-->
Loading...

iklan adsense

Volume 4 Chapter 2 Part 6 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia

Released on September 18, 2021 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Volume 4 Chapter 2 Part 6 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, Streaming Volume 4 Chapter 2 Part 6 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 4 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!

CHAPTER 2
Sederet Keinginan yang Tak Terbatas

PART 6

Langit berbintang terbentang di hadapanku sejauh mata memandang. Aku berkeliling di geladak, merasa takjub. 

“Wow, itu luar biasa.” 

Pemandangannya lebih indah dari yang pernah kulihat di film atau di dalam buku. Itu adalah jenis langit yang tidak bisa dilihat di kota besar. Ada beberapa pasangan yang berpegangan tangan, menatap bintang-bintang dengan mesranya. Aku merasa sedikit kesepian. Karena hampir tidak ada cahaya, aku tidak bisa melihat wajah mereka, tapi aku tidak terlalu peduli. Aku tidak tertarik pada romansa orang lain. 

Tetapi di antara semua pasangan itu, ada satu siswa yang melihat ke langit berbintang sendirian. Dilihat dari siluetnya, itu adalah seorang gadis.

Aku tidak bisa begitu saja menghampirinya dan mengatakan sesuatu seperti, “Maukah kau melihat bintang-bintang bersamaku?” aku mungkin akan terdengar seperti pick-up artis. Selain itu, jika pacarnya datang dan menghampirinya ketika aku sedang berbicara dengannya, itu akan menjadi buruk. Tapi sebagian dari diriku tertarik untuk mengetahui identitasnya. Aku mencoba mendekat sedikit. 

Gadis itu menoleh ke arahku. 

“Hah? Oh, Ayanokouji ... kun?” 

“Suara itu... Kushida?” 

Kushida melangkah keluar dari bayang-bayang. Dia menatapku dengan ekspresi kaget. 

“Apa kau sendirian?” aku bertanya. 

Mungkin dia sedang menunggu untuk bertemu dengan pacarnya. Membayangkannya saja sudah membuat dadaku sesak dan sakit. 

“Iya. Sepertinya aku tidak bisa tidur.” 

“Be-Begitu, ya.” jawabku. 

Nah, sekarang aku tahu dia tidak sedang berkencan di bawah cahaya bintang ini. Dalam hal ini, kupikir dia tidak keberatan, jadi aku mendekat. Kushida mengenakan kaus. Dia pasti baru saja keluar dari kamar mandi, karena dia berbau harum. Kukira itu aroma dari sampo gratis yang disediakan di kamar tamu, tapi ternyata bukan. Sungguh misterius.

“Apa kau tidak kedinginan?” aku bertanya. 

“Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu, Ayanokouji-kun? Apa kamu sendirian?” 

Aku mengangguk. Saat aku melakukannya, Kushida tertawa bahagia. 

“Jadi kita berdua sendirian? Aku akui, aku merasa sedikit malu sendirian. Ini membuatku merasa lebih baik.” 

“.........” 

Aku seharusnya mengatakan satu kalimat yang cerdas. Tapi aku tidak bisa. Selain itu, berduaan dengan Kushida di tempat yang banyak pasangan membuat detak jantungku berdebar. Namun, jauh di lubuk hatinya, Kushida pasti berpikir bahwa dia sangat membenci ini. 

“Yah, aku akan kembali.” kataku. 

“Kamu sudah mau pergi?” 

“Aku mulai ngantuk.” 

Itu bohong. Aku sama sekali tidak ingin tidur. 

“Begitu, ya. Yah, sampai jumpa besok. Selamat malam, Ayanokouji-kun.” 

“Selamat malam, Kushida.” 

Aku berbalik dan mulai mundur dengan menyedihkan. 

“Tunggu!”

Tanpa diduga, Kushida melingkarkan tangannya di dadaku. Bahkan di tempat yang sedingin ini, aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya.

“Ku-Ku-Ku... Kushida? A-Ada apa?”

Tentu saja, aku benar-benar bingung. Wajar jika aku panik. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. 

“.........” 

Tapi Kushida tidak langsung menjawab. Dia akhirnya menjawab dengan suara pelan. 

“Maafkan aku. Aku... Aku hanya merasa sangat kesepian.” bisiknya. 

Kata-katanya memukulku dengan keras, seperti seorang petinju yang memukulku tepat di rahang. Aku merasa pusing. Kushida membenamkan wajahnya di dadaku selama beberapa detik, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kemudian dia menarik diri, bingung, seolah-olah terlepas dari mantra.

“Ma-Maaf. Aku, um... Maaf sudah memelukmu tiba-tiba, Ayanokouji-kun. Selamat malam!” dia tergagap. 

Aku tidak bisa melihat wajah Kushida dengan jelas dalam kegelapan, tapi mungkin wajahnya sedikit memerah. Kushida dengan cepat bergegas pergi sebelum aku bisa berbicara. Aku berdiri di sana, menyentuh dadaku, merasakan kehangatan yang tersisa. Aku sudah tidak bisa tidur, dan setelah semua itu, aku tidak bisa kembali ke kamarku begitu saja. Aku memutuskan untuk berkeliling di sekitar kapal sebelum kembali. 

“Sekarang aku sudah tenang, aku jadi haus.”

Seharusnya ada beberapa mesin penjual otomatis di lantai 1, jadi aku memutuskan untuk menuju ke sana. Tetapi ketika aku sedang berjalan, aku menemukan tiga orang yang tidak biasa: Chabashira-sensei; Wali Kelas B, Hoshinomiya-sensei; dan Mashima-sensei dari Kelas A. 

Para guru sedang bersantai di sofa. Area itu secara teknis tidak dibatasi untuk siswa, tetapi karena hal-hal seperti izakaya dan bar tidak terbuka untuk kami, tidak ada yang datang. Aku mengambil rute ini hanya untuk melihat pemandangan yang berbeda, tetapi aku telah tersandung pada sebuah peluang. Aku menyembunyikan diri dan mendekat. 

“Kalian tahu, sudah lama sejak kita bertiga berkumpul bersama.” 

“Inilah yang namanya takdir. Setelah mencoba dari satu hal ke hal lainnya, pada akhirnya kita bertiga memilih kehidupan sebagai seorang guru.” 

“Sudah cukup. Tidak ada gunanya membicarakan itu.”

“Ah, itu mengingatkanku. Tempo hari kamu berkencan, bukan? Kamu punya pacar baru, ya? Mashima-kun, kamu ternyata playboy ya. Kupikir kamu itu tipe yang pendiam dan tidak ramah. 

“Chie, apa yang terjadi dengan pria yang bersamamu?”

“Ah ha ha! Kami putus dua minggu lalu. Aku ini tipe cewek yang memutuskannya begitu hubungan mulai serius.” kata Hoshinomiya-sensei. 

“Biasanya laki-laki yang melakukan itu.”

“Ah, tapi aku tidak akan pernah melakukan itu padamu, Mashima-kun. Lagipula, kamu itu sahabatku. Aku tidak ingin merusak persahabatan kita.” 

“Santai saja. Aku tidak khawatir tentang itu.”

“Sungguh mengejutkan.”

Hoshinomiya-sensei menuangkan wiski ke dalam gelas kosong. Dia menghabiskannya dalam satu tegukan. Dia pasti peminum berat. Di sisi lain, Chabashira-sensei menyesap minumannya seperti koktail. 

“Apa yang kau rencanakan, Chie?”

“Hah? Apa yang kamu bicarakan? Memangnya apa yang kulakukan?” 

“Sudah menjadi hal yang wajar untuk menempatkan semua perwakilan kelas ke dalam kelompok Naga, bukan?” 

"Aku tidak main-main, kok. Memang benar bahwa sejauh nilai dan sikap yang terlihat, Ichinose-san adalah nomor satu. Tapi, tempat sejati seseorang dalam masyarakat tidak dapat diukur dengan angka saja. Aku memutuskan bahwa dia membutuhkan tantangan. Dan selain itu, kelinci itu sangat lucu, bukan? Cara mereka melompat-lompat. Bukankah itu cocok untuk Ichinose-san?” tanya Hoshinomiya-sensei. 

“Kuharap kau benar.”

“Kupikir yang kau katakan itu masuk akal, Hoshinomiya, tapi apa sebenarnya tujuanmu?” 

“Kami tidak ingin kau mendasarkan penilaianmu pada dendam pribadi.”

“Oh, apa kamu masih membicarakan tentang apa yang terjadi 10 tahun yang lalu? Kupikir itu semua sudah terlupakan.” 

“Entahlah. Maksudku, bicaramu kemana-mana. Kau tidak pernah puas sampai kau berada satu langkah di depan. Itu sebabnya kau memasukkan Ichinose ke dalam kelompok Kelinci, bukan?” 

“Aku benar-benar berpikir kalau Ichinose-san perlu belajar, jadi aku tidak memasukkannya ke kelompok Naga, tahu? Ngomong-ngomong, Sae-chan, aku tidak bisa mengabaikan fakta kalau kamu sudah mulai fokus pada Ayanokouji-kun. Bagaimanapun, itu hanya kebetulan. Kebetulan, kebetulan. Ketika ujian di pulau itu berakhir dan Ayanokouji-kun jadi pemimpinnya, kamu tidak terkejut sama sekali, kan?” 

“Begitu, ya.” 

Mashima-sensei mengangguk seolah yakin akan sesuatu. Namun, dia kemudian dengan tegas menegur Hoshinomiya-sensei. 

“Tidak ada aturan yang menentang hal ini, tapi biar kuperjelas. Berhentilah memata-matai kelas lain.” 

“Agh, sepertinya kamu tidak mempercayaiku sama sekali. Yah, aku bukan satu-satunya yang harus disalahkan. Sakagami-sensei juga begitu. Jika kita mengevaluasi siswa Kelas C dengan benar, seharusnya siswa lain yang ditempatkan di kelompok Naga. Tapi dia justru memasukkan Ryuuen-kun ke kelompok itu.”

“Itu memang benar. Mereka bukanlah angkatan yang biasa. Para siswa tahun ini kelihatannya agak istimewa.” 

Dengan informasi yang baru kutemukan ini, sudah waktunya bagiku untuk kembali. Jika aku tinggal lebih lama, aku mungkin akan ketahuan. Karena sekarang aku sudah mengerti bahwa Ichinose dikirim untuk memata-mataiku, pengintaian ini sudah cukup. Rupanya aku sedang berada di bawah pengawasan ketat.

~ Bersambung ~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢