-->
Loading...

iklan adsense

Volume 3 Chapter 5 Part 3 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia

Released on September 03, 2021 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Volume 3 Chapter 5 Part 3 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, Streaming Volume 3 Chapter 5 Part 3 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 3 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!

CHAPTER 5
Kerja Sama Tim yang Kacau

PART 3

Itu adalah akhir dari hari kelima ujian khusus, dan Kelas D masih tetap murung. Rasanya seperti kami sedang berjaga sepanjang malam di atas tumpukan mayat. Sepanjang hari telah berlalu dibarengi dengan rasa ketakutan yang samar. Semua orang saling curiga, dan tidak ada yang tahu siapa pelakunya. Meskipun suasananya mencekam, ini adalah giliranku untuk menyalakan api unggun. Saat aku melihat kobaran api itu, aku sesekali melemparkan beberapa ranting. Itu terasa membosankan, gabut. Kami masih memiliki masalah lain. 

“Hei, Ayanokouji-kun! Bukankah kami sudah menyuruhmu untuk memindahkan tenda dengan benar?” 

“Aku memindahkannya seperti yang diperintahkan.”

“Harus lebih ke kiri. Kalau tidak, kami akan terlalu dekat dengan anak laki-laki itu.” 

“Baiklah.”

Gadis-gadis itu membuat permintaan yang tidak masuk akal kepadaku, dan mau tak mau aku harus menerimanya. Gadis-gadis itu tampak kesal. 

“Pasti melelahkan, dipaksa mengeluarkan tenaga seharian penuh,” kata Horikita. 

“Gara-gara siapa, coba. Ini tidak akan terjadi kalau tadi kau tidak ikut campur.” 

“Mau bagaimana lagi. Aku tidak memercayai Hirata-kun, dan aku butuh jaminan.”

“Cuma kau satu-satunya gadis di kelas yang tidak mempercayai Hirata. Kau harus berhenti menganggap semua orang punya maksud tersembunyi.” 

“Sepertinya iya. Aku sih tidak punya maksud tersembunyi.” 

Itu adalah pernyataan yang meremehkan. Horikita menjalani hidupnya dengan membanggakan dirinya sendiri. Dia melemparkan kembali kritikanku dengan cara yang tepat. 

“Tapi, antara pemikiran dan sikap yang ditampakkan, mayoritas orang memilih untuk memisahkannya. Kamu pun begitu. Ditambah kebaikan dan kemunafikan sering punya tampilan yang serupa, aku pun memilih untuk tidak memercayainya.” 

Aku ragu kata-katanya hanya ditujukan pada Hirata. Dia sepertinya merujuk ke Kushida juga.

“Bagaimanapun, kamu tampaknya sangat mempercayai Hirata-kun,” katanya. 

“Yah, setidaknya aku bisa mengandalkannya. Dia benar-benar bisa dipercaya.” 

“Mengandalkannya? Memangnya apa untungnya bagi kelas kalau ia cuma bersikap baik ke semua orang?” 

Horikita pasti sedang memikirkan sesuatu dalam pikirannya, itu terlihat dari kata-katanya yang tajam. Dia mungkin mengira aku menyembunyikan informasi yang tidak dia ketahui. Aku menjawabnya dengan senyuman lebar. 

“Yah. Hirata adalah laki-laki dengan banyak bakat. Dia membantu melerai perselisihan antara laki-laki dan perempuan. Tidakkah kau pikir kalau dia sedang berusaha keras untuk menyatukan semua siswa ketika tidak ada orang lain yang bisa melakukannya?” 

“Itu memang sangat mengesankan, dia bisa mengambil peran seperti itu tanpa keberatan. Tapi, tanpa hasil yang baik, tindakannya itu tak berarti. Tergantung situasinya, tindakan seperti itu bahkan juga dapat menyebabkan skenario terburuk. Biarkan aku menanyakan sesuatu. Apa kamu tahu berapa banyak poin yang dimiliki Kelas D sekarang?” 

“Yah, memang ada beberapa pengeluaran tak terduga. Aku tidak bisa mengatakan jumlah pastinya.” 

“Tepat sekali. Bahkan Hirata-kun yang dapat dipercaya itu sudah tutup mulut tentang hal ini.” 

“Apa maksudmu?”

“Ikutlah denganku.”

Aku bertanya-tanya apa yang sangat ingin dia tunjukkan kepadaku sampai-sampai harus meninggalkan api unggun tanpa pengawasan. Saat aku bertanya-tanya ke mana dia akan membawaku, aku sadar bahwa kami berada di pintu masuk depan tenda perempuan. Horikita membuka panel utama dan mendorongku ke dalam. 

“Ini...”

Tidak seperti tenda anak laki-laki, yang sederhana dan kurang nyaman, tenda anak perempuan benar-benar berbeda. Itu luas, dengan beralaskan karpet lantai sehingga mereka tidak harus tidur di tanah yang keras. Ada beberapa bantal angin. Dan juga kipas tanpa kabel bertenaga baterai. 

“Tenda yang satunya juga memiliki barang yang sama persis di dalamnya. Total harganya 12 poin.”

Kupikir ada yang aneh saat gadis-gadis itu bisa tahan dari cuaca panas dengan sangat baik. Jadi ini ya alasannya.” 

Mereka tidak mengorbankan apa pun sejak awal. Mereka bahkan tidak ragu-ragu membeli apapun yang mereka butuhkan. 

“Karuizawa-san dan gadis-gadis lainnya lah yang meminta semua ini.” 

Rupanya, mereka diam-diam memanjakan diri mereka sendiri dengan cukup baik. 

“Aku baru tahu setelah mereka memesan semuanya. Ini sulit untuk dikendalikan mengingat aturannya sendiri menyatakan kalau siapa pun dapat membeli item dan menghabiskan poin.” 

Sama seperti yang Kouenji lakukan sejak awal dengan menarik dirinya dari ujian. 

“Karuizawa-san melaporkan ini pada Hirata-kun, jadi dia pasti tahu tentang ini. Tapi kamu tidak tahu, dia juga tidak memberi tahu orang lain. Seharusnya dia membagikan informasi sepenting ini.” 

Horikita menyilangkan tangannya. Dia memang ada benarnya, tapi aku ragu Hirata tetap diam karena rasa benci. Mungkin dia hanya ingin menghindari kebingungan yang tidak perlu? Jika Karuizawa melaporkannya dengan benar kepada Hirata, maka jumlahnya bisa dievaluasi. 

“Aku mengerti maksudmu, tapi tidak ada yang bisa kukatakan tentang ini. Kita tidak bisa menarik kembali poin yang sudah dibelanjakan, dan tidak banyak lagi hari yang tersisa sebelum ujian berakhir. Karuizawa dan yang lainnya mungkin tidak akan menghabiskan poin lagi,” kataku. 

Kupikir dia akan marah dengan respons yang begitu singkat dan blak-blakan, tapi Horikita sepertinya sudah mengantisipasi kata-kataku. Dia segera mengabaikanku dan terus berbicara. 

“Jika segala sesuatunya tetap seperti apa adanya dan tidak berubah, orang-orang mungkin akan tetap tenang. Tapi semuanya bisa memburuk jika kasus celana dalam yang dicuri itu tidak terselesaikan. Jika pelakunya ada di dekat kita, dia mungkin sedang mencoba menghambat kita. Itu sebabnya aku ingin menemukan pelakunya sesegera mungkin.” 

“Jadi, kau ingin aku bekerja sama denganmu?”

“Iya. Sekarang ada perselisihan antara kami dan anak laki-laki, ada banyak hal yang tidak bisa kulakukan sendiri.” 

Laki-laki dan perempuan sedang berada di tengah-tengah perang dingin, terputus dari perolehan informasi baru.

“Aku paham. Aku tidak tahu apakah aku akan berguna, tapi aku akan membantu.” 

Horikita tampak bingung dengan jawaban jujurku. 

“Aku mencoba memahamimu... Apa kamu punya niat lain?”

“Aku benar-benar ikhlas membantumu, tahu. Sebagai laki-laki, aku agak kesal karena anak laki-laki diperlakukan seperti pencuri. Itu saja sudah cukup memotivasiku. Kita harus bersatu demi tujuan yang sama.”

Sebelumnya, Hirata juga telah memintaku untuk membantunya. 

“Yah, terserah. Jadi kita sudah sepakat, ya.” 

Pelakunya tidak bodoh. Ia tidak akan menunjukkan wajah aslinya saat kecurigaan semakin memuncak. Horikita mungkin berpikir bahwa hal itu akan baik-baik saja. Gangguan yang terus berdatangan selama ujian ini mungkin akan mulai mempengaruhi poin kami juga. 

Tentang pelakunya... Yah, Ibuki kemungkinan besar akan mengambil tindakan lagi. Tidak, dia pasti akan mengambil tindakan. Dia belum mencapai tujuannya. 

“Wajahmu sangat serius. Apa kamu benar-benar sebenci itu diperlakukan seperti penjahat?” 

“Kelas kita kacau karena masalah ini. Ini memalukan, padahal kita sudah berjuang dengan sangat baik.” 

“Kerja sama kita benar-benar cuma kebetulan. Dari awal, Kelas D memang tidak punya rasa kerja sama tim. Ini berakhir agak buruk, terutama karena kepercayaan yang rusak antara laki-laki dan perempuan. Tentu saja akan lebih baik untuk tetap bersatu sampai akhir ujian.” 

“Aku ingin tahu apa tujuan pelakunya, siapa pun itu. Apa dia memang cuma berniat mencuri celana dalam Karuizawa, atau apakah dia ingin menghancurkan kerja sama kelas kita? Aku merasa ada rencana tersembunyi.” 

Ketika aku mengucapkan kata-kata "rencana tersembunyi," Horikita menyilangkan tangannya. Setelah mempertimbangkannya, dia menggelengkan kepalanya. 

“Jangan terburu-buru... Maaf, tapi aku harus kembali ke tenda.” Horikita berbalik, menyisir rambutnya ke samping. Nafasnya dangkal. 

“Hei Horikita, kenapa kau tidak mengaku saja?”

“Mengaku? Mengaku apa?”

Meskipun Horikita berpura-pura tenang, tapi dia berkeringat. Ini sudah cukup. 

“Sejak ujian dimulai, sebenarnya kau merasa tidak enak badan, 'kan?” 

Dia terlihat sakit bahkan sebelum kami tiba di pulau ini, tapi itu tidak terlalu terlihat. Karena kepribadian Horikita yang penyendiri, dia mungkin berencana untuk tetap di kamarnya dan menghindari kontak dengan orang lain. 

“Aku baik-baik saja.” 

“Bohong.”

Aku telah menangkap kebohongan Horikita, mengulurkan tanganku dan menyentuhnya. Merasakan dahinya, sudah jelas dia demam. Horikita mencoba melarikan diri, tapi gerakannya lamban. Aku bisa menghentikannya dengan mudah. 

“Sejak kapan... kamu menyadarinya?”

“Sejak kita berkumpul di dek kapal, saat aku menanyakan apa yang kau lakukan.”

“Waktu itu kubilang aku sedang membaca di kamarku.”

“Bukannya kau sedang istirahat di kamarmu karena tidak enak badan?”

“Dan bukti apa yang mendasari kesimpulanmu itu?”

“Ketika kau bergabung dengan kami di dek, ponimu acak-acakan. Itu bukti kalau kau baru saja bangun. Dan juga, saat itu cuacanya sangat panas di atas kapal, tapi kau justru terlihat kedinginan. Bahkan sekarang, kau mengenakan baju lengan panjang, dan menutup resletingmu rapat-rapat. Bahkan anak SD pun bisa mengetahuinya.” 

Horikita, yang biasanya akan menjawab dengan kata-kata yang keras, malah terdiam. 

“Kalau kamu bisa menerapkan kecerdasan tajammu itu untuk mencapai Kelas A, kamu akan lebih diakui, tahu.” 

“Aku sama sekali tidak berencana melakukan itu. Ngomong-ngomong, apa kau berniat menyembunyikan kondisimu ini?”

Sangat jelas bahwa dia demam, mendekati 38°C. Tetap saja, dia menyembunyikannya karena alasan yang cukup sederhana. Jika ia melaporkan kondisinya, kelas kami akan mendapat poin penalti yang lebih besar. Dari sudut pandangnya, waktu pelaksanaan ujian ini benar-benar tidak tepat. 

“Aku sudah menahannya selama 5 hari. Kalau aku menyerah sekarang, semuanya akan sia-sia. Selamat malam.”

Jadi dia bermaksud untuk terus berperang sampai titik darah penghabisan. Dia punya tekad baja.

~ Bersambung ~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢