EPILOG
Tirai Telah Diangkat
INTRO
7 Agustus. Akhirnya tiba saatnya di mana kehidupan singkat kami di pulau tak berpenghuni akan segera berakhir. Poin yang sudah kami pertahankan sampai sekarang patut disyukuri karena kami telah berjuang keras untuk bertahan hidup. Setidaknya kami sempat mendapat sedikit kesenangan. Masih belum ada tanda-tanda Mashima-sensei atau guru yang lainnya, ujian akan berakhir sekitar tengah hari nanti.
“Sekarang kami sedang menghitung hasil ujian. Mohon tunggu sebentar. Kalian bebas untuk menggunakan area istirahat jika kalian mau, minuman juga tersedia.”
Setelah pengumuman itu, para siswa berkumpul dan menuju tempat istirahat. Di bawah tenda sementara, mereka menyiapkan meja dan kursi untuk kami gunakan, sehingga kami bisa merasa nyaman. Di kapal pesiar tidak ada tanda-tanda keberadaan Kouenji, Horikita, ataupun salah satu siswa yang mengundurkan diri. Sudou, yang selalu bersama Ike dan Yamauchi, menatap ke arah kapal.
“Ayanokouji. Kau cukup akrab dengan Horikita, bukan? Sebenarnya seberapa dekat hubungan kalian?”
Alih-alih terdengar marah atau kesal, Sudou terdengar seperti dia benar-benar ingin tahu.
“Tidak ada apa-apa di antara kami. Kami hanya teman.”
“Itu tetap membuatku cemburu, tahu. Dia bahkan belum menganggapku sebagai temannya.” Sudou terdengar sedikit frustrasi.
“Tapi bukankah Horikita sudah sedikit mengakuimu kali ini?”
Dia tidak menyebabkan masalah. Sebaliknya, dia bertindak demi kelas dengan mencoba menyelamatkan Horikita dan mengambil inisiatif untuk memancing.
“Kuharap begitu. Lagipula dia masih belum memanggilku dengan nama depanku.”
“Kerja bagus, kalian berdua. Terima kasih untuk semua yang kalian lakukan selama seminggu ini. Kalian benar-benar menyelamatkan kami.” Hirata muncul dengan ucapan terima kasih. Dia menyerahkan salah satu dari dua cangkir kertas yang dipegangnya kepadaku. Cangkir itu mendinginkan telapak tanganku. Dia menyerahkan yang satunya ke Sudou.
“Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Kau sudah membantuku, seorang penyendiri di kelas. Dan kau juga membelaku karena terlambat absen, dan fakta tentang Horikita yang mengundurkan diri.”
“Aku tidak bisa menyalahkanmu ketika aku mendengar alasannya. Selain itu, Horikita-san sudah memberi kita beberapa informasi yang sangat penting.”
“Apa kau percaya dengan apa yang dia katakan?”
“Dia bukan tipe gadis yang akan mengatakan omong kosong. Itu sebabnya kamu akrab dengannya, 'kan?”
Orang ini akan selalu melindungi rekannya bahkan jika itu berarti mempertaruhkan reputasinya.
“Bohong kalau aku bilang itu tidak ada risikonya, tapi aku harus membantu Horikita-san.”
Hirata dengan lembut menambahkan, “Itulah gunanya teman.” Ia tersenyum, itu terlihat seperti senyuman yang kulihat kemarin. Sudou memiringkan kepalanya dengan bingung, seolah tidak dapat memahami apa yang kami bicarakan.
“Tunggu, apa maksudmu? Apa yang sedang kalian bicarakan?”
“Kupikir kamu akan segera mengerti. Bagaimanapun juga, Kelas C benar-benar aneh... Mereka seperti berada di level lain.”
Karena sebagian besar siswa Kelas C telah mengundurkan diri pada hari kedua ujian, mereka tidak ada di sini. Aku tidak melihat tanda-tanda Ibuki di mana pun di pantai berpasir itu, seolah-olah dia juga sudah mengundurkan diri. Aku melihat pemandangan yang agak aneh: Ryuuen sendirian, satu-satunya siswa yang tersisa dari Kelas C.
“Kenapa dia... ? Jadi Ryuuen-kun tidak mengundurkan diri?”
Saat Hirata dan aku mencoba memahami situasinya, Ryuuen berbalik ke arah kami, seolah-olah dia memperhatikan tatapan kami. Dia perlahan mendekat, seolah memikirkan sesuatu. Ketegangan mulai meningkat.
“Oh, hei, para penjilat. Apa yang terjadi dengan Suzune?” kata Ryuuen saat dia mendekat, sambil membawa cangkir kertas di tangannya, ia benar-benar mengabaikan Hirata.
Setelah Sudou mendengar nama "Suzune" melintas di bibir Ryuuen, pembuluh darah di kepalanya menonjol, dan dia menatap Ryuuen dengan tatapan tajam.
“Aku tahu kau selalu mengikuti Suzune kemana-mana. Kita pernah bertemu sebelumnya, ingat.” Ryuuen, setelah menghabiskan isi cangkir kertasnya, meremasnya dengan ringan dan melemparkannya ke kakiku. “Buang itu.”
Sudou menginjak dan menendang cangkir kertas itu sekeras yang dia bisa. “Hah?! Apa-apaan kau ini. Buang sampahmu sendiri, brengsek!”
“Tapi memungut sampah sepertinya tugas yang sempurna untuk sampah.”
Ryuuen tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia peduli, berbeda dengan Sudou, yang tampak siap meledakkan emosinya.
“Tenang, Sudou-kun. Baiklah, aku akan membuangnya.”
Saat Hirata buru-buru mengambil cangkir itu, Sudou mendecakkan lidahnya dan menendang pasir. Ryuuen membuang muka, seolah-olah kami membosankan. Tubuhnya kotor, celana serta kausnya kotor. Itu adalah keadaan yang tak terbayangkan baginya, karena dia selalu mengeluh tentang betapa bencinya dia dengan kerja keras.
“Kupikir kamu sudah mengundurkan diri, Ryuuen-kun.”
“Siapa kau? Lebih penting lagi, di mana Suzune? Aku sudah tidak sabar untuk meremas pantatnya.”
Itu adalah kedua kalinya dia mengatakan "Suzune." Ditambah dengan bahasanya yang kasar, itu terlalu berlebihan. Sudou mendekati Ryuuen, meraih kerahnya.
“Apa yang kau lakukan?”
Ryuuen tidak menunjukkan tanda-tanda jengkel. Dia bertemu dengan tatapan tajam Sudou dengan mudah.
“Kalau kau mengatakan sesuatu yang bodoh lagi, aku akan membunuhmu,” Sudou menggeram.
“Hah? Ada apa denganmu? Jadi bersemangat sendiri, ya?”
Tinju akan terbang, jadi Hirata melompat dan menarik Sudou menjauh dari Ryuuen.
“Horikita-san mengundurkan diri kemarin. Dia tidak di sini.”
“Mengundurkan diri? Suzune? Dia tidak terlihat seperti gadis yang akan melakukan itu.”
“Tes tes...”
Saat itu, kami mendengar bunyi klik pengeras suara yang dihidupkan. Mashima-sensei muncul di pantai. Para siswa tahun pertama dengan tergesa-gesa mencoba membentuk barisan, tetapi Mashima-sensei melambaikan tangannya pada mereka untuk berhenti.
“Tidak apa-apa. Kami tidak keberatan jika kalian ingin tetap bersantai. Ujian sudah berakhir. Dalam perjalanan ini, sekarang kita telah memasuki masa liburan musim panas, jadi tidak perlu terlalu tegang.”
Meskipun dia mengatakan itu, murid-murid secara alami merasa tegang. Mereka semua menghentikan obrolan mereka dalam sekejap.
“Selama seminggu terakhir ini, kami, guru-guru kalian, telah mengawasi upaya kalian dengan cermat dalam ujian khusus ini. Ada beberapa siswa yang menghadapi tantangan dengan jujur. Ada beberapa siswa yang merancang skema untuk menangani ujian. Banyak hal telah terjadi, tetapi secara keseluruhan, hasil ujiannya sangat memuaskan. Kerja bagus.”
Para siswa tampak lega menerima pujian langsung seperti itu dari Mashima-sensei. Sepertinya semua orang akhirnya mulai percaya bahwa ujian selama satu minggu ini benar-benar telah berakhir.
“Kalau begitu, langsung ke intinya. Sekarang Bapak akan mengumumkan hasil ujian khusus ini.”
Mungkin tidak ada satu orang pun, bahkan guru wali kelas kami sendiri, yang mengetahui hasil ujian ini.
“Kami tidak akan menerima protes apapun mengenai hasilnya, tidak ada pengecualian. Kami ingin kalian menerima hasil yang telah diberikan, menganalisisnya, dan menggunakannya untuk membantu kalian di ujian berikutnya. Begitulah adanya. Jangan sesali hasil ini. Kalian harus menerima kenyataan, mengerti?”
“Itulah yang seharusnya kami katakan kepada kalian anak-anak Kelas C. Kalian menghabiskan semua poin kalian, 'kan? Jangan buat kami tertawa.” Sudou mengolok-olok perilaku ceroboh Kelas C.
“Kami punya 125 poin tersisa. Kurasa kami akan baik-baik saja,” kata Hirata.
Dia berkata dengan sangat bangga, mungkin kesal dengan provokasi Ryuuen. Ryuuen menanggapi dengan membuat gerakan yang terlihat seperti sedang muntah.
“Ha. Aku iri dengan keberanian kalian orang-orang yang tidak penting. Bagaimana mungkin kalian bisa puas dengan jumlah poin sebanyak itu...”
“Tidak peduli apa pun yang kau katakan; poin Kelas C masih akan tetap di nol.”
“Heh heh heh. Jangan terburu-buru. Memang benar kami sudah menghabiskan semua 300 poin kami. Tapi, apa kau lupa aturan tambahan dari ujian ini?”
“Jadi kau mencoba menebak identitas pemimpin kelas?”
“Benar sekali. Aku sudah menulisnya di kertas, tahu? Nama pemimpin Kelas D.”
Hirata dan aku mencoba untuk tidak menunjukkan reaksi apapun, tapi Sudou terlihat terkejut.
“Dan juga, orang-orang di Kelas A dan B juga menulis hal yang sama. Apa kau tahu apa artinya ini?” kata Ryuuen.
“Tunggu sebentar. Apa maksudmu?! Ka-Kalau itu memang benar, lalu...”
Lalu Kelas D akan terkena penalti, dan kami akan kehilangan 100 poin. Suara Mashima-sensei terdengar melalui pengeras suara.
“Sekarang, kami akan mengumumkan peringkatnya. Di tempat terakhir, Kelas C dengan perolehan 0 poin.”
“Bwah ha ha ha! Hei, kau dengar itu! Poin kalian tetap nol tuh!”
Ketika Sudou mendengar hasilnya, dia tertawa mengejeknya sambil mencengkeram perutnya.
“Nol?”
Ryuuen sepertinya tidak mengerti situasinya. Mashima-sensei melanjutkan pengumuman tanpa basa-basi.
“Berikutnya di tempat ketiga, Kelas A dengan perolehan 120 poin. Di tempat kedua, Kelas B dengan perolehan 140 poin.”
Keributan pun pecah. Tidak ada yang menduga hasil peringkat itu ataupun poin total itu.
“Dan di tempat pertama, Kelas D ...”
Untuk sesaat, gerakan Mashima-sensei menjadi kaku. Namun, dia segera kembali berbicara.
“... dengan perolehan 225 poin. Sekian.”
Semua siswa di Kelas D, kecuali Hirata, menjadi kebingungan lebih dari siapa pun. Bahkan Hirata, satu-satunya yang tahu, masih hampir tidak bisa mempercayainya. Dia memasang senyum yang penuh semangat.
“Apa artinya ini, Katsuragi?!”
Suara-suara yang mengatakan hal seperti itu bergema dari satu ujung rest area ke ujung lainnya. Para siswa Kelas A mengelilingi Katsuragi.
“Ada yang aneh... Apa artinya ini?” gumamnya.
“Yahoo! Kita berhasil! Mampus loe!”
Saat Sudou berteriak kegirangan, semua siswa Kelas D berkumpul.
“Hei, hei, hei, apa yang terjadi?! Hei, hei!!”
Ike, yang dipenuhi dengan kegembiraan dan kebingungan, meminta penjelasan dari Hirata.
“Aku akan menjelaskan semuanya. Baiklah, Ryuuen-kun, permisi.”
Dengan kata-kata terakhir itu, Hirata berjalan menuju kapal bersama Ike dan Sudou. Sudou mengangkat jari tengahnya sambil menjulurkan lidahnya. Ryuuen tidak bisa melakukan apa-apa selain menonton dalam diam.
Ujian selesai, dan siswa tahun pertama berhamburan. Kapal itu akan berangkat dalam 2 jam, tidak hanya bebas bermain di laut, kami juga bebas untuk naik ke kapal. Aku berjalan ke atas kapal.
“Halo, tuan dan nyonya. Bagaimana kehidupan kalian di pulau tak berpenghuni?” Kouenji, ada di dek kapal sambil memegang minuman di tangannya, menyapa Kelas D.
“Hei, Kouenji! Gara-gara kau, kami kehilangan 30 poin, tahu!”
“Tenanglah, Ike little boy. Aku beristirahat di kapal karena merasa lelah. Mau bagaimana lagi, 'kan?”
Kulitnya terlihat halus dan mengkilap, jadi mudah untuk mengatakan bahwa dia menghabiskan waktunya untuk berjemur. Dan juga, kesehatannya yang jelas sempurna membuatnya terdengar tidak dapat dipercaya sedikit pun. Saat orang-orang bergabung untuk meneriaki Kouenji, Horikita muncul. Dia masih pucat, belum sehat. Mereka menyadari kehadirannya, dan secara alami berkumpul di sekelilingnya.
“Su-Suzune. Apa kau sudah merasa baikan sekarang?”
Kata-kata Sudou sedikit tersandung, dia mendekati Horikita dan memanggilnya dengan nama depannya, seperti yang dia lakukan saat latihan.
“Aku sudah mendingan. Tapi aku masih belum sehat sepenuhnya. Yang lebih penting lagi, aku tak habis pikir sampai-sampai aku harus mengundurkan diri.”
“Jangan khawatirkan itu.”
Horikita telah menerima dipanggil dengan nama depannya secara alami. Itu tidak terduga.
“Ngomong-ngomong, Sudou-kun. Jangan memanggilku dengan nama depanku tanpa izin. Mengerti?”
“Y-Y-Ya.”
Atau tidak. Sudou tidak bisa melawan. Yang bisa dia lakukan hanyalah mengangguk.
“Tapi apa yang terjadi? Kenapa Kelas D berada di peringkat pertama?”
Identitas pemimpin kami telah terungkap, jadi aku membuat Horikita mengundurkan diri. Jika dihitung-hitung, kami bisa saja nyaris kehilangan semua poin kami.
“I-Itu benar. Apa yang terjadi, Hirata-kun?! Aku tidak mengerti sama sekali!” Karuizawa bertanya.
Sebelum Hirata bisa menjawab, sesuatu harus diselesaikan.
“Karuizawa-san, bukankah kamu harus bicara dulu dengan Horikita-san?”
Karuizawa mendekat ke Horikita.
“Horikita-san, apa kamu punya waktu sebentar?” Hirata bertanya.
“Iya. Ada sesuatu yang harus kita bicarakan. Benar, 'kan?”
Horikita, melihat Karuizawa mengangguk, menutup matanya. Dia sedang memikirkan kasus pencurian celana dalam, dan bagaimana dia menuduh Karuizawa menghabiskan poin secara egois sementara identitasnya sendiri sebagai pemimpin telah diketahui dan dia akhirnya mengundurkan diri. Dia tidak punya pilihan selain mengakui kesalahannya.
“Maafkan aku.”
Karuizawa mengatakannya dengan agak blak-blakan, tetapi masih ada ketulusan.
“Ibuki-san lah yang mencuri celana dalamku. Ayanokouji-kun memberitahu kami segalanya.”
“Hah?”
Horikita telah mempersiapkan dirinya untuk disalahkan, jadi dia bingung ketika dia menerima permintaan maaf.
“Horikita-san, ketika kamu menyadari bahwa Ibuki-san adalah pelakunya, dia mencoba lari karena kamu menanyainya, 'kan? Itu sebabnya kamu akhirnya pingsan dan jatuh sakit...”
Horikita tiba-tiba berbalik ke arahku, terkejut dengan kata-kata Karuizawa. Aku merasa agak canggung untuk beberapa alasan, dan mengalihkan pandanganku.
“Aku sudah mendengarnya dari Hirata-kun. Dia bilang kalau kamu berhasil menemukan identitas pemimpin Kelas A dan Kelas C. Itu sebabnya kita dapat poin yang banyak. Jadi, aku ... minta maaf untuk semua yang kukatakan.”
Karuizawa segera kembali ke gadis-gadis lain.
“Tunggu sebentar. Aku... Kamu bilang aku yang menemukan identitas pemimpinnya? Tapi kan aku sudah mengundurkan diri.”
“Kamu tidak perlu merendah, Horikita-san. Kita menang karena tebakanmu benar.”
Keraguan sepertinya berputar di kepala Horikita. Sepertinya hasil ujian yang misterius itu masuk akal bagi semua orang kecuali dia.
“Tunggu. Ayanokouji-kun, apa yang kamu...”
Horikita memanggilku di tengah-tengah kegembiraan dan kebingungan. Namun, menjadi pemain kunci dalam kemenangan kami, dia sekarang dikelilingi oleh teman-teman sekelas kami.
“Horikita-san, kamu sangat hebat! Benar-benar jenius!”
“Waktu aku dengar kalau kamu mengundurkan diri, aku bertanya-tanya apa yang akan terjadi, tapi semuanya ternyata baik-baik saja!”
“Tu-Tunggu sebentar!”
Dia dibombardir dengan pertanyaan dari anak laki-laki dan perempuan. aku menggenggam tanganku dan berharap untuk keselamatannya saat aku mundur. Huuh.., aku lega dengan semua ini. Kelas kami menempati posisi pertama dan Horikita jadi populer. Mempertimbangkan sikapnya yang tenang, dia mungkin bisa melewatinya tanpa masalah. Aku tidak ingin terjebak dalam kegembiraan, jadi aku pergi ke kamarku untuk beristirahat. Saat aku berjalan pergi, aku lagi-lagi dihadang oleh dewi kematian.
“Bisakah Ibu bicara denganmu?”
“Aku sedang tidak mood. Apa boleh jika aku menolak, Chabashira-sensei?”
“Jika kau benar-benar tidak mau, Ibu bisa mulai bicara di sini. Kau tidak keberatan kan jika kita berdiri di luar?”
“Cuacanya panas, jadi tolong singkat saja.”
Aku berjalan ke sisi lain kapal, Chabashira-sensei yang memimpin jalannya. Kami menemukan tempat di mana tidak ada orang di sekitar dan itu benar-benar sunyi sebelum kami mulai berbicara.
“Apa sekarang kau sudah puas?” aku bertanya.
“Iya. Pertama, izinkan Ibu memujimu. Ibu benar-benar terkesan.”
“Kalau begitu, katakan padaku. Apa benar pria itu menyuruhmu untuk mengeluarkanku dari sekolah?”
Chabashira-sensei bersandar di pagar dan melihat ke arah langit.
“Apa kau punya bukti yang mendukung kebenaran hal itu?”
“Ibu sudah tahu semua tentang dirimu. Hal itu sudah cukup sebagai bukti, 'kan? Guru-guru lain tidak tahu tentang kemampuanmu yang sebenarnya. Namun, Ibu sama sekali tidak meragukanmu.”
Aku masih ragu. Memang benar aku mencolok karena nilaiku di ujian masuk, tapi itu seharusnya tidak menjadi sesuatu yang terlalu penting bagi seorang guru. Tapi tetap saja, urutan kejadiannya agak aneh. Chabashira-sensei mengatakan bahwa pria itu telah menghubungi sekolah secara langsung. Sudah kuduga, wanita ini menyembunyikan sesuatu.
“Ibu yakin kau pernah mendengar tentang mitos yang cukup terkenal ini, sayap Icarus.”
“Kenapa dengan itu?” aku bertanya.
“Icarus terbang keluar dari menara tempat dia dipenjara untuk mendapatkan kebebasannya. Namun, itu tidak dicapai melalui kemampuan satu orang saja. Itu karena ayahnya, Daedalus, telah membuat sayap dan menyuruhnya terbang. Dia tidak terbang atas keinginannya sendiri. Bukankah itu sama seperti kisahmu?”
“Aku tidak mengerti.”
“Pria itu, ayahmu—bilang begini: 'Cepat atau lambat, Kiyotaka akan memilih untuk dikeluarkan dari sekolah atas keinginannya sendiri.' Kau menyambut kematianmu, seperti halnya Icarus yang jatuh ke laut dan mati setelah sayapnya terbakar, karena dia terbang terlalu dekat dengan matahari.”
Sayap Icarus, ya?
“Jadi, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” dia bertanya.
“Kau harus tahu, Sensei. Icarus tidak mengindahkan peringatan Daedalus.”
Meskipun sayapnya terbakar, Icarus berhasil terbang setinggi yang dia bisa untuk mencari kebebasannya.
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar