CHAPTER 1
Hari-Hari yang Tenang...
INTRO
Sudah 3 hari berlalu sejak berakhirnya ujian khusus di pulau itu. Tidak ada peristiwa menarik lainnya yang terjadi di atas kapal pesiar mewah yang telah disediakan SMA Koudo Ikusei untuk kami, dan kami pun menikmati waktu santai.
Tak perlu dikatakan bahwa waktu yang dihabiskan di pulau tak berpenghuni telah menyebabkan sekelompok anak muda seperti kami kehilangan akal. Kami, anak laki-laki, pada dasarnya adalah binatang buas—karnivora yang haus seks. Saat kami mengamati gadis-gadis mengobrol dan bermalas-malasan seperti herbivora, anak laki-laki menunggu kesempatan seperti seekor predator.
Kapal pesiar mewah ini, dilengkapi dengan berbagai fasilitas, ini terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Perjalanan ini membuat kami melupakan semua hal yang tidak menyenangkan. Tidak akan aneh jika seseorang jatuh cinta di sini. Rumor mengatakan bahwa banyak pasangan telah terbentuk dalam perjalanan ini.
Sayangnya, itu tidak akan terjadi padaku. Aku hidup di dunia yang terisolasi sebagai seorang penyendiri.
Ujian itu tidak mengubah situasiku... Tidak, itu tidak sepenuhnya benar. Lingkunganku sudah mulai berubah. Berlawanan dengan keinginanku, aku ditugaskan di rute utama. Aku awalnya masuk ke sekolah ini untuk alasan tertentu.
“Kontak dengan orang luar dilarang sampai kelulusan.”
Aturan itu adalah alasanku masuk ke sekolah ini. Namun, seorang pria tertentu telah secara paksa mencoba menjalin kontak denganku. Chabashira-sensei, guru wali kelasku, mengatakan itu padaku. Kemudian Chabashira-sensei mengancam akan mengusirku dari surga ini apabila aku menolak untuk bekerja sama menuju Kelas A. Meskipun aku tidak pernah melakukan sesuatu yang keji, makhluk tak berdaya sepertiku tidak punya pilihan selain menerimanya. Aku tidak tahu apakah dia berbohong atau tidak. Oleh karena itu, aku harus menganggap itu sebagai sebuah kebenaran.
Namun, aku tidak bermaksud untuk menari mengikuti irama guru wali kelasku selamanya. Selagi aku mengumpulkan informasi yang diperlukan, aku mempertimbangkan bahwa aku mungkin perlu mengambil tindakan. Setan kecil yang bertengger di bahuku berbisik pelan ke telingaku: Lebih baik serang mereka sebelum mereka menyerangmu. Aku bertanya-tanya tentang berbagai cara yang bisa kulakukan untuk memaksa Chabashira mengundurkan diri. Hmm.
Pikiran yang mengganggu itu hanya berlangsung sedetik. Pikiranku kembali normal dan kosong.
“Hahh~. Kalau saja aku punya kekuatan untuk memutar bumi pada porosnya...”
Jika aku bisa melakukan itu, aku akan bisa hidup bebas, tanpa harus khawatir tentang hal-hal kecil. Aku melihat ke luar jendela dan melamun tentang Dragon Ball. 3 hari telah berlalu sejak berakhirnya ujian. Setelah melewati ujian bertahan hidup, sebagian besar siswa telah menunggu sesuatu terjadi. Mereka bersiaga kalau-kalau sekolah merencanakan hal lain.
Tapi tidak ada tanda-tanda bahaya. Semuanya tenang dan damai, seolah-olah liburan musim panas telah benar-benar dimulai dan perjalanan ini akan jadi menyenangkan. Para siswa mulai rileks, dan berperilaku seolah-olah ujian benar-benar berakhir. Mereka mengira minggu kedua ini murni liburan. Semua orang menjadi semakin santai.
Terlepas dari ketenangan kami, kami tetap mempertahankan rasa kesiapan. Orang-orang tahu bagaimana cara bersantai yang efektif.
“Hmm? Kamu dari tadi belum keluar dari kamar, ya?”
Hirata Yousuke, salah satu teman sekamar kabinku, mengguncangku dari lamunan saat aku menatap laut. “Aku tidak punya alasan untuk keluar. Aku juga tidak punya siapa-siapa yang bisa diajak.”
“Itu tidak benar. Kan ada Sudou-kun dan yang lainnya, dan juga Horikita-san.”
Memang benar bahwa orang-orang seperti itu telah mengkategorikanku sebagai “teman”, dan aku menerimanya. Tapi mereka yang berada di kasta terbawah dari kategori “teman” diperlakukan berbeda dari teman-teman lain yang kastanya lebih tinggi. Ketika seseorang ingin hang out, teman tingkat rendah hanya punya 10% peluang untuk diajak. Tentu saja, aku adalah teman tingkat rendah itu.
“Kamu mungkin akan mendapat lebih banyak teman kalau kamu sedikit lebih aktif, Ayanokouji-kun. Meskipun kukira itu bukan urusanku, sih.”
Hirata sangat populer dan dikagumi oleh banyak siswa. Semua gadis memujanya, dan dia punya pacar bernama Karuizawa. Seorang laki-laki yang bahagia mungkin tidak bisa memahami pedihnya kesendirian.
“Kamu laki-laki yang dapat dipercaya, Ayanokouji-kun. Kupikir yang kamu butuhkan hanyalah kesempatan yang tepat.”
Aku tidak butuh kata-kata baik hati namun terasa kejam seperti itu. Aku tidak perlu mendengar gadis-gadis mengatakan hal-hal seperti, “Oh, tapi kudengar kamu hebat,” karena jika aku menjawab dengan, “Kalau begitu, ayo kencan,” mereka akan menjawab, “Yah, aku tidak tahu tentang itu…” aku tidak butuh itu. Aku menghabiskan waktu sendirian karena aku tidak bisa berteman ataupun mendapatkan pacar. Dasar idiot.
“Aku berencana untuk bertemu dengan Karuizawa-san dan yang lainnya jam 12:30 untuk makan siang. Apa kamu ingin ikut? Kupikir itu akan sangat menyenangkan.”
“Karuizawa dan yang lainnya?” aku bertanya.
“Iya. Ada tiga gadis lainnya. Mau ikut?”
Aku harus memikirkan itu. Sejujurnya, aku ingin berinteraksi dengan Karuizawa untuk sementara waktu. Namun, tidak perlu terburu-buru. Selain itu, jika ada gadis lain, aku akan sulit berinisiatif membuat percakapan. Aku tidak bisa membayangkan apakah aku bisa menghidupkan suasana. Kemungkinan aku justru akan memperkeruh keadaan.
“Tidak usah. Aku tidak berhubungan baik dengan kelompok Karuizawa.”
Sejak akhir semester pertama, hubungan di kelas kami telah terjalin dengan baik. Bagaimana aku akan membangun pertemanan dengan orang lain pada titik ini? Aku sudah bisa membayangkan rasa jijik Karuizawa dan gadis-gadis lainnya.
Meskipun dia tidak sepenuhnya memahami ketakutanku pada orang lain, Hirata duduk di sebelahku. “Aku bisa mengerti kalau kamu merasa ragu-ragu. Itulah kenapa aku ingin kamu mengandalkanku.”
Hirata tersenyum optimis. Walaupun itu adalah tawaran kebaikan, aku menggelengkan kepalaku.
“Kau hanya punya waktu sekitar 10 menit lagi sebelum bertemu dengan mereka. Lebih baik kau segera pergi.”
“Tidak perlu terburu-buru. Lagipula, aku suka menghabiskan waktu bersamamu.”
Bagi orang asing, kata-kataku mungkin terdengar seperti alasan, tapi jujur aku puas dengan situasi saat ini. Dulu ketika aku baru saja masuk sekolah, aku ingin berteman. Aku ingin punya 100 teman, tapi tentu saja, semua orang menetap di kelompok mereka masing-masing. Itu hanya masalah biasa.
Meskipun aku hanya bisa berbicara dengan tiga idiot Horikita, Kushida, dan Sakura, kehidupan sekolahku tidak terlalu buruk. Aku sangat percaya itu. Tapi Hirata bukanlah tipe orang yang akan meninggalkan seseorang jika dia melihat orang itu sendirian.
“Nah, bagaimana kalau kita berdua makan siang bersama, hanya kamu dan aku?”
Hanya kami berdua saja. Duduk bersama di ranjang. Hirata menoleh ke arahku dengan tatapan serius. Jika dia memaksaku, aku akan kesulitan menolaknya. “Yah, itu tawaran yang menarik, tapi... Bukankah kau sudah janji dengan Karuizawa?”
“Aku bisa makan dengan Karuizawa-san dan yang lainnya kapan saja, tapi aku belum pernah punya kesempatan untuk makan bersama denganmu, Ayanokouji-kun.”
Biasanya, seorang laki-laki akan melakukan apa saja untuk mendapatkan kesempatan makan bersama seorang gadis. Tipikal pemikiran laki-laki. Namun, Hirata sepertinya bisa memprioritaskan makan dengan laki-laki lain tanpa ragu-ragu. Itu cukup membuatku ragu. Mungkin itu sudah "sifatnya dari lahir." Hirata adalah orang yang bisa mengerjakan banyak hal sekaligus, tapi dia tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan. “Aku akan merasa tidak enak kalau nanti Karuizawa menyalahkanmu.”
Aku mencoba untuk menolaknya dengan lembut, tetapi sepertinya itu menarik hati nuraninya. Aku bertanya-tanya apakah Hirata menganggapku seperti anak rusa yang baru lahir yang gemetaran yang bahkan tidak bisa mengambil langkah pertama. “Jangan khawatir. Kupikir Karuizawa-san bukanlah tipe gadis yang menyimpan dendam.”
Tidak, tidak. Karuizawa jelas terlihat seperti gadis yang seperti itu. Meskipun dia berpura-pura baik di depan Hirata, dia mendominasi gadis-gadis lainnya. Aku bertanya-tanya apakah Hirata telah mengkategorikannya sebagai "tipe gadis yang seperti itu." Itu mengingatkanku pada guru dari manga Yomawari Sensei, yang menunjukkan belas kasihan kepada siswa berandalan.
“Oke. Aku akan membatalkan janjiku dengan Karuizawa-san untuk hari ini.” Hirata mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Karuizawa. Aku mencoba menghentikannya, tapi Hirata menatapku. “Kamu ingin makan apa?”
“Aku bisa makan apa saja, sih. Jika memungkinkan aku ingin menghindari makan makanan berat,” gumamku.
Kapal pesiar ini memiliki banyak restoran. Mereka menyediakan berbagai jenis makanan, dari yang cepat saji seperti ramen dan hamburger hingga masakan Prancis. Karena hari masih siang, aku ingin makan sesuatu yang ringan jika memungkinkan. Aku mendengar Hirata dengan datar memberitahu Karuizawa bahwa dia membatalkan rencana mereka melalui telepon. Aku tidak bisa mendengar suara Karuizawa dengan jelas, tapi Hirata tiba-tiba menutup telepon.
“Apa kau benar-benar tidak keberatan dengan ini?” aku bertanya.
“Tentu saja. Kalau begitu, ayo kita pergi ke dek. Kalau kita hanya ingin makan makanan ringan, di sana adalah tempat yang nyaman.”
Hirata membuka pintu, seolah membimbingku, selagi aku bersantai di tempat tidur. Hirata menjadi dirinya sendiri yang peduli, tetapi mengajakku keluar ketika aku tidak benar-benar antusias itu aneh. Tampaknya Hirata agak memaksa, terutama karena dia biasanya bisa membaca situasi apa pun dengan baik. Dia mungkin memiliki semacam motif tersembunyi.
“Terima kasih sudah membantu di pulau tak berpenghuni. Maaf aku tidak bisa banyak membantu menemukan pelakunya, Ayanokouji-kun.”
“Kau tidak perlu meminta maaf. Aku bahkan tidak berguna. Horikita lah yang menemukan pencuri celana dalam itu.”
“Meski begitu, aku berterima kasih padamu karena sudah membantu.”
Berbicara tentang insiden celana dalam, ada sesuatu yang ingin kutanyakan. Aku melihat sekeliling untuk memastikan kami sendirian, lalu membicarakan topik itu. “Apa kau sudah mengembalikan celana dalam itu ke Karuizawa?” aku bertanya.
“Iya. Ketika dia mendengar kalau Ibuki-san adalah pelakunya, semuanya berjalan dengan lancar.”
Celana dalam Karuizawa dicuri di pulau itu, dan selama beberapa waktu terjadi kegemparan. Karena celana dalam itu ada di tas laki-laki, hubungan antara cowok dan cewek Kelas D menjadi genting. Tapi Hirata menggunakan pemikiran cepatnya, dan menyembunyikan celana dalam itu. Karena itu, keadaan bisa dikendalikan. Aku sangat senang. Itu adalah operasi yang sangat rumit, jadi aku terkesan. Aku sempat mengira bahwa Hirata akan dengan ceroboh mengembalikan celana dalam itu, terlepas dari kepandaiannya.
Resolusi Hirata yang tenang dan damai terhadap kasus celana dalam membuktikan bahwa dia terus menaiki tangga menuju kedewasaan. Kami menaiki lift kapal menuju dek di lantai atas. Banyak dari teman sekelas kami yang tampaknya menikmati liburan musim panas seutuhnya. Baik laki-laki maupun perempuan terlihat di kolam renang dengan pakaian renang mereka, berjalan kesana kemari. Suasana hati yang berat dan sesak yang membebani kami selama ujian telah sirna.
Pemandangan manja dan nakal ini datang dari hasrat terpendam siswa, yang telah lama ditekan di pulau itu. Kami tidak perlu menggunakan poin untuk setiap fasilitas di kapal, ataupun untuk makanan dan minuman. Semuanya gratis. Siswa tidak perlu menahan diri. Kau perlu meminjam hal-hal seperti pakaian renang dan peralatan lainnya, tapi itu semua gratis. Ini benar-benar surga.
Pada saat kami mencapai restoran, lebih dari setengah kursi sudah ditempati. Kami menyelinap melewati kerumunan dan mengamankan dua kursi kosong.
“Sejujurnya, aku butuh saranmu tentang sesuatu.” Hirata berbicara dengan cara yang sedikit menyesal sembari melihat menu.
“Saran?” jadi dia memang punya motif tersembunyi. Itulah kenapa dia ingin makan denganku. Yah, aku bersyukur. Aku tidak perlu cemas akan ajakan ini.
“Aku bukan orang yang tepat untuk dimintai saran. Bisakah kau katakan intinya saja?” aku bukan pembicara atau pendengar yang hebat, tetapi dia mungkin memilihku karena suatu alasan.
“Aku ingin tahu apakah kamu bersedia menjadi perantara antara aku dan Horikita-san. Bagaimanapun, Kelas D harus bersatu dan bekerja keras di masa depan, dan kupikir Horikita-san akan sangat diperlukan.”
Jadi itu yang ingin dia bicarakan denganku, ya? Saat aku mengangguk, Hirata melanjutkan dengan percaya diri.
“Baru-baru ini, Kelas D mendapat dorongan besar berkat Horikita-san. Semangat juang kelas telah meningkat, dan terlebih lagi, jumlah orang yang mengidolakan Horikita-san telah meningkat. Ini adalah kesempatan besar.”
“Yah, kurasa begitu.”
Horikita Suzune adalah seorang siswi di Kelas D, dan teman pertamaku di sekolah. Aku adalah teman pertamanya juga, tetapi dia adalah seorang penyendiri, gadis yang angkuh. Dia adalah seorang siswi teladan, sangat berprestasi baik dalam sastra maupun seni bela diri. Kelemahannya adalah dia menyendiri, menjauhi semua orang. Dia tidak melibatkan dirinya dengan siapa pun karena sikapnya yang angkuh, dan dia tidak pandai bersosialisasi.
“Itulah kenapa kupikir sekarang dia harus mencoba bergaul dengan semua orang. Kalau dia bekerja sama dengan kita, kupikir kita bisa naik ke Kelas C, dan kemudian Kelas B... Tidak, kita bahkan bisa mencapai Kelas A.”
Itu akan terdengar palsu di telinga orang lain, tapi Hirata memang sudah memuji Horikita sejak kami masuk sekolah. Dia sudah menyadari potensinya dari awal, dan tak ada sama sekali tanda-tanda bahwa ia membencinya. Aku tidak keberatan membantunya. Itu tugas yang simpel. Aku setidaknya bisa membuat Hirata dan Horikita lebih dekat, tapi itu mungkin tidak akan bertahan selamanya.
“Tapi bahkan jika aku bisa menyatukan kalian berdua, semuanya tidak akan semudah itu. Horikita itu sulit diatur.”
Jika aku meminta Horikita untuk melunakkan pendekatannya, dia akan menolakku. Jika Horikita percaya aku mencoba memanipulasinya, segalanya bisa berakhir dengan bencana. Dia akan menjauhkan dirinya lebih jauh. Tanggapannya terhadap dorongan Kushida untuk pertemanan di kafe selama semester pertama kami adalah buktinya.
“Iya. Aku mengerti, tentu saja. Horikita-san hanya membuka dirinya untukmu, Ayanokouji-kun. Aku tidak ingin memaksakan kepercayaan dirinya. Itu sebabnya aku memberitahumu niatku, sehingga kamu dapat bicara dengannya. Lalu, berpura-puralah aku tidak pernah bicara denganmu.”
Jadi aku seharusnya menjadi pembisik Horikita, ya? Aku akan menjadi perantara, menyampaikan pendapat Hirata kepada Horikita. Jika aku melakukan itu, Horikita akan masuk ke dalam kemitraan tak terlihat dengan Hirata, dan tidak pernah menyadarinya.
“Kalau dia mau mendengarkanku, semuanya akan jadi simpel. Tapi tidak akan semudah itu. Aku biasanya hanya mengikuti apa pun yang dikatakan Horikita. Aku tidak pernah memaksakan pendapatku padanya. Kalau aku tiba-tiba menyuarakan pendapat yang kuat, dia mungkin akan menganggapnya mencurigakan. Kalau dia sampai tahu itu pendapatmu, kupikir dia akan langsung menolaknya.”
“Tapi aku tidak bisa memikirkan cara lain sekarang. Aku tidak punya kepercayaan diri untuk bicara dengan Horikita-san, apalagi membujuknya. Ini adalah usaha terakhirku.”
“Tidakkah menurutmu ini terlalu cepat untuk usaha terakhir?”
Hirata jelas ingin bergabung dengan Horikita, tapi dia harus menghadapinya secara langsung. Aku mengerti itu sulit, tetapi begitu juga dengan mengkoordinasi kelompok. Horikita mungkin akan setuju. Tidak ada orang lain di kelas kami yang menghargai pertemanan dan komunitas seperti halnya Hirata.
Aku masih ragu dengan usulannya. Sepertinya dia gugup dan meragukan dirinya sendiri. Hirata juga sempat bertingkah aneh saat berada di pulau. Ini bukan masalah sepele.
Aku memesan sandwich dan minuman. Para siswa berenang di kolam renang di sekitar, dan yang lainnya sedang makan sambil tetap mengenakan pakaian renang mereka. Semua orang tampak bersenang-senang. Jika Ike dan Yamauchi ada di sini, mereka mungkin akan melupakan makanan dan memanjakan mata mereka mengamati gadis-gadis itu. Hirata sama sekali tidak memperhatikan gadis-gadis itu, tetapi fokus padaku.
“Ya, kamu mungkin benar. Seperti yang kamu katakan, Ayanokouji-kun. Rencanaku benar-benar picik.”
Dia menyadari kesalahannya dalam mengambil keputusan dan memberikan penilaian yang jujur, tanggapan fleksibel. Satu lagi dari banyak pesona Hirata. Tapi keinginannya untuk bekerja sama dengan Horikita begitu kuat, dia tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah.
“Aku mungkin harus mempertimbangkan kembali bagaimana melakukan ini. Horikita-san sepertinya sangat cerewet dan suka mengkritik. Bagaimana kamu bisa bergaul dengannya, Ayanokouji-kun?”
Hirata ingin menjadi teman Horikita sebelum mendirikan hubungan kerja sama. Kupikir menghadapi Horikita secara langsung adalah hal yang benar untuk dilakukan. Ini bermanfaat, dan aku ingin membantu, tapi...
“Yah, sebenarnya, kupikir aku tidak berhubungan baik dengan Horikita. Baru-baru ini, aku bertanya-tanya apakah kami bahkan bisa disebut teman.”
“Tapi sepertinya Horikita-san cuma akrab denganmu, Ayanokouji-kun. Kamu istimewa baginya.”
Istimewa, ya? Sulit dipercaya bahwa seseorang dengan lebih dari 40 teman akan mengatakan itu kepada seseorang yang hampir tidak punya satu pun teman. Atau mungkin itu karena dia bisa bergaul dengan lebih dari 40 orang tetapi Hirata frustrasi karena kehilangan koneksi dengan satu siswa tertentu.
“Tidak perlu terburu-buru, 'kan? Semester pertama baru saja berakhir.”
Ikatan antara orang-orang pada dasarnya harus diperkuat dari waktu ke waktu. Terkadang, kau dapat menempatkan orang bersama-sama di bawah kondisi yang tiba-tiba dan keras, seperti ujian di pulau itu, dan menyaksikan ikatan itu menguat dalam semalam. Tentu saja, selagi kau mungkin melihat peningkatan instan melalui metode itu, ikatan itu seringkali bisa rapuh.
“Horikita bukanlah tipe orang yang mudah diajak berteman.” aku ingin Hirata memahaminya.
“Itu mungkin benar.” Hirata tampak sedikit menyesal. Mungkin dia merasa seperti terburu-buru lagi. “Aku tidak memikirkan perasaannya. Aku hanya memikirkan diriku sendiri.” Hirata mengguncang dirinya dari lamunannya. Lagi-lagi, dia tersenyum. “Aku mengajakmu keluar untuk makan tapi malah sibuk memikirkan tentang diriku. Maaf. Kalau begitu, selamat makan.”
Dengan itu, kami mulai memakan makanan kami yang baru saja tiba. Namun, Hirata mendongak dan sepertinya melihat seseorang mendekati kami. Dia tercengang dan heran.
“Ah, jadi kamu ada di sini, Hirata-kun. Ayo makan siang bersama!” Karuizawa mendekati kami, memimpin sekelompok gadis. Dia terdengar senang dan riang.
“Eng... Karuizawa-san, kupikir aku sudah membatalkan rencana kita...”
Hirata tersandung dalam kata-katanya, tampak tidak yakin. Sementara itu, Karuizawa dan para gadis menarik kursi dari meja lain, mendorongku menjauh, dan mengitari Hirata. Makan siang kami berubah dari damai menjadi berisik dalam hitungan detik. Aku tidak banyak bicara, aku tidak terlalu peduli.
Aku sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini. Mungkin sudah waktunya bagiku untuk menggunakan kemampuan khusus yang kuperoleh sejak masuk sekolah, "Melarikan Diri dengan Cepat." Aku mengambil makananku dan berdiri dengan tenang, tanpa mengeluarkan suara. Mata Hirata bertemu denganku untuk sesaat, tapi gadis-gadis itu menutup barisan dan dia lenyap.
Mungkin ini adalah salah satu kelemahan dari memiliki begitu banyak teman. Dengan begitu banyak waktu yang dicurahkan untuk orang lain, kau jadi tidak punya waktu untuk dirimu sendiri. Bahkan jika Hirata memiliki masalah yang membebaninya, dia tidak bisa membicarakan masalah itu dengan Karuizawa dan yang lainnya. Sebagai gantinya, dia menyimpan masalah itu di hatinya.
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar