CHAPTER 1
Hari-Hari yang Tenang...
PART 1
Setelah Karuizawa memonopoli Hirata, aku memutuskan untuk kembali ke kamarku. Lagi pula, tidak ada orang lain yang bisa kuajak nongkrong atau bicara. Aku naik tangga bukannya lift, dan kembali ke kamarku di dek ketiga. Ketika aku sampai di sana, aku melihat beberapa bercak basah berserakan di lantai lorong. Bercak-bercak itu ternyata menuju ke kamarku. Ketika aku mengikuti bercak itu, aku menemukan seorang pria elegan berjalan melalui koridor, telanjang dari pinggang ke atas, tidak mengenakan apa-apa selain pakaian renang.
“Tu-Tuan! Tolong jangan berjalan melewati lorong selagi Anda masih basah kuyup!”
Seorang pelayan muda bergegas menuju pria itu, tampaknya ingin sekali mengendalikan situasi darurat ini. Pelayan itu sudah mengulurkan handuk, sangat siap, seolah dia selalu berjalan dengan handuk di tangannya.
“Ha ha ha! Sepertinya kau sudah menemukanku, ya?” kata pria itu.
“Ya, saya sudah menemukan Anda. Ini sudah keempat kalinya. Saya sudah memberitahu Anda, tolong keringkan diri Anda setelah Anda meninggalkan kolam. Jika tidak, Anda akan mengganggu penumpang lainnya.”
Rupanya, pria ini adalah pelanggar berulang. Itu menjelaskan handuk yang disiapkan pelayan itu.
“Mengganggu? Tapi aku tidak ingat pernah mengganggu siapa pun. Mengeringkan diri dengan handuk bukanlah prinsipku. Bukankah aku sudah bilang? 'Biarkan menetes dengan jantan,'”
Ya. Pria itu adalah Kouenji. Dia menyisir rambutnya yang basah, tetesan air berhamburan. Pelayan itu buru-buru menggunakan handuk untuk mengeringkan bercak-bercak di karpet dan dinding. Kouenji berhenti. Aku bertanya-tanya apakah dia mengira perilaku pelayan yang kebingungan itu lucu.
“Apa kau punya pena dan kertas?” dia bertanya.
“Hah? A, uh, oh... karena sifat pekerjaan saya, saya selalu membawa notepad dan pena, tapi...” pelayan itu, jelas tidak yakin kemana percakapan itu mengarah, dengan takut mengeluarkan pena.
“Apa kau tahu kalau tanda tangan selebritas terkemuka dapat menghasilkan nilai premium yang tidak terduga dari waktu ke waktu? Di luar negeri, beberapa tanda tangan dihargai jutaan bahkan sampai puluhan juta.”
“Dan... kenapa dengan itu?”
Setelah Kouenji selesai mencoret-coret sesuatu di notepad, dia menyerahkannya kembali ke pelayan itu. Itu jauh, tapi aku bisa melihat nama “Kouenji Rokusuke.”
“A-Apa ini?”
“Bukankah sudah jelas? Itu tanda tangan. Meskipun itu ditulis di notepad murahan, itu pasti akan memiliki nilai yang luar biasa di masa depan. Aku mempersembahkan ini untukmu sebagai bukti atas masalahmu. Mohon terimalah tanda tangan itu dan jagalah baik-baik.”
Rupanya Kouenji percaya pelayan itu akan menerimanya dengan rasa terima kasih, atau mungkin rasa pengabdian yang diilhami oleh kekaguman. Tapi tidak ada orang waras mana pun yang akan menginginkan ini. Yang ada, pena dan notepad pelayan itulah yang lebih berharga.
“Tolong jangan memberiku tatapan curiga seperti itu. Aku adalah orang yang akan membawa Jepang menuju masa depan. Jika saat itu tiba, aku berniat untuk berlibur dengan kapal yang lebih besar, aku siap menunggu datangnya hari itu. Tentu saja, itu akan menjadi kapal pesiar mewah dengan kualitas yang jauh lebih tinggi daripada kapal biasa tempat kita berada sekarang.”
Yah, kapal pesiar mewah tetaplah kapal pesiar mewah. Secara pribadi, aku sudah puas selama itu tidak ditakdirkan untuk tenggelam seperti Titanic. Kouenji tertawa terbahak-bahak, tampak puas. Pelayan itu, benar-benar kaget, terus menatap ke tempat basah di lantai. Dia benar-benar kehilangan minat untuk terus berusaha menghentikan pria ini.
Kouenji sendirian sepanjang waktu karena teman sekelas kami menjauhi dia, mereka jijik dengan kepribadiannya yang sangat egois. Banyak teman sekelas kami juga mengalami perlakuan yang sama seperti pelayan yang malang ini. Hirata mungkin akan mencoba berbicara dengannya, tapi dia kemungkinan besar akan ditepis juga. Kouenji seperti racun. Siapapun yang mendekatinya, baik itu teman ataupun musuh, akan menderita karenanya.
Supaya tidak terseret ke dalam situasi yang sangat mengganggu, aku menyelinap melewati mereka berdua. Terlalu dekat dengan orang kasta tinggi seperti itu akan berbahaya.
“Oh ho? Ternyata ada Ayanokouji boy, ya? Kebetulan sekali.”
Ugh. Kouenji memanggil namaku. Tidak mungkin dia memanggilku, 'kan? Begitu pelayan itu memperhatikan bahwa perhatian Kouenji telah bergeser ke aku, dia tampak gembira. Aku akhirnya bebas! Dia terlihat seperti mengatakan itu.
Tidak, tidak. Bagaimana bisa seorang anggota kru bersikap seperti itu? Dia seharusnya tetap melayani tamu, tidak peduli seberapa menyebalkannya tamu itu. Itu seperti seseorang melepaskan hewan peliharaannya ke sungai tanpa izin. Apalagi jika di sungai itu terdapat spesies ikan ganas dan brutal seperti Kouenji, yang akan melahap semua ikan di sungai sampai tidak ada yang tersisa.
“Apa kau ada urusan denganku?” aku bertanya.
“Tidak, tidak, aku tidak punya urusan denganmu. Aku hanya menyapamu karena kita adalah teman sekolah. Dan juga, meskipun kita tentu saja berada dalam level yang berbeda, kau adalah teman sekamarku.”
Kouenji mengibaskan rambutnya sekali lagi, menghamburkan lebih banyak air, yang memerciki wajah dan seragamku. Tentu saja, dia sepertinya sama sekali tidak menyadari tentang dampak dari tindakannya itu terhadap lawan bicaranya. Terlepas dari apa yang terjadi padaku, pelayan itu menyaksikan tragedi ini sambil tersenyum. Oh ya, ya, aku bersimpati dengan rasa sakit yang kamu rasakan... tidak, itulah yang sepertinya ingin dia sampaikan.
“Kalau begitu, saya permisi. Harap jangan mengulanginya lagi, tuan.”
Pelayan itu memberikan kata perpisahan itu saat dia melarikan diri, setelah memenuhi perannya. Tentu saja, aku tidak ingin berakhir sendirian dengan Kouenji.
“Apa yang Anda bicarakan dengan Kouenji?” aku bertanya.
Untuk sesaat, ekspresi pelayan itu berubah menjadi ekspresi marah, tapi ketika Kouenji berbalik, senyum pemuda itu kembali. Dia seperti karakter Asuraman dalam manga Kinnikuman.
“Oh, eng. Seperti yang Anda lihat, dia basah kuyup. Saya mencoba menawarkannya handuk, dan—”
“Jadi, dengan kata lain, Anda memberinya peringatan. Saya pasti sudah mengganggu Anda, jadi saya akan pergi dan membiarkan Anda menyelesaikan urusan Anda.”
Aku mengoper bola, jika ini berhasil, bola itu akan diterima pelayan itu dan memberiku kesempatan untuk melarikan diri.
“Pelayan ini datang untuk memberiku peringatan?” seru Kouenji.
“Ah tidak. Anu, maksudnya...”
Aku berhasil kabur dari Kouenji dan kembali ke kamarku. “Tapi aku akan bertemu Kouenji lagi di sana, bukan?” aku bergumam.
Kamarku akan menjadi kurang nyaman dan lebih seperti neraka. Aku sudah beberapa kali terjebak dengan Kouenji selama perjalanan ini, dan setiap itu terjadi sangat tidak nyaman. Karena ingin menghindari suasana canggung seperti itu, aku pun berbalik. Aku belum akan kembali ke kamarku. Aku akan kembali ke tempat Hirata dan Yukimura berada, teman sekamarku yang lain.
Peta kapal ada di papan terdekat, dan cukup mudah untuk dipahami. Peta itu ditempatkan dalam bingkai berlapis emas, itu terlalu berlebihan, tetapi juga membuatnya tampak seperti sesuatu yang bisa kau temukan di kapal pesiar mewah. Aku menggambar rute yang memungkinkanku menghabiskan banyak waktu luang, dan segera masuk ke dalam lift. Aku turun ke dek kedua.
Kapal ini memiliki 9 dek, ditambah satu atap. Dek kelima ada di tingkat atas, sedangkan dek keempat berada di tingkat bawah. Dek pertama menyediakan lounge dan area jamuan makan, sedangkan atap menyediakan kolam renang, café, dan fasilitas lainnya. Dek ketiga dan keempat adalah untuk kamar tamu. Anak laki-laki di dek ketiga; gadis-gadis di dek keempat.
Anak laki-laki dan perempuan, termasuk guru, dibagi dengan rapi. Namun, tidak ada batasan khusus pada pergerakan kami, jadi anak laki-laki bisa dengan mudah berkeliaran di area anak perempuan. Kami mungkin dilarang berada di lantai tempat gadis-gadis berada atau datang ke area mereka jika sudah tengah malam.
Kapal ini juga memiliki berbagai macam sarana hiburan, seperti film dan tempat live teater. Ini ada di mana-mana, dari lantai satu hingga lantai tiga. Di lantai empat—tingkat terendah di bagian kapal—adalah sejenis ruang pemutus tenaga. Lantai itu tidak terbuka bagi siswa.
Lounge buka 24 jam sehari. Kami bebas untuk pergi kesana walaupun sudah larut malam, tetapi pemberitahuan dari sekolah mendesak kami untuk menahan diri sebisa mungkin. Saat aku berjalan menyusuri area lantai dua, kuperhatikan bahwa suasananya terasa sangat berbeda. Ruangannya kosong, dan aku tidak tahu itu digunakan untuk apa. Sangat sedikit siswa yang berada di koridor sehingga tampak sepi.
Saat itu, ponselku bergetar di sakuku. Setelah kuperiksa, aku melihat bahwa aku telah menerima email. Seorang gadis tertentu ingin bertemu denganku. Itu melegakan, karena aku memang berencana untuk menghabiskan waktu. Tanpa alasan untuk menolaknya, aku pun menerima ajakan itu dengan senang hati.
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar