-->
Loading...

iklan adsense

Volume 3 Chapter 5 Part 7 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia

Released on September 04, 2021 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Volume 3 Chapter 5 Part 7 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, Streaming Volume 3 Chapter 5 Part 7 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 3 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!

CHAPTER 5
Kerja Sama Tim yang Kacau

PART 7

Horikita kembali sekitar 10 menit kemudian, bergabung kembali dengan suasana perkemahan yang meresahkan. Penyebabnya adalah asap hitam yang keluar dari belakang toilet sementara. Terlalu dini untuk menyalakan api unggun, dan lokasinya pun agak aneh. 

“Asap apa itu? Apa yang sebenarnya terjadi?” seru Ike. 

Saat aku bergabung dengan Horikita, aku juga menyusul Ike, yang jelas-jelas dalam keadaan panik. Aku bertanya ada apa. 

“Ini serius. Ada kebakaran! Api! Ada yang terbakar di belakang toilet!”

Semua gadis yang mengantre di depan kamar mandi sudah tidak ada. Mereka pasti sudah pergi begitu mendengar keributan itu. 

“Aku tidak melihat Ibuki-san. Ini pasti ulahnya. Di mana dia?” tanya Horikita. 

“Dia di sana, sekarang dia sedang melihat kebakaran itu.”

Aku bergegas menuju area di belakang toilet sementara dan melihat Hirata dan beberapa siswa lainnya. Ibuki juga ada di sana. Horikita tampak siap untuk memanggil Ibuki, tetapi ragu-ragu ketika dia melihatnya. Ekspresi Ibuki sangat murni. Dia tidak bisa menyembunyikan kebingungannya tentang kebakaran itu. 

“Berarti ini bukan perbuatannya, ya?”

Horikita diliputi keraguan. Jika kartu kunci itu memang dicuri, Ibuki pasti yang mencurinya. Jika ada kebakaran, maka Ibuki pasti yang menyebabkannya. Meski begitu, Ibuki tetap berada di tempat kejadian, dan tampak terkejut dengan kebakaran tersebut. Ketika kuteliti lebih dekat, sumbernya tampak seperti seikat kertas. Beberapa di antaranya masih terbaca, tetapi sebagian besar sudah berubah menjadi abu. Sekilas aku tidak tahu apa itu. 

Namun, saat melihat bagian yang masih terbaca, aku akhirnya mengerti. 

“Buku panduannya dibakar?” tanya Horikita. 

“Ya. Sepertinya begitu. Siapa yang tega melakukan ini?” 

“Dari kemarin terus saja ada masalah...” Horikita bergumam dengan suara rendah, menurunkan matanya.

“Ini tanggung jawabku. Buku panduannya ada di tasku. Kami menumpuk tas di depan tenda dan aku tidak mengira kalau seseorang akan mencurinya di siang hari. Tapi pertama-tama, kita harus memadamkan api ini dulu...” 

Daripada mencari pelakunya, Hirata menuju ke sungai untuk memadamkan api. Saat dia mengambil air dan memasukkannya ke botol plastik, dia bergumam pada dirinya sendiri, ekspresinya gelap. 

“Kenapa? Siapa yang tega melakukan hal seperti ini? Kenapa kita semua tidak bisa rukun satu sama lain?”

Hirata secara spontan menghancurkan botol plastik itu dengan sekuat tenaga. Perubahan kepribadiannya agak menakutkan. Hirata, pemimpin abadi kelas kami, orang yang bekerja keras tanpa lelah dan berperan sebagai pembawa kedamaian, sedang memikul beban yang mengerikan. 

“Kau tidak perlu memaksakan dirimu.” aku mencoba menghiburnya. Dia berdiri dan menjawab dengan tenang, “Terima kasih.”

“Kita perlu... membicarakan insiden ini bersama-sama.”

“Benar. Sebagian besar siswa Kelas D menyaksikan kebakaran itu. Aku yakin mereka pasti ingin mengetahui kebenarannya.” 

Tertekan, Hirata mengambil air yang dia ciduk dari sungai dan kembali ke tempat perkemahan. 

“Siapa yang sudah melakukan ini? Apa ini berarti ada pengkhianat di kelas kita?” Karuizawa bertanya. 

Ketika kami berdua kembali, kami melihat Karuizawa tengah memimpin konfrontasi antara laki-laki dan perempuan, mereka saling melotot. 

“Kenapa kalian curiganya ke kami? Ini kan beda masalah dengan pencurian celana dalam!” 

“Siapa tahu, 'kan? Mungkin kalian membakarnya untuk mengalihkan perhatian kami!” 

“Yang benar saja! Kami tidak akan melakukannya! Kami tidak akan membakar apa pun di hutan begini!” 

“Tunggu dulu, semuanya. Tolong, tenanglah. Ayo kita bicarakan baik-baik,” seru Hirata. 

Dia memberiku air dan aku memadamkan sisa-sisa apinya. Hirata segera menuju ke tengah-tengah mereka dan mencoba berperan sebagai mediator. Ini mungkin sisa stres dari insiden pencurian celana dalam kemarin, kedua belah pihak memanas dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berdamai. Sepertinya beberapa orang di Kelas D ingin segera memburu pelakunya.

“Bagaimanapun juga, kita tidak perlu khawatir apinya akan menyebar.”

Aku mengocok botol plastik kosong 2 kali, lalu 3 kali. Tetesan air jatuh ke sisa-sisa api yang membara. Aku melihat ke langit. 

“Hujannya sudah mulai turun.” 

Tetesan air hujan menetes ke pipiku. Awannya bahkan menjadi lebih gelap dari sebelumnya, itu bukti bahwa hujan lebat akan segera datang. Padahal kemarin, kami saling bahu membahu ketika cuaca mendung. Sekarang, laki-laki dan perempuan sedang terkunci dalam konfrontasi yang menegangkan. Mereka berdiri, saling melotot. 

“Sudah cukup! Kalian semua keterlaluan! Bisa-bisanya ada pencuri celana dalam dan pembakar di dalam kelas kita! Ini benar-benar kelewatan!” 

“Pelakunya itu bukan kami, tahu! Sampai kapan kalian mau menuduh kami terus?!” 

Pertengkaran itu tidak akan pernah selesai. Itu hanya akan terus berlangsung selamanya. Hirata seharusnya turun tangan dan menghentikan ini, tapi untuk beberapa alasan dia hanya berdiri di sana dalam keadaan linglung. Apakah dia sedang bertanya-tanya siapa pelakunya? 

“Hei Kanji, aku tidak melihat Ibuki di mana pun.”

Yamauchi telah menyadari bahwa Ibuki sudah tidak ada. Setelah kuperhatikan, salah satu tas juga telah menghilang. 

“Eh, jangan-jangan...”

“Mencurigakan sekali. Kalau terjadi kebakaran, itu berarti...” 

Anak laki-laki mengarahkan kecurigaan mereka pada Ibuki, dan bahkan para gadis mulai menyuarakan keraguan mereka. Namun, sebelum kami mencapai resolusi, hujan mulai jatuh, dan jatuh dengan deras. 

“Gawat, ini tidak bagus. Pokoknya kita bicarakan saja nanti. Akan repot nantinya kalau semuanya kebasahan.”

Ike dan yang lainnya, panik, mulai memasukkan makanan dan barang bawaan ke dalam tenda. 

“Hirata, beri kami arahan!”

Ike memanggil Hirata, tapi dia hanya berdiri di tempat yang sama. Hirata terus menatap ke dalam kehampaan dan tidak bergerak sedikit pun. Sementara itu, suara hujan terus terdengar semakin keras. Aku sedikit khawatir tentang situasinya. Aku mendekati Hirata, tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa dia memperhatikanku. 

“Kenapa... begini... Kenapa ini terjadi? Ini seperti saat itu...”

Dia menggumamkan sesuatu dengan suara rendah. Aku tidak mengerti maksudnya, tapi itu pasti bukan hal sepele. Ini tidak seperti Hirata yang tenang dan kalem sama sekali.

“Kenapa aku melakukan ini? Kenapa aku melakukan semua ini sampai sekarang?” 

“Hei, Hirata! Apa yang sedang kau lakukan?!” teriak Ike. 

Tidak jelas apakah Hirata mendengarnya. Aku dengan pelan meletakkan tanganku di bahunya. Dia tampak terkejut, tapi perlahan berbalik. 

“Ike memanggilmu,” kataku. 

“Hah?”

Wajah Hirata kehabisan nyawa. Dia pucat. Kedua kalinya Ike memanggil, Hirata perlahan mulai mendapatkan kembali kewarasannya. Dia akhirnya menyadari bahwa sudah mulai hujan. 

“Hujan...”

“Sebaiknya kau bantu Ike dan yang lainnya. Kita harus menjaga barang-barang kita tetap kering.” 

“Y-Ya. Kita harus mengurus semuanya dengan cepat.” 

“Ayanokouji. Apa Hirata baik-baik saja?” Sudou bertanya. 

“Sepertinya dia shock. Kukira itu mungkin karena masalah terus berdatangan satu demi satu.” 

“Apa kau tahu, dulu di SMP ada seorang siswa teladan dan kaya. Dia punya banyak tanggung jawab yang sangat berat. Bagaimanapun juga, suatu hari dia terlalu memaksakan dirinya sendiri, dia pun akhirnya mengalami gangguan. Setelah itu, kelasnya menjadi berantakan.” 

“Kau pikir ada tanda-tanda itu pada diri Hirata?”

“Yah, terlalu berlebihan kalau kukatakan dia mengalami gangguan, tapi perasaanku tidak enak seolah ada bahaya.” 

Aku bertanya-tanya apakah ini hanya imajinasi liar Sudou, tapi tampaknya itu sangat akurat. Sejak ujian khusus ini dimulai, Hirata telah mengambil banyak tanggung jawab. Masalah ini membuat kesulitan yang kami hadapi di sekolah tampak mudah. Hubungan antara Hirata dan lingkungannya yang dipelihara dengan hati-hati jelas mulai berubah. Pencurian celana dalam Karuizawa dan insiden kebakaran telah membuat mental Hirata tak stabil. 

“Untuk saat ini, ayo kita urus barang bawaannya.” 

Kami bergabung dan membantu para siswa mengurus barang-barang. Syukurlah, semuanya bisa diamankan dengan cepat.

“Yosh. Semua persiapan sudah selesai.” 

Aku tidak terkejut Ibuki menghilang, tetapi ternyata Horikita juga telah menghilang. Menurut perhitunganku, kemungkinannya adalah 50:50, tapi sepertinya hal-hal berjalan dengan baik. Aku memusatkan pandanganku pada jalan yang menuju langsung ke pantai, dan melangkah ke jalan setapak.

~ Bersambung ~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢