CHAPTER 3
Pertanyaan Dua Laras
PART 2
Kecuali kau cenayang, menemukan VIP tidak akan mudah. Manusia terlahir sebagai pembohong. Jika seseorang mengaku bahwa selama hidupnya dia tidak pernah berkata bohong, hidup mereka sendiri mungkin bohong. Kebohongan adalah bagian yang tak terhindarkan dari diri kita. Berbohong demi kebaikan juga tidak terkecuali; itu masih kebohongan.
Salah satu siswa di dalam kelompok adalah VIP. Kami masih punya waktu sampai waktu diskusi dimulai. Seperti terakhir kali, aku adalah orang pertama yang datang. Aku datang lebih awal untuk mengamati perilaku semua orang.
Sekelompok gadis Kelas C adalah yang pertama masuk. Mereka mengobrol dengan keras, terlihat seolah mereka sangat menikmati percakapan mereka. Namun, ketika mereka melihatku, mereka langsung merendahkan suara mereka dan terdengar jijik. Mereka memastikan untuk duduk agak jauh dariku. Berikutnya adalah Yukimura, yang menyeringai. Kami bertukar pandang sebentar, dan kemudian dia duduk di dekatku. Dia tidak terlihat berbeda dari dirinya yang biasanya.
Berikutnya datang kelompok Kelas A, Machida dan Takemoto. Morishige datang sendiri. Karena mereka memutuskan untuk tidak membahas apa pun, mereka sekali lagi duduk di ujung ruangan, dekat dengan gadis-gadis Kelas C.
“Hei, Machida-kun. Setelah kita selesai di sini, apa kamu mau hang out bareng kami? Kami bertiga ingin bersenang-senang.”
“Begitu, ya.” jawab Machida.
Meskipun Machida tidak mau berpartisipasi, semua gadis memperhatikannya. Selain Ichinose dan Ibuki, mereka tampaknya tertarik pada Machida. Aku bukannya cemburu atau apa... Okelah, aku mungkin sedikit cemburu. Gadis-gadis itu mungkin mengajak Machida hang out karena mereka sudah menyerah untuk menemukan VIP. Atau mungkin itu adalah bagian dari rencana mereka. Apakah ini cara laki-laki dan perempuan membentuk hubungan? Machida tampaknya tidak terganggu oleh hal ini. Faktanya, dia tampak senang.
Berikutnya datang siswa Kelas D lainnya: Profesor dan Karuizawa. Daripada disebut datang ke sini bersama, itu lebih seperti mereka tiba pada waktu bersamaan karena kebetulan belaka. Karuizawa terlihat jijik dengan kehadiran Profesor. Setelah mereka masuk, Karuizawa dengan cepat bergerak ke belakang ruangan.
“Hei, bukankah itu kursiku?” tanya Karuizawa.
Meskipun terlambat, dia memelototi gadis-gadis Kelas C. Setelah melihat mereka begitu ramah dengan Machida, dia menjadi semakin frustrasi.
“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Apa maksudmu, kursimu? Duduk saja di tempat lain. Kan masih ada kursi yang lain sih.”
“Itu kursiku. Tempat dudukku. Pindah sana.” desak Karuizawa.
“Hah? Aku sedang bicara dengan Machida-kun sekarang. Dia janji untuk hang out bersamaku malam ini.” kata Manabe.
“Hei, Machida-kun. Bisakah kamu memberitahu dia kalau kamu ingin aku duduk di sebelahmu?”
Machida tampak sedikit bingung dengan situasinya, dia ragu-ragu tentang gadis mana yang harus dia pilih. Namun, Karuizawa dengan cepat menerobos di antara mereka berdua, dan meraih tangan Machida.
“Bagaimana kalau kita menghabiskan waktu bersama, hanya kita berdua? Atau kamu sudah janji pada gadis itu kalau kamu akan pergi bersamanya? Aku benci laki-laki yang suka selingkuh. Kalau kamu main-main dengan gadis itu, kurasa kita harus mengakhiri hubungan ini.” kata Karuizawa.
Wow. Aku kagum dia bisa mengatakan itu dengan wajah datar, mengingat dia sudah berpacaran dengan Hirata.
Di bagian "hanya kita berdua" tampaknya benar-benar menusuk Machida. Sepertinya dia telah membuat keputusan.
“Maaf, tapi bisakah kau pindah? Itu kursi Karuizawa.” kata Machida.
“Hah? Apa-apaan? Ugh, ini omong kosong.” rengek Manabe.
Gadis-gadis itu, tampak kesal, mereka segera bangkit dan pergi. Karuizawa duduk ke kursi kosong. Dia benar-benar lengket dengan Machida. Sungguh, mereka duduk tepat bersebelahan, tubuh mereka berhimpitan. Tindakan Karuizawa tidak tampak remeh atau sembrono bagiku, itu mungkin karena aku sudah tahu gadis seperti apa dia itu.
Karuizawa berpacaran dengan Hirata. Entah Machida tahu itu atau tidak, sepertinya dia mulai jatuh cinta padanya. Dari segi penampilan, dia memang sangat imut. Dan juga, dari sudut pandang seseorang yang naksir, itu membuatnya merasa bahwa dia ingin melindunginya.
Hal yang menarik adalah, meskipun kelompok kami baru saja terbentuk, kasta telah tercipta di antara kami, termasuk dinamika kekuatan. Ada para penyendiri, ada anak-anak populer, dan ada penyelenggara. Namun, tidak semuanya berjalan seperti biasa. Misalnya, jika ada dua penyelenggara di tempat yang sama, salah satunya akan memimpin, dan yang lainnya akan jatuh. Itu seperti hukum rimba, siapa yang kuat maka ia yang akan menang.
Orang yang kalah dalam pertempuran itu, status sosialnya akan turun. Dalam beberapa kasus, dia mungkin akan jatuh sampai ke kasta terendah. Dia akan diremehkan sehingga kehadirannya tidak penting bagi orang-orang di sekitarnya. Bisa dibilang aku adalah orang seperti itu.
Hal yang menarik dari ujian ini adalah membuat orang-orang yang biasanya waspada satu sama lain menjadi saling bergandengan tangan. Ichinose mungkin sangat populer di antara teman-teman sekelasnya, tetapi di antara musuh-musuhnya, dia memiliki pengaruh yang rendah. Jika itu Hirata, bisakah ia membuat kami menjadi lebih terorganisir?
“Halo semuanya!”
Baru dibicarakan, orangnya muncul. Ichinose tiba, membawa cahaya kehidupan ke dalam ruang yang dipenuhi aura depresi. Udara di ruangan terasa sangat berat hari ini, tetapi kupikir langkah yang terbaik adalah tidak berbicara sembarangan. Meski begitu, tindakan Karuizawa terlihat sombong dan sedikit membingungkan. Bahkan jika dia benar-benar ingin mengenal Machida lebih jauh, dia tidak perlu secara terbuka memusuhi gadis-gadis Kelas C.
Namun, situasi aneh itu sepertinya tidak terlalu penting bagi ujian itu sendiri.
Sebagai seseorang yang tahu seperti apa Karuizawa itu, aku sudah bisa melihat bagaimana tindakannya membentuk kepribadiannya. Aku bertanya-tanya apakah Karuizawa selalu ingin menjadi yang paling atas, entah itu di kelas ataupun di kelompok ini. Tentu saja, bukan hal yang mudah bagi seorang gadis untuk berdiri di puncak. Maksudku, jika itu adalah gadis yang sangat karismatik seperti Ichinose, itu beda lagi. Tetapi jika kau tidak unggul secara alami, itu mustahil.
Namun, dalam kehidupan sekolah kami, hubungan menentukan tinggi rendahnya kasta seseorang. Melalui perilakunya yang sombong, Karuizawa telah menjadi pemimpin bagi gadis-gadis Kelas D. Dia juga memperoleh banyak pengaruh, baik dari laki-laki maupun perempuan dengan menjadi pacar Hirata.
Jadi jika kau menerapkan apa yang kau ketahui tentang perilaku Karuizawa pada bagaimana dia bertindak sekarang, kebenarannya jelas. Dia dengan paksa mendorong dirinya ke laki-laki yang paling percaya diri, Machida, dan dengan Machida di telapak tangannya, dia telah menguasai ruangan itu. Itu sebabnya siswa Kelas C tidak bisa melawan Machida, dan dengan enggan meninggalkan tempat duduk mereka.
Jika kau tidak keberatan dibenci, apa yang kau dapatkan dengan mendominasi medan? Rasa superioritas? Kepuasan diri? Sorotan? Aku masih tidak bisa memahami akar penyebab dari perilaku Karuizawa.
“Ini tidak bagus.”
“Ya. Jika semuanya terus seperti ini, VIP itu akan lolos.”
Yukimura duduk di sebelahku dan menggumamkan kekhawatirannya. Aku memilih untuk mengikuti alurnya.
“Nah. Apa Kelas A juga tidak akan berpartisipasi kali ini?” tanya Ichinose.
“Tentu saja tidak. Tapi, jangan ragu jika kalian ingin berdiskusi. Kami masih belum mengubah kebijakan kami.” jawab Machida.
Di sampingnya ada Morishige, yang tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Aku pernah bertemu dengannya sebelum ujian ini. Menurut rumor, Kelas A dibagi menjadi dua faksi yang berbeda, satu dipimpin oleh Katsuragi dan satu dipimpin oleh Sakayanagi. Morishige adalah salah satu dari mereka yang berbalik melawan Katsuragi selama ujian di pulau itu.
Dalam keadaan normal, dia mungkin tidak akan mengikuti perintah Katsuragi, tetapi Sakayanagi sakit dan karena itulah dia absen dari perjalanan ini. Tanpa kehadiran pemimpinnya, Morishige tidak punya pilihan selain melakukan apa yang diperintahkan padanya.
Kupikir Katsuragi akan kehilangan pengaruh, mengingat kerusakan yang dia alami karena gagal dalam ujian pulau. Namun, sepertinya dia tidak akan hancur semudah itu. Karena Morishige tetap diam selama 2 hari, sepertinya dia tidak punya pilihan selain mengikuti perintah.
“Menghabiskan waktu 1 jam dengan berdiam diri saja itu akan sia-sia, bagaimana kalau kita bermain kartu lagi?” tanya Ichinose.
Ichinose segera mengeluarkan kartunya. Bagaimana kau mendekati tujuanmu adalah aspek utama dari ujian ini. Dia ingin mempersempit daftar tersangka melalui percakapan yang terbuka dan jujur. Di sisi lain, Katsuragi bertujuan untuk stabilitas dengan menekan semua percakapan. Lalu ada Ryuuen, yang ingin mengubah semua orang menjadi musuhnya sambil mengambil kendali penuh atas kelasnya. Dia mengatakan bahwa dia telah menemukan logika rahasia yang mendasari ujian ini. Namun, aku tidak yakin.
Pada akhirnya, kami asyik bermain kartu selama 1 jam, dan kemudian bubar. Yukimura dengan panik mengamati orang-orang di ruangan itu, tapi sayangnya sepertinya dia tidak mendapatkan petunjuk tentang identitas VIP. Aku yakin semua siswa lainnya juga begitu.
Bahkan jika kami berdiskusi, VIP itu tidak akan begitu saja menampakkan dirinya. Aku melihat urutan semua siswa yang pergi. Siswa Kelas C yang biasanya pertama keluar, mereka tidak bergerak. Sementara itu, siswa Kelas A, yang biasanya terakhir pergi, adalah yang pertama keluar. Yah, belum semua orang di Kelas A pergi. Machida dan Karuizawa sedang bertukar kontak. Yukimura dan Profesor bangkit.
“Kupikir sudah waktunya untuk kembali. Kau ikut, Ayanokouji?” tanya Yukimura.
“Ya.”
Selagi kami berbicara, Karuizawa menjawab teleponnya dan berdiri. Dia keluar ruangan, mengobrol dengan ponselnya, sepertinya membicarakan sesuatu yang lucu atau menarik. Saat dia berjalan pergi, ketiga gadis Kelas C melewatiku dan berjalan keluar.
“Hei. Apa kalian merasakan keanehan dari mereka bertiga barusan?” tanya Yukimura.
Dia menoleh ke arahku dengan tatapan sedikit bingung.
“Kau pikir begitu? Aku tidak memperhatikan hal semacam itu sama sekali.” jawab Profesor.
Nada bicara Profesor terdengar sombong. Namun, kupikir perasaan Yukimura benar tentang itu. Gadis-gadis Kelas C terlihat sangat marah. Yukimura dan aku mengintip ke koridor untuk melihat apa yang sedang terjadi. Kami melihat ketiga gadis itu mengikuti Karuizawa. Sendirian, Karuizawa berada di posisi yang kurang menguntungkan. Situasi itu membuatku khawatir. Dan juga, Ibuki, yang mungkin dapat mengatasi ketiganya, tidak ada.
“Apa menurutmu mereka akan melabraknya?” tanya Yukimura.
“Ayo kita ikuti mereka. Kupikir tidak akan ada kekerasan, tapi itu bisa menimbulkan kegemparan.”
“Dasar Karuizawa. Dia selalu membuat orang-orang membencinya. Padahal, aku ingin kita menghabiskan waktu kita yang berharga untuk menemukan VIP.” gerutu Yukimura.
Selagi Profesor kembali ke kamarnya, Yukimura dan aku diam-diam mengejar keempat gadis itu. Ketika kami berbelok di tikungan, aku mendengar suara ka-chack dari pintu keluar darurat yang dibanting menutup. Liftnya bahkan tidak ramai, jadi seharusnya tidak ada alasan untuk menggunakan tangga. Pasti ada alasan lain mengapa mereka masuk ke sana. Aku membuka pintu dan mendengar suara.
“Hei. Kenapa kalian membawaku ke tempat seperti ini?!”
“Berhentilah berpura-pura bodoh! Kau memang mendorong Rika, bukan? Mengakulah.”
“H-Hah? Aku kan sudah bilang, kau salah orang!”
Ketiga gadis itu mengepung Karuizawa, memojokkannya ke dinding. Mereka mencegahnya melarikan diri. Namun, bahkan setelah terkepung, Karuizawa tidak meminta maaf. Dia terus menyangkal perkataan mereka. Mungkin dia benar-benar tidak bersalah.
“Dengar, aku ada janji dengan seseorang. Bisakah kalian minggir?” tanya Karuizawa.
“Oke, mari kita konfirmasi sekarang. Aku akan menelepon Rika. Kalau itu bukan kau, kami akan memaafkanmu.”
“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Aku akan memanggil guru.”
“Terus, apa yang akan kau katakan pada guru? Kami kan tidak melakukan kekerasan apa pun padamu. Selain itu, kalau kau memberitahu guru, kami juga akan melaporkanmu. Kami akan bilang kalau kau mendorong Rika. Kau juga akan dapat masalah.”
Tidak ada pihak yang berniat untuk mundur. Karuizawa mencoba melarikan diri, tetapi gadis-gadis itu meraih lengannya dan mendorongnya ke dinding. Salah satu gadis mengeluarkan ponselnya, mungkin berniat untuk menelepon Rika.
“Tu-Tunggu!”
Karuizawa memohon kepada mereka untuk tidak menelepon.
“Apa? Kenapa kami harus menunggu?”
“Aku baru ingat. Aku memang menabrak gadis itu sebelumnya.”
“Kau ini benar-benar pembohong kurang ajar, ya. Sejak awal kau mengingat-nya, bukan? Yah, terserah. Jadi, apa kau akan minta maaf kepada Rika dengan benar?”
“Tidak akan. Yang salah itu dia. Dia benar-benar bebal.”
Kupikir Karuizawa akan bertanggung jawab atas tindakannya, tetapi sebaliknya, dia menolak. Dia menolak meskipun tahu itu akan mengecewakan mereka.
“Kau benar-benar membuat kami kesal. Kami mungkin akan memaafkanmu kalau kau mau minta maaf kepada Rika. Tapi sekarang, kami tidak akan pernah memaafkanmu.”
Gadis itu menekan bahu Karuizawa.
“Terserah. Lagian kalian mungkin tidak pernah berencana memaafkanku.”
Setelah Karuizawa meludahkan kata-kata itu, salah satu gadis, Yamashita, kehilangan kesabarannya.
“Shiho-chan. Aku sudah tidak tahan. Karuizawa tidak bisa dimaafkan.”
“Itu benar. Dia harus mengerti apa yang Rika rasakan. Ayo kita beri dia pelajaran.”
Dia memukul bahu Karuizawa dengan sedikit kekuatan ekstra. Yukimura mulai membuka pintu, tapi aku meraih lengannya. Bahkan jika kami masuk sekarang, Karuizawa akan diancam lagi nantinya. Namun, jika mereka melakukan kekerasan saat kami memergoki mereka, itu akan menjadi langkah pencegahan. Dan juga, tergantung pada seberapa kasarnya tindakan mereka, kami mungkin bisa mengancam mereka, memberitahu mereka bahwa kami akan melaporkan mereka ke sekolah.
Lebih penting lagi, Karuizawa Kei terlihat mulai berubah.
“Ahh... ahh...”
Dia terengah-engah seolah-olah dia kesulitan bernapas. Dia memegang kepalanya seolah-olah dia kesakitan. Ketika Manabe dan yang lain melihat penderitaannya, mereka tidak bersimpati. Justru sebaliknya. Itu membuat mereka kesal.
“Merintihlah sepuasmu, kami masih tidak akan memaafkanmu.”
Mereka menjambak rambut Karuizawa dan dengan paksa menarik kepalanya ke atas.
“Aku selalu membenci wajahmu, Karuizawa. Tidakkah kalian pikir dia ini jelek?”
“Ya, tentu saja. Bukankah itu membuatmu ingin menyayat wajahnya?”
“He-Hentikan. Hentikan.”
“'Hentikan', katanya. Apa yang terjadi dengan sikap angkuhmu tadi?”
Semakin kau iri pada musuhmu, semakin kau membenci mereka, hingga titik di mana kau ingin menyingkirkan keunggulan mereka. Jika kita bicara penampilan, maka Karuizawa jelas mengalahkan mereka semua. Tapi Manabe, Yamashita, dan Yabu tidak akan puas sampai mereka secara verbal mencabik-cabik wajah cantik Karuizawa. Karuizawa gemetar, ketakutan. Dia hampir menangis, masih tidak bisa bergerak.
Orang-orang cenderung menunjukkan sifat aslinya ketika mereka dalam bahaya. Sedikit lagi tekanan, dan aku akan tahu siapa Karuizawa Kei yang sebenarnya. Namun, Yukimura tidak bisa berdiam diri lagi. Dia membuka pintu. Ketiga gadis itu tentu saja terkejut dengan kemunculannya yang tiba-tiba. Karuizawa, di sisi lain, sepertinya merasa hidupnya terselamatkan.
“Apa yang sedang kalian lakukan?!” teriak Yukimura.
“Apa? Tidak ada. Kami cuma bicara dengan Karuizawa-san. Iya, kan?”
Manabe memelototi Karuizawa, seolah menyuruhnya untuk tidak mengatakan sepatah kata pun. Tapi Karuizawa bukan tipe orang yang menghindar.
“Yukimura-kun, gadis-gadis ini baru saja menculikku dan berbuat kasar padaku. Mereka benar-benar kurang ajar, bukan? Mereka sangat menjengkelkan, jadi aku menyuruh mereka enyah.” kata Karuizawa.
Dia biasanya tidak pernah berbicara dengan Yukimura, tapi sekarang dia mungkin bersyukur padanya. Sementara itu, gadis-gadis Kelas C memelototi Yukimura. Mata mereka seolah berkata, "Ini tidak ada hubungannya denganmu."
“Yah, aku hanya bicara dengan Karuizawa tentang apa yang dia lakukan pada Rika. Kau sudah dengar kalau Karuizawa menabraknya, kan?”
“Tidakkah menurutmu lebih baik biarkan saja semuanya berlalu? Mereka cuma saling bertabrakan. Bukan berarti Karuizawa yang salah.” kata Yukimura.
“Kau diam saja. Ini tidak ada hubungannya denganmu.”
“.........”
Di bawah beban tatapan mereka, Yukimura terdiam. Karuizawa menatap Yukimura, seolah berpikir bahwa dia laki-laki yang menyedihkan. Karuizawa diam-diam mengeluarkan ponselnya.
“Tinggalkan aku sendiri. Kalau tidak, aku akan menelepon seseorang.”
“Siapa yang akan kau hubungi? Hirata-kun? Machida-kun? Aku yakin pelacur sepertimu pasti punya seratus kontak laki-laki di ponselnya.”
Perkelahian antar perempuan sering kali menjadi kotor, dan tidak seperti laki-laki, kekerasan bukanlah pilihan utama. Ini menyakitkan untuk ditonton.
“Barusan aku melihat seorang guru lewat. Kurasa lebih baik kalian pergi.” kataku.
Aku tidak punya pilihan lain selain masuk dan menghentikan ini. Kelas C mungkin tidak ingin menimbulkan keributan.
“Sebaiknya kau menundukkan kepalamu dan minta maaf pada Rika.”
Gadis-gadis Kelas C terus mengintimidasi Karuizawa, yang mati-matian mencoba bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa. Tapi jelas bahwa dia kehilangan kepercayaan dirinya. Gadis-gadis itu sepertinya tahu itu. Mereka masih terus menunjukkan permusuhan mereka.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Yukimura, sambil mengulurkan tangannya.
Karuizawa terengah-engah.
“Tinggalkan aku sendiri!”
Saat Yukimura mendekat, Karuizawa menampar tangannya.
“Hei, apa-apaan sih? Aku datang ke sini untuk memeriksa keadaanmu karena aku cemas!”
“Ya Tuhan, diamlah! Tidak ada yang bertanya padamu!”
Napas Karuizawa menjadi lebih keras. Yukimura melangkah mundur, takluk. Aku memutuskan untuk tidak mengganggunya dan mundur juga. Karuizawa memelototiku saat dia membuka pintu tangga darurat dan membantingnya sekeras yang dia bisa setelah dia pergi.
“Astaga, ada apa dengannya? Dia selalu, selalu saja menyebabkan masalah untuk orang-orang!”
Aku mengerti perasaan dendam Yukimura. Karuizawa memang pembuat onar. Yukimura, yang tampaknya kelelahan karena peristiwa itu, pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku berdiri sendirian di tangga darurat dan memikirkan Karuizawa. Pemimpin gadis-gadis Kelas D telah menunjukkan sisi lain dari dirinya yang rentan. Namun, ancaman itu tidak membuatnya takut; dia ketakutan karena alasan lain.
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar