-->
Loading...

iklan adsense

Volume 4 Chapter 2 Intro “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia

Released on September 15, 2021 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Volume 4 Chapter 2 Intro “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, Streaming Volume 4 Chapter 2 Intro “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 4 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!

CHAPTER 2
Sederet Keinginan yang Tak Terbatas

INTRO

Sarapan pagi. Aku menghindari prasmanan yang populer di kalangan para siswa, dan berjalan menuju geladak kapal. Ada sebuah kafe bernama Blue Ocean, yang jarang didatangi siswa di pagi hari. Aku mengambil meja di bagian belakang dan duduk di tempat yang teduh, di mana tidak banyak orang di sekitar. Saat itu pukul 07:55 pagi. 

Hanya 1 menit sebelum waktu pertemuan yang ditentukan, orang yang aku tunggu muncul. Dia memasang ekspresi tanpa emosi, seperti biasanya. 

“Kamu datang lebih awal.”

Horikita duduk di sebelahku. Dia adalah salah satu dari sedikit orang di sekolah ini yang bisa kusebut sebagai teman. Dia sangat berbakat, dan duri bagiku, karena dia tahu sesuatu tentang hidupku yang tersembunyi. 

“Aku sudah menunggu selama 1 jam.” aku mencoba menggodanya sedikit. 

“Itu bukan masalahku, karena aku masih tiba sebelum waktu yang disepakati. Selain itu, bagaimana aku tahu kalau kamu sudah menunggu bahkan selama 10 jam atau lebih?”

Benar-benar tidak mudah untuk menggodanya. Sebenarnya, tidak ada gunanya.

Horikita tidak pandai mengobrol. Setelah aku memberinya informasiku kemarin, dia tidak bisa membalasnya. Yang dia lakukan hanyalah meminta bertemu di sini. Apakah ini semacam trik? “Jadi, apa kau sudah mendapat detail lebih lanjut?”

“Hanya semua yang sudah kamu katakan padaku. Ada 12 kelompok, dan 4 hasil. Dan juga, sekolah mengatakan kalau mereka akan mengirim nama-nama VIP melalui email pada jam 8:00 pagi hari ini. Setiap perbedaan kecil dalam penjelasan yang mereka berikan kepada kita dapat dikaitkan dengan perbedaan dalam cara guru berkomunikasi.” 

“Siapa saja yang ada di kelompokmu? Ada berapa banyak orang?” aku sudah melihat beberapa orang di kelompoknya kemarin, tapi dia pasti sudah tahu itu. 

“Daftar ini sejujurnya mengejutkan. Ini terlihat berat sebelah, aku sempat membayangkan kalau ini bukanlah kebetulan belaka.”

Horikita menyerahkan secarik kertas, ia tampak sedikit tertekan. Dia menulis ini di buku catatannya sendiri, dan telah menghafal semua nama-nama mereka. Aku mengambil daftar itu dan memeriksanya. Nama kelompoknya adalah Naga. Aku mengerti apa yang dimaksud Horikita tentang berat sebelah ketika aku melihat nama-nama itu.

KELAS A: Katsuragi Kouhei, Nishikawa Ryouko, Matoba Shinji, Yano Koharu

KELAS B: Andou Saya, Kanzaki Ryuuji, Tsube Hitomi

KELAS C: Oda Takumi, Suzuki Hidetoshi, Sonoda Masashi, Ryuuen Kakeru

KELAS D: Kushida Kikyou, Hirata Yousuke, Horikita Suzune

Pertama, siswa Kelas D, Hirata dan Kushida: Mereka berdua siswa yang unggul, bisa dibilang bahwa mereka berdua adalah perwakilan kelas kami. Jika Horikita bukanlah seorang penyendiri, dia pasti bisa mengeluarkan bakatnya yang luar biasa dan bisa saling bahu-membahu dengan keduanya. Jujur saja, mereka bertiga adalah kombinasi terkuat yang dimiliki Kelas D. 

Jika ada satu orang lagi, itu akan semakin sempurna, tapi bukan itu masalahnya. Dalam hal kemampuan terpendam, Kouenji memiliki keunggulan, tapi dia mungkin tidak akan memberikan kontribusi apapun bagi kelompok. Aku bahkan tidak tahu dia masuk kelompok mana. 

“Begitu, ya. Ini benar-benar terlihat seperti pengelompokan yang sudah diatur,” gumamku. 

Bahkan jika aku hanya membatasinya pada nama-nama yang kutahu, ada Katsuragi dari Kelas A, Kanzaki dari Kelas B, dan Ryuuen dari Kelas C. Mereka bertiga adalah perwakilan kelas. Jika kau menganggap mereka seperti pemain di kualifikasi putaran liga sepak bola, mereka adalah tim impian, dan ini adalah pertandingan maut. 

“Tapi ada sesuatu yang terasa tidak wajar,” tambahku. Aku tidak begitu mengenal banyak siswa, tapi itu agak tidak wajar bagi Ichinose untuk berada di kelompok Kelinci dan bukannya di kelompok Naga. 

“Maksudmu tentang Ichinose-san yang berada di kelompokmu, ya? Kurasa cuma siswa Kelas B yang tahu apakah dia benar-benar hebat atau tidak. Kualitas dan tingkat keunggulan dari seorang pemimpin belum tentu berbanding lurus,” kata Horikita.

“Tunggu, apa kau sedang membicarakan dirimu sendiri?” aku bertanya. 

Dia melotot, jadi aku mengalihkan pandanganku. Namun, Horikita memang ada benarnya. Kami tidak tahu detail dari kemampuan Ichinose. Bisa jadi nilai akademiknya ternyata rendah. 

“Dari apa yang bisa kita simpulkan, aku ingin tahu apakah ada metode tertentu yang sekolah gunakan untuk menyortir kita ke dalam 12 kelompok? Ayanokouji-kun, nilaimu sangat mirip dengan Karuizawa-san. Apa mungkin sekolah mengelompokkan kita berdasarkan nilai? Oh, tapi Yukimura-kun memiliki kemampuan akademik yang tinggi, dan begitu juga Kouenji-kun. Mereka berada di puncak kelas,” kata Horikita. 

Dia mempertimbangkan nilai ujian tengah semester dan nilai ujian akhir kami. 

“Tapi mungkin ada celah di antara aku dan Profesor, sama seperti kau dan Hirata. Sepertinya bukan karena nilai ujian kita.” 

Jika siswa dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan nilai, maka Kouenji seharusnya berada di atas. Tentu saja, aku setuju bahwa nilai kami juga diperhitungkan, tetapi variabel lain kemungkinan juga terlibat dalam prosesnya. Sebisa mungkin, aku ingin melihat daftar anggota kelompok lain. 

“Bagaimanapun, ini mungkin akan sulit. Mencoba untuk memimpin kelompok dan mengungguli semua orang.” 

Nah, ketika ada beberapa orang berkemampuan tinggi berkumpul, mengikutsertakan Horikita yang berpendirian kukuh tidak selalu menguntungkan. Dia dan Ryuuen sangat tidak cocok, seperti api dan air. Aku tidak suka itu; mereka pasti akan bentrok. 

Tapi jika aku mengatakan itu pada Horikita, dia mungkin akan marah. Aku memutuskan untuk tetap tenang. Namun, Horikita mungkin bisa bekerja dengan baik dengan orang yang lugas seperti Katsuragi. Mereka berdua percaya bahwa kecerdasan adalah kunci kemenangan, jadi mereka pasti bisa akur. 

“Yah, sudah waktunya,” kata Horikita. 

Begitu jam menunjukkan pukul 8:00, kedua ponsel kami berbunyi bip secara bersamaan. Kami segera memeriksa ponsel kami. Setelah kami selesai membaca isi pesan di waktu yang hampir bersamaan, Horikita menunjukkan isi pesan di ponselnya padaku. Aku melakukan hal yang sama. Kami membandingkan apa yang ada di ponsel masing-masing, mengkonfirmasi detailnya. 

“Setelah pertimbangan matang, Anda tidak terpilih menjadi VIP. Harap ingat untuk berpartisipasi sebagai pemain tim saat kelompok Anda menangani tantangan ujian ini. Ujian dimulai hari ini, dan akan diadakan selama 3 hari. Anggota kelompok Naga harus berkumpul di ruang Naga yang terletak di dek 2.”

Pesanku hampir sama dengan pesan Horikita. Tentu saja, nama kelompoknya berbeda, tetapi yang lainnya sama persis. 

“Kalau begitu, kurasa tidak satu pun dari kita berdua yang terpilih.” 

Sambil meletakkan ponsel kami, kami bergeser di kursi kami. 

“Kita bukannya tidak terpilih, tapi tidak dipilih. Aku tidak yakin apakah kita harus senang atau sedih.” 

“Ya. Kalau kau terpilih, maka kau dapat memimpin kelompokmu meraih salah satu dari 4 hasil,” aku beralasan. 

Menjadi VIP dalam ujian ini keuntungannya luar biasa. Jika kau bisa mempertahankan wajah poker dengan lihai, kau bisa dengan mudah mendapatkan 500.000 poin. 

“Meski begitu, aku tidak suka cara mereka menulisnya. Seolah-olah mereka seperti mengatakan kalau aku tidak memenuhi syarat untuk menjadi VIP.” 

Meskipun dia berada di tim impian, Horikita masih memikirkan dirinya sebagai orang yang bekerja sendiri. Itu memang sudah sifatnya. 

“Dalam ujian ini, ada perbedaan besar antara siswa yang dipilih dan sisanya. Setiap orang yang tidak terpilih harus berjuang untuk menemukan VIP. Sekolah mengatakan bahwa tidak ada kerugian, tapi itu bohong. Kecuali jika VIP ada di kelasmu, kemungkinan besar perbedaan poin antar kelas akan semakin melebar.” 

Itu memang benar. Bergantung pada bagaimana keadaannya, celah yang telah berhasil kami persempit setelah ujian pertama mungkin akan melebar lagi. 

“Pemimpin masing-masing kelompok harus memiliki sejumlah strategi yang matang. Kalau kita tidak memutuskan lebih awal tentang bagaimana kita akan bertindak, kita mungkin susah untuk bangkit lagi.” 

“Aku mengerti,” jawab Horikita. 

Dia menatapku dengan sedikit frustrasi. Aku mencoba mencari tahu bagaimana cara melawan pertempuran ini. Saat aku mempertimbangkan anggota kelompokku, dan mekanisme yang mendasari ujian ini, tujuannya mulai terbentuk. 

“Apa kamu sedang memikirkan hasilnya?” tanya Horikita, mengamati ekspresiku. Dia terdengar ragu-ragu.

“Ada beberapa hal yang belum bisa kulihat, seperti bagaimana beberapa siswa yang tak kukenal akan bereaksi. Aku tidak akan tahu sampai aku bertemu dengan mereka secara langsung. Tapi aku memikirkan cara untuk membawa kita menuju kemenangan.” 

Tentu saja, kami tidak bisa bertindak sembarangan. Aku perlu mengatur waktu gerakanku dengan benar, dan semuanya perlu diatur sedari awal. 

“Aku menantikan hasilmu,” kata Horikita. 

“Aku juga. Aku tidak sabar untuk melihat apa yang akan kau lakukan dengan kelompokmu,” jawabku. 

Tapi sesuatu tentang pesan itu masih menggangguku. “Setelah pertimbangan matang,” kata pesan itu. Pilihan kata-kata yang aneh itu bukanlah kebetulan. Mashima-sensei juga pernah mengatakan sesuatu yang berefek sama. VIP telah dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu. Ada sesuatu tentang orang-orang yang dipilih yang membedakan mereka. 

Aku tidak boleh terlalu terpaku pada ungkapan itu sekarang. Aku tahu bahwa satu orang telah dipilih dari setiap kelompok. Itu berarti ada 12 VIP. 

“Sejauh ini, siapa yang paling kamu waspadai? Berdasarkan semua hal yang telah terjadi, aku ingin tahu pendapatmu,” kata Horikita. 

Perhatian Horikita telah sedikit bergeser. Mengingat dia dimasukkan ke kelompok paling intens, itu tidak mengejutkan. 

“Ryuuen,” jawabku. 

“Itu jawaban yang cepat.” 

“Tidak ada orang lain yang menarik sih,” jawabku. 

“Bagaimana dengan Katsuragi-kun? Berkat dialah Kelas A berhasil mengamankan titik utama di pulau itu. Bukankah dia seseorang yang patut diwaspadai?”

“Tentu saja. Walaupun dia masih seorang siswa tahun pertama, kemampuannya sangat baik. Kalau kau bertanya kepadaku siapa siswa yang paling unggul, maka jawabanku adalah Katsuragi. Tapi kalau kau bertanya siapa yang kuwaspadai, maka itu adalah Ryuuen,” jawabku. 

Kelas D telah menang selama ujian di pulau itu, tidak diragukan lagi. Ryuuen gagal dalam beberapa hal. Niatnya terlalu mencolok, jadi akhirnya mudah terbaca. Namun, sepertinya Ryuuen juga telah membaca niatku. Aku tidak ingin dia menemukan fakta bahwa akulah yang bertanggung jawab atas kesuksesan Horikita di pulau itu.

“Aku ingin tahu tentang beberapa hal mengenai identitas VIP. Setelah membaca pesan itu dan memikirkannya, apa kamu menyadari sesuatu yang terdengar tidak wajar dari email yang dikirim sekolah itu? Dan juga at—” kata Horikita. 

Aku membungkamnya dengan menekan jariku ke bibirnya. Baru saja dibicarakan—sebuah bayangan muncul di hadapan kami. 

“Cuaca yang bagus ya, Suzune? Oh Kau sedang sarapan. Laki-laki ini benar-benar lengket denganmu, ya?”

Dua orang mendekati kami, masing-masing dari mereka memasang seringai yang mengganggu. Salah satu dari mereka adalah Ryuuen, orang yang sedang kami bicarakan. Orang yang satunya adalah...

“Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak memanggilku dengan nama depanku, Ryuuen-kun. Dan juga, mengingat kamu adalah seorang pengkhianat yang hanya berpura-pura menjadi teman kami, tidak kusangka kamu berani menunjukkan wajahmu, Ibuki-san.” 

Di samping Ryuuen berdiri seorang siswi, Ibuki Mio. Kepercayaan dirinya bersinar di matanya. Dia juga kebetulan berada di kelompok Kelinci, sama sepertiku. 

“......” 

Ibuki sepertinya sedikit sedikit kesal dengan provokasi Horikita, tapi dia tidak terpancing. Sebaliknya, dia menggigit bibir bawahnya dengan ringan. Ryuuen, melihat hal-hal terungkap dari sudut matanya, tersenyum puas. Selama ujian di pulau itu, Ibuki menyusup ke Kelas D sebagai mata-mata. Akhirnya, Horikita menangkap basah Ibuki, tetapi akhirnya dia dipukul mundur oleh Ibuki selama konfrontasi. Horikita dengan tegas bersikeras bahwa jika dia tidak sakit pada saat itu, dia tidak akan kalah dalam pertarungan, tetapi sekarang, aku tidak terlalu peduli tentang siapa yang lebih kuat. 

Ryuuen membungkam Ibuki. Dia tampak mengejek kami. “Kau pasti sudah menerima pesannya. Jadi bagaimana? Apa kau terpilih sebagai VIP?” 

“Memangnya aku akan memberitahumu? Bagaimana kalau kamu saja yang memberitahu kami tentang pesanmu?” jawab Horikita. 

“Kalau itu maumu.” Ryuuen mengangkangi salah satu dari dua kursi kosong. “Tapi sebelum itu, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Bagaimana kau menjelaskan tentang hasil ujian di pulau itu?”

“Tidak ada yang bisa kuberitahukan padamu,” jawab Horikita. 

Horikita terlihat sangat tenang; dia tidak bimbang atau goyah sedikit pun. Tidak ada yang salah juga tentang sikapnya. Dia punya kemampuan akting yang luar biasa. Dia mungkin tidak berpikir dia sedang berakting, sih. Meskipun dia tidak menunjukkan kelemahan apa pun, Ryuuen masih tidak bisa diyakinkan. 

“Kurasa kau tidak akan memberitahuku apa pun, tapi itu tidak masalah. Menurut informasiku, tidak mungkin lelucon kikukmu di pulau itu bisa membawa kemenangan,” kata Ryuuen. 

“Aku tidak sebodoh itu sampai aku membiarkan orang seperti dia (Ibuki) melihatku. Hal-hal jadi lebih sulit karena demamku.” 

Menanggapi provokasi yang lebih terang-terangan itu, Ibuki tidak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya. “Kalau begitu, ayo kita bertanding ulang,” tantangnya. 

Horikita tetap tenang saat Ibuki menjadi semakin gusar. “Sayangnya, aku harus menolak tawaranmu. Tindakan kekerasan dianggap sebagai pelanggaran aturan ujian. Kalau kamu menyerangku, aku tidak akan segan-segan untuk melaporkannya ke sekolah. Bagaimanapun, jangan ragu untuk melakukan apa pun yang kamu inginkan,” ucapnya datar. 

“Cih!” 

Ibuki menutup jarak antara dirinya dan Horikita, terlihat siap untuk menerjang, tapi dia menghentikan dirinya sendiri. Jika dia tanpa berpikir panjang mengamuk di sini, dia tidak akan lolos dari hukuman. Terlebih lagi, Ibuki bekerja di bawah Ryuuen. Dia tidak memiliki hak untuk bertindak bebas. Walaupun Ibuki jelas membenci Ryuuen, tapi dia juga sangat berbakat. Itu kemungkinan alasan yang tepat mengapa Ryuuen memilihnya sebagai mata-mata untuk menyusup ke Kelas D. 

“Karena kita semua sudah di sini, bagaimana kalau kita minum kopi? Ini waktu yang tepat untuk menikmati secangkir kopi yang enak,” Horikita menawarkan. 

Dia tampak dalam suasana hati yang aneh saat dia memesan kopi paginya. Aku memesan hal yang sama. Ryuuen tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi, tampaknya ingin melanjutkan pembicaraan. Dia terus mengamati Horikita yang diam, dan membuka mulutnya sekali lagi saat kopi tiba. “Kemarin, sepertinya Katsuragi agak berhati-hati terhadapmu,” kata Ryuuen.

“Yah, itu bisa dimengerti. Dia tidak pernah mengira kalau seseorang dari Kelas D akan melakukannya dengan baik. Bukankah itu sebabnya kamu dan Ibuki-san ada di sini? Kalian datang ke sini untuk memeriksaku. Apa aku salah?” tanya Horikita. 

“Heh. Yah, aku tidak akan menyangkal itu. Aku datang ke sini untuk mengukur kemampuanmu,” jawab Ryuuen. 

“Tentu saja,” jawab Horikita sambil menyeruput kopinya. Dia tampak santai, itu tidak biasa.

“Katsuragi dan aku berpikir secara berbeda. Saat aku berurusan dengan seseorang, aku suka mengawasi mereka.” 

“Kamu bebas melakukan sesukamu, tapi apa sebenarnya yang kamu pikirkan?” tanya Horikita. 

“Aku sedang mengingat ujian di pulau itu. Hasilnya. Proses yang menyebabkan itu. Hanya ada tipe orang tertentu yang bisa membuat konsep dan menjalankan rencana seperti itu. Seorang gadis yang terlalu berpikir serius sepertimu tidak mungkin memikirkan hal-hal semacam itu,” Ryuuen beralasan. 

“Pikirkan apa pun yang kamu suka. Aku penasaran... bagaimana kamu mengetahui strategiku? Kamu hanya melihat hasil ujian. Bagaimana kamu tahu proses saat poin diperoleh dan hilang? Detail itu seharusnya tidak diketahui,” balas Horikita. 

Menanggapi sikap tenang Horikita, Ryuuen menunjukkan giginya—tersenyum penasaran. “Katsuragi mungkin tidak tahu.”

Berdasarkan cara dia mengatakannya, Ryuuen kemungkinan besar memang tahu

“Nah, kenapa kamu tidak menjelaskannya padaku? Kalau kamu benar, aku akan memberimu sebuah jawaban. Kalau kamu bisa jawab, sih,” tambah Horikita. Ryuuen hanya tertawa. 

“Di akhir ujian, aku menuliskan namamu sebagai pemimpin, tapi itu salah. Hanya ada satu alasan kenapa itu bisa salah: Pemimpin kelasmu berubah tepat sebelum ujian berakhir. Itulah satu-satunya penjelasan,” renung Ryuuen. 

“Apa menurutmu itu sulit untuk disimpulkan? Orang bodoh mana pun pasti bisa mengira itu kalau mereka mau memikirkannya. Bahkan Katsuragi-kun, yang kamu olok-olok,” jawab Horikita. 

“Ah. Tapi, Katsuragi berpikir kau yang merencanakan semuanya. Tapi apa itu benar? Menurut pendapatku, kau menjadi pemimpin dan kemudian mengundurkan diri itu tak terduga. Selain itu, aku memiliki strategi sendiri. Aku punya Ibuki yang menyusup ke kelasmu untuk mengetahui identitas pemimpin. Kau tidak melakukan apa pun untuk melawan strategi itu pada awalnya,” kata Ryuuen. 

“Mungkin aku cuma mengambil tindakan pencegahan yang tepat. Bersiap untuk menghadapi masalah yang tersembunyi adalah logika yang mendasar. Saat Ibuki-san menyusup ke Kelas D, aku memperhitungkan semua kemungkinan. Kamu sangat percaya diri Ryuuen-kun, tapi argumenmu terlalu lemah. Semua yang kamu katakan tidak akan mengejutkanku,” jawab Horikita.

“Pertanyaan kuncinya adalah siapa yang menggantikanmu sebagai pemimpin. Secara pribadi, kupikir pemimpin kedua ini menarik tali dari balik layar selama ujian.” 

Itu persis seperti yang Ryuuen katakan. Meskipun dia berbicara dengan Horikita, dia mengamatiku dengan tenang. Jika aku tampak terguncang bahkan untuk sesaat, dia akan menerkam. 

“Aku khawatir aku tidak bisa memahamimu sama sekali. Aku tidak punya teman dekat. Orang yang paling dekat denganku hanyalah Ayanokouji-kun di sini, dan dia selalu membebaniku. Sulit untuk mengatakan bahwa dia bekerja denganku. Menyedihkan memang, tapi itulah kenyataannya,” jawab Horikita. 

Dengan secara khusus merendahkanku, Horikita berhasil membuatku terlihat seperti tidak berguna. Kerja bagus. 

“Tapi, kalau kami memang mengganti pemimpin, dia bukanlah calon yang tepat.”

“Begitu, ya.” Ryuuen melirikku, tapi dengan cepat membuang muka. “Yah, sepertinya dia ini hanya lengket denganmu.” 

“Jadi sekarang kamu mengerti, kan? Aku masih penasaran apa dasar yang kamu punya sampai mengatakan hipotesis semacam itu,” kata Horikita. 

“Orang itu sangat pintar. Meskipun begitu, dia belum mencapai sesuatu yang signifikan, atau mendapat nilai tinggi. Dia punya beberapa kualitas yang sangat baik, meskipun aku ragu,” kata Ryuuen. 

“Sepertinya kamu sudah menyelidiki Kelas D dengan cukup teliti. Ayanokouji-kun, dari tadi kami merendahkanmu. Apa kamu tidak akan membela dirimu?” tanya Horikita. 

“Aku akan melakukannya kalau aku punya sesuatu yang pantas untuk dibela,” jawabku. Muka malasku menjadi serangan balik yang sempurna. Aku tidak yakin bagaimana dia memikirkan itu, tapi Ryuuen tampaknya memahamiku. Mungkin dia sedang mengukur kemampuan akademik, kemampuan fisik, dan bahkan keterampilan komunikasiku. Nilai yang objektif dan dapat diandalkan. Kau tidak bisa menipu orang lain dengan informasi itu. 

“Yah, aku minta maaf, tapi apa yang kamu katakan adalah omong kosong. Itu adalah alasan yang kekanak-kanakan, kamu hanya kesal karena tak bisa menghadapi kenyataan. Apa itu yang membuatmu malu karena seorang gadis berhasil melihat siasatmu?” tanya Horikita.

“Aku mengerti maksudmu. Aku tidak pernah membayangkan kau akan membuatku tersandung. Aku mengakuinya. Hasil ujian itu memang mengejutkanku,” jawab Ryuuen. 

Meskipun dia mengakui kelemahannya, Ryuuen tertawa. Dia seakan-akan mengatakan bahwa tindakan kami tidak rasional. 

“Yah, sayang sekali. Aku suka serangan mendadak, permainan curang, dan akal-akalan. Tingkat strategi itu benar-benar tidak terduga, tapi kemenanganmu akan segera berakhir. Entah itu kau, Suzune, atau seseorang yang menarik tali di balik layar, kau bodoh. Kau telah melakukan langkah terbaikmu. Dalam hal poin, Kelas D masih tertinggal jauh dari kelas lain. Tantangannya baru saja dimulai. Kau sudah memainkan kartu as-mu selama ujian bertahan hidup, saat permainan baru saja dimulai. Kau tidak bisa melihat apa yang ada di depan atau di belakangmu. Ini tidak akan semudah seperti terakhir kali. Katakan itu kepada siapa pun yang membantumu dalam ujian itu,” Ryuuen memperingatkan. 

“Ya ampun, kamu ini penuh pertimbangan, ya,” kata Horikita. 

“Begitulah. Aku sudah cukup berbelas kasih.” 

“Sepertinya kamu benar-benar percaya kalau kami punya senjata rahasia di kelas kami,” kata Horikita. 

Ryuuen tidak menjawab. Meskipun dia tidak memiliki bukti, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak meragukan Horikita. Ryuuen lebih percaya pada dirinya sendiri daripada orang lain. Dia menolak untuk menerima sedikit pun saran dari yang lain. Dia tampaknya tidak ingin mengkonfirmasi apa pun selama pertemuan ini, dia hanya ingin mengobrol dengan Horikita dan menghabiskan waktu untuk menghibur dirinya sendiri. 

Ryuuen mengeluarkan ponselnya dan mengarahkannya ke Horikita. Dia mengambil foto, rana dari kameranya membuat suara klik. 

“Jangan mengambil fotoku tanpa izin!” bentak Horikita. 

“Santai saja. Sini, aku akan menunjukkannya kepadamu,” kata Ryuuen. 

Ryuuen melihat gambar yang dia ambil dari Horikita, ekspresi Horikita di foto itu sangat masam. Dia meletakkan ponselnya, terlihat puas. 

“Ada seseorang di Kelas D selain kau yang cukup pintar. Tidak diragukan lagi,” kata Ryuuen.

“Yah, bukankah itu hal yang bagus? Aku tidak terlalu peduli. Selain itu, kalau kamu hanya sewenang-wenang menarik kesimpulan, kenapa repot-repot mendesakku untuk mengkonfirmasi orang itu?” tanya Horikita. 

“Percakapan bisa mengungkapkan banyak hal yang tak kasat mata. Aku senang bisa bicara denganmu, Suzune. Bagiku ini adalah permainan. Aku akan menemukan siapa di antara kalian yang bergerak di balik layar. Semua orang, termasuk teman lengketmu ini, adalah target,” kata Ryuuen. 

“Biarkan aku menanyakan sesuatu padamu. Aku tahu itu menyakitkan karena aku menyadari siasatmu, tapi kenapa kamu begitu terpaku padaku? Apa kamu tidak khawatir tentang orang lain? Misalnya Ichinose-san, atau Katsuragi-kun? Dari rumor yang beredar, ada juga seseorang bernama Sakayanagi. Bukankah orang-orang di atas Kelas C yang seharusnya kamu waspadai? Kupikir, setidaknya kamu harus menjawabnya,” kata Horikita. 

Horikita benar untuk menanyainya. Ryuuen benar-benar terobsesi. 

“Aku sudah tahu kemampuan mereka, sampai batas tertentu. Baik Katsuragi maupun Ichinose adalah musuhku. Kalau aku ingin menghancurkan mereka, aku bisa melakukannya kapan saja.” 

“Jadi bagaimana dengan Sakayanagi?” 

Ibuki yang menanyakan itu, bukan Horikita. Dia ingin mengkonfirmasi informasi itu sendiri, rupanya. Ryuuen, yang tidak tergoyahkan sampai sekarang, terdiam sebelum merespon. 

“Aku menyimpannya untuk yang terakhir. Akan sia-sia untuk memangsanya sekarang. Ayo pergi, Ibuki.” Ryuuen berdiri dan pergi dengan anteknya. 

“Kau orang yang menarik, Horikita,” renungku. 

“Dan siapa yang bertanggung jawab untuk itu, hah?”

“Apa kau kesal?”

“Tidak juga. Hanya saja aku benci cara bicaramu yang sarkastik. Aku selalu bertujuan untuk mencapai Kelas A, jadi aku berasumsi kalau aku akan menarik banyak perhatian,” jawabnya. 

“Aku senang mendengarnya. Yah, bagaimanapun juga, ini sepertinya tidak bagus. Ryuuen bukanlah lawan biasa.” 

“Benarkah? Kupikir dia hanya tidak suka aku merendahkannya, dan ingin menipuku untuk mengungkap kebenaran. Aku yakin dia pasti kesulitan mempersempit daftar tersangka untuk menemukanmu. Selain itu, bahkan jika dia tahu identitasmu, kamu satu-satunya yang akan mendapat masalah,” jawab Horikita.

Aku tahu dia mencurigaiku, tapi itu tidak penting. Aku tidak tahu apa yang Ryuuen pikirkan, tetapi fakta bahwa dia muncul di sini mengisyaratkan tanda bahaya. 

“Kupikir kita sedang dimata-matai. Aku curiga karena dia tiba-tiba menemui kita,” kataku. 

“Apa kamu sedang membicarakan Ibuki-san?”

“Mungkin dia dipaksa untuk mengawasi kita, atau mungkin dia hanya kebetulan melihat kita. Jika itu masalahnya, itu akan baik-baik saja,” kataku. 

Ibuki tidak terlihat lelah. Orang lain mungkin telah berjaga-jaga, tapi Ibuki kemungkinan terlibat, mengingat dia sedang berjalan dengan Ryuuen. Jika aku harus menebak, Ryuuen sudah menerapkan strategi barunya, dan menggunakan ujian ini sebagai medan perangnya. Aku adalah orang pertama yang bertemu dengan Horikita. Di sana mungkin tidak banyak orang yang dia curigai sejak awal. 

“Sebuah kesalahan,” gumamku. 

Ryuuen sepertinya bermaksud mengatakan bahwa ada seseorang yang pintar di sini, seseorang seperti dia. Pertemuan kami mungkin telah memberi Ryuuen petunjuk yang lebih besar dari yang kubayangkan. Apa aku terlalu khawatir tentang ujian ini? 

“Kamu terlalu memikirkan banyak hal. Tidak ada yang akan mengira kalau kamu terlibat. Terlepas dari apa yang dia katakan, dia pikir kamu adalah orang biasa, mengingat kamu tidak mencolok di semester pertama,” kata Horikita. 

Aku tidak tahu apakah itu pujian atau bukan, tapi dia ada benarnya. Tidak peduli seberapa gigihnya Ryuuen menyelidikiku, dia tidak akan menemukan apa pun. Meski begitu, karena aku dekat dengan Horikita, aku pasti diawasi. Bagaimanapun, karena Ibuki berada di kelompokku, dia akan menjadi penghalang. Akan sangat sulit bagiku untuk bergerak. 

Siswa mulai bermunculan di sana-sini di sekitar kami, dan aku berdiri. “Kurasa kita sudah selesai untuk saat ini. Aku masih mengantuk, jadi aku akan kembali ke kamarku,” gumamku. 

Horikita tampak baik-baik saja dengan itu, seolah dia tidak membutuhkan saran apa pun. “Diskusi ini sepertinya tidak berguna mulai sekarang. Kita akan berpisah. Bagaimanapun, kerja bagus. Kalau kamu membuat kemajuan, beri aku laporan.”

Meskipun dikelilingi oleh musuh yang kuat, Horikita tetap gigih. Yah, Hirata dan Kushida mudah-mudahan bisa mengawasinya. Aku akan kembali ke kamarku dan tidur sampai siang. Padahal ujian sudah dimulai. Aku tidak akan berguna sampai saatnya tiba.

~ Bersambung ~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢