CHAPTER 1
Hari-Hari yang Tenang...
PART 3
Aku menuju ke dek 2, seperti yang diperintahkan oleh pesan itu. Aku tiba di tujuanku sekitar 5 menit sebelum waktu yang ditentukan. Ada beberapa siswa yang berkeliaran di lantai yang biasanya sepi. Aku melihat beberapa orang yang tidak kukenal memasuki ruangan terdekat. Ada lebih dari satu atau dua orang. Mereka datang ke dek yang ditunjuk dan masuk ke dalam ruangan lain.
“Apa mereka itu siswa dari kelas lain?” aku bertanya-tanya.
Pada awalnya, aku berpikir untuk menunggu di depan pintu masuk, tetapi hal-hal mungkin sudah mulai di dalam. Lebih dari apa pun, aku tidak ingin siswa lain melihatku, jadi aku memutuskan untuk bertindak. Balasan segera datang setelah aku mengetuk pintu.
“Silakan masuk.”
Aku masuk ke ruangan. Di hadapanku, Wali Kelas A, Mashima-sensei, mengenakan setelan jas yang rapi, sedang duduk di kursi. Mataku tertunduk ke meja kecil, di meja itu ada beberapa lembar kertas. Dua siswa laki-laki lain juga duduk di depan Mashima-sensei. Keduanya adalah teman sekelasku dari Kelas D.
“Jadi, salah satu dari dua spot yang tersisa adalah milik Ayanokouji-dono, begitu, ya! Sungguh menarik!”
Sotomura-lah yang mengucapkan salam kutu buku aneh itu. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan "Profesor." Siswa SMA tahun pertama yang gemuk yang memakai kacamata, dia cocok dengan citra stereotip laki-laki otaku yang sempurna. Dia sangat tahu tentang sejarah dan mesin, meskipun sebagian besar perkataannya, cara dia berbicara, dan aksennya tidak dapat dipahami. Meskipun begitu, entah bagaimana dia bisa berkomunikasi dengan yang lain.
“Ini agak aneh, bukan? Ayanokouji?”
Yukimura, teman sekamarku yang lain di kapal, duduk di sebelah Profesor. Profesor dan Yukimura. Biasanya, mereka berdua tidak pernah bersama-sama seperti ini. Aku bertanya-tanya mengapa mereka ada di sini. Sebenernya kami ini sedang terlibat dalam hal apa?
“Apa yang sedang kamu lakukan? Cepatlah duduk.” Mashima-sensei berbicara tanpa melihatku. Aku diam-diam mengambil tempat duduk di sebelah Yukimura. Satu kursi kosong di sampingku menggelitik perhatianku. Sekilas, aku menduga bahwa kami telah dimasukkan ke dalam kelompok yang terdiri dari satu guru dan empat siswa, tapi... mengapa anggota kelompoknya sangat sedikit? Mungkin siswa keempat yang belum terlihat akan memperjelas situasinya.
“Kita masih menunggu satu orang lagi. Silakan duduk dengan tenang.”
Aku merasa bahwa ini jelas bukan masalah sepele. Ada badai datang, tirai ujian baru telah terangkat. Sebuah pertanda yang kuat. Tidak peduli apa pun dugaan kami, jelas bahwa ujian ini akan menjadi sesuatu yang benar-benar berbeda.
Biasanya, semua orang akan menerima aturan ujian pada saat yang sama agar adil. Baik itu ujian tulis ataupun ujian bertahan hidup di pulau tak berpenghuni, itulah ketentuannya. Tapi di sinilah kami berada, dalam ruangan pribadi yang tertutup. Mengapa mereka memisahkan kami dalam kelompok kecil? Apakah ini terlalu dini untuk khawatir?
Tidak peduli seberapa inginnya aku mengetahuinya, aku mungkin tidak akan menemukan jawabannya sendiri. Aku duduk di kursi. Tak satu pun dari kami berbicara. Meskipun kami belum melewati waktu yang ditentukan, aku benar-benar ingin orang misterius itu cepat sampai di sini. Ada sebuah jam yang berbentuk kotak musik, sebuah fitur umum di setiap ruangan di kapal ini. Keheningan menggantung berat di sekitar kami. Tak lama lagi, waktu akan menunjukkan pukul 18:00.
Mashima-sensei sesekali melirik jam, tetap tenang. Bersamaan dengan itu, seseorang mengetuk pintu. Mashima-sensei mempersilakan orang itu untuk masuk, dan pintu perlahan terbuka.
“Permisi!”
Lalu, orang itu memasuki ruangan. Aku menduga orang keempat juga akan berasal dari Kelas D, tapi aku tidak menyangka kalau itu adalah Karuizawa. Kupikir anak laki-laki lain yang akan bergabung dengan kami. Ini benar-benar tidak terduga.
“Hah? Ada apa ini? Kenapa Yukimura-kun dan anak laki-laki lainnya ada di sini?” dia bertanya.
Dugaanku tepat. Aku tidak bisa menyembunyikan kebingunganku melihat perkumpulan aneh ini. Profesor sepertinya tidak khawatir, tapi Yukimura tampak bingung.
“Bapak yakin kamu sudah diberitahu untuk datang tepat waktu, tapi kamu justru terlambat. Cepatlah duduk,” kata Mashima-sensei.
“Baik.”
Tanggapan Karuizawa menunjukkan bahwa dia tidak senang berada di sini dan tidak terlalu peduli dengan apa yang dipikirkan guru. Dia duduk dan, setelah memperhatikan kami bertiga, dia mengangkat kursinya dan menggesernya sedikit menjauh dariku. Aku merasa agak tertekan saat tahu bahwa dia ingin menjauhiku.
“Sotomura, Yukimura, Ayanokouji, dan Karuizawa, dari Kelas D. Tanpa basa-basi lagi, sekarang Bapak akan menjelaskan ujian khusus ini.”
Bagus; setidaknya kami mendapatkan penjelasan. Namun, alasan di balik pemilihan kelompok yang terdiri dari empat orang ini masih menjadi misteri. Kami pun juga berada di ruang pribadi. Aku punya firasat buruk tentang ini.
“Tu-Tunggu sebentar. Saya tidak mengerti. Apa maksud Bapak, menjelaskan ujian? Ujiannya sudah selesai, 'kan? Dan juga, ada apa dengan orang-orang ini? Ini benar-benar aneh.”
Karuizawa, tidak dapat mendengarkan orang lain berbicara, ia segera menyerang Mashima-sensei dengan pertanyaan. Aku bertanya-tanya apakah dia bahkan membaca pesannya dengan teliti.
“Bapak tidak akan menjawab pertanyaan apa pun saat ini. Diamlah dan dengarkan.” tentu saja, Mashima-sensei menatap Karuizawa dengan dingin.
“Ya ampun, baiklah. Baiklah, saya akan diam.”
Mashima-sensei memiliki sifat yang agak dingin kepada murid-muridnya. Bahkan sekarang, dia tampak mengasingkan dirinya selagi menjelaskan. Guru wali kelasku sendiri, Chabashira-sensei, juga acuh tak acuh, dingin, dan tidak memberikan dukungan apa pun kepada murid-muridnya. Sama seperti Chabashira, Mashima-sensei tidak terlihat seperti guru yang akan menolong siswa Kelas A yang kesusahan. Satu-satunya perbedaan yang jelas di antara mereka berdua adalah bahwa dibandingkan dengan Chabashira-sensei, yang tampak tidak termotivasi dan tidak kooperatif, Mashima-sensei tidak bisa dibaca. Aku bertanya-tanya apakah dia tidak ingin terlalu akrab dengan semua orang, tidak peduli siapa pun mereka.
“Dalam ujian khusus ini, semua siswa tahun pertama akan dibagi menjadi 12 kelompok berdasarkan Zodiak. Semua orang akan berpartisipasi dalam kelompoknya masing-masing. Tujuan dari ujian ini adalah untuk menguji pemikiran kalian.”
12 kelompok berdasarkan Zodiak? Itu berarti Kelas D dibagi menjadi 3 kelompok, dan ketiga kelompok itu akan mewakili 3 dari 12 zodiak. Rupanya ujian ini akan menguji "pemikiran" kami. Mereka ingin menguji kemampuan kami dalam berpikir, dan memproses informasi secara menyeluruh. Apa hanya itu?
“Apa maksud Bapak dengan 'menguji pemikiran kami'?” Karuizawa, tidak bisa tinggal diam, secara refleks mengajukan pertanyaan lain.
“Bapak sudah memberitahumu. Bapak tidak akan menjawab pertanyaan apa pun.”
Setelah peringatan kedua Mashima-sensei, Karuizawa sepertinya merasakan tekanan situasi kami. Meskipun dia terlihat sangat tidak senang, dia menutup mulutnya dan mendengarkan. Aku tidak tahu seberapa seriusnya Yukimura dan Profesor menanggapi semua ini, tetapi mereka tetap diam.
“Masyarakat membutuhkan tiga kualitas dasar untuk maju: tindakan, pemikiran, dan kerja sama tim. Mereka yang memiliki kualitas yang diperlukan akan menjadi orang dewasa yang luar biasa. Ujian sebelumnya di pulau tak berpenghuni menitikberatkan pada pengujian kerja sama tim kalian. Namun, sekarang kami akan menguji pemikiran kalian melalui empat cara: (1) Kemampuan kalian dalam memproses informasi secara menyeluruh, yang merupakan komponen penting dari ujian ini. (2) Kemampuan kalian dalam menganalisis situasi kalian saat ini dan mengklarifikasi tugas yang ada. (3) Kemampuan kalian dalam memecahkan masalah setelah kalian mengklarifikasi prosesnya dan mengidentifikasi tugasnya. (4) Kemampuan kalian dalam memanfaatkan imajinasi dan menciptakan nilai-nilai baru. Itulah kualitas-kualitas yang akan kalian butuhkan.”
Meskipun penjelasannya agak singkat, beberapa tanda tanya masih menggantung di atas kepala semua orang setelah penjelasan singkat Mashima. Aku pun juga begitu. Aku masih tidak mengerti apa-apa.
“Seperti yang Bapak katakan, dalam ujian ini kami telah membagi kalian semua menjadi 12 kelompok.”
Akhirnya, kata-kata yang sangat ingin didengar Karuizawa tiba.
“Apakah sejauh ini ada pertanyaan?”
“Saya tidak mengerti apa artinya semua ini. Bisakah Bapak menjelaskannya dengan cara yang lebih mudah dipahami? Maksud saya, okelah, saya mengerti kalau kami dibagi menjadi 12 kelompok, tapi kenapa saya sekelompok dengan orang-orang ini? Bagaimana dengan Hirata-kun? Atau gadis-gadis lain? Dan saya masih tidak mengerti apa yang kami lakukan. Katakan pada saya. Saya mohon?”
Meskipun dia mencoba sopan, aku merasa dia tidak bermaksud demikian. Namun, keraguan Karuizawa dapat dimengerti. Meskipun Mashima-sensei mengatakan bahwa dia menerima pertanyaan, penjelasannya masih ambigu. Kami masih tidak tahu kesamaan apa yang ada antara orang-orang yang berkumpul di sini.
Jika setiap kelas dibagi menjadi 3 kelompok, seharusnya ada 12 hingga 15 orang dari Kelas D yang berkumpul di sini untuk mendengar penjelasan, tetapi tidak begitu. Apakah karena keterbatasan kapasitas ruangan? Tidak, kapal ini memiliki beberapa ruangan yang dapat menampung pertemuan orang banyak. Pasti ada alasan tertentu mengapa mereka sengaja membagi kami seperti ini.
“Kalian berempat yang berkumpul di sini akan berada di kelompok yang sama. Pada saat ini, siswa di ruangan lain juga menerima penjelasan yang sama dengan kalian.”
Tunggu, jadi kami adalah anggota dari kelompok yang sama? Dengan kata lain, kami berempat adalah rekan...
“Kalau itu benar, bukankah akan lebih cepat dan lebih mudah jika Bapak langsung mengumpulkan semua teman sekelas kami sekaligus di satu tempat dan kemudian memberi penjelasan? Dan juga, kenapa saya harus ditempatkan dengan ketiga orang ini? Kenapa? Orang-orang ini membuat saya jijik. Kenapa saya berada di kelompok anak laki-laki? Sejujurnya, saya membencinya... tapi kalau bersama Hirata-kun sih tidak apa-apa.”
Karuizawa terus mengoceh, dan Yukimura pun akhirnya hilang kesabaran.
“Bagaimana kalau kau tutup mulutmu dan dengarkan saja? Ujiannya mungkin akan segera dimulai. Kalau mereka sampai mengurangi poin kita gara-gara kau terus mengoceh, apa kau mau tanggung jawab? Bahkan waktu di pulau terpencil pun, kau membuat kita kesusahan. Bisa nggak sih kau itu nggak usah membuat masalah lagi?”
“Hah? Memangnya kapan aku pernah membuat masalah? Dasar menyebalkan.”
Aku sudah pernah melihat laki-laki dan perempuan bertengkar berkali-kali di ujian sebelumnya. Aku dan Profesor tetap diam.
“Tenanglah, kalian berdua. Yukimura, kekhawatiranmu terlalu berlebihan. Ujian belum dimulai, jadi poin kalian tidak akan terpengaruh. Selain itu, sikap kalian tidak akan dinilai di ujian ini.”
“Tuh dengar? Sekarang kau mengerti, 'kan?”
Karuizawa menatap Yukimura dengan puas. Yukimura memelototinya dengan frustrasi. Seharusnya aku tetap diam, tapi aku harus mengatakan sesuatu.
“Karuizawa, kalau kau tidak mengubah sikapmu di hadapan guru, kau bisa dicap buruk oleh sekolah dan itu mungkin akan dicatat di rapormu. Kau tidak mau itu terjadi, 'kan?”
“Hmph.”
Yukimura mendengus, mengejek Karuizawa tanpa mengeluarkan kata-kata. Mashima-sensei sepertinya puyeng saat menyaksikan pertengkaran kami yang terlihat kekanak-kanakan. Dia dengan ringan mengetukkan jarinya ke dahinya.
“Dengar. Tugas untuk kelompok kalian sudah ditetapkan. Kalian tidak bisa merubahnya. Untuk mendapatkan hasil yang baik dalam ujian, kalian harus rukun.”
“Ugh, astaga! Ini menyebalkan! Mana mungkin aku bisa rukun dengan ketiga orang ini! Hirata-kun itu jauh lebih baik!”
“Heh. Tapi peribahasa mengatakan kalau tiga lebih baik daripada satu. Jadi, kalau kami bertiga bersatu, kami mungkin bisa melampaui Hirata-dono, nyonya,” kata Profesor.
“Ngaca. Bahkan kalau ada 100 atau 200 orang seperti kalian, kalian masih tidak akan sebanding dengan sehelai rambut di kepala Hirata-kun.”
Aku mencoba untuk tidak peduli, tetapi mendengarnya mengatakan hal semacam itu membuatku tertekan. Karuizawa menempel erat pada Hirata siang dan malam, kecuali saat dia bersama teman-teman gadisnya. Memang benar bahwa kami tidak cocok untuk menggantikan Hirata, tetapi...
“Ugh. Yah, bagaimanapun juga, aku akan melaporkannya pada Hirata-kun nanti.” Karuizawa menghela nafas frustrasi, lalu mengalihkan pandangannya lagi. Mencoba bekerja sama dengannya akan merepotkan, tetapi hal yang sama mungkin juga berlaku untuk Yukimura.
“Apakah kalian sudah selesai? Tolong izinkan Bapak melanjutkan penjelasannya.”
“Oke, oke. Saya mengerti bahwa kami dibagi ke dalam kelompok-kelompok ini, tapi kenapa hanya kami berempat yang mendapat penjelasan ini? Saya pikir Bapak akan menjelaskan semuanya setelah seluruh kelompok kami berkumpul. Jika ini adalah konspirasi terhadap kami, atau semacam pelecehan, maka saya ingin Bapak menghentikannya.”
Karuizawa terus berbicara tanpa jeda, seolah berniat untuk menjadi menyebalkan sampai akhir. Mashima-sensei tetap tanpa ekspresi.
“Sepertinya kamu khawatir dengan konsep pengelompokan ini. Kalau begitu, Bapak akan coba menjawab. Ini bukanlah konspirasi terhadap siswa, dan juga bukan pelecehan. Ini simpel. Kelompok tidak hanya terdiri dari anggota yang berasal dari satu kelas; kelompok-kelompok itu terdiri dari sekitar 3 sampai 5 individu yang dikumpulkan dari setiap kelas. Jika kami tidak menjelaskan hal ini, maka akan terjadi kebingungan.”
Itulah mengapa hanya beberapa orang yang berkumpul di setiap ruangan. Mereka bertiga masih belum mengerti. Mereka terdiam lagi, seolah-olah mereka sedang memikirkan apa yang Mashima-sensei katakan di kepala mereka. Tentu saja aku juga tidak bisa langsung mencernanya. Suasananya sangat tenang sampai kami bisa mendengar suara jam berdetak.
“Tu-Tunggu sebentar. Apa maksud Bapak? Saya masih tidak mengerti sama sekali. Kami akan dikelompokkan dengan siswa dari kelas lain? Bukankah itu gila? Bukankah kelas lain seharusnya menjadi musuh?”
“Itu benar, Sensei. Kami telah bersaing dengan kelas lain sampai detik ini. Tapi sekarang, kami harus mengabaikan semua itu dan tiba-tiba bergabung dengan mereka?”
Aku mengerti maksud Karuizawa dan Yukimura, tetapi yang memutuskan aturan adalah sekolah.
“Kalian telah bersaing sampai detik ini? Kehidupan sekolah kalian baru saja dimulai. Kamu tidak boleh terburu-buru, Yukimura.”
“Saya... Ma-Maafkan saya.”
“Saat ini, kalian seharusnya tidak menghabiskan tenaga kalian untuk mencoba memahami ujian ini. Sebaliknya, fokuslah pada pemikiran kalian. Kalian adalah kelompok 'Kelinci'. Berikut daftar anggotanya. Kalian akan diminta untuk mengembalikan daftar ini ketika kalian meninggalkan ruangan. Jika kalian merasa perlu, Bapak sarankan untuk menghafalkannya sekarang.”
Dia membagikan selembar kertas seukuran kartu pos. Di kertas itu tercantum 14 nama orang dalam kelompok kami. Seperti yang Mashima-sensei katakan kepada kami, selain kami berempat, anggota lainnya berasal dari Kelas A, B, dan C.
Meskipun Mashima-sensei mengatakan bahwa kami berada di kelompok Kelinci, nama kelompok ditulis dalam bahasa Jepang, ditempatkan dalam tanda kurung di sebelah bacaan Cina. Itu membuatnya lebih mudah dibaca, dan dengan demikian lebih mudah untuk dibedakan yang mana kelompok kami.
KELAS A: Takemoto Shigeru, Machida Kouji, Morishige Takurou
KELAS B: Ichinose Honami, Hamaguchi Tetsuya, Beppu Ryouta
KELAS C: Ibuki Mio, Manabe Shiho, Yabu Nanami, Yamashita Saki
KELAS D: Ayanokouji Kiyotaka, Karuizawa Kei, Sotomura Hideo, Yukimura Teruhiko
Aku kenal beberapa siswa dalam daftar itu. Ichinose dari Kelas B; Ibuki dari Kelas C. Rupanya, kami adalah rekan satu tim sekarang. Pada titik ini, aku tidak bisa membayangkan akan seperti apa ujian ini. Mungkinkah kami akan bersaing dengan kelas lain, seperti yang dikatakan Karuizawa dan Yukimura? Aku dengan cepat melirik ke arah Karuizawa. Dia terlihat sedikit bingung. Ditempatkan ke dalam kelompok yang sama dengan Ibuki adalah takdir yang kejam.
“Jangan khawatir. Bapak akan menjawab pertanyaan apa pun yang ingin kalian tanyakan. Setelah itu, Bapak percaya kalian akan dapat memahami segalanya. Mungkin.”
Dia menekankan kata "mungkin" karena dia mungkin meragukan bahwa Karuizawa akan paham. Dapat dimengerti. Mashima-sensei kemudian menjelaskan formasi kelompok yang membingungkan ini.
“Inti dari ujian ini adalah untuk mengabaikan hubungan permusuhan antara Kelas A sampai Kelas D. Jika kalian melakukannya, kalian akan memiliki jalan pintas.”
“Mengabaikan hubungan permusuhan? Maksud Bapak apa?”
“Karuizawa, tolong ya. Kumohon, diamlah dan dengarkan saja. Aku tidak bisa berkonsentrasi saat kau mengoceh,” Yukimura memohon, benar-benar putus asa.
“Mulai saat ini, kamu tidak lagi bertindak sebagai anggota Kelas D, melainkan sebagai anggota kelompok Kelinci. Lulus tidaknya kamu dalam ujian ini tergantung pada masing-masing kelompok.”
Aku semakin paham, sedikit demi sedikit, tetapi masih tidak bisa melihat gambaran besarnya.
“Ada 4 kemungkinan hasil yang bisa dicapai dalam ujian khusus ini. Tidak ada pengecualian. Kami juga telah menyiapkan selebaran agar kalian lebih memahaminya. Namun, kalian dilarang mengambil selebaran ini, memfotonya, dan sebagainya. Kalian harus memverifikasi isinya di sini sekarang.”
Beberapa lembar kertas yang sedikit kusut telah disiapkan untuk kami berempat. Kemungkinan besar, para siswa yang ada di sini sebelum kami sudah membaca selebaran itu. Aturan dasarnya ditulis sebagai berikut:
PENJELASAN KELOMPOK MUSIM PANAS UJIAN KHUSUS
Ujian ini berpusat pada “VIP” yang ditunjuk untuk setiap kelompok. Dengan memberikan jawaban ke sekolah melalui metode yang ditentukan, kalian akan mendapatkan salah satu dari 4 hasil.
Pukul 08.00 pada hari pertama ujian, setiap siswa akan menerima pesan secara serentak yang memberitahu kalian bahwa kami telah memilih seseorang untuk menjadi “VIP” di kelompok kalian.
Ujian dimulai besok dan akan berakhir pada jam 21:00 pada hari ketiga. (Kalian bebas untuk melakukan apa pun yang kalian inginkan pada hari pertama.)
Setiap kelompok harus berkumpul 2 kali dalam sehari pada waktu yang telah ditentukan di ruang yang telah ditentukan untuk berdiskusi selama 1 jam, kalian hanya dapat mendiskusikan masalah kalian dengan kelompok masing-masing.
Isi diskusi masing-masing kelompok akan diserahkan kepada kebijakan kelompok itu sendiri.
Setelah ujian selesai, sekolah hanya akan menerima jawaban selama periode antara pukul 21:30 sampai 22:00 pada malam terakhir ujian. Selama waktu itu, setiap kelompok harus menyerahkan jawaban mereka tentang seseorang yang mereka pikir adalah “VIP” nya. Setiap orang hanya dapat mengirimkan jawaban satu kali, tetapi hanya jawaban pertama yang diterima dari setiap anggota kelompok yang akan menentukan hasil ujian untuk kelompok itu.
Jawaban harus dikirim ke alamat email yang akan kami berikan kepada setiap kelompok, dengan menggunakan perangkat seluler kalian.
12 orang yang telah ditunjuk sebagai “VIP” tidak dapat mengirimkan jawaban.
Kalian hanya dapat mengirimkan jawaban untuk kelompok kalian masing-masing.
Hasil ujian akan dikirim ke semua siswa melalui email pada pukul 23:00 di hari terakhir.
Itulah daftar aturan dasar yang tertulis di kertas itu. Deskripsi rinci tentang aturannya dan daftar larangan juga ada di kertas itu. Persyaratannya lebih ketat daripada aturan ujian di pulau tak berpenghuni, dengan lebih banyak tindakan pencegahan. Setelah memverifikasi aturan-aturannya, aku melihat 4 kemungkinan "hasil":
HASIL #1: Jika jawaban yang dikirim oleh kelompok setelah jam 21:30 pada hari terakhir benar, maka semua orang dalam kelompok akan menerima poin pribadi, termasuk teman sekelas VIP yang tergabung dalam kelompok.
HASIL #2: Jika kelompok gagal mengirimkan jawaban antara jam 21:30 sampai 22:00 pada hari terakhir, atau jika seseorang dari kelompok lain selain dari VIP dan teman sekelasnya memberikan jawaban yang salah, maka VIP akan menerima 500.000 poin pribadi.
Ini tampak seperti aturan yang agak aneh. Karena kami belum menerima penjelasan yang lebih detail, mekanisme ujiannya tampak tidak jelas. Profesor dan Karuizawa memiringkan kepala mereka berulang-ulang, seolah-olah memutar otak mereka. Mashima-sensei, melihat reaksi mereka, dia lalu memberi kami penjelasan tambahan dalam nada datarnya yang tidak berubah.
“Ujian ini memiliki satu elemen penting. Pahamilah itu. Elemen kuncinya adalah keberadaan Impostor. Hanya ada satu VIP dalam setiap kelompok. Dalam ujian ini, kalian harus mencaritahu nama VIP itu. Sesederhana itulah. Misalnya, Yukimura, katakanlah kamu terpilih sebagai VIP. Jawaban yang benar untuk kelompok Kelinci adalah 'Yukimura.' Jawaban itu akan berdampak pada semua anggota kelompok kalian. Kemudian, setelah ujian berakhir pada pukul 21.00 di penghujung hari ketiga, sekolah hanya akan menerima kiriman jawaban antara pukul 21:30 sampai 22:00. Selama waktu itu, setiap anggota kelompok kalian harus memasukkan nama 'Yukimura' dalam pesan dan mengirimnya ke sekolah. Kelompok kalian akan lulus, dan kami akan mengonfirmasi bahwa kalian telah mencapai Hasil #1, dan dengan demikian setiap anggota kelompok kalian akan diberi 500.000 poin. Selain itu, sebagai hadiah karena sudah memimpin kelompok mereka mencapai Hasil #1, VIP akan menerima dua kali lipat dari jumlah itu—1.000.000 poin.”
“Sa-Satu juta?! Wow.”
“Tunggu, setiap orang akan menerima 500.000 poin? Dan jika kau adalah VIP-nya, kau akan menerima dua kali lipat?”
Itu adalah jumlah poin yang sangat banyak, terlepas dari kelas mana mereka berasal, semua orang pasti menginginkannya. Dan juga, karena VIP akan menerima dua kali lipat dari jumlah itu, dia akan menjadi sangat kaya sehingga dia akan langsung melompat ke kelas atas, terlepas dari kelas manapun dia berada.
“Nah, untuk Hasil #2... Jika identitas VIP tidak ditemukan sampai hari terakhir, dan tidak ada seorang pun di kelompok kalian yang dapat menemukan identitas VIP itu atau bahkan mencoba berbohong tentang identitas-nya, maka hanya VIP lah yang akan menerima poin, seperti yang tertulis. Dia akan menerima 500.000 poin.”
Tunggu, apa benar seperti itu? Hasil #1 dan #2 sebenarnya konsepnya sama. Dalam kedua hasil tersebut, VIP tetap akan menerima poin dalam jumlah besar. Tidak ada manfaatnya untuk mengincar Hasil #2, kecuali jika kau tidak ingin kelas lain mendapatkan poin.
“Ya ampun, semua orang pasti akan iri dengan VIP! Jika tak terpilih menjadi VIP pasti rasanya tidak adil! Apapun yang terjadi, orang itu tetap mendapat poin! Dan jika kami mencapai Hasil #1, orang itu akan dapat satu juta poin!”
Karuizawa sepertinya ingin dipilih sebagai VIP. Itu wajar, sih. VIP mendapat perlakuan khusus. Itukah keuntungannya menjadi seorang VIP? Namun, sejauh ini kami baru memverifikasi 2 dari 4 hasil. Mungkin masih ada beberapa trik yang belum terungkap.
“Sensei, bagaimana dengan Hasil #3 dan #4? Kami tidak melihatnya di selebaran ini.”
“Apakah kalian sudah paham dengan penjelasan tentang dua kemunginan hasil tadi? Kalau belum, maka kita tidak bisa lanjut.”
“Tentu saja kami paham. Silakan lanjutkan.”
Setelah jeda singkat, Mashima-sensei melanjutkan.
“Hasil #3 dan #4 tertulis di halaman sebaliknya. Tapi, harap tahan dulu sebelum kalian membalik kertasnya.”
Kami secara refleks menggerakkan tangan untuk membalik kertas itu, tetapi langsung berhenti setelah kami mendengar itu. Saat kami mulai memahami aturan ujian ini sedikit demi sedikit, Mashima-sensei menatap kami dengan mata tajam. Seolah ujiannya sudah mulai.
“Eh, tunggu sebentar. Saya sama sekali tidak mengerti.”
Meskipun Mashima-sensei telah memberi kami penjelasan yang simpel, Karuizawa masih tidak mengerti. Masalahnya bukan karena nilai ujiannya jelek seperti Sudou atau Ike. Namun, karena sejak awal dia menolak untuk mendengarkan, pemahamannya jadi sangat buruk.
“Baiklah, Bapak akan menjelaskannya dengan istilah yang lebih sederhana. Apa kamu pernah memainkan permainan Among Us?”
“Among Us? Oh, itu permainan yang sedang populer baru-baru ini, 'kan? Ya, ya, saya pernah memainkannya. Itu cukup menarik,” kata Karuizawa.
Mau tak mau aku sedikit bingung, dan reaksiku terlihat jelas.
“Tunggu sebentar. Ayanokouji-kun, jangan bilang kamu tidak tahu tentang permainan Among Us? Wow, aku nggak nyangka.”
Dia bisa saja terkejut sepuasnya, tapi aku memang belum pernah mendengarnya. Selain itu, mungkin itu adalah sejenis permainan yang jauh lebih menyenangkan saat dimainkan bersama teman daripada dimainkan sendiri. Namun, suasana bahagia seperti itu jauh di luar jangkauanku.
Karuizawa tampaknya menyadari hal ini, dan tampak sedih. “Maafkan aku. Hanya saja, tidak punya teman itu pasti rasanya sangat menyedihkan.”
Dia menyilangkan tangannya dan mulai menjelaskan permainan itu.
“Begini, kamu berkumpul dengan teman-temanmu, dan kemudian kamu akan dibagi-bagi menjadi crewmate dan impostor. Orang yang bertahan sampai akhir adalah pemenangnya. Mengerti?”
Tidak, aku tidak mengerti sama sekali!
Terus, apa, aku bisa menjadi raja gitu? Mashima-sensei, tidak bisa berhenti begitu saja, mulai menjelaskan detail permainannya.
Among Us diciptakan oleh orang Amerika sebagai semacam permainan pesta. Tidak ada batasan jumlah pemain, tetapi kau membutuhkan jumlah minimum supaya bisa bermain. Ada beberapa peran yang didapat para pemainnya, yaitu "crewmate" dan "impostor." Tampaknya ada berbagai peran lain, tetapi yang penting adalah siapakah yang bertahan sampai akhir, apakah crewmate ataukah impostor. Impostor akan berpakaian dan berpura-pura menjadi crewmate.
Permainan itu memiliki dua periode waktu. Pada siang hari, saat semua crewmate berkumpul dan berdiskusi, termasuk impostor yang berpura-pura menjadi crewmate. Pemain yang dicurigai sebagai impostor akan dieksekusi. Saat malam hari tiba, impostor akan memangsa satu crewmate. Fase-fase itu berulang, dan jumlah pemainnya akan semakin sedikit. Kemudian, ketika sudah cukup banyak pemain yang dikeluarkan, akan diputuskan pihak mana yang menang dan pihak mana yang kalah. Begitulah singkatnya.
Namun, mengapa harus menggunakan permainan Among Us sebagai contohnya? Jika kami mempertimbangkan aturan yang kami terima sejauh ini, maka impostor dan crewmate lebih baik bekerja sama untuk mencapai Hasil #1.
“Meskipun Bapak mengatakan bahwa hanya ada satu VIP di setiap kelompok, namun jika identitas VIP terbongkar, maka Hasil #3 dan #4 akan tercapai.”
“Dan itu... tertulis di halaman sebaliknya, 'kan? Apa kami sudah boleh membaliknya?” Karuizawa bertanya.
Mashima-sensei mengangguk. Kami pun membalik kertas itu.
Hasil #3 dan #4 tertulis di sana. Khusus untuk kedua hasil ini, jawaban akan diterima kapan saja selama ujian masih berlangsung, atau selama periode 30 menit setelah ujian berakhir, sama seperti aturan lainnya. Jika kau membuat kesalahan di kedua jangka waktu tersebut, kau akan dikenakan sanksi.
HASIL #3: Hasil ini dipicu ketika orang lain selain VIP memberikan jawaban yang benar ke sekolah tanpa menunggu sampai jam 21:30 pada hari terakhir ujian. Kelas siswa itu akan mendapatkan 50 poin kelas, dan orang yang mengirimkan jawaban yang benar akan mendapatkan 500.000 poin pribadi. Dan juga, kelas VIP akan kehilangan 50 poin kelas sebagai penalti. Saat itu juga, periode ujian untuk kelompok tersebut akan berakhir. Namun, jika salah satu teman sekelas VIP adalah orang yang memberikan jawaban yang benar, jawaban ini tidak akan dihitung dan ujian akan dilanjutkan.
HASIL #4: Hasil ini dipicu ketika orang lain selain VIP memberikan jawaban yang salah tanpa menunggu sampai jam 21:30 pada hari terakhir ujian. Kelas siswa itu akan kehilangan 50 poin kelas. VIP akan mendapatkan 500.000 poin pribadi, dan kelas VIP akan mendapatkan 50 poin kelas. Periode ujian akan berakhir untuk kelompok yang mengirimkan jawaban yang salah. Namun, jika salah satu teman sekelas VIP adalah orang yang mengirimkan jawaban yang salah, jawaban ini tidak akan dihitung dan ujian akan dilanjutkan.
Dua hasil ini membuat gambaran besarnya semakin jelas. Jika kami dibatasi hanya pada Hasil #1 dan #2, tidak ada masalah jika VIP berbagi identitas-nya dengan semua orang. Bahkan jika kau membuat kesalahan, tidak akan ada penalti. Namun, dengan adanya konsep "pengkhianat" di aturannya, ujian ini tiba-tiba berbalik. Jika VIP sembarangan mengungkap identitasnya sendiri, si pengkhianat akan memangsanya.
Karena sekolah akan menerima jawaban kapan saja selama ujian berlangsung, tidak ada seorang pun yang akan serius mencapai Hasil #1. Semua orang akan mengambil tindakan yang akan memberi mereka banyak poin. Jika VIP ingin mengelabui kelas lain dan mengamankan kemenangannya sendiri, dia bisa membuat siasat agar orang lain terlihat seolah-olah adalah VIP-nya. Poin yang didapatkan tentu lebih sedikit, tetapi VIP akan membuat kelas lain menerima penalti.
“Sekolah akan mempertimbangkan anonimitas selama ujian ini. Pada akhirnya, hanya hasil untuk setiap kelompok dan kenaikan atau penurunan poin untuk setiap kelas yang akan diumumkan. Dengan kata lain, kami tidak akan mengumumkan nama VIP ataupun siswa yang mengirimkan jawaban. Dan juga, jika kalian mau, kalian bisa memakai ID sementara yang diberikan kepada kalian, untuk mentransfer poin. ID itu juga memungkinkan kalian untuk membagi dan menerima poin. Kalian tidak perlu takut kalau identitas kalian akan terbongkar setelah ujian. Tentu saja jika kalian tidak ingin menyembunyikan identitas kalian, kalian dapat menerima poin kalian secara terbuka. Itu juga tidak masalah.”
Mereka sangat teliti; menemukan VIP dalam ujian ini akan sangat sulit. Jika kau ingin mendapatkan banyak uang hanya untuk diri sendiri dan tidak memberitahu teman sekelasmu tentang identitas VIP yang sebenarnya, kau bisa membohongi semua orang. Misalnya, jika Yukimura adalah VIP, aku dapat menyesatkan siswa dari kelas lain dan membuat mereka percaya bahwa Profesor atau Karuizawa adalah VIP-nya.
Ujian ini akan menjadi sangat sulit jika ada VIP di kelas kami. Dalam kasus seperti itu, dia harus menyembunyikan identitasnya dengan hati-hati dan menipu orang lain.
“Hasil #3 dan #4 sangat berbeda dari dua hasil yang sebelumnya. Itu sebabnya Hasil #3 dan #4 ditulis di halaman sebaliknya. Dengan itu, penjelasannya selesai.”
“Eng, eng. Aku lumayan ngerti sih, tapi aku juga masih bingung.”
“Heh, aku sendiri pun juga agak bingung.”
“Kalian berdua ini idiot, ya. Aku akan menjelaskannya nanti, jadi tidak perlu repot-repot Mashima-sensei.” Yukimura, yang sepertinya ingin dianggap cemerlang oleh pejabat sekolah, memperingatkan Karuizawa dengan cepat.
Kedengarannya agak mirip dengan permainan Among Us, tapi hanya sedikit. Benar, impostor memiliki beberapa keuntungan, tetapi crewmate juga diberikan kuasa atas hidup dan mati. Crewmate bisa menembak mati target mereka. Namun, jika crewmate tertipu, mereka mungkin mulai saling membunuh. Aku mencoba untuk menyederhanakan aturan-aturan itu di kepalaku.
Pertama, periode ujian berlangsung selama 3 hari. Dibandingkan dengan ujian di pulau, ini lebih singkat. Sekolah telah membagi semua siswa tahun pertama dengan cara tertentu, lalu membuat 12 kelompok berdasarkan Zodiak. Setiap kelompok berisi campuran siswa dari berbagai kelas, tetapi di dalam kelompok, siswa berfungsi sebagai rekan. Meskipun jumlah orangnya sedikit bervariasi, setiap kelompok memiliki sekitar 14 orang. Dalam setiap kelompok, satu siswa diberi peran "VIP".
VIP bebas memberitahu orang lain, “Akulah VIP, namaku adalah jawabannya.” Dalam kasus seperti itu, menang adalah hal yang mutlak. Tentu saja, ujian ini disusun sedemikian rupa sehingga jika VIP tidak ditemukan, siswa lainnya tidak bisa menjawab dengan benar. Tentu saja, dimungkinkan untuk mengambil bidikan dalam kegelapan dan menebak dengan benar setelah mempersempit daftar tersangka, tetapi penaltinya sangat besar jika kau sampai salah menebak.
Penalti di ujian ini memiliki tingkat keparahan yang sama seperti penalti di pulau itu. Aku mencoba meringkas metode nyata yang bisa dipakai untuk menyelesaikan ujian ini.
VIP membeberkan identitasnya ke seluruh anggota kelompok, ujian pun selesai.
Orang lain mencoba menjawab di hari terakhir, tetapi ia salah menebak nama VIP kami. Kami pun menang.
Pengkhianat menemukan VIP.
Pengkhianat disesatkan tentang identitas VIP.
Empat kemungkinan. Sayangnya, masing-masing dari empat hasil itu menghasilkan jumlah poin yang berbeda. Opsi pertama, “VIP membeberkan identitasnya ke seluruh anggota kelompok, ujian pun selesai,” mengharuskan kami untuk menunggu sampai ujian selesai, lalu meminta semua orang mengirimkan jawaban yang benar. Dalam hal itu, kami akan mendapat hadiah yang sangat besar. VIP akan mendapatkan 1.000.000 poin, dan setiap orang akan mendapatkan 500.000 poin. Tapi akan sangat sulit untuk mendapatkan hasil seperti itu.
Beberapa kelompok mungkin memiliki keuntungan karena di setiap kelompok jumlah anggotanya berbeda-beda. Seseorang mungkin akan mengkhianati rekannya jika mereka tahu jawabannya. Kebanyakan orang ingin mendapatkan hadiah, dan akan mengkhianati orang lain sebelum mereka sendiri dikhianati. Harmoni sejati akan sulit didapat.
Mengenai opsi berikutnya: “Orang lain mencoba menjawab di hari terakhir, tetapi ia salah menebak nama VIP kami.” Itu akan terjadi jika kami gagal menemukan identitas VIP bahkan setelah mencari di dalam kelompok kami. Ini sangat mungkin terjadi. Banyak siswa tidak suka mengambil risiko, dan jika mereka tidak yakin akan jawabannya, mereka akan menjadi pengkhianat. Akan sulit bagi semua orang untuk menjawab dengan benar, dan mudah bagi VIP untuk menyembunyikan dirinya.
Jika VIP tetap diam, orang-orang mungkin tidak akan menemukan identitas mereka. Selain itu, mereka akan mendapatkan 500.000 poin pribadi sebagai hadiah. Menjadi VIP itu ibarat memiliki tiket menuju kebahagiaan. Namun, ada beberapa kekurangan yang tidak terlihat. Karena format ujiannya, mungkin akan ada banyak diskusi dan pertukaran informasi dalam kelompok. Kau harus lihai memainkan kebohongan. Meskipun diberlakukan anonimitas, itu sangat tergantung pada apa yang kau bisa dan tidak bisa lakukan. Kelasmu dan kelas lain mungkin akan membencimu.
Opsi ketiga: “Pengkhianat menemukan VIP.” Dalam hal ini, seorang siswa mengetahui identitas VIP. Mereka bisa langsung mengirimkan jawaban mereka, ataupun mengirim email ke sekolah setelah ujian berakhir dengan jawaban yang benar. Luar biasa, dalam kasus ini, ujian bisa langsung berakhir. Pengkhianat akan mendapatkan 50 poin kelas dan menentukan kelas mana yang akan berdiri di puncak. Selain itu, si pengkhianat akan mendapatkan 500.000 poin pribadi.
Ini berarti bahwa seseorang dapat menipu kelas lain dan berkontribusi untuk kelas mereka sendiri. Bagi semua orang, ini adalah hasil yang ideal.
Akhirnya, opsi terakhir: “Pengkhianat disesatkan tentang identitas VIP.” Opsi ini memiliki kelemahan terbesar. Jika kau salah menebak, orang yang mengirimkan jawaban yang salah akan mendapat penalti, menyebabkan kelasnya kehilangan 50 poin. Sebaliknya, VIP akan menerima poin pribadi, dan kelasnya akan menerima poin kelas. Ini adalah hasil yang paling ingin kuhindari.
Ujian ini tentang berpikir. Sekolah mengatakan bahwa ujian ini membutuhkan kemampuan kognitif, sepertinya itu benar. Ujian ini membawa bahaya yang jauh berbeda dari ujian kami di pulau itu. Ada 12 kelompok, dengan 12 hasil. Dalam skenario terburuk, selisih poin kelas kami dengan kelas lain akan semakin meregang dan akan sulit untuk memulihkannya. Di sisi lain, ujian ini juga memungkinkan Kelas D untuk menyalip Kelas A dalam sekali jalan. Tentu saja, hal seperti itu tidak akan terjadi dengan mudah dalam waktu dekat, tetapi kemungkinannya luar biasa. Itulah mengapa peraturan sekolah di ujian ini lebih ketat daripada ujian di pulau itu.
“Di selebaran itu juga ada daftar tindakan terlarang. Pastikan untuk memeriksanya dengan teliti.”
Di sana tercantum hal-hal seperti mencuri ponsel orang lain; menggunakan ancaman untuk mengkonfirmasi informasi terkait dengan VIP; menggunakan ponsel orang lain tanpa izin pemiliknya untuk mengirimkan jawaban; dan seterusnya. Hukuman terberat untuk tindakan-tindakan tersebut adalah pengusiran. Selanjutnya, jika ditemukan aktivitas mencurigakan, sekolah akan membuka penyelidikan untuk memastikan tidak ada yang melanggar aturan.
Jika seseorang berbohong tentang menggunakan kekuatan ancaman, mereka bisa dikeluarkan dari sekolah. Sepertinya kami diawasi dengan ketat, jadi hal itu harus diingat baik-baik. Dan juga, dalam selebaran itu dikatakan bahwa diskusi di antara siswa dari kelas lain dilarang sampai ujian berakhir. Jika kau melanggar aturan itu, kau akan dikeluarkan dari sekolah. Aku dengan mudah menghafal daftar aturan itu.
“Besok, kalian akan pergi ke ruangan yang telah ditentukan pada jam 13:00 dan jam 20:00. Nama kelompok kalian akan ditampilkan di papan nama di pintu masuk ruangan. Pastikan untuk memperkenalkan diri ketika kalian bertemu dengan anggota lain untuk pertama kalinya. Setelah kalian masuk, meninggalkan ruangan selama ujian tidak diperbolehkan. Silakan gunakan kamar kecil terlebih dahulu. Jika seandainya kalian merasa sakit atau tidak tahan lagi ingin ke kamar kecil, silakan segera hubungi wali kelas kalian dan mintalah izin.”
“Tunggu, kami tidak boleh meninggalkan ruangan? Memangnya berapa lama kami harus berada di sana?”
“Penjelasannya tertulis di kertas itu. Waktu diskusi adalah 1 jam. Selain pengenalan diri, kalian bebas untuk menggunakan waktu itu sesuka kalian. Setelah 1 jam berlalu, kalian bebas untuk tetap di ruangan atau langsung pergi.”
Jadi jalannya pertemuan itu ada di tangan para siswa?
“Agh. Yah, ini terdengar agak mengganggu, tapi saya rasa saya sudah agak mengerti. Ugh. Saya harap kami bisa mengikuti ujian yang lebih menyenangkan.”
“Sekolah berkomitmen pada keadilan, jadi kami akan tegas dan tidak memihak. Setelah VIP dipilih, kami tidak akan menerima perubahan apa pun, bahkan jika VIP itu ingin merubah statusnya. Selain itu, menyalin, menghapus, mentransfer, atau mengubah email yang dikirim dari sekolah juga dilarang. Pahamilah poin-poin ini dengan baik.”
Itu ditulis secara rinci dalam daftar. Kami jelas tidak diizinkan untuk mengutak-atik email yang dikirim oleh sekolah, atau menggunakannya untuk menyebarkan informasi yang salah. Di sisi lain, itu berarti bahwa setiap pesan yang dikirim oleh sekolah adalah 100% kebenaran.
“.........”
“Hei, Ayanokouji. Kau dari tadi diam saja. Kau mengerti tidak?” kata Yukimura, yang duduk di sebelah kiriku. Tidak jelas apakah dia sedang marah atau khawatir.
“Garis besarnya aku sudah mengerti, sih. Tapi aku ingin kau menjelaskannya lebih detail lagi nanti, ada yang masih belum kupahami.”
“Ya ampun, kenapa aku harus sekelompok dengan orang-orang lola?”
Setelah itu pertemuan selesai, dan kami disuruh keluar ruangan. Aku merasakan aura yang tidak menyenangkan dari mereka bertiga. Aku pura-pura tidak memperhatikannya.
“Aku benci mengatakan ini, tapi karena kita berada di kelompok yang sama, kita harus bersatu. Banyak hal akan tergantung pada identitas VIP itu, tapi untuk sekarang, kita berempat harus mendiskusikan banyak hal.” Yukimura berbicara saat kami meninggalkan Mashima-sensei dan berjalan menyusuri koridor. Namun, Karuizawa tidak menunjukkan kepedulian sama sekali. Dia mengabaikan kami, mengeluarkan ponselnya dan berjalan pergi.
“H-Hei, Karuizawa. Kau dengar tidak?!”
Karuizawa, sama sekali tidak peduli, mulai menelepon. Aku agak terkesan. Seolah-olah dia memiliki mental baja.
“Ah, halo, Hirata-kun? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.”
Dia mungkin akan mengeluh pada Hirata. Dia dengan cepat melangkah menyusuri koridor dan menghilang.
“Kenapa aku harus sekelompok dengan orang-orang lola?”
“Oh ho, kamu sudah mengucapkan hal itu 5 menit yang lalu, bukan? Hah!” Profesor terkekeh.
Liburan kami telah berakhir, dan babak kedua baru saja dimulai. Yah, aku memang sudah menduga hal ini. Karena merasa tertekan oleh seluruh situasi ini, aku pun memutuskan untuk kembali ke kamarku.
“Ujian ini benar-benar mengganggu. Bermitra dengan wanita jalang seperti itu? Yang benar saja,” sembur Profesor setelah Karuizawa menghilang dari kejauhan.
Profesor sering mengatakan bahwa dia ingin pergi ke dunia 2D, dan gadis 2D itu sempurna. Mengetahui itu, aku mengerti mengapa dia sangat menolak gadis nyata seperti Karuizawa.
“Sejujurnya, aku sangat membencinya. Tidak peduli apa pun yang kulakukan, dia hanya akan membebani kita.”
“Itu memang benar, sih. Dia wanita jalang yang tidak bisa dimaafkan. Dia itu pelacur yang menyebalkan, iya 'kan?” jawab Profesor, seolah setuju dengan Yukimura. Dia menghembuskan napas keras dari hidungnya dan menepuk perutnya.
“Mungkin besok pagi akan ada notifikasi bahwa salah satu dari kita terpilih sebagai VIP. Jika salah satu dari kita terpilih, sebaiknya kita tidak menyebarkan identitas kita sembarangan. Kita tidak tahu siapa saja yang akan menguping. Ayo pergi ke tempat yang aman sebelum membicarakan ini lebih jauh.”
Aku setuju dengan rencana itu. Meskipun kapalnya luas, orang-orang mungkin sedang mendengarkan di tempat yang tidak terduga.
“Karuizawa sudah pergi, tapi aku ingin membicarakan tentang besok. Apa boleh buat, kita diskusikan ini bertiga saja. Yuk.”
“Aku benar-benar minta maaf, tapi aku harus menolak ajakanmu. Waktunya telah tiba, anime Love Love Alive sudah memanggilku, dan aku tidak bisa melewatkan lagu opening-nya. Sampai jumpa besok. Hai-ya!”
Dia menghilang seperti ninja. Yah, tidak juga—Profesor masih terlihat saat dia berjalan pergi. Yukimura, dengan hanya aku yang tersisa, menghela nafas seolah dia menyerah dan menggelengkan kepalanya. Dia sepertinya tidak ingin bekerja sama denganku. Kurasa kami tidak akan berdiskusi.
Kurasa aku harus melapor ke Horikita. Aku ingin tahu apakah dia juga menerima informasi yang sama dengan kelompok Kelinci. Aku mengirim detail kepadanya di chat, dan selagi aku menunggu balasannya, aku mulai menyusun strategi.
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar