-->
Loading...

iklan adsense

Volume 3 Chapter 5 Part 8 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia

Released on September 05, 2021 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Volume 3 Chapter 5 Part 8 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, Streaming Volume 3 Chapter 5 Part 8 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 3 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!

CHAPTER 5
Kerja Sama Tim yang Kacau

PART 8

Aku memaksa tubuhku yang berat dan lamban untuk mengejar Ibuki-san ketika hujan deras turun. Langit tertutup awan mendung yang menghalangi matahari, sehingga jarak pandang menjadi buruk. Meskipun aku tidak bisa melihat Ibuki-san, namun dia telah meninggalkan jejak kaki di tanah berlumpur. Jika aku terus mengikutinya, jejak itu akan menuntunku langsung padanya. 

Dia berjalan sekitar 100 meter dari base camp, kadang-kadang membelok ke kanan dan ke kiri. Agak tidak terduga, aku melihatnya seperti sedang menunggu seseorang, seolah-olah mengharapkan kedatanganku. Aku secara naluriah menyembunyikan diri, meskipun mungkin tidak ada gunanya. 

“Apa yang sedang kau lakukan, Horikita?”

Ibuki-san berbicara tanpa berbalik. Suaranya yang tenang memotong suara hujan yang turun. 

“Aku melihatmu mengikutiku. Kenapa tidak keluar saja?” 

“Sejak kapan kamu menyadariku?” aku bertanya. 

“Sejak awal.” 

Jawaban singkatnya terasa tidak menyenangkan. Kesanku tentang dia sebagai seorang pendiam dan tak banyak omong tidak berubah, tetapi ada sesuatu yang berbeda. 

“Kenapa kau mengikutiku?” 

“Apa kamu benar-benar tidak tahu?”

“Tidak, aku tidak tahu.”

Itu hampir seperti aku adalah penjahatnya di sini. 

“Kamu pasti sudah tahu kan kenapa aku mengikutimu?”

“Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”

Ibuki-san menghadapku, menatap lurus ke mataku. Aku tidak melihat kebohongan di matanya. Itu hampir membuatku ingin meminta maaf. Lagipula, aku tidak punya bukti. Aku hanya memiliki intuisiku. 

“Kenapa juga aku harus berbohong?” dia menekan lebih jauh, seolah dia menyadari keraguanku. “Setidaknya aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri, kenapa kau mengikutiku.”

“Pencurian celana dalam dan kepanikan akibat kebakaran. Kelas D terus saja mendapat masalah.”

“Lalu?”

“Kamu pasti sadar kalau beberapa di antara kami mencurigaimu sebagai pelakunya?”

“Ah. Karena aku orang luar, tidak banyak yang bisa kulakukan tentang itu.”

“Itulah yang kumaksud.”

“Kau bilang aku pelakunya? Apa kau punya buktinya?” 

“Sayangnya, aku tidak punya bukti soal pencurian celana dalam. Tapi menurutku kamulah pelakunya.” 

“Ucapanmu itu kejam sekali. Kau tidak punya bukti apa pun, tapi kau masih mencurigaiku?” 

Harus kuakui, aku terkesan dengan caranya menangani ini. Dia tak bertindak gegabah sampai hari kelima, dan dia menjaga jarak dari Kelas D. Normalnya, dia tidak akan dicurigai. 

“Aku mencurigaimu karena hari ini. Aku tidak perlu menjelaskannya, 'kan?”

Aku ingin mendengarnya dari Ibuki-san sendiri. Jika aku menjelaskan semua alasan kecurigaanku, itu sama saja aku mengakui identitasku sebagai pemimpin. Bahkan jika aku 99% yakin, selama ada 1% kemungkinan dia tidak bersalah, aku harus menghindari tindakan langsung. 

“Ayo kita selesaikan semuanya sekarang. Kembalikan barang yang kamu curi dariku,” kataku pada Ibuki-san, saat aku berdiri dan menatap matanya. 

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

Setelah memberikan jawaban singkat itu, dia berjalan pergi dengan cepat. Aku mengikutinya, menyamai kecepatannya. Ibuki-san mengubah arah dan menuju ke tengah hutan. 

“Kamu mau pergi kemana?” aku bertanya. 

“Entahlah.”

Sulit untuk berjalan lurus. Aku telah menyadari ini selama beberapa hari terakhir. Ini bahkan lebih buruk dalam cuaca seperti ini, jarak pandangku terganggu. Namun, Ibuki-san sepertinya tidak peduli. Aku tidak boleh mundur, bahkan setelah datang sejauh ini untuk mengetahui kebenarannya. Karena aku membuat kesalahan, aku harus bertanggung jawab dan menyelesaikan masalah ini.

Aku harus menebus kesalahanku. Aku harus menebus kesalahanku. Aku mengulangi kata-kata yang sama berulang-ulang di kepalaku. Aku tidak boleh gagal di sini. Selain itu, aku juga harus bertanggung jawab atas kesalahanku dengan Karuizawa-san, dengan siapa pun yang sudah kukasari. Jantungku berdetak cepat. Aku terengah-engah. Sedikit demi sedikit, aku menutup jarak antara Ibuki-san dan diriku. Tergantung situasinya, aku mungkin harus merebut kartu kunci itu dengan paksa. Mempertimbangkan keterampilanku yang cukup besar, aku pasti bisa menanganinya dengan baik. Aku bisa menanganinya dengan baik. Aku bisa melakukannya. Aku bisa melakukannya. 

Aku sangat mengerti bahwa diriku tidak tenang, tetapi aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak memiliki orang lain untuk diandalkan. Aku selalu menangani semua hal sendirian sampai titik ini, dan aku bisa terus melakukan hal yang sama. Hujan deras dan angin kencang lebih mudah dihadapi di tengah hutan daripada di jalan terbuka. Tetapi jarak pandang menjadi jauh lebih buruk, dan pijakannya bahkan lebih mengerikan. Dan juga, saat aku berbelok ke kanan dan ke kiri, aku kehilangan arah. 

Tapi masalah terbesarku adalah kondisi fisikku. Dengan setiap detik yang berlalu, kondisiku semakin memburuk. Sampai sekarang aku hanya merasa sedikit demam, tetapi setelah hujan turun aku mencapai batasku. Demamku semakin parah. 

Ibuki-san berhenti, dan kemudian tiba-tiba melihat ke atas pohon. Dia menatap sebuah saputangan, basah karena hujan dan diikat ke pohon. 

“Sampai kapan kau akan terus mengikutiku? Itu sudah cukup, 'kan?”

“Sampai kamu mengembalikan benda yang kamu curi dariku.”

“Tidak bisakah kau tenang dan pikirkan itu baik-baik? Kalau aku memang mencuri kartu kunci, apa aku akan terus membawanya kemana-mana? Kalau seseorang melihatku, habislah aku. Aku hanya akan kehilangan poinku sendiri, 'kan?” 

Aku hanya memintanya mengembalikan benda yang dia curi. Aku tidak pernah mengatakan apa-apa tentang kartu kunci. Ibuki-san baru saja mengaku. Saat aku hendak menekannya saat itu, Ibuki-san memberikan senyum tipis yang menunjukkan gigi putihnya. 

“Kau pikir aku mengakui sesuatu, bukan? Kau salah.”

“Apa maksudmu?”

“Aku bosan bicara denganmu.”

Ibuki-san berjongkok, dan mulai menggali tanah menggunakan kedua tangan. 

“Ah, agh...” 

Didera oleh pusing dan mual yang hebat, aku menyandarkan punggungku ke pohon terdekat. 

“Kondisimu semakin memburuk, ya?” 

Ibuki-san berbalik menatapku. Namun, dia dengan cepat kembali menggali. 

“Ah... Ah... Ugh...” 

Meskipun aku mencoba mengatur pernapasanku, aku sudah tidak kuat lagi. Jerseyku, basah kuyup karena hujan, menghilangkan panas tubuhku. Aku sudah mencoba menahan keinginan untuk berbaring dan beristirahat, tapi aku tidak bisa lagi mengangkat kepalaku. 

Saat aku memikirkan kekuatan fisikku, aku tidak punya pilihan selain bertarung. 

“Ibuki-san. Aku akan menyelidikimu dengan seluruh kemampuanku. Kamu tidak keberatan, 'kan?” 

Ibuki-san berhenti menggali, berdiri, dan mendekatiku. 

“Dengan seluruh kemampuanmu? Bisakah kau sedikit lebih spesifik? Apa itu berarti kau akan menggunakan kekerasan?” 

“Ini peringatan terakhir. Kembalikan sekarang juga...”

Aku ingin menghindari metode pemaksaan, tetapi tidak ada cara lain. Aku tidak ingin menunjukkan sisi diriku ini kepada siapa pun... 

Aku ingat kejadian sebelumnya, tentang Sudou-kun, saat dia meninju beberapa siswa dari Kelas C. Itu bahkan sampai disidangkan, sekolah pun ikut terlibat. Saat itu aku memaki Sudou-kun, yang selalu berurusan dengan banyak kesulitan tak terduga. Aku meninggalkannya saat itu, dan sekarang aku mendapatkan hukumanku. Ditambah lagi, sekarang aku bahkan berniat menyelesaikan ini dengan kekerasan. Konyol sekali. 

“Peringatan terakhir, ya? Aku mengerti. Aku mengerti. Lakukan saja sesukamu?”

Dia menjatuhkan tasnya ke tanah dan mengangkat tangannya ke udara, berpose seolah menyerah. Dia patuh, tapi aku tidak melihat kepasrahan di wajahnya. Tetap saja, aku tidak bisa membiarkan kesempatan ini berlalu. Aku mengulurkan tangan untuk memeriksa tas itu.

Seketika, kaki ramping Ibuki-san mengarah tepat ke wajahku. Kewaspadaanku menyelamatkanku. Aku melompat mundur, menghindari tendangannya. Lumpur memercikiku, dan aku segera membuat posisi bertahan dengan kedua tangan terangkat. 

“Heh, boleh juga,” katanya. 

“Menggunakan kekerasan hukumannya dikeluarkan langsung...” 

“Memangnya di sini siapa yang akan melihat? Selain itu, kau kemari pasti untuk bertarung.” 

Selagi aku bertanya-tanya mengapa dia memasang seringai licik di wajahnya, dia tiba-tiba meraih bahuku dan menjatuhkanku. Aku tidak bisa bereaksi dari tindakan tak terduga seperti itu, dan jatuh ke tanah berlumpur. 

“Apa kau ingin istirahat dulu?” dia bertanya. 

Saat aku berada di tanah, terluka, dia berdiri di sana sambil mencibirku. Wajahnya terlihat kabur. Ibuki-san meraih kerahku dan menarikku ke atas. Jika dia memukulku, aku pasti akan kehilangan kesadaran. Aku menyelinap keluar dari cengkeramannya dan berguling, melarikan diri darinya. Aku mati-matian mencoba untuk mengangkat diriku sendiri dari lumpur. Itu adalah pertama kalinya aku benar-benar bersyukur karena aku sudah berlatih seni bela diri. 

“Eh, gerakanmu lumayan juga. Apa kau ikut latihan khusus?” 

Ibuki-san, tanpa panik sama sekali, terlihat benar-benar terkesan saat dia menilaiku. Dia merasakan pengetahuanku tentang seni bela diri, dan mungkin dia sendiri juga bukan seorang ahli bela diri amatir. Bagaimana aku bisa merespons tanpa mengatakan padanya bahwa aku sedang dalam kondisi yang buruk? 

“Aku... benar-benar sudah gagal total di ujian ini.”

Aku tidak berkontribusi apa pun untuk Kelas D. Yang ada, aku hanya jadi hambatan. Semua orang di kelas, selalu berusaha sekuat tenaga, tapi akhirnya aku hanya menghambat mereka karena kondisi fisikku yang buruk. Kuharap aku memberi tahu mereka dari awal. Aku bisa meminta orang lain menjadi pemimpin mengingat aku sedang tidak enak badan. Semuanya akan baik-baik saja jika aku menolak. Tapi harga diriku mengalahkanku, itu tak termaafkan. 

Aku mengejek orang-orang. Aku membenci hal-hal yang tidak berguna, melabeli mereka tidak kompeten, sementara aku sendiri tidak berguna. Ha ha... Aku tertawa dalam pikiranku. Apa aku benar-benar masih membuat-buat alasan untuk diriku sendiri? 

“Pelakunya itu kamu, 'kan? Orang yang mencuri kartu kuncinya.”

Ibuki-san berhenti bergerak. Aku memperpendek jarak di antara kami. Dia berpura-pura seperti dia akan menyerang dengan tangan kanannya, hanya untuk melancarkan tendangan tinggi dan cepat. Aku menghindari serangannya, dan kemudian mengulurkan tanganku sebagai serangan balik. Ibuki-san menyadari bahayanya dan menghindari seranganku. Dia kemudian beralih ke serangan berikutnya, gerakan bolak-balik yang memusingkan antara menyerang dan bertahan. 

Pijakan di tempat ini buruk, tapi dia tidak mengkhawatirkan gerak kakinya. Jelas dia memiliki tingkat keterampilan. Selain itu, dia tidak menunjukkan keraguan untuk menyakiti orang. Ibuki-san tersenyum, memamerkan gigi putihnya seolah dia menikmati ini. Aku tidak pernah menyangka akan melihat senyum lebar di wajahnya. 

Karena aku telah banyak bergerak, aku didera oleh angin dingin yang menusuk dan mual. Aku hampir tidak bisa berdiri. 

“Sebagai hadiah atas kerja kerasmu, aku akan memberitahumu. Benar, akulah yang mencuri kartunya.” 

Ibuki-san memasukkan tangannya ke dalam sakunya dan perlahan mengeluarkan kartu itu. Dia menunjukkan sisi yang terukir namaku di atasnya. 

“Kamu langsung mengakuinya begitu saja.”

“Tidak masalah mau aku mengakuinya atau tidak sekarang. Tidak ada bukti kalau aku sudah melukaimu. Di sini sekolah tidak bisa membuat penilaian. Benar, 'kan?” 

Ibuki-san telah membaca situasi dengan benar. Tidak ada bukti yang bisa meyakinkan sekolah tentang hal ini. Bahkan jika aku adalah satu-satunya yang terluka, Ibuki-san bisa mengarang berbagai alasan supaya terhindar dari keterlibatan. Bahkan jika aku komplain, kami berdua akan dihukum. Dan Kelas D harus kehilangan poin. 

Tetapi jika aku berhasil mendapatkan kembali kartu kunci itu, kami mungkin akan terselamatkan. Jika kami punya bukti yang dapat diandalkan seperti itu, Kelas C akan dipaksa untuk mengakui perbuatan mereka. 

Sidik jarinya ada di kartu itu. Kami bisa menegaskan bahwa itu dicuri. Jika kami mengungkap kebenaran, sekolah mungkin  akan menyelidiki masalah ini secara menyeluruh. Harapan itu masih ada. Namun, aku tidak bisa mendapatkan kartu kunci itu kembali sebelum aku mengalahkan Ibuki-san. Tapi kurasa dia tidak akan melakukan tindakan yang sebodoh itu. 

Jika dia kabur, kartu itu mungkin tidak akan pernah bisa ditemukan lagi. Jika itu terjadi, kami tidak dapat membuktikan bahwa itu telah dicuri. Aku tidak punya cukup tenaga untuk mengejarnya lebih lama lagi. Selain itu, aku tidak memiliki kekuatan untuk mengepalkan tinjuku. Tetapi aku harus menggunakan semua kekuatan yang tersisa.

Aku tidak yakin apakah Ibuki-san punya alasan untuk terburu-buru atau apakah dia meremehkanku, tetapi dia bergegas dan menyerang, seorang pemburu menikmati perburuannya. Matanya melirik kakiku, tapi itu tipuan. Saat dia berkonsentrasi pada bagian bawah tubuhku, dia langsung mengayunkan serangan ke wajahku. Aku nyaris terkena, itu sangat dekat sampai-sampai menyerempet rambutku. 

Aku memanfaatkan momentumnya dan mengeluarkan sedikit kekuatan. Ibuki-san kehilangan keseimbangan, tetapi tidak cukup untuk membuatnya jatuh. Aku mencoba meraih lengannya, tapi dia mengerti apa yang sedang terjadi dan menyelinap melalui genggamanku. Dia mungkin menyadari bahwa aku mencoba menggunakan kekuatan dan kecepatan untuk melawannya. Aku mengumpulkan kekuatan terakhirku dan mengarahkan tinju kiriku ke solar plexusnya. [di atas pusar dan tepat di bawah tulang dada] 

“Ah!”

Ibuki-san tidak bisa bernapas, dan jatuh berlutut sambil kesakitan. Pada saat yang sama, kekuatan fisikku telah mencapai batasnya, dan bidang penglihatanku menjadi kabur. Aku tidak bisa mengejarnya terus, jadi aku menahannya. 

“Ini gawat... aku sudah... mencapai batasku...” 

Kondisiku sudah buruk dari awal, tetapi aku tetap mendorong diriku. Aku tidak boleh pingsan di sini. Seranganku dangkal, tidak cukup untuk menjatuhkannya. 

“Aku tidak mengerti... Kupikir kau terlibat.”

Ibuki-san berdiri, menyeka lumpur dari wajahnya. 

“Terlibat? Terlibat apa?” aku bertanya. 

Ibuki-san tampak ragu-ragu, tapi kemudian bergumam, “Aku tidak membakar buku panduan itu.” 

“Mau sampai kapan kamu akan terus berbohong?”

“Apa untungnya kalau aku membakarnya? Tentu saja orang-orang akan mulai mencari penjahatnya setelah terjadi keributan. Selain itu, mereka akan semakin mencurigaiku. Tidak ada untungnya bagiku, itu justru merugikanku.”

“Itu...” 

Aku tentu saja setuju dengan apa yang dikatakan Ibuki-san. Dia telah mencuri kartu kunci itu sebelum kebakaran terjadi. Tidak ada cukup waktu baginya untuk sengaja membakar buku panduan dan menyebabkan kebakaran. Lalu, siapa yang melakukannya? Untuk apa buku panduan itu dibakar? 

“Aku sengaja memutar-mutar pembicaraan kita untuk memastikannya. Kau kelihatannya berbeda dari yang lain. Tapi sepertinya kau kesulitan memahami ini. Ada seseorang di Kelas D yang sudah tahu kalau aku pelakunya jauh sebelum kau mulai mencurigaiku.”

Ibuki-san menghela nafas seolah putus asa. 

“Jangan-jangan...”

Tepat setelah aku membayangkan gambaran orang itu, kuperhatikan bahwa Ibuki-san telah menghilang. Beberapa detik kemudian, sebuah serangan tumpul menghantam kepalaku, menjatuhkanku dengan keras. 

“Pembicaraannya... kita sudahi sampai sini.”

Aku harus bangun, jadi aku mulai memaksakan diri. Ibuki-san dengan ringan menyapu tanganku dengan kaki kanannya, menyebabkan aku jatuh kembali. Ibuki-san meraih poniku dan menarikku ke atas. 

“Le-Lepaskan aku...”

“Maaf, ya. Aku juga sibuk dengan urusan lain.”

Dia dengan ringan menampar pipiku dengan tangan kanannya. Pikiranku dan tubuhku sudah mencapai batasnya, gerakanku kikuk, dan tidak mungkin bagiku untuk menghentikan dia. Aku menepis tangan yang menggenggam poniku. Aku mencoba berdiri dan menutup jarak antara kami. Tapi kakiku terjerat dan kekuatanku habis, membuatku jatuh lagi. 

“Apa kamu pikir mereka akan membiarkan perbuatan semacam ini?” aku bergumam. 

“Ayolah. Kenapa juga aku harus menjawabnya.” 

Ketika aku mendekat, dia mengangkat kakinya tinggi-tinggi dan menendang wajahku. Berapa kali aku akan mengulangi kalimat yang sama ini? Aku ... membuat kesalahan besar. Aku mencoba memperbaiki kesalahan itu sendiri, namun pada akhirnya aku justru mengubahnya menjadi situasi yang tidak bisa diperbaiki.

~ Bersambung ~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢