PROLOG
Monolog Chabashira Sae
Mitologi Yunani banyak menceritakan tentang kelemahan manusia. Banyak dari ceritanya melibatkan kebencian dan kecemburuan. Pernahkah kau mendengar tentang “The Wings of Icarus”? Izinkan aku untuk meringkasnya. Dahulu kala, di zaman Yunani kuno, hiduplah seorang penemu hebat bernama Daedalus. Daedalus diperintahkan oleh Raja Minos untuk membangun labirin besar untuk memenjarakan Minotaur yang mengerikan. Namun, Raja Minos segera menelantarkan Daedalus, memenjarakan sang penemunya di sebuah menara bersama dengan putranya, Icarus.
Untuk melarikan diri dari penjara, Daedalus mengumpulkan bulu-bulu burung untuk membuat sepasang sayap besar. Dia menyatukan bulu yang besar dengan benang, dan yang kecil dengan lilin. Begitu sayapnya selesai dan waktunya telah tiba untuk terbang menuju kebebasan, Daedalus memberi Icarus sebuah peringatan.
Dia berkata, “Jika kau terbang terlalu tinggi, matahari akan melelehkan lilin yang menyatukan sayap ini. Berhati-hatilah.” Dengan peringatan itu, Icarus melompat dari menara bersama dengan ayahnya. Bersama-sama, mereka memperoleh kebebasan mereka. Tapi kebebasan bisa menjadi hal yang berbahaya, dan bisa membuat seseorang kehilangan pandangan terhadap dirinya sendiri. Dengan kebebasan tanpa batas di hadapannya, Icarus mulai terbawa suasana. Mungkin itu tak terelakkan setelah melepaskan diri dari pengekangan yang menyakitkan seperti itu.
Icarus, bahagia, melupakan peringatan ayahnya dan terbang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Matahari membakar sayap malaikat palsu yang dibuat ayahnya, dan dalam sekejap mata, lilin itu meleleh. Akhirnya, sayap palsu itu benar-benar terbakar habis. Icarus jatuh ke laut dan mati. Apakah Icarus adalah seorang pemuda pemberani yang melompat ke langit untuk mendapatkan kebebasannya? Atau apakah dia bodoh dan sombong karena terlalu melebih-lebihkan kemampuannya dan percaya bahwa dia bisa mencapai matahari? Mungkin tidak ada seorang pun kecuali ayahnya, Daedalus, yang akan mengetahui jawabannya.
Untuk beberapa alasan, aku teringat akan kisah sayap Icarus ketika melihat seorang anak muda. Mempertimbangkan apa yang telah terjadi selama beberapa bulan terakhir ini, aku bisa mengatakan bahwa aku membuat perbandingan hanya karena dia mirip dengan Icarus. Tetapi aku segera menyadari bahwa keduanya pada dasarnya berbeda satu sama lain. Anak laki-laki ini tidak memiliki keberanian maupun kesombongan seperti Icarus.
Aku telah tersudut. Aku tidak punya pilihan selain melakukannya.
Tidak memiliki cara lain untuk menghadapinya, aku pun tidak punya pilihan selain menanggung murka anak laki-laki ini. Aku tidak punya pilihan selain bersikap tegas, memancing kemarahan anak laki-laki ini kehadapanku. Dadu tidak dapat dikembalikan lagi setelah dilempar. Perjudian ini sudah dimulai.
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar