-->
Loading...

iklan adsense

Volume 3 Chapter 5 Intro “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia

Released on September 02, 2021 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Volume 3 Chapter 5 Intro “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, Streaming Volume 3 Chapter 5 Intro “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 3 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!

CHAPTER 5
Kerja Sama Tim yang Kacau

INTRO

Saat aku sedang tidur, aku bisa mendengar suara gadis-gadis dari luar tenda. Mereka terdengar seperti sedang dalam suasana hati yang buruk. 

“Hei, cowok-cowok. Bisakah kalian semua berkumpul?” 

Suara itu terdengar kasar, seolah dia bermaksud mengatakan, “Cepatlah bangun!” aku baru saja tidur saat fajar, jadi aku bangun perlahan dan menggosok mataku. 

“Apa-apaan sih? Ya ampun, aku sangat lelah...” Sudou yang kesal muncul dari tenda dan melihat sekeliling. 

“Ada apa?” tanya Hirata. 

“Ah, Hirata-kun. Maaf, tapi bisakah kamu membangunkan semua anak laki-laki? Ini serius,” kata Shinohara, terdengar menyesal. 

Apakah dia bingung atau marah, sepertinya bukan cuma dia yang punya masalah. Sedikit lebih jauh, gadis-gadis itu memelototi kami. 

“Aku mengerti. Kupikir kalau aku berteriak, mereka akan datang.” 

Dalam 2 menit, anak laki-laki keluar dari tenda sambil menggosok mata kantuk mereka. Ketika anak laki-laki yang setengah tertidur melihat sekeliling, mereka menyimpulkan bahwa situasi ini sangat mengkhawatirkan. Semua gadis-gadis itu tampak sangat ketakutan. 

“Apa yang terjadi? Kenapa kalian membangunkan kami sepagi ini?” 

“Maaf, Hirata-kun. Ini tidak melibatkanmu, tapi... kami mengumpulkan semua orang untuk mengkonfirmasi sesuatu.” 

Shinohara menatap semua orang kecuali Hirata dengan tatapan jijik. 

“Yah, pagi ini... celana dalam Karuizawa-san hilang. Apa kalian tahu apa artinya ini?” 

“Ce-Celana dalam?”

Bahkan Hirata, yang biasanya tenang dan kalem, tampak terguncang. Berbicara tentang Karuizawa, dia tak ada di sini, begitu juga dengan beberapa temannya.

“Karuizawa-san sedang menangis di dalam tenda sekarang. Kushida-san dan yang lain sedang menenangkannya sekarang, tapi...” Shinohara melihat ke arah tenda anak perempuan. 

“Hah? Hah? Apa? Kenapa kau memelototi kami karena celana dalamnya hilang?” 

“Bukankah itu sudah jelas? Seseorang menggeledah tasnya saat tengah malam dan mencurinya. Barang bawaan kita ada di luar tenda, jadi kalau ada orang yang mencuri sesuatu, mereka bisa dengan mudah melakukannya!” 

Semua anak laki-laki, yang masih dalam keadaan mengantuk, bertukar pandang. 

“Tidak, tidak, tidak, tidak! Hah?! Hah?!”

Ike, dalam kepanikan total, melihat bolak-balik antara anak laki-laki dan perempuan. Salah satu anak laki-laki yang telah mengamati semua ini menggerutu dengan tenang. 

“Kalau dipikir-pikir, Ike, kemarin kau lama sekali balik dari toilet. Benar-benar sangat lama.” 

“Tidak, tidak, tidak! Itu karena, yah... aku kesusahan karena tempatnya gelap!”

“Benarkah? Kau yang mencuri celana dalam Karuizawa, bukan?” 

“Ka-Kau salah! Aku tidak melakukannya!”

Anak laki-laki mulai saling menyalahkan atas kejahatan yang sangat keji ini. 

“Bagaimanapun. Ini adalah masalah besar, tidakkah kalian setuju? Tidak mungkin kami bisa berkemah bersama sekelompok pencuri celana dalam,” kata Shinohara, sambil menyilangkan lengannya. Dia tampak seolah-olah dia akan kehilangan kesabaran. 

“Hirata-kun, bisakah kamu menemukan pelakunya?”

“Yah, tidak ada bukti kalau anak laki-laki yang mencurinya. Mungkin Karuizawa-san menghilangkannya.”

“Ya, itu benar! Kami tidak ada hubungannya dengan ini!” anak laki-laki berteriak di belakang Hirata, menyatakan bahwa mereka tidak bersalah. 

“Aku tidak ingin berpikir ada penjahat di antara kita.”

Meragukan teman sekelas sendiri sepertinya salah. 

“Aku tahu kalau kamu bukan pelakunya, Hirata-kun. Tapi untuk saat ini, mari kita periksa barang bawaan anak laki-laki.”

Rupanya, gadis-gadis itu tidak berubah pikiran tentang ini. Mereka memutuskan bahwa pelakunya ada di pihak anak laki-laki. Yah, kukira itu wajar saja untuk berpikir seperti itu. 

“Hah? Jangan sembarangan bicara. Kami tidak perlu melakukan itu. Hirata, beri tahu mereka.” 

“Untuk saat ini, kami akan mencoba mengumpulkan orang-orang dan membicarakannya. Bisa tolong beri kami sedikit waktu?” tanya Hirata. 

“Kalau itu maumu, Hirata-kun. Aku mengerti. Aku akan mencoba berbicara dengan Karuizawa-san. Tapi kalau pelakunya masih belum juga ketemu, kami punya beberapa ide.” 

Dengan itu, semua orang berhamburan. Hirata dengan cepat mengumpulkan semua anak laki-laki di depan tenda. 

“Kita abaikan saja semua yang dikatakan gadis-gadis itu. Aku benci diperlakukan seperti tersangka. Aku tidak terima!” 

Ike telah berhasil mendapatkan kepercayaan dari para gadis di hari pertama, tetapi tampaknya itu tidak bertahan lama. Wajar jika anak laki-laki merasa tidak senang karena dituduh secara tidak adil. 

“Benar sekali. Toh, tidak ada bukti kalau kita yang mencuri celana dalam Karuizawa.” 

Yamauchi bertukar pandang dengan semua orang satu per satu. Bukan berarti Karuizawa tidak imut, tapi mengingat Karuizawa adalah pacar Hirata, itu akan jauh lebih baik jika yang diincar adalah Kushida dan Sakura. 

“Aku tidak meragukan kalian, tapi kita tidak akan menyelesaikan masalah kalau seperti ini.”

Gadis-gadis, yang sedang berbicara di kelompok mereka, terlihat seolah mereka akan menerkam kami. 

“Mungkin lebih baik menerima pemeriksaan barang bawaan untuk membuktikan kalau kalian tidak bersalah.” dengan itu, Hirata mengeluarkan tasnya sendiri. 

“Meskipun menyedihkan, kupikir kalian harus melakukannya. Apa kalian setuju dengan itu?” 

“Ta-Tapi...” 

“Tentu saja. Aku akan membuka barang bawaanku terlebih dahulu,” kata Hirata. 

Untuk membuat kami semua bergerak, dia tidak punya pilihan selain mengambil tindakan. Tetap saja, mungkin tidak ada satu orang pun di sini yang mengira Hirata adalah pelakunya. Selain itu, bisa dibilang bahwa mencuri celana dalam pacarnya sendiri adalah hal yang tidak masuk akal. Namun, jika satu orang berinisiatif membuka barang bawaannya, maka sisanya tak punya pilihan selain mengikuti. Mau tidak mau, para siswa yang tidak mau membuka tasnya akan dicurigai. Tidak ada celana dalam di tas Hirata.

“Kurasa kita tidak punya pilihan...” 

Semua anak laki-laki lain mulai mengeluarkan tas, satu demi satu. Ike dan Yamauchi membencinya, tapi tidak bisa melawan arus yang sudah mengalir. Kami bertiga adalah yang terakhir bergerak. Dengan enggan aku menuju ke tenda, mengikuti Ike dan Yamauchi. 

“Sial, aku sangat kesal. Laki-laki selalu dicurigai. Ini sangat tidak masuk akal.” 

“Iya, 'kan? Ayo kita buktikan kalau kita tidak bersalah.” Ike meraih tasnya, tapi tiba-tiba membeku. 

“Ada apa?”

“Ah, bukan apa-apa...” 

Dia memunggungi Hirata dan yang lainnya, memeriksa bagian dalam tasnya, dan dengan panik menutupnya kembali. 

“Kanji?” 

Wajah Ike pucat, tubuhnya kaku. Dia lumpuh total. “Hei, ayolah. Cepatlah bergerak.” 

“Apa, jangan-jangan memang kau yang mencurinya, ya?” kata Yamauchi, setengah bercanda. 

“Ma-Mana mungkin!”

Ike dengan panik menyangkalnya, menggelengkan kepalanya sambil mencengkeram tasnya. Sungguh reaksi yang berlebihan. Kami tidak cukup bodoh untuk mempercayai perilakunya yang terlihat aneh. 

“Tunggu, jangan bilang...” kata Yamauchi. 

“Apa? Kau tidak percaya padaku?!” 

“Tidak, aku tidak bilang begitu. Tunjukkan padaku apa yang ada di tasmu.” 

Yamauchi menyambar tas Ike untuk memeriksa isinya. Ketika dia melakukannya, dia melihat... celana dalam putih, jelas bukan milik laki-laki, diremas dan disembunyikan.

“I-Itu bukan punyaku! Seseorang pasti memasukkannya ke dalam tasku!”

“Ayolah, jangan banyak alasan...” 

Yamauchi menatap Ike dengan kasihan. 

“Sudah kubilang, aku tidak tahu bagaimana itu bisa ada di sana! Kenapa ada celana dalam di tasku?!” 

“Ini memalukan. Ayo jelaskan semuanya pada Hirata dan yang lainnya.” 

“Hah?! Tapi kalau aku melakukan itu, mereka akan menuduhku sebagai pelakunya!”

“Tidak ada pelaku..., 'kan?”

Mengapa Yamauchi bertanya pada Ike? Di dalam tas Ike ada celana dalam Karuizawa, otomatis Ike adalah pelakunya, 'kan? Mengesampingkan kapan dan bagaimana dia mencuri celana dalam itu, si pencuri kemungkinan besar tidak akan menyembunyikan barang curiannya di dalam tasnya sendiri. Jelas bahwa dalam kasus kegemparan, pencarian penjahat akan dimulai. Jika Ike benar-benar bersalah, dia seharusnya panik ketika dia disuruh membuka barang bawaannya. Tapi aku tidak melihat petunjuk sedikit pun tentang itu. 

Aku menyimpulkan bahwa orang lain selain Ike adalah pelakunya, dan orang itu telah menanam bukti untuk menjebak Ike. Kecuali jika Ike benar-benar sebodoh itu dan lola... tapi itu tidak mungkin, 'kan? 

“Ayanokouji, kau percaya padaku, 'kan? Kalau aku tidak mencurinya?!” 

“Yah, kalau kupikirkan dengan tenang, tidak ada bukti kuat yang menunjukkan kalau kau adalah pelakunya, Ike.” 

“Ayanokouji!” dia menangis. 

“Tidak mungkin Ike adalah pelakunya. Kalau memang dia, berarti dia benar-benar bodoh.” 

“Yah, kedengarannya masuk akal, tapi... Tunggu, apa? Maksudmu seseorang memasukkan celana dalam itu di tas Kanji?” 

“Kita hanya perlu mencari tahu siapa dia!” seru Ike. 

“Hei, cepatlah!” salah satu anak laki-laki di samping Hirata berteriak. 

“A-A-A-A-A-Apa yang harus kulakukan? Ini benar-benar gawat!”

Jika barang curian ditemukan di sini, gadis-gadis itu mungkin akan menetapkan bahwa Ike adalah pelakunya. 

“Kita tidak punya pilihan selain menyembunyikannya. Sekarang.”

“Menyembunyikannya? Di mana?! Kita tidak bisa menyembunyikannya!”

Memang benar bahwa kami saat ini tidak memiliki opsi untuk menyembunyikannya. jika gadis-gadis melihat kami bergegas ke toilet atau ke tenda, mereka akan curiga dan meminta untuk menggeledah area itu. Yang terpenting, kami menghabiskan terlalu banyak waktu di sini. Tidak mengherankan jika kami sudah dicurigai. 

“Kita tidak punya pilihan lain. Kau harus memasukkannya ke dalam sakumu.”

Itu satu-satunya saran yang bisa kuberikan. Tidak ada waktu untuk menyembunyikan celana dalam itu di tempat lain, dan kami tidak ingin menarik perhatian. 

“A-Aku tidak bisa melakukannya! A-Aku sudah panik!” 

Tetap saja, menyembunyikan celana dalam adalah satu-satunya pilihan kami. 

“Aku serahkan padamu, Ayanokouji!”

Ike dengan cepat melepas dan menyodorkan celana dalam yang teremas itu ke tanganku. 

“Hah?”

“Kalau kau pikir lebih baik menyembunyikannya, jadi kau pasti bisa melakukannya. Benar, 'kan?" 

“Yah, itu...” 

“Hei, cepatlah!” seseorang memanggil. 

“Aku datang!”

Ike bergumam, “aku mengandalkanmu,” dan bergegas pergi. Yamauchi, yang tidak ingin terseret ke dalamnya, dengan cepat meminta maaf dan bergegas pergi. 

“Hei, apa kalian serius?”

Aku berkeringat dingin. Semakin lama aku diam di tempat, semakin buruk situasinya. Seandainya aku punya waktu sebentar, aku akan menyembunyikannya di suatu tempat yang sulit ditemukan, tapi sudah tidak ada waktu lagi. Secara refleks, aku memasukkan celana dalam itu ke saku belakangku, mengambil tasku, dan bergabung kembali dengan yang lain. 

“Maaf, maaf. Tasku sedikit kotor, jadi aku membersihkannya.” dengan alasan itu, Ike melemparkan barang bawaannya.

“Cari saja sampai dapat. Aku tidak bersalah. Benar kan, Yamauchi?” 

“Y-Ya.” 

Keduanya dengan bangga meletakkan tas mereka. Hirata, menjalankan tugasnya, memeriksa bagian dalam tas. Aku juga meletakkan tasku dan menjauh. Setelah barang bawaan semua orang diperiksa, Ike berbicara kepada Shinohara, yang sedang menunggu sambil menyilangkan tangannya. 

“Kita sudah menggeledah tas semua orang. Tak satu pun dari kami yang melakukannya.” 

“Benarkah?”

“Ya. Tidak diragukan lagi. Tak satu pun dari anak laki-laki yang merupakan pelakunya.” 

“Tunggu sebentar.”

Shinohara mendekat dan memeriksa bagian dalam tenda. Dia terlihat curiga, seolah-olah kami menyembunyikan sesuatu. Tentu saja, tidak ada apa pun di sana. Setelah memeriksa kedua tenda, Shinohara kembali ke kelompok gadis-gadis dan mendiskusikan situasinya. 

“Hei, Hirata-kun. Mungkinkah mereka menyembunyikannya di saku mereka? Ike-kun dan Yamauchi-kun, dan bahkan Ayanokouji-kun tadi sempat berbisik-bisik. Itu membuatku penasaran.” 

Tentu saja kami dicurigai. Gadis-gadis itu menuntut untuk memeriksa setiap sudut dan celah. 

“Astaga, suduh cukup!” seru Ike. 

Gadis-gadis mulai menyerangnya. 

“Bukankah Ike-kun dari tadi bertingkah mencurigakan? Mungkin dia sedang menyembunyikan sesuatu?” 

“Hah?! A-Aku tidak menyembunyikan apa pun! Geledah aku jika perlu!” 

Dia merentangkan tangannya lebar-lebar saat dia menyatakan tidak bersalah. Hei, Ike... kalau kau menyuruh mereka melakukan itu, terus... 

“Ayo kita geledah dia. Hirata-kun, bisakah kamu melakukannya?” 

“Oke. Kalau itu bisa meyakinkan para gadis, baiklah. Tapi, kalau aku tidak menemukan apa pun, aku ingin kalian berhenti menuduh anak laki-laki.” 

Ini adalah kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. Saat para gadis memperhatikan Ike, Yamauchi, dan aku, penggeledahan pun dimulai. Tentu saja, mereka tidak akan menemukan celana dalam pada Ike atau Yamauchi. Mereka tetap diam sepanjang Hirata menggeledah dengan teliti, dan dia memeriksanya dengan seksama. Akhirnya, giliranku.

Sudah terlambat untuk melarikan diri. Mungkin lebih baik kalau pelakunya aku. Tidak, itu tidak benar. Tidak ada yang bisa kulakukan sekarang. Semoga Hirata mengabaikannya, bahkan jika hanya ada 1% kemungkinan. Aku memutuskan untuk diam, seperti ikan mati. 

“Maafkan aku. Ini akan cepat selesai,” kata Hirata. 

Hirata, yang sama sekali tidak meragukanku, perlahan mulai menggeledahku, dimulai dari tubuh bagian atasku. Kemudian, Hirata memasukkan tangannya ke saku belakangku, tempat di mana aku memasukkan celana dalam itu. 

Semuanya sudah berakhir.

Aku pasrah. Aku merasakan tangan Hirata menyentuh celana dalam itu. Yah, aku tidak bisa sepenuhnya yakin bahwa yang disentuh Hirata adalah celana dalam, tapi aku curiga dia menyentuh kain yang tergulung di sakuku. Tubuh Hirata menegang, dan dia menatap mataku. Setelah melihat sekilas, Hirata memeriksa kaosku tanpa mengeluarkan celana dalam dari sakuku. Selesai, dia berbalik ke arah gadis-gadis itu. 

“Ayanokouji-kun juga tidak menyembunyikannya.” 

Dia berjalan menuju Shinohara. Ike dan Yamauchi bertukar pandang, terlihat kaget. 

“Mereka bertiga tidak mengambilnya.”

“Aneh... kupikir pelakunya pasti salah satu dari mereka. Tapi kalau kamu sudah berkata seperti itu, Hirata-kun...” 

Jika Hirata yang sangat jujur ​​sudah bersabda, Shinohara tidak punya pilihan selain percaya padanya. 

“Seharusnya semua akan baik-baik saja setelah aku merapikan barang bawaan. Kita bisa mendiskusikannya lebih lanjut nanti.”

Setelah pemeriksaan berakhir, aku bergegas kembali ke dalam tenda. Hirata mengikutiku. 

“Hirata. Kenapa kau tidak memberi tahu mereka?” aku bertanya, langsung. 

“Jadi, yang di sakumu itu memang celana dalamnya, ya?”

“Ya.”

“Apa kamu ... mencuri celana dalam Karuizawa, Ayanokouji-kun?”

“Tidak. Aku tidak melakukannya.” 

Bagaimana pemuda yang baik ini akan menanggapi penolakanku? 

“Aku percaya padamu. Kamu bukan orang seperti itu. Tapi kenapa itu ada di sakumu?”

Tidak mungkin aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya setelah dia mengatakan bahwa dia percaya padaku. Aku mengatakan kepadanya bahwa itu berasal dari tas Ike. Hirata sejenak kelihatan melamun. 

“Begitu, ya. Jadi itu pasti bukan kamu. Tapi aku tidak berpikir Ike-kun atau Yamauchi-kun juga melakukannya. Kalau mereka adalah pelakunya, mereka mungkin tidak akan memasukkan celana dalam itu ke dalam tas mereka sendiri. Mereka akan menyembunyikannya di tempat lain.”

Kecerdasan Hirata telah menyelamatkanku. Aku tidak perlu repot-repot mencoba menjelaskannya. 

“Kalau kamu tidak keberatan, bolehkah aku saja yang memegang celana dalam itu?” dia bertanya. 

“Tentu, tapi ... apa kau yakin?”

Memegang celana dalam itu persis seperti memegang Joker dari setumpuk kartu-kartu. Keduanya sulit untuk dihadapi. 

“Dalam skenario terburuk, kalau aku yang menjadi pelakunya, aku yang paling tidak dirugikan. Lagipula, aku pacarnya.” 

Setelah mengatakan itu, dia mengambil salah satu kantong toilet vinil dan memasukkan celana dalam itu ke dalamnya. Aku bertanya-tanya apakah akan menyakitkan bagi Karuizawa saat mengetahui bahwa orang-orang menyentuh celana dalamnya dengan tangan kosong. 

“Tapi ini berarti kita sudah mendapat berita buruk. Celana dalam itu ada di tas Ike-kun, maka kemungkinan besar pelakunya adalah seseorang di kelas kita.” 

“Ya...”

Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, jika seorang siswa dari kelas lain berkeliaran, kami pasti melihat mereka. Setelah keluar dari tenda, aku memindai sekelilingku. Tas kami dibungkus satu per satu dengan vinil dan ditempatkan di depan tenda kami. Tenda gadis-gadis itu beberapa meter jauhnya, tempat di mana Karuizawa dan yang lainnya tidur. Sampai terjadinya seluruh kejadian ini, barang bawaan gadis-gadis itu menumpuk di depan tenda mereka, tidak terlindungi, seperti milik kami. Jika seseorang ingin mencuri sesuatu, ia dapat dengan mudah melakukannya. Aku sendiri pun juga pernah menggeledah tas Ibuki dengan mudah pada hari pertama.

Kapan celana dalam itu dicuri? Karena tidak ada masalah hingga tiba waktunya mandi, berarti kejahatan itu terjadi antara jam 8 tadi malam sampai jam 7 pagi ini. Jika itu masalahnya, siapa pun di kelas kami bisa melakukannya. Namun, aku ragu kejahatan itu dilakukan pada tengah malam. Jika pelakunya menggeledah barang bawaan sambil membawa senter, seseorang akan menyadarinya. 

Dalam hal itu, sangat mungkin bahwa kejahatan itu dilakukan pada waktu sekitar matahari terbit, setelah pukul 5 pagi. Bahkan jika aku mempersingkat jangka waktu kejahatannya, masih sulit untuk mempersempit daftar pelakunya. Bagaimana jika aku mencoba mengubah perspektifku? Katakanlah Karuizawa mencuri celana dalamnya sendiri dan menyembunyikannya di tas Ike. Tapi alasan apa yang dia miliki untuk melakukan itu? 

“Aku yakin kamu bukan pelakunya, Ayanokouji-kun. Itu sebabnya aku menyelamatkanmu.”

“O-Oh. Terima kasih.”

“Tapi bukan itu saja yang ingin kukatakan. Aku ingin kamu membantuku menemukan pelaku yang sebenarnya, Ayanokouji-kun.” 

Hirata meraih tanganku saat dia mengajukan permintaannya. 

“Kau ingin aku menemukan pelakunya?”

“Kupikir yang lainnya, baik laki-laki maupun perempuan, akan terus gelisah sampai pencuri itu ditemukan. Sejujurnya, mungkin akan lebih baik kalau aku menemukan pelakunya, tapi sepertinya itu akan sulit untuk mengumpulkan semua orang...” seorang bintang kelas seperti Hirata juga memiliki batasan-batasan tertentu. 

“Aku tidak berpikir itu akan mudah untuk menemukan seseorang yang dengan mudahnya menyembunyikan sesuatu di tas Ike.” 

Hirata seharusnya tahu bahwa menemukan penjahat itu akan sulit. 

“Yah, aku akan melakukan apa yang aku bisa. Hanya saja, jangan terlalu banyak berharap dariku.”

“Terima kasih! Terima kasih, Ayanokouji-kun!” kata Hirata, hampir memelukku dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Aku mengerti Hirata berterima kasih, tapi kurasa reaksinya agak berlebihan. Mungkin kasus pencurian celana dalam ini benar-benar mengganggunya. Sebagai seorang pemimpin, dia harus menanggapi krisis dengan serius dan mencoba untuk menemukan resolusi bagi kelas.

“Kalau kamu kebetulan menemukan pelakunya, aku ingin kamu memberi tahuku terlebih dahulu. Aku tidak ingin kamu memberi tahu orang lain.” 

Kemampuannya untuk melebarkan matanya sambil membuat daya tarik yang begitu tulus dan mempesona membuatku tidak bisa menolak. Dia tampak terlalu tenang. Itu sedikit menakutkan. 

“Kalau informasi itu sampai diketahui semua orang, kelas kita akan mendapat pukulan besar. Aku ingin menghindari itu. Itu sebabnya aku ingin menemukan metode damai untuk menyelesaikan masalah dengan pelakunya. Secara pribadi, kupikir kita pasti mampu menyelesaikan masalah ini melalui pembicaraan.” 

“Jadi, dengan kata lain, kau akan menyembunyikan kebenaran?”

“Menyembunyikan? Itu pilihan kata yang buruk, tapi tidak ada yang bisa kulakukan tentang hal itu kalau orang-orang menganggapnya seperti itu. Bahkan kalau salah satu dari mereka ternyata adalah pelakunya, kupikir lebih baik menyembunyikan kebenarannya.” 

Dia fokus padaku. Seolah-olah dia bermaksud melindungi pelakunya. 

“Aku mengerti. Aku akan melaporkannya kepadamu terlebih dahulu.” 

“Terima kasih. Kalau begitu, aku akan kembali bekerja.” 

Setelah keluar dari tenda, Hirata memanggil siswa lain. Aku melihat beberapa siluet di sisi lain tenda mulai lenyap. 

“Hirata Yousuke. Apa kau benar-benar pahlawan Kelas D?” 

Ada satu kontradiksi dalam cerita Hirata. Tepat setelah dia mengatakan dia percaya padaku, dia segera mengatakan bahwa kebenaran harus disembunyikan bahkan jika pelakunya adalah salah satu dari anak laki-laki. Dengan kata lain, bahkan jika seseorang menyembunyikan celana dalam itu, kami tetap akan menyembunyikannya dari para gadis. 

Hirata tidak sepenuhnya percaya padaku. Dia mungkin berasumsi bahwa kemungkinan besar aku adalah pelakunya. Itu wajar saja, tentu saja. Dari perspektif orang luar, akulah yang memegang celana dalam itu, dan aku akan menyebut nama Ike sebagai pelakunya. Hirata menugaskanku, calon tersangka, peran detektif untuk menawarkanku garis hidup. Pada saat yang sama, dia mengeluarkan peringatan untuk tidak melakukan pelanggaran untuk kedua kalinya. 

Dengan berpikir seperti ini, aku bisa memahami ceritanya. Aku yakin dia hanya ingin menutupi kebenaran. Untuk sementara waktu, aku juga mempertimbangkan kemungkinan bahwa Hirata adalah pelakunya, tapi... yah, kurasa kami akan segera mengetahuinya.

~ Bersambung ~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢