CHAPTER 1
Hari-Hari yang Tenang...
PART 4
Aku kembali ke kamarku, ingin sekali menikmati saat-saat yang damai dan tenang. Ketika sedang berbaring dalam kondisi mengantuk, kupikir aku mendengar suara, aku menyandarkan diriku di tempat tidur. Baik Yukimura maupun Kouenji tidak ada di kamar.
“Maafkan aku. Apa aku membangunkanmu?”
Hirata, yang sedang menata barang bawaannya, mendongak dengan ekspresi sedikit menyesal. Dia mengenakan seragamnya, yang membuatku berpikir bahwa dia tengah bersiap-siap untuk pergi.
“Tidak, aku tidak sedang tidur pulas kok. Kebetulan aku juga lagi haus, jadi ini saat yang tepat untuk bangun.”
Aku bergerak mematikan alarm yang akan berbunyi. Lagian aku ingin memeriksa situasi Horikita, jadi tidak ada masalah.
“Apa kamu mau ikut denganku? Aku sedang kepikiran tentang pesan sekolah yang akan segera datang.”
Saat itu tepat sebelum pukul 20:30. Entah karena kebetulan atau takdir, itu adalah waktu saat Horikita dipanggil ke pertemuannya. Aku tidak punya alasan untuk menolak, jadi Hirata dan aku melangkah keluar ke koridor, aku masih memakai jerseyku.
“Ujian ini kelihatannya sangat tidak biasa. Yah, itu hanya perasaanku, sih.”
Sepertinya Hirata sudah mengetahui spesifikasi ujiannya. Aku bertanya-tanya apakah dia sudah mendengarnya dari siswa lain.
“Aku mendengarnya dari Yukimura-kun. Dia memberitahuku tentang hal itu saat kami sedang makan. Dia menceritakan semuanya tentang kelompok Kelinci. Sepertinya sebagian besar orang sudah menerima penjelasan tentang ujian. Beberapa orang mendatangiku untuk bicara denganku tentang hal itu.”
Yukimura tidak terlalu menyukai Hirata, tapi mungkin dia berpikir kalau memberitahu Hirata akan meningkatkan peluang kami untuk menang. Jika sebelumnya kau sudah mengerti aturannya, akan lebih mudah untuk mengumpulkan lebih banyak informasi ketika kau mendengarkan penjelasan resminya. Yukimura mungkin memberitahu Hirata untuk mendengar apa yang dipikirkan Hirata sesudahnya, dan untuk melihat apakah ada sesuatu yang baru untuk dipikirkan.
Tentu saja, itu sangat berani. Aku ingin mencontohnya dan bekerja sama dengan siswa yang unggul.
“Apa kamu menyadari sesuatu, Ayanokouji-kun? Kalau boleh, aku ingin kamu membicarakannya denganku.”
“Aku belum bisa bilang. Aku belum memikirkan ujian ini seperti halnya kau, Horikita, dan Yukimura. Aku juga tidak pintar, jadi aku belum menyadari apa pun.” Aku memiringkan kepalaku ke samping, seolah-olah tidak ada yang terlintas dalam pikiranku.
Aku tidak akan memberitahu Hirata apa pun lagi.
“Yah, aku penasaran kenapa waktu penjelasannya... terbagi-bagi. Kupikir mungkin sekolah ingin menghindari kebingungan, karena itulah mereka tidak menjelaskannya dalam satu kelompok besar, tapi setelah memikirkan itu, seharusnya tidak butuh banyak upaya untuk mengumumkan aturannya kepada semua orang sekaligus.”
“Ya, kupikir kau benar, Hirata. Itu pasti akan lebih efisien untuk menjelaskan ujiannya kepada semua siswa pada saat yang sama, daripada membagi kita ke dalam kelompok-kelompok dan melakukannya secara bertahap.”
Keraguan Hirata sangat akurat. Sekolah telah menerapkan metode yang jelas tidak efisien. Mungkin kami harus mempertimbangkan mengapa mereka memisah-misahkan kami, dan apa alasannya. Mungkin saja “pemikiran” kami sudah mulai diuji.
“Aku berencana untuk bertanya kepada guru tentang itu nanti.”
Aku bertanya-tanya bagaimana hal-hal akan berguncang. Hirata biasanya bertindak atas nama Kelas D. Mengingat dia akan sekelompok dengan kelas lain, aku tidak bisa membayangkan apa yang dia pikirkan tentang aturan-aturan ini, atau apa yang akan dia lakukan tentang aturan itu.
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar