CHAPTER 5
Kerja Sama Tim yang Kacau
PART 9
Aku menghela napas dalam-dalam saat aku berdiri di atas Horikita, yang tidak sadar. Sudah lama sejak aku berhadapan dengan lawan yang begitu tangguh. Seandainya dia dalam kondisi yang lebih baik, pertarungan bisa saja berjalan lebih menarik. Dia benar-benar kuat. Aku melanjutkan penggalianku, aku segera menggali senter dan radio nirkabel yang dibungkus vinil. Aku lebih suka bertahan tanpa menggunakannya jika memungkinkan.
“Apa?”
Tepat setelah aku mengeluarkan kedua benda itu dari lubang, aku merasakan sensasi misterius. Aku tidak tahu penyebabnya. Entah bagaimana, itu tampak sedikit berbeda dari ketika terakhir kali aku menguburnya.
“Apa ini karena hujan?”
Aku memutuskan bahwa aku mungkin hanya terlalu memikirkannya. Aku menggunakan radio. Aku melaporkan lokasiku saat ini kepada laki-laki yang telah menunggu kabar tentang keberadaanku. Aku duduk untuk beristirahat. Sekitar setengah jam telah berlalu sampai aku melihat kilatan senter. Itu berkedip dua kali, lalu tiga kali. Itu seperti kode Morse.
Aku merespons dengan sinyal yang sama, menggunakan senter di dekat kakiku. Cahaya pemandu semakin kuat, seolah-olah kedua cahaya itu beresonansi satu sama lain. Kemudian aku melihat wajah menjengkelkan yang tidak ingin kulihat. Ryuuen muncul.
"Yo. Kerja bagus, Ibuki. Kau melakukannya dengan baik.”
“Tentu saja.”
“Tentu saja? Kalau kau tidak membuat kesalahan apa pun, aku tidak harus mengambil risiko datang ke sini.”
“Itu tidak bisa dihindari. Aku tidak menduga kalau kamera digitalnya bakal rusak.”
Kalau saja kamera digital itu tidak rusak, aku bisa langsung memfoto kartu kunci itu. Aku pun akan memiliki bukti yang meyakinkan. Aku bahkan tidak perlu memanggil Ryuuen menggunakan radio. Tetapi sebaliknya, aku harus mengambil risiko besar dan membawa kartu itu, yang menyebabkan Horikita menemukanku.
“Jadi, mana kartunya?”
“Ini.”
Aku mengambilnya dari sakuku dan menyerahkannya. Ryuuen menyinari kartu itu dengan senter dan mengkonfirmasi bahwa nama "Horikita Suzune" terukir jelas di atasnya.
“Kau datang ke sini untuk mengkonfirmasinya juga. Itu syaratmu, ingat? Tenanglah, di luar gelap, dan cuaca ini mengerikan. Seharusnya tidak ada siapa pun di sini. Sebaiknya tetap berhati-hati, tapi jangan buang-buang waktu.”
Seorang laki-laki muncul dari bayang-bayang. Katsuragi, dari Kelas A. Dia adalah tipe orang yang tenang dan dapat diandalkan, kebalikan dari pemimpin kami. Aku berpura-pura tenang, tetapi dalam pikiranku, aku teringat rencana tak terduga Ryuuen. Segera setelah ujian dimulai, Ryuuen memberitahuku bahwa dia akan membujuk Kelas A untuk membantu kami. Rupanya dia telah melakukannya. Tetapi bagaimana bisa?
Katsuragi mengambil kartu Horikita dari Ryuuen dan memeriksanya dengan hati-hati. Kau tidak mungkin membuat yang palsu di pulau tak berpenghuni seperti ini.
“Sepertinya ini asli,” katanya.
“Apa sekarang kau sudah yakin?”
Meskipun dia telah ditunjukkan bukti yang pasti, ekspresi tegas Katsuragi tidak berubah. Aku pernah dengar kalau dia adalah pria yang berhati-hati, tetapi jika terlalu paranoid seperti ini justru malah seperti kelainan.
“Kau berhasil menyusup ke Kelas D dengan cukup baik. Apa ada yang mencurigaimu?”
“Dalam keadaan normal, jelas aku dicurigai. Tapi dengan caraku, semua terkendali.”
Tanpa sadar aku mengusap pipiku. Ketika kami memulai operasi mata-mata kami di Kelas D, Ryuuen menamparku untuk mengubah kebohongan menjadi kebenaran. Tapi rasa sakit dan kebencian yang kurasakan terhadapnya sangat nyata. Secara alami, para siswa di Kelas D salah paham, dan mengira aku telah dipukuli dan diusir dari kelasku. Mungkin jika aku tidak terluka, mereka tidak akan menelan mentah-mentah kebohongan itu.
“Sampai kapan kau mau memikirkannya? Situasinya hitam-putih, jadi cepat buat keputusanmu. Kau sudah setengah jalan. Jangan bilang kau mau mundur sekarang.”
“Kau benar.”
Meskipun begitu, sepertinya Katsuragi tidak memberikan persetujuannya. Ryuuen memperhatikan ini, tetapi bukannya kesal, dia justru tersenyum. Seolah-olah dia bersiap-siap untuk menyerang mangsanya, dia berbisik, “Kalau ini bukan perbuatan yang terhormat, lalu apa yang akan kau lakukan? Apa kau tahu kalau faksi Sakayanagi sudah mendominasi sejak desas-desus menyebar bahwa kau gagal mencalonkan diri untuk jadi anggota OSIS? Ini mungkin kesempatanmu, 'kan?”
“Dasar bajingan. Kenapa kau memberitahuku ini?”
“Kelas A mempertahankan posisinya dengan membentuk aliansi. Kalau kau bisa membentuk aliansi itu, bahkan mereka yang sudah mengkhianatimu akan kembali di bawah sayapmu, bukan? Atau kau ingin menjadikanku musuhmu? Kalau kau melakukannya, aku penasaran apa yang akan terjadi?”
Katsuragi belum menandatangani kontrak dengan iblis, ini bukanlah negosiasi sederhana. Yah, mungkin pemikiran itu naif. Setelah seseorang mendiskusikan persyaratan dengan iblis, orang itu mau tak mau harus menerimanya.
“Sakayanagi absen. Seseorang yang ragu-ragu tidak mungkin bisa memimpin Kelas A.”
“Kita sudah melakukan negosiasi, seperti yang dijanjikan. Aku menerima persyaratanmu.”
Dengan itu, Katsuragi mengulurkan tangannya ke Ryuuen, yang tersenyum dengan berani.
“Itu bagus. Kau sudah membuat keputusan yang tepat.”
“Tunggu, negosiasi apa? Bisakah kau jelaskan padaku?” aku bertanya.
Mereka bebas melakukan apapun yang mereka mau, tapi aku berhak tahu rinciannya. Ketika aku mengincar Kelas A, aku harus memutuskan apakah dekat dengan Ryuuen adalah hal yang benar untuk dilakukan.
“Untuk membentuk aliansi. Dengan Kelas A.”
“Aku akan kembali sekarang. Aku tidak ingin mengambil risiko dengan berlama-lama di sini.” Katsuragi mengembalikan kartu itu kepadaku, dan menghilang ke dalam kegelapan.
“Bagaimana dengan negosiasinya? Apa saja yang kalian bahas? Apa untungnya buat kita?”
Kilatan petir putih berderak di udara. Guntur datang segera setelah itu, suara menderu datang dari laut. Ryuuen bahkan tidak mengernyitkan alis. Dia memberitahuku detail kontraknya dengan senyum menyeramkan di wajahnya. Detailnya tidak terlalu rumit, tetapi itu juga tidak sederhana.
Bahkan dengan masalah kami yang menumpuk satu demi satu, itu benar-benar sulit untuk mencapai sesuatu, ada janji pengembalian besar. Semuanya berjalan sesuai rencana Ryuuen, termasuk fakta tentang sebagian besar siswa kelas kami yang mundur. Tak satu pun dari kami yang membayangkan situasi ini sebelum ujian dimulai, saat kami sedang menikmati liburan kami di atas kapal. Aku sangat membencinya, tetapi menurutku dia adalah laki-laki dengan kemampuan yang paling mendekati level Kelas A. Aku mengakui dia.
“Tapi... apa ada jaminan kalau Katsuragi akan menepati janjinya? Dia bisa saja mengingkarinya.”
“Aku sudah memperhitungkannya, tentu saja. Dia tidak akan punya pilihan selain menepati janjinya.”
Aku berjalan menuju Horikita dan, setelah dengan hati-hati menyeka sidik jariku dari kartu kunci, aku menempelkannya kembali ke tangannya. Tidak ada yang bisa dilakukan gadis ini. Yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah bertahan dan tetap diam sampai ujian berakhir, sambil mengetahui fakta bahwa Kelas C telah mengetahui bahwa dia adalah pemimpinnya.
Gadis ini tidak mempercayai siapa pun. Bahkan setelah dia tahu kartu kuncinya dicuri, dia tidak melaporkannya kepada teman-teman sekelasnya. Meskipun dia lumayan akrab dengan Ayanokouji, namun dia juga seorang penyendiri. Jika kami memperhitungkan ketidakmampuannya saat ini, dia bukanlah ancaman.
Selain itu, jika dia memiliki kartu kunci, maka kesalahannya mungkin tidak akan bocor ke Kelas D. Aku mengerti sifatnya, sampai batas tertentu. Dia sabar dan keras kepala, tipe orang yang tidak mendengarkan pendapat orang lain. Dengan kata lain, tidak peduli seberapa menyakitkannya itu, dia akan menahannya diam-diam.
“Gunakan kecerdasanmu untuk melindungi dirimu sendiri.”
Kemudian kami menghilang dengan tenang ke dalam hutan yang gelap.
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar