-->
Loading...

iklan adsense

Volume 4 Chapter 2 Part 4 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia

Released on September 17, 2021 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Volume 4 Chapter 2 Part 4 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, Streaming Volume 4 Chapter 2 Part 4 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 4 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!

CHAPTER 2
Sederet Keinginan yang Tak Terbatas

PART 4

Karena hanya Kelas A yang dijanjikan naik ke tingkat pendidikan atau pekerjaan yang lebih tinggi setelah lulus, kami tidak akan pernah mendapatkan kerja sama mereka. Kelas B dan D telah bergandengan tangan untuk mengalahkan Kelas C dan A, jadi Kelas C dan A sepertinya membentuk aliansi untuk mengalahkan kami sebagai balasannya. Apa yang akan terjadi ketika semua kelas berperang? Itu akan berbahaya, seperti menempatkan binatang karnivora dan herbivora dalam satu kandang. Hampir mustahil untuk mengatur kelompok seperti itu. Jika orang dengan karakter yang kuat seperti Hirata dan Ichinose memimpin, itu mungkin berhasil. Meski begitu, itu akan sangat menantang. 

Kelas A juga tidak berpartisipasi dalam diskusi sesi 2. Tentu saja, dengan absennya satu kelas, kami tidak bisa berbicara terus terang, jadi kami harus menghabiskan waktu. Aku tertarik dengan bagaimana siswa dari kelas lain akan bertindak, tetapi ketidakstabilan sudah membuat semua orang menahan napas. Kami semua sangat waspada sehingga tidak mungkin untuk terus terang. 

“Yah, ini kedua kalinya kita berkumpul seperti ini. Tidakkah menurut kalian kita harus memulai percakapan yang terbuka dan terus terang? Kita masih akan bertemu lagi.” Ichinose beralasan. 

Tentu saja, Ichinose memimpin dan membuat segalanya bergerak. Dia menginginkan perdamaian. Hamaguchi dan siswa Kelas B lainnya juga persis seperti itu. Mereka siap untuk membuat aliansi tanpa keraguan. Itu seperti yang Hirata lakukan. Mereka mirip, tapi tetap saja berbeda. Ichinose dan teman-temannya tentu berusaha untuk kemenangan Kelas B. 

Terakhir kali, orang-orang di kelompok kami banyak bacot, tetapi sekarang segalanya telah berubah. Suasananya sangat suram. Semua orang seperti berada dalam bayangan dan sangat waspada. Namun, ketiga siswa Kelas A tidak terganggu sama sekali, dengan bebas memainkan ponsel mereka. Lagipula, tidak ada aturan yang menentang menghubungi kelompok lain. Mereka bahkan asyik menelpon. 

Yah, pepatah lama itu benar: yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Kelas A memenangkan kompetisi antar kelas dengan telak, jadi mereka tidak punya alasan untuk khawatir. Kupikir kekalahan mereka selama ujian di pulau akan mengubah sikap mereka, tetapi Katsuragi menyuruh mereka mempertahankan citra tenang mereka. Itu adalah strategi yang sangat efektif.

Bagaimanapun, tidak akan mudah bagi serigala penyendiri sepertiku untuk meruntuhkan dinding Kelas A. 

“Kupikir kita tidak butuh terobosan sekarang, tapi kita butuh diskusi. Kelas A mungkin akan melepaskan diri dari ujian ini, tapi kupikir kita perlu menemukan VIP.” kata Yukimura. 

Kata-kata Yukimura membantu memotivasi kami. Jika VIP ada di kelas lain, kami tidak bisa membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja. Atau mungkin dialah targetnya, dan Yukimura menyarankan ini sebagai upaya kamuflase. 

“Tapi apa kita benar-benar bisa menemukan VIP hanya dengan berdiskusi? Kupikir itu tidak bisa. Hanya saja, seolah, ujian ini sangat tidak adil. Ini terlalu sulit. VIP punya keuntungan yang terlalu banyak.” kata Karuizawa. 

“Aku mengerti, Karuizawa-san. Tapi bukankah itu tergantung pada sudut pandangmu? Maksudku, ujian di pulau itu juga mengejutkan bagi siswa.” kata Yukimura. 

“Mengerutkan?” Karuizawa tampak bingung. 

“Mengerutkan? Serahkan padaku! Itu keahlianku. Aku bersemangat!” teriak Profesor. 

Tidak, pikirku. Tidak, dia bilang "mengejutkan," bukan "mengerutkan." 

“Kalian tahu, hidup di kapal ini sangat menyenangkan, bukan? Meskipun kita harus berkumpul dua kali sehari, kita masih bebas untuk mengobrol dan menggunakan ponsel. Ini tidak seperti saat belajar di kelas.” kata Ichinose. 

“Yah, begitulah. Ini memang sangat menyenangkan.” kata Karuizawa. 

“Iya, kan? Jadi, itu sebabnya kita harus lebih santai. Kita harus bicara seperti seorang teman. Tidakkah menurut kalian sulit, memasang dinding seperti itu? Machida-kun dan yang lainnya selalu terlihat sangat tegas, tahu?” 

Ichinose ada benarnya. Ini semua adalah masalah persepsi. Jika kau tetap positif, ujian akan lebih mudah. 

Machida, yang dari tadi mendengarkan optimisme Ichinose, tertawa kecil. 

“Kau bebas melakukan apa pun yang kau inginkan, tapi kau mungkin tidak akan menemukan VIP-nya. Aku tidak tahu siapa VIP di kelompok kita, tapi jika VIP itu tidak berbagi informasi, dia mungkin akan mencari cara supaya mendapat poin untuk dirinya sendiri. Dia mungkin sengaja bersembunyi. Selain itu, bisa jadi VIP-nya ada di Kelas B, kan? Bagaimana bisa kau mempercayai orang-orang ini?” Machida bertanya.

Dia mencoba mengguncang kami semua. 

“Tapi tidak bisakah aku mengatakan hal yang sama padamu, Machida-kun? Bisakah kamu mempercayai rekanmu?” tanya Ichinose. 

“Tentu saja aku bisa.”

Machida menatap siswa di sebelahnya, namanya Morishige. Namun, dia dengan cepat fokus lagi pada Ichinose, memproyeksikan ketenangannya, citra seorang siswa Kelas A. 

“Kami tidak punya alasan untuk repot-repot mencari VIP. Kami punya lebih dari 100.000 poin yang disetorkan ke akun kami setiap bulan. Tidak ada seorang pun di kelas kami yang akan berbohong hanya untuk mendapat 500.000 poin.” 

“Benarkah? Kamu tahu apa yang mereka katakan: Lebih baik mencegah daripada mengobati. Apa kamu mencoba memberitahuku bahwa tidak ada seorang pun di kelasmu yang mau poin tambahan? Lagian sekolah tidak akan terganggu jika kamu mendapat banyak poin.” jawab Ichinose. 

“Itu bodoh. Teruslah berkhayal. Kau cuma melakukan hal yang sia-sia.” 

Ichinose tersenyum pada Machida. Meskipun Machida mengatakan bahwa dia tidak akan berpartisipasi dalam diskusi, dia tetap mengambil umpan Ichinose. Jika dia mulai berbicara, kami mungkin bisa mengeluarkan informasi darinya. Dengan menggunakan Yukimura dan Karuizawa, Ichinose mulai mengumpulkan informasi. Satu-satunya masalah adalah, kapan Machida akan menyadari taktiknya? 

Karuizawa menghela nafas dan kembali mengutak-atik ponselnya. Meskipun tidak ada aturan yang melarang penggunaan ponsel selama ujian, tapi melakukannya saat kami mencoba menemukan VIP itu agak tidak sopan. Atau mungkin dia seperti CIA atau FBI, berkomunikasi dengan Hirata secara real time sehingga dia bisa mendengarkan percakapan kami? Aku akan memujinya jika itu benar, tetapi mungkin bukan begitu. 

Tentu saja, Karuizawa biasanya tidak berusaha dengan serius dalam hal apa pun. Tapi ada yang terasa janggal. Rasanya seperti ada yang tidak beres sejak ujian dimulai. Karuizawa; reuni dengan Ibuki; menghadapi Manabe. 

Aku menyadari bahwa semua yang dia lakukan akhir-akhir ini tidak terlihat seperti Karuizawa yang "biasa". Dia adalah kehadiran yang kuat di Kelas D. Apapun reputasinya, dia dan Hirata selalu menyatukan kelas. Tapi di sini, dia bertindak seperti karakter pendukung. Dia memiliki potensi untuk memotivasi orang lain, tapi dia tidak menggunakannya. Ketika seseorang berbicara dengannya, dia akan menjawab dan kemudian segera menyusut. Hirata tetaplah Hirata, tidak peduli apa pun situasinya, dan Kushida tetaplah Kushida. Namun, sepertinya ada yang salah dengan Karuizawa.

Jika orang-orang di kelompok ini dibagi dalam tingkatan, dia akan berada di bawah Manabe dan gadis-gadis Kelas C lainnya. Mungkin itu sebabnya dia bertingkah aneh. Keraguan dan kecurigaanku perlahan muncul. 

Agar Kelas D mencapai posisi yang lebih tinggi, kami perlu membuat sistem di mana kami dapat meningkatkan poin. Dibandingkan dengan Kelas A dan Kelas B, Kelas D tidak memiliki rasa persatuan. Dan untuk alasan itulah, Karuizawa Kei tidak tergantikan. Dia mengendalikan semua gadis Kelas D. Itu sebabnya aku khawatir tentang perilakunya. Kupikir dia akan menjadi lebih agresif dan mendominasi medan tempur. 

Aku perlu menentukan apakah dia berguna atau tidak. Mengingat bahwa periode ujiannya agak singkat, aku tidak bisa berlama-lama. Aku perlu bertindak, bahkan jika itu berarti menggunakan paksaan. 

Para siswa Kelas A segera meninggalkan ruangan ketika sesi diskusi berakhir. Mereka tetap berpegang teguh pada rencana kelas mereka dan tetap diam selama empat diskusi yang tersisa. Saat Ichinose melihat para siswa pergi, dia menghela nafas berat. 

“Hmm. Kurasa ini akan sulit. Bagaimana menurutmu, Ayanokouji-kun?” 

Ichinose menoleh padaku. Dia bahkan lebih tenang, lebih jenaka, dan berpikiran jernih daripada yang kupikirkan sebelumnya. Dia menyadari bahwa aku tetap diam selama diskusi ini, tetapi tidak menempatkanku ke dalam situasi yang sulit. Jika aku adalah teman sekelasnya, aku akan naksir dia. Dia sangat menawan. Mungkin tidak hanya laki-laki di Kelas B yang jatuh cinta padanya; dia pasti memiliki pengagum dari kelas lain juga. Dia mungkin menyaingi Kushida dalam hal popularitas. 

“Sejujurnya, aku tipe orang yang hanya duduk diam. Aku hanya pengamat.” kataku. 

“Terlalu cepat untuk menyerah. Ayo bekerja keras bersama!” 

Ichinose tampak bertekad untuk melakukan yang terbaik.

“Yah, bahkan jika kita terus melakukan diskusi ini, kurasa VIP itu tidak akan menampakkan dirinya. Lebih untung baginya untuk bersembunyi, daripada ditemukan. Pada tingkat ini, prediksi skenario terburuk Kelas A mungkin akan jadi kenyataan.” kata Ichinose. 

Meskipun komentarnya terdengar negatif, dia tidak terlihat takut. Apapun yang kurasakan tentangnya, dia jelas selalu siap untuk tantangan. 

“Bagaimanapun, kita sudah selesai hari ini. Kerja bagus, kalian berdua.” 

“Tidak, kami tidak melakukan banyak hal. Baiklah, ayo kita pergi.” kata Hamaguchi. 

Perubahannya cepat. Tiga siswa Kelas B santai, hampir seolah-olah seseorang telah menekan sakelar mereka ke OFF. Aku masih tidak tahu ada apa dengan mereka. Aku masih belum mengerti apa tujuan Ichinose dan teman sekelasnya. 

Tentu saja, dia mungkin memiliki semacam strategi yang tidak bisa dia katakan pada siapa pun di luar teman sekelasnya. 

Ketika Manabe dan yang lainnya dari Kelas C berdiri untuk pergi, aku membuntuti mereka. Begitu mereka mencapai lift, aku dengan sopan memanggilnya. 

“Hei. Bisa bicara sebentar?” 

Manabe terlihat sedikit waspada, mungkin karena dia tidak mengharapkan aku akan mengejarnya. 

“Aku dengar tentang masalahmu dengan Karuizawa. Dia mendorong seseorang di kafe, kan?” 

“Ya. Kenapa memangnya?” bentak Manabe. 

Gadis-gadis ini biasanya tidak ingin mengobrol denganku, tapi topik itu tampaknya menarik bagi mereka. Ketiganya fokus padaku, seolah mereka sedang memeriksaku. 

“Aku tidak 100% yakin, tapi kurasa aku melihat Karuizawa bertengkar dengan seorang gadis dari kelas lain.” kataku. 

“Itu ... Apa kamu yakin?” tanya Manabe. 

Suaranya kaku, dan dia mendekat. Aku sedikit menyusut dan mengangguk. 

“Kupikir begitu. Aku baru saja mendapat firasat buruk ini, sih. Aku merasa seakan-akan dia bertingkah seperti orang brengsek, jadi kupikir aku harus memberitahumu.” 

Aku membuatnya tidak jelas untuk menggerakkan segalanya, kemudian aku berbalik dan kembali ke arah aku datang. Sejujurnya, aku sama sekali tidak melihat apa pun. Jika aku terus berbicara, aku mungkin akan dicap sebagai pembohong. Sekarang sekeringnya menyala, Manabe dan yang lainnya akan bereaksi. Bagaimana Karuizawa akan menanggapinya? Aku ingin tahu.

~ Bersambung ~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢