-->
Loading...

iklan adsense

Volume 4 Chapter 3 Intro “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia

Released on September 18, 2021 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Volume 4 Chapter 3 Intro “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, Streaming Volume 4 Chapter 3 Intro “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 4 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!

CHAPTER 3
Pertanyaan Dua Laras

INTRO

“Kamu bercanda, kan?”

Hal pertama yang keluar dari mulut Horikita terdengar seperti tuduhan yang kejam. 

“Sayangnya, itulah kebenarannya. Kouenji baru saja mengakhiri ujian untuk kelompoknya.” kataku. 

“Kamu itu idiot, ya? Kenapa kamu tidak menghentikannya? Bukankah itu tanggung jawabmu sebagai teman sekamarnya?” dia bertanya. 

“Itu tugas yang mustahil. Selain itu, tidak ada yang bisa kulakukan tentang itu sekarang. Tidak ada gunanya menangisi susu yang sudah tumpah.” 

Tindakan pengkhianatan Kouenji telah terdengar di seluruh kapal, dan tentu saja kelas menjadi gempar. Meskipun kemarin kami chattingan, Horikita ingin bertemu tatap muka hari ini. Dia tampak tidak yakin dengan kata-kataku, karena dia masih menggelengkan kepalanya. 

“Saat aku bertemu dengannya lain kali, aku akan menegurnya sendiri. Aku akan membuatnya menyesal.”

“Kau sudah tahu kalau itu tidak ada gunanya, kan? Dia tidak akan mendengarkan. Dia hanya akan membingungkanmu dan membuang-buang waktumu. Kau akan sakit kepala. Untuk saat ini, kita harus konsentrasi pada kelompok kita sendiri.” 

Dia akan terus menyalahkanku tentang Kouenji karena dia adalah teman sekamarku. Aku memutuskan untuk mengubah topik pembicaraan. 

“Memang benar bahwa kelompokku dipenuhi dengan lawan yang merepotkan, tapi aku tidak ada niat untuk kalah.” kata Horikita. 

Dia memiliki tekad baja. Yah, kurasa aku harus menyerahkan masalah ini padanya. Aku punya masalah sendiri, khususnya dengan Ichinose dan yang lain yang diam-diam dikirim oleh Hoshinomiya-sensei untuk memata-mataiku. 

“Begini. Kau kan seorang gadis, kurang lebih. Aku ingin tanya sesuatu padamu.” kataku. 

“Aku benar-benar tidak suka caramu mengatakan itu. 'Kurang lebih'? Aku ini memang seorang gadis.”

Horikita telah salah paham dengan apa yang kumaksud. Dia tampak tidak puas, dan berpaling dariku. 

“Oh, eh, bukan itu maksudku yang sebenarnya. Maksudku ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu, sebagai seorang gadis.” 

Karena dia mungkin akan lebih marah bagaimanapun aku mengatakannya, aku langsung to the point. 

“Aku ingin informasi tentang Karuizawa.” 

Aku berencana untuk menghubungi Karuizawa, tetapi aku belum pernah berbicara dengannya sebelumnya. Jika Karuizawa memberi peringkat anak laki-laki di kelas kami, kemungkinan besar aku akan menjadi yang terakhir. 

“Kamu ingin bicara denganku tentang Karuizawa-san?” 

“Iya, benar sekali.” aku mengangguk. 

“Aku ingin tahu lebih banyak tentang orang-orang di kelompokku, tapi itu tidak mudah. Aku bisa mencari tahu apa pun yang kuperlukan dengan mudah tentang Profesor dan Yukimura, tapi aku benar-benar bingung dengan Karuizawa. Setelah ujian di pulau berakhir, Karuizawa mengundangmu untuk makan siang bersama. Benar, kan?”

“Tapi aku menolaknya. Kamu tahu itu. Aku tidak tertarik pada Karuizawa-san. Kalau kamu ingin informasi tentang dia, kenapa tidak bicara dengan Hirata-kun? Kalau dia membantumu, kamu akan dapat menghubungi Karuizawa-san dengan mudah.” 

Itu memang benar. Sayangnya, sebelum ujian, aku juga melewatkan kesempatan untuk makan siang bersama Karuizawa. Hirata mungkin mengingat itu, jadi aku tidak ingin menanyakan hal ini padanya. 

“Apa kamu pikir dia VIP-nya? Apa itu yang kamu khawatirkan?” tanya Horikita. 

“Itu juga. Tapi lebih dari itu, aku tidak mengerti dengan perilaku Karuizawa. Itu sebabnya aku khawatir.” 

“Yah, itu bukan urusanmu, kan? Selain itu, perilakunya tidak masuk akal. Kupikir itu hanya akan buang-buang waktu.” balasnya. 

“Horikita, menurutku tidak baik mengabaikan seseorang seperti itu.” 

“Mengabaikan? Apa maksudmu?”

“Kau dan Karuizawa tidak akur sama sekali karena kalian berdua keras kepala, jadi kau melihatnya sebagai sebuah gangguan. Kau mengerti kan kalau dia mungkin juga punya peran penting?” 

Dia punya peran penting? Aku tidak bisa membayangkannya. Bukankah dia itu cacat?”

Dalam hal kerja sama, Horikita mungkin berada di level yang sama atau bahkan lebih buruk dari Karuizawa. 

“Waktu kau pertama kali melihat seseorang, kau membuat penilaian berdasarkan penampilan. Kau mungkin menentukan apakah seseorang itu keren atau imut, misalnya. Pada dasarnya, kau membaca orang. Sebut saja kesan pertamamu; itu cukup sederhana. Selanjutnya, kau mempelajari sifat mereka melalui percakapan dan melihat mereka beraksi. Kau akan melihat apakah mereka ramah, suka berperang, pasif, dll.” 

Horikita menyilangkan tangannya, bertingkah seolah kata-kataku sudah jelas. Dia menungguku untuk melanjutkan. 

“Tapi itu masih sama dangkalnya dengan penampilan luar mereka. Pikiran terdalam mereka tidak akan langsung terlihat dari itu. Contohnya, Kushida, Ibuki, atau bahkan aku. Ada perbedaan antara luar dan dalam diri seseorang.” 

“Jadi Karuizawa memiliki rahasia yang tersembunyi di dalam dirinya?” 

“Hampir semua orang memilikinya. Mereka sendiri mungkin tidak menyadarinya. Kamu juga.” 

Setiap kali dia bertatap muka dengan kakaknya, dia mengekspos kerapuhannya. 

“Aku masih belum sepenuhnya yakin. Tapi, kurasa kamu akan tahu lebih banyak tentang dia kalau menghabiskan waktu bersama.” katanya. 

Tentu saja, itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. 

“Jadi, peran penting apa yang dimiliki Karuizawa-san?” tanya Horikita. 

“Aku masih tidak bisa mendeskripsikannya, tapi sejauh yang kutahu dia itu memiliki kemampuan untuk mengambil kendali. Dia bisa mengambil inisiatif. Faktanya, posisinya di Kelas D tak tergoyahkan.” 

Namun, dalam kelompok Kelinci, kemampuannya itu tidak dia gunakan, itulah mengapa aku perlu mengungkap sifat asli Karuizawa secepat mungkin. 

“Oke. Katakanlah argumenmu itu benar, dan dia memiliki kemampuan itu. Lalu, apa yang ingin kamu lakukan? Apa kamu akan menjadikannya rekanmu, juga?” tanya Horikita. 

“Hmm, aku harus memikirkannya.”

Selagi aku berpikir tentang bagaimana aku akan menjawab, Ryuuen mendekati kami. 

“Hei, kalian berdua. Sedang kencan di tempat teduh, ya? Biarkan aku ikut bersenang-senang.” 

Dia tidak bersama Ibuki, rupanya. Dia mendekati kami, memperlihatkan senyumnya yang menyeramkan. 

“Sepertinya kamu punya banyak waktu luang. Bukannya aku peduli, tapi tidak ada apa-apa untukmu di sini.” kata Horikita. 

“Akulah yang akan memutuskan itu. Jadi, apa kau sudah memutuskan bagaimana caramu menemukan VIP?” dia bertanya. 

Ryuuen duduk tanpa repot-repot meminta izin. 

“Apa pun rencanaku, aku tidak berniat memberitahumu.” kata Horikita. 

“Sayang sekali. Aku ingin mendengar pendapatmu. Tapi, sepertinya kau belum membuat kemajuan sama sekali dalam pencarianmu.” 

“Itu hal yang menarik untuk dikatakan. Apa kamu ingin bilang kalau kamu tahu siapa VIP-nya?” 

Ryuuen sedikit menyeringai pada Horikita, seolah mengharapkan dia untuk mengungkapkan ketidakpercayaan. 

“Aku sudah mulai menemukan identitas VIP itu. Apa kau akan percaya padaku kalau aku mengatakan itu padamu?” 

“Tidak. Kamu tidak punya dukungan seperti Ichinose-san dan Katsuragi-kun. Kamu hanya punya musuh. Kurasa kamu tidak punya informasi yang dapat diandalkan.” balasnya. 

“Yah, kau benar. Aku memang bukan orang yang mencari banyak teman, tapi berteman itu tidak ada hubungannya dengan upayaku dalam mengumpulkan informasi.” 

Dia berbicara seperti seorang guru yang menegur muridnya karena tidak mendapatkan jawaban yang benar. 

“Sayangnya untukmu, aku sudah mengerti dasar dari ujian ini. Tergantung keadaannya, Kelas C akan menang.” 

“Tidak, kamu tidak mungkin...”

Tidak, apa yang dia katakan mungkin benar. Pada intinya sekolah selalu menciptakan ujian dengan hukum atau aturan dasar. Itu dapat dilihat dari ujian tengah semester, ujian akhir, dan bahkan ujian di pulau. Jika kau mengerti logika di balik aturan itu, menang bukanlah hal yang mustahil. Ujian ini kemungkinan besar tidak jauh berbeda. Ryuuen pasti menyadari itu. 

“Ini masalah yang sangat sederhana. Yang perlu kau lakukan adalah mencari tahu dari kelas mana VIP itu berasal. Kemudian, langkahmu selanjutnya adalah menganalisis kelompok.” kata Ryuuen.

“Begitu, ya. Siapa pun bisa memikirkan itu. Tapi apa mereka akan menjawabnya dengan jujur? Jika sekolah memiliki aturan yang menjamin anonimitasmu, yang perlu mereka lakukan adalah berbohong dan mendapat 500.000 poin, kan?” balas Horikita. 

Ryuuen tampak tenang dalam menghadapi keraguan Horikita. 

“Kau cuma harus memastikan itu adalah situasi di mana seseorang tidak bisa berbohong.” kata Ryuuen. 

“Di mana seseorang tidak bisa berbohong?”

“Aku mengambil ponsel semua orang. Jadi kalau seseorang membohongiku, yang harus kulakukan adalah memeriksa email semua orang, satu per satu.” kata Ryuuen. 

“Apa kamu tidak waras? Sekolah tidak mengizinkan itu. Kalau kamu ketahuan, kamu akan dikeluarkan.” bentak Horikita. 

“Sebenarnya itu bukan masalah sama sekali. Aku di sini karena itu bukan masalah. Apa kau mengerti maksudku?” 

Itu adalah metode kekerasan yang hanya bisa dia lakukan, karena dia adalah seorang diktator. Jika dia dengan paksa melihat ponsel siswa lain, maka Ryuuen akan dihukum. Namun, bahkan jika Ryuuen mengamuk di Kelas C, dia percaya bahwa tidak ada yang akan mengajukan keluhan terhadapnya. Dan jika tidak ada seorang pun yang melapor ke sekolah, itu berarti mereka memberinya izin. 

Ketenangan Ryuuen membuktikan bahwa apa yang dia katakan itu benar—bahwa dia beroperasi mengikuti aturan. Strateginya adalah dengan paksa menelanjangi semua rahasia Kelas C. Bagaimanapun, jika apa yang dia katakan itu benar, maka Ryuuen telah mengidentifikasi 3 VIP. Itu adalah langkah besar untuk menyelesaikan ujian ini. 

Itu sebanding dengan kuis di mana kau bisa membalik halaman dan menemukan jawaban yang tertulis di belakang. Jika kau tidak membalik halaman, tidak ada yang akan tahu jawabannya, tetapi jika kau membaliknya sedikit, kau bisa memata-matai jawabannya. Dengan kata lain, Ryuuen mungkin tahu identitas VIP setiap kelas. 

“Sepertinya kau akhirnya mengerti.” 

“Ya. Tapi kamu belum dapat jawabannya. Kalau sudah, kamu pasti sudah mengirim email ke sekolah.” jawab Horikita. 

“Mungkin aku hanya bermain-main?”

“Kamu tidak tahu kapan orang lain akan mengetahuinya. Kamu seharusnya tidak bersantai-santai.” bentak Horikita. 

Dia tidak punya bukti, tapi Horikita mungkin benar. Jika dia sudah tahu jawabannya, tidak ada gunanya menunda hasilnya. Dia seharusnya langsung mengakhiri ujiannya. 

“Kalau begitu. Bagaimana jika aku mencapai skakmat?” kata Ryuuen. 

“Ryuuen-kun. Selagi kamu di sini, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Kemarin ujian kelompok Monyet berakhir. Apa pendapatmu tentang itu?” tanya Horikita. 

“Aku tidak memikirkannya sama sekali. Aku tidak terlalu peduli dengan orang yang tidak penting. Sampai ketemu lagi, Suzune.” 

Ryuuen pergi. Kata-kata perpisahannya membuatku bertanya-tanya apakah dia berencana melaporkan ini secara rutin. Horikita menyeringai. 

“Aku tidak tahu berapa banyak dari ucapannya yang benar.” kata Horikita. 

Selagi kami diam, kami mengintip ke bawah kursi yang Ryuuen duduki tadi. Di bawah kursi ada sebuah ponsel yang diatur untuk merekam audio. Satu pesan chat telah dikirim ke ponsel itu. Tidak ada suara karena ponsel telah disetel ke mode senyap. Aku tidak bisa melihat semua yang ada di layar karena sudutnya, tapi aku langsung membuat kata-kata .....

“Maaf untuk yang kemarin!”

Mungkin ada semacam drama di kelas mereka? Aku tidak ingin mengambil risiko dengan terus melihat, jadi aku duduk tegak kembali. Horikita cepat mengerti, mengeluarkan ponselnya sendiri, dan mengirimiku pesan singkat: 

[Jika ponsel itu miliknya, kita tidak boleh bicara sembarangan.]

Yah, Horikita tidak salah, tetapi siapa yang tahu jawaban benarnya? Ini sulit, tetapi juga akan mencurigakan kalau kami diam saja. 

“Apa menurutmu yang dikatakan Ryuuen itu benar? Tentang mencari tahu VIP dari setiap kelas.” kataku. 

Horikita tampak bingung sejenak. Namun, dia sepertinya cepat menangkap apa yang kumaksud. 

“Entahlah. Aku tidak 100% yakin. Tapi ... ada kemungkinan. Kurasa kita tidak bisa meneruskan ujian ini lebih lama lagi.”

“Kedengarannya seperti hal-hal yang sulit bagimu.” kataku. 

“Aku punya banyak pekerjaan yang harus kamu lakukan. Aku ingin kamu menemukan VIP kelompok sesegera mungkin.” kata Horikita. 

“Mudah bagimu untuk mengatakannya. Toh bukannya aku bisa menemukan mereka.” 

“Aku tidak akan berharap terlalu banyak darimu. Aku hanya ingin informasi tentang kelompok Kelinci.” 

Percakapan kami hanya menyoroti kemampuan Horikita dan ketidakmampuanku. Dengan begitu, kecurigaan mungkin akan dijauhkan dariku. Bagaimanapun, Ryuuen menggunakan ponselnya sendiri untuk mencoba mencari tahu lebih banyak. Dia mencari apa saja yang bisa dia dapatkan. 

“Kalau kau tidak berharap terlalu banyak, aku akan melakukan apa yang kubisa.” jawabku. 

Tanpa berkata apa-apa lagi, Horikita bangkit, berjalan ke lift, dan pergi. Haruskah aku kembali ke kamarku? Atau haruskah aku membuat strategi untuk memenangkan ujian? Aku meninggalkan ponsel Ryuuen dan berjalan pergi. Akhirnya, aku memutuskan untuk kembali ke kamarku. Aku bisa belajar lebih banyak informasi rinci tentang kelompok Horikita dari Hirata, kurang lebih. Dan juga, Hirata kemungkinan akan mengatasi ujian ini dari perspektif yang berbeda dari Horikita. 

Namun, Hirata tidak ada di kamar saat aku masuk. Aku hanya melihat Yukimura. Dia duduk di tepi tempat tidur, tampak serius. 

“Ada apa?” aku bertanya. 

Bagaimanapun, dia adalah teman sekamarku, jadi aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Yukimura memperhatikanku, tapi dia tidak merespon. Dia menghela nafas pelan dan menggumamkan sesuatu ke dirinya sendiri. 

“Ya ampun, kenapa kita terjebak dengan kelompok ini? Kenapa aku sekelompok dengan Karuizawa dan Sotomura? Kita tidak bisa menang.” gumamnya. 

“Kenapa tiba-tiba kau mengatakan itu?” aku bertanya. 

“Apa kau belum dengar? Ada desas-desus yang beredar yang mengatakan bahwa sekolah menggunakan pedoman untuk membuat kelompok. Saat kudengar kalau semua siswa unggul dimasukkan ke dalam kelompok Naga, aku tahu itu benar.” jawabnya. 

Jadi itulah yang dia cemaskan. Memang benar bahwa kelompok Naga beranggotakan siswa yang terbaik dari yang terbaik. Mempertimbangkan percakapan yang kudengar dari para guru dan apa yang dikatakan Ryuuen, tidak ada keraguan. Berdasarkan kemampuan akademik, Yukimura tentu saja tidak kalah dengan Hirata maupun Horikita. Dia mungkin tidak puas karena ditempatkan di kelompok Kelinci.

Yukimura tidak menyebutkan nama orang tertentu, tetapi ketika dia menatapku, jelas dia sedang memikirkan Horikita. Sayangnya, aku tidak bisa membantunya. Selagi aku terus mendengarkannya, aku kembali ke tempat tidur dan berbaring menyamping. Kurasa aku akan tidur siang sampai Hirata kembali. 

Sayangnya, aku merasakan tatapan yang tidak menyenangkan yang diarahkan padaku. Yukimura menatapku curiga. 

“Ayanokouji. Kau bukan VIP, kan?” dia bertanya. 

“Bahkan jika aku menyangkalnya dan mengatakan kau salah, apa gunanya menanyakan itu?” 

“Kerja sama sangat penting dalam ujian ini. Kita harus tahu itu. Kalau kita bekerja sama, kita tidak akan kalah.” 

“Begitu, ya. Sayangnya, aku bukan VIP.” 

“Apa kau yakin? Kau tidak egois dan mencoba menimbun poin, kan?” 

Yukimura tampaknya meragukan semua orang sebagai suatu peraturan, ini tidak mengejutkanku. 

“Aku bukan VIP. Bisakah aku percaya kalau kau bukan VIP, Yukimura?” 

“Ya, tentu saja. Aku bukan VIP. Begitu juga Sotomura.”

Itu seperti jabat tangan rahasia, kontrak sihir antara sekutu. 

“Aku juga sudah memeriksanya dengan Karuizawa. Dia bilang kalau dia bukan VIP, tapi bukan berarti aku percaya padanya.”

Yukimura biasanya menunjukkan penghinaan terhadap Karuizawa, jadi dia cenderung tidak percaya apa yang Karuizawa katakan. Dia pasti tahu yang sebenarnya jika dia memeriksa ponsel Karuizawa, tetapi mengingat bahwa mereka memiliki hubungan yang lemah, itu akan sulit. Bisa dikatakan hubungan mereka adalah perwujudan dari "pagar yang bagus membuat tetangga yang baik." Mereka menjaga jarak. Mereka tidak akan memamerkan nasib baik satu sama lain.

Yukimura tampak puas untuk saat ini, karena dia tidak menekan masalah ini lebih jauh. Aku membenamkan kepalaku di bantal dan memejamkan mata. Aku tidak bisa benar-benar bersantai saat ada orang lain di ruangan itu, tetapi bukan berarti itu tidak nyaman. Ketika aku fokus untuk mencoba berteman, aku bisa beradaptasi seperti bunglon, dan sepertinya Yukimura mulai terbuka denganku. 

Aku tertidur lelap, diselingi oleh desahan Yukimura sesekali.

~ Bersambung ~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢