-->
Loading...

iklan adsense

Volume 3 Epilog Part 1 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia

Released on September 08, 2021 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Volume 3 Epilog Part 1 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, Streaming Volume 3 Epilog Part 1 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 3 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!

EPILOG
Tirai Telah Diangkat

PART 1

Setelah aku kembali ke kapal, aku langsung menuju ke kamarku. Hirata yang kelelahan ada di sana, tertidur. Aku mengganti pakaianku dengan tenang supaya tidak membangunkannya dan menuju ke aula. Saat aku menyalakan ponselku, dering mulai berdengung berulang kali. Riwayat panggilanku telah penuh. Itu semua dari Horikita. Menakutkan. Untuk saat ini, aku hanya membalas email dan bersantai di ruang tunggu sementara aku menunggu. 

Dia mungkin tidak akan bisa diyakinkan kecuali aku menjelaskan semuanya. Beberapa saat kemudian, Horikita yang terlihat cukup marah menghampiriku.

“Apa maksud hasil ujian ini? Apa yang sebenarnya terjadi?” 

“Kelihatannya kau tidak mengerti sama sekali.”

“Aku tidak bisa membayangkannya. Aku tidak mengerti sama sekali. Aku punya segudang pertanyaan.” 

Horikita memesan minuman dari pelayan. Aku mulai berbicara. 

“Aku akan memberitahumu semuanya. Tapi, aku punya satu syarat. Kau harus tutup mulut tentang masalah ini. Aku tidak akan berkompromi dalam hal ini.” 

Aku berasumsi akan jadi seperti ini, mengingat Horikita mengundurkan diri bukan atas keinginannya sendiri. Cerita ini hanya untuk Horikita. 

“Apa yang ingin kau tanyakan?”

“Apa yang kamu lakukan selama ujian? Katakan padaku,” katanya. 

Itu adalah pertanyaan yang jauh lebih baik dari yang kuharapkan. Dia ingin mendengar semuanya sekaligus. 

“Ketika ujian khusus diumumkan, aku tidak fokus pada apa pun kecuali aturan tambahan. Aku cukup mengerti bagaimana cara mengelola 300 poin, tapi poin itu tidak dapat dimanipulasi seorang diri.” 

“Tapi aturan tambahannya sangat sulit untuk dipahami. Kalau kamu melakukannya secara normal, kamu tidak akan dapat mengidentifikasi identitas pemimpinnya. Iya, 'kan?”

“Iya. Pertama-tama, aku mengajukan diri untuk bergabung dalam pencarian base camp. Setelah mampu bergerak bebas, aku berencana untuk mencari lokasi titik lebih dulu dari orang lain.”

“Kamu membuatnya terdengar simpel, tapi seharusnya tidak ada yang tahu lokasi titik itu.” 

“Itu salah. Kau tidak mengerti karena waktu itu kau sakit dan tidur di dalam kapal, tapi sekolah sudah memberi kita petunjuk tentang lokasinya ketika kita mengitari pulau.” 

Katsuragi juga menyadari hal ini ketika kapal mengitari pulau dalam kecepatan tinggi. Horikita terdiam. Kapal itu melaju hampir tiga kali lebih cepat dari kapal pesiar biasa. Selain itu, jika itu hanya untuk jalan-jalan, itu tidak normal untuk menggunakan ungkapan aneh seperti "pemandangan yang patut diperhatikan."

Kouenji juga menyadari petunjuk ini. Yah, mungkin akan membuang-buang waktu kalau memikirkan Kouenji. 

“Lalu, aku sampai di gua. Kupikir itu adalah base yang paling penting.” 

“Gua adalah base yang paling penting? Bukannya sungai dan sumur terkesan lebih nyaman?” 

“Titik itu sendiri bukanlah yang terpenting. Tapi lokasinya.” 

Tidak ada titik di dekat sungai ataupum sumur. Namun, ada dua titik di dekat gua: gubuk dan menara. Itu adalah tempat yang sempurna untuk mengontrol wilayah. Horikita terlihat mengerti begitu aku menjelaskannya. 

“Tapi apa untungnya masuk ke gua itu jika kamu tidak membawa kartu kunci?”

“Aku bermaksud untuk menjelajahi berbagai hal, tapi pada akhirnya aku justru menemukan identitas pemimpinnya.” 

“Yah, kurasa Katsuragi-kun itu ceroboh.” 

Tidak, bukan begitu. 

“Masih ada orang itu, Yahiko, ingat? Yang selalu mengikuti Katsuragi? Dialah pemimpinnya. Aku melihat Katsuragi dan Yahiko di gua, tapi aku tidak melihat saat mereka mengklaimnya. Setelah mereka berdua pergi, aku memeriksa apakah gua itu sudah diklaim atau belum.” 

Aku menjelaskan situasinya. Ketika aku melihat mereka, Katsuragi berdiri di dekat pintu masuk sambil memegang kartu di tangannya. Yahiko keluar dari gua, dan mereka pergi bersama.

“Bukankah yang memegang kartunya itu Katsuragi-kun?” dia bertanya. 

“Apa menurutmu seorang pemimpin akan menunjukkan kartunya begitu sembarangan di depan orang lain?” 

Horikita seharusnya tahu betapa bodohnya itu, karena dia ditunjuk sebagai pemimpin. 

“Tapi kenapa? Kenapa dia sengaja repot-repot memegang kartu itu?” 

“Karena dia tidak punya pilihan lain. Sejauh yang kutahu, Katsuragi adalah laki-laki yang tenang dan sangat berhati-hati. Dia pasti mengerti risiko dari mengklaim sebuah titik. Dengan kata lain, orang yang mengklaimnya terpikat oleh keserakahan.” 

“Itulah ... alasannya ada orang lain.”

“Ya.” Ketika Katsuragi menemukan gua itu, dia tidak berniat untuk mengklaimnya. Namun, dia menahan tempat itu, mungkin karena Yahiko telah ceroboh. Meskipun dia pikir tidak ada yang akan mengawasi mereka, dia mungkin butuh jaminan. Dengan memegang kartu dan memperlihatkannya, bahkan jika ada saksi, dia bisa menyesatkan mereka ke pola pikir bahwa dialah pemimpinnya. 

“Jadi, selain dari base mereka, Kelas A menahan setidaknya dua titik, tapi kita tidak bisa mengkonfirmasi berapa banyak titik yang sudah mereka klaim sampai ujian berakhir. Kalau aku menebak dengan benar identitas pemimpin mereka, maka aku bisa menghapus semua poin mereka.” 

Setelah aku tahu bahwa Yahiko adalah pemimpinnya, berusaha untuk hal lain hanya akan membuang-buang waktu. 

“Aku masih belum mengerti. Kalau dia sudah tahu lokasi titik itu sejak awal, dan kalau dia bertindak bersama yang lainnya, bukankah seharusnya tidak ada lagi masalah? Bahkan kalau dia hanya menyuruh seseorang untuk berjaga di dekat gua itu, seharusnya klaim kepemilikan sudah cukup. Kenapa mereka menempatinya?” 

“Itu mungkin kelemahan Kelas A.”

Poin keseluruhan mereka pada ujian itu tinggi, dan mereka tidak menerima penilaian negatif karena perilaku di kelas seperti Kelas D. Namun, kelas mereka terbagi secara internal. Dengan kata lain, ada alasan mengapa Katsuragi tidak bisa mengandalkan orang lain.

“Sekilas kelas mereka terlihat sempurna, tapi sebenarnya ada banyak perpecahan di dalamnya.” 

Itulah mengapa metodeku dalam mengungkap pemimpin Kelas A berjalan begitu mudah. Yah, itu juga karena sedikit keberuntungan sih. Rasanya seperti mendapatkan skor bagus dengan memanfaatkan kesalahan. Kelas A tidak waspada terhadap serangan mendadak, jadi tidak ada yang bisa dilakukan. 

“Itulah kenapa aku mengecualikan Kelas A pada tahap itu, dan mengalihkan perhatianku ke Kelas C. Katsuragi mudah dimengerti, tapi Ryuuen berbeda, ada banyak variabel yang tidak diketahui. Sejujurnya, dia mengumpulkan lebih banyak informasi daripada aku. Dia berhasil mengetahui identitas semua pemimpin.” 

“Tu-Tunggu, dia mengetahui identitas semua pemimpin... Jadi bukan cuma Kelas D, tapi juga pemimpin Kelas B dan Kelas A? Tapi itu aneh. Kita tidak mendapat penalti; kita akhirnya justru menempati peringkat pertama dengan selisih yang jauh. Bagaimana kamu menjelaskannya?” 

“Ini agak sulit untuk dijelaskan, tapi alasanku membuatmu mengundurkan diri adalah jawabannya.” 

“Tunggu, jawabannya adalah kamu membuatku mengundurkan diri? Apa yang sebenarnya kamu lakukan?”

“Oh, itu mengingatkanku. Aku belum mengembalikannya ke sekolah.” 

Aku mengeluarkan sebuah kartu dari sakuku dan menyerahkannya kepada Horikita. 

“Ini kan kartu kunci. Kenapa kamu...?!”

Horikita tercengang ketika melihat huruf-huruf yang terukir di kartu itu. 

“Tunggu, kenapa...?” 

Nama yang terukir di kartu itu adalah “Ayanokouji Kiyotaka.” 

“Ujiannya harus adil. Aturan pada dasarnya dibuat untuk menjadi adil.”

Itu cukup alami, sesuatu yang akan kau lihat jika kau dengan hati-hati mengkonfirmasi aturan tambahan. Hanya satu orang yang bisa dipilih sebagai pemimpin. Pemimpin tidak dapat diubah. Hanya pemimpin yang memegang hak milik eksklusif. 

“Menurutmu apa yang akan terjadi jika seorang pemimpin mengundurkan diri karena sakit?”

“Itu... Pemimpinnya akan absen. Jadi hak milik eksklusif akan hilang...” 

“Salah. Di buku panduan, dikatakan, ‘Pemimpin tidak bisa diganti tanpa alasan yang jelas.’ Tidakkah menurutmu pengunduran diri itu alasan yang jelas?” 

Sepertinya aturan tambahan dibuat untuk dilanggar jika seseorang tidak hadir karena sakit atau cedera. Aku bisa memprediksi pengaturan pemimpin baru. Aku bisa mengetahui hal ini dengan melihat aturan lain. Misalnya, kami tidak dapat mengubah base camp tanpa alasan yang jelas setelah kami pertama kali memutuskan lokasi markas kami, tetapi alasannya jelas. 

Kami menduduki area tepi sungai, tetapi jika kami ceroboh dan titik itu sudah diklaim oleh kelas lain, maka itu akan dihitung sebagai "alasan yang jelas." Kau tidak bisa tinggal di base itu, jadi jika tidak ada sistem di mana kau bisa mencari base camp baru, semuanya akan runtuh. 

“Jadi, kamu membuatku...?” 

Horikita Suzune telah mengundurkan diri, dan aku menggantikannya. Tentu saja, itu berarti aku adalah pemimpin yang seharusnya mereka tebak di hari terakhir ujian. Hanya ada satu pemimpin. 

“Itulah kenapa meskipun Kelas C tahu kalau kau adalah pemimpinnya, kita tidak mendapat penalti.” 

“Tapi tunggu. Ibuki-san mencuri kartuku, tapi bagaimana kalau aku benar-benar melindungi kartu itu dengan baik?”

Horikita mengingat hari kecelakaan itu. 

“Apa saat itu kamu sengaja menjatuhkan kartunya? Kukira itu karena tindakan Yamauchi-kun yang telah memberi kesempatan kepada Ibuki-san untuk membuat rencana dan mencuri kartu kunci itu...” 

Akulah yang membuat Horikita berlumpur, jadi dalam hal itu aku tidak punya pilihan selain menyerahkan kartu kunci itu. 

“Kecuali aku tahu apa yang Ibuki-san tuju sejak awal, aku tidak bisa berbuat apa-apa...” 

Benar. Ibuki dijemput oleh Kelas D murni karena kebetulan. Aku hampir yakin sampai aku mendengar tentang laki-laki bernama Kaneda di Kelas B. Dia dikirim sebagai mata-mata oleh Ryuuen. Aku tidak percaya begitu saja bahwa dua orang diselamatkan oleh dua kelas yang berbeda secara kebetulan.

“Selain itu, Ibuki memiliki kebiasaan menatap mata orang ketika dia berbohong.”

Bisa dibilang semakin besar kebohongan, semakin jelas kebiasaannya. 

“Tunggu, ketika dia berbohong dia akan menatap mata orang itu? Bukankah seharusnya kebalikannya?” 

“Secara umum, seseorang akan menghindari kontak mata jika ia merasa bersalah. Tapi, Ibuki kebalikannya. Kupikir dia membuat mata kontak untuk membuat orang tersebut berpikir bahwa kebohongan itu adalah kebenaran. Dia mungkin bahkan tidak menyadarinya sendiri.”

Bahkan ketika kami berbicara tentang pencurian celana dalam, dia menatap langsung ke mataku. 

“Tujuannya mungkin untuk menemukan kartu kunci, tapi dia mungkin juga bermaksud untuk mengganggu Kelas D pada saat yang sama.” 

Apa yang terjadi pada Karuizawa, dan celana dalam di tas Ike, mungkin telah dilihat sebagai kebetulan belaka. 

“Tapi kenapa Ibuki-san sampai repot-repot mencuri kartu kunciku. Dia kan cuma perlu memeriksa namaku.” 

“Itu memang niat Ibuki sejak awal. Tapi, dia mendapat masalah yang tidak terduga.” 

Itulah pemicu yang membuatku mengetahui identitas pemimpin Kelas C. 

“Ibuki membawa kamera digital di tasnya untuk memfoto kartu kunci itu.” 

“Untuk memfoto... dengan kamera? Kenapa dia bertindak sejauh itu?” 

“Jika dia punya foto, maka identitas pemimpinnya akan jelas bagi siapa saja yang melihat foto itu, 'kan? Jika dia memiliki bukti yang meyakinkan, dia akan diuntungkan.” 

“Aku tidak begitu mengerti... Apakah Ryuuen-kun tidak mempercayai Ibuki-san?” 

“Bukan begitu. Jika ini cuma terkait dengan Kelas C, maka seharusnya dia tidak perlu memfoto dengan kamera atau mencuri kartunya.”

Dengan kata lain, itu berarti ada orang lain yang terlibat yang tidak percaya hanya dengan kata-kata Ibuki saja; orang itu menginginkan bukti yang dapat diandalkan. 

“Mulai sekarang, aku tidak punya bukti apa pun yang bisa kukatakan. Anggap saja sebagai intuisiku, yang kuperoleh dari hasil ujian. Di akhir ujian, Kelas A memiliki 270 poin.” 

Dengan kata lain, mereka tidak menggunakan satu poin pun selama ujian. 

“Kelas A dan Kelas C terhubung, bekerja sama di belakang layar. Kelas C mengorbankan poin mereka sendiri dan membeli apa pun yang dibutuhkan Kelas A. Dan juga, dengan mengambil semua barang-barang Kelas C, Kelas A dapat menghabiskan waktu seminggu penuh tanpa menggunakan satu poin pun.” 

Ibuki telah memperoleh bukti dan memberikannya kepada seseorang di Kelas A. 

“Ngomong-ngomong, aku menyadari pemimpin Kelas C setelah setengah dari mereka mengundurkan diri. Sudah pasti bahwa pemimpinnya akan tetap berada di pulau, 'kan?” 

“Meski begitu, kita tidak seharusnya tahu siapa yang masih berada di pulau.”

“Tidak, aku hampir 100% yakin bahwa Ryuuen masih berada di pulau.”

Aku mengetahuinya ketika aku melihat Ibuki menyembunyikan radio nirkabel di tanah. Ibuki menggunakannya untuk tetap berhubungan dengan Ryuuen. Siswa yang mengundurkan diri seharusnya tidak bisa menggunakan radio. Dengan kata lain, ada seseorang yang masih berada di pulau untuk berkomunikasi dengan Ibuki. 

Ryuuen dengan santai meletakkan radio di atas meja sambil menikmati liburannya. Tidak ada orang lain yang mengggunakannya, hanya dia. Kesalahannya adalah dia tidak mempercayai siapa pun. 

“Ya ampun... aku bahkan tidak tahu lagi harus bilang apa,” jawab Horikita, menghadapi kebenaran. 

Jika aku meringkas ujian ini, aku akan mengatakan bahwa kesalahan pertama Kelas A terbawa sampai akhir. Mereka tidak berfungsi dengan baik karena keretakan internal. Kelas B menjalani ujian dengan strategi yang berorientasi pada pertahanan yang menyeluruh, yang tidak merugikan ataupun menguntungkan. Satu-satunya kesalahan mereka adalah karena ada begitu banyak orang baik hati di Kelas B, mereka mengizinkan Kaneda untuk tinggal, dan mereka percaya padanya.

Aku tidak tahu bagaimana Kaneda mendapatkan bukti, tetapi dia memperoleh sesuatu, dan mungkin memberitahu Ryuuen. Jika kau melihat fakta bahwa Kelas A tidak mendapatkan poin apa pun, kau mungkin berpikir itu karena mereka belum memperoleh bukti fisik apapun. Lalu ada Kelas C. Kami bisa menghindari penalti karena akulah pemimpin yang sebenarnya. Selain mengirim orang-orang sebagai mata-mata untuk mengetahui identitas para pemimpin lainnya, Kelas C telah diuntungkan oleh semacam negosiasi dengan Kelas A. Ryuuen mungkin adalah musuh nomor satu kami. 

“Aku tidak suka ini. Kamu benar-benar memanfaatkanku, seperti pion.” 

“Ya. Aku tidak bisa menyangkal itu. Aku tidak akan terkejut kalau kau tidak pernah mau bicara denganku lagi.” 

Aku menyadari apa yang telah kulakukan. 

“Baiklah, aku akan kembali ke kamarku sekarang. Aku benar-benar lelah,” kataku. 

“Tunggu. Kita belum selesai bicara.”

“Apa lagi? Aku cuma ingin bersantai di kamarku.” 

“Setelah kamu menjelaskan semuanya. Masih ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan, 'kan?” 

“Beberapa hal... seperti apa?” 

“Alasan kenapa kamu berpartisipasi dalam ujian khusus ini. Apa itu untuk bertarung sendirian? Aku tidak peduli kamu memanfaatkanku kali ini. Aku ingin tahu kenapa kamu berusaha begitu keras padahal kamu sendiri tidak menyukai masalah.” 

“Entahlah.”

Mungkin penjelasan yang kuberikan sejauh ini kurang penting bagi Horikita. 

“Aku tidak ingin ragu. Aku mengerti bakatmu sekarang. Kalau kamu membantuku, membidik Kelas A sepertinya tujuan yang cukup realistis. Tapi apa prinsipmu? Kenapa kamu melakukan ini?”

Tentu saja, aku tidak ingin berbicara dengan Horikita tentang masalah pribadiku. Aku hanya berpartisipasi karena komitmen yang kubuat dengan Chabashira-sensei. 

“Karena aku tersentuh saat melihatmu mencoba berjuang sendirian ketika kau sakit.”

“Kamu bukanlah orang yang akan mengatakan hal semacam itu. Itu jelas bohong.”

“Intinya adalah aku tidak ingin menjelaskannya.” 

Aku berdiri dan mengulurkan tanganku. 

“Aku tidak keberatan membantumu naik ke Kelas A. Tapi, aku punya satu syarat. Jangan selidiki aku. Kalau kau berjanji untuk tidak menyinggung topik ini lagi, aku akan membantumu.” 

Horikita meraih tanganku tanpa ragu. 

“Kalau kamu tidak ingin bicara, maka aku tidak punya pilihan. Kalau kamu bersedia membantu, aku tidak punya alasan untuk menolakmu. Aku tidak tertarik menggali hal-hal yang lebih baik dibiarkan terkubur. Lagipula, kamu tidak menyukai masalah.” 

Jabat tangan Horikita kuat. Aku berjuang untuk diriku sendiri. Kau berjuang untuk dirimu sendiri. Pertarungan untuk menaikkan kelas kami dari dasar jurang akan segera mulai.

~ End of Volume 3 ~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢