!” Karuizawa memohon. 

Melihatnya seperti itu pasti terasa euforia bagi Manabe dan yang lainnya. Rika mulai memukul dan menendang dengan cukup kuat, sampai aku tidak bisa percaya bahwa sebelumnya dia sempat takut. Dan juga, meskipun dia meninggalkan beberapa bekas di tempat-tempat yang mudah dilihat seperti pipi Karuizawa, Rika fokus memukulnya di tempat-tempat yang sulit dilihat, seperti di bawah seragamnya atau di bawah rambutnya. 

Karuizawa jatuh dalam ketakutan, air mata mengalir di wajahnya. Aku bergerak tanpa mengeluarkan suara. Aku diam-diam membuka pintu, berhati-hati supaya Manabe dan teman-temannya tidak melihatku. Mereka semua akan terus mengeluarkan frustrasi mereka pada Karuizawa sedikit lebih lama. Aku tidak terlalu keberatan. 

Lagi pula, jika sesuatu telah dihancurkan secara menyeluruh, itu menghemat waktuku dan usahaku ketika aku perlu membangunnya kembali. Aku diam-diam menutup pintu dan tidak bisa lagi mendengar jeritan Karuizawa.

~ Bersambung ~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢