CHAPTER 4
Pecahnya Perang Dalam Diam
PART 2
Mari kita kembali ke waktu sebelum dimulainya ujian khusus kami di pulau tak berpenghuni. Mari kita bicara tentang upacara penutupan untuk akhir semester pertama. Aku merasa gembira, karena aku bisa menikmati liburan musim panas untuk pertama kalinya dalam hidupku. Namun, Malaikat Maut muncul di hadapanku dengan sabit di tangannya untuk merebut kebahagiaanku.
“Ayanokouji. Ibu harus bicara denganmu sebelum kau pulang. Datanglah ke ruang guru.” kata Chabashira-sensei tepat setelah sesi bimbingan wali kelas berakhir, sebelum dia meninggalkan kelas.
“Kenapa? Apa kau melakukan sesuatu?” tanya Sudou, yang sudah siap untuk pulang dengan tas tersampir di bahunya.
“Aku tidak ingat pernah melakukan apa pun.”
“Benar juga. Kau ini tidak baik dan juga tidak buruk. Kau menjalani kehidupan yang sederhana, membosankan, dan stabil.”
“Kenapa kau jadi terdengar sarkastik begitu?”
“Sarkastik? Aku tidak bermaksud begitu. Apa rasanya seperti itu?”
Sungguh orang yang mengerikan... Hatiku yang terluka menangis dengan air mata yang pahit. Aku mendengar seseorang memanggilku, dan kukira itu Sudou, yang khawatir karena sudah menyakitiku. Dia adalah laki-laki yang baik.
“Hei, Sudou!”
“Hei, Horikita. Eng, yah, karena ini liburan musim panas... apa kau punya waktu luang? Mungkin kita bisa pergi jalan-jalan ke suatu tempat.”
Sudou tergila-gila pada Horikita, tetanggaku.
Dia sama sekali tidak mengkhawatirkanku.
“Kenapa?” tanya Horikita.
“Yah, karena ini liburan musim panas, tahu? Rugi rasanya kalau tidak memanfaatkannya untuk bersenang-senang. Kita bisa nonton film atau berbelanja.”
“Bodoh sekali. Tidak ada bedanya sama sekali meskipun ini liburan musim panas atau bukan. Lagian, kenapa harus aku yang kamu ajak keluar?”
“'Ke-Kenapa' katamu? Kenapa kau sangat tidak peka sih?”
Sudou menggaruk kepalanya. Dia tidak mengerti perasaan Horikita, percakapan itu seperti saklar yang diputar.
“Yah, kau pasti mengerti hal-hal semacam ini. Benar, 'kan? Cowok mengajak cewek keluar saat hari libur...”
Meskipun aku ingin melihat upaya Sudou membuahkan hasil dengan Horikita, Chabashira-sensei telah memanggilku. Langkah terbaik adalah menyelesaikan hal-hal yang tidak menyenangkan dengan sesegera mungkin.
“Hei! Kau mau pergi kemana?” Sudou memanggil, menghentikanku.
“Menurutmu kemana? Aku dipanggil oleh sensei, jadi aku tidak punya pilihan.”
“Bisakah kau menunggu sebentar saja? Cuma sebentar?”
Ekspresi itu membuatku kesal. Dia meraih pergelangan tanganku dengan tangannya yang kuat, dan tidak melepaskannya.
“Kau harus melihatku bertarung. Jadilah pendampingku.”
“Jangan mengatakan omong kosong seperti itu—”
“Sampai jumpa.”
Saat kami cekcok, Horikita selesai bersiap-siap untuk pulang dan berdiri dari tempat duduknya. Dia meninggalkan kelas tanpa ragu-ragu. Sudou melihatnya pergi, benar-benar tercengang.
“Sial. Kurasa itu tidak ada gunanya. Yah, kurasa aku akan pergi ke klub saja.”
Ketidakhadiran Horikita berarti aku tidak lagi dibutuhkan, jadi aku pergi. Saat aku tiba di ruang guru, aku melihat Chabashira-sensei sedang menunggu di ambang pintu.
“Masuklah.”
“Aku tidak mengerti kenapa Ibu memanggilku.”
“Kita akan bicara di dalam.”
Meteran "serangan depresi" ku naik dengan drastis saat Chabashira-sensei menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang begitu singkat. Kuharap dia memanggilku ke sini sebagai lelucon.
“Kau mungkin mengharapkan hal-hal buruk ketika kau diminta untuk datang ke ruang guru, tapi itu bertentangan dengan harapanmu, ini tempat yang bagus. Tidak ada mata-mata di sekitar sini. Banyak hal yang lebih baik dikatakan secara privasi.”
Aku perhatikan bahwa kamera keamanan, yang seharusnya dipasang di ruangan seperti ini, tidak ada.
“Jadi apa yang ingin Ibu bicarakan denganku? Aku sibuk merencanakan liburan musim panasku sekarang.”
“Itu lucu. Ibu pikir kau tidak punya teman.”
“Tidak, tidak, aku cuma melebih-lebihkan ketika aku mengatakan itu. Setidaknya aku punya beberapa teman.”
Meskipun aku bisa menghitung jumlah temanku dengan dua tangan, kuantitasnya tidak penting. Atau setidaknya itulah yang mereka katakan. Selain itu, bukankah tidak apa-apa jika aku menghabiskan liburan musim panas sendirian?
“Ibu memanggilmu ke sini hari ini karena Ibu ingin memberi tahumu kisah pribadi Ibu.”
Kisah Chabashira-sensei? Ini menuju ke arah yang sangat berbeda. Aku tidak mengerti mengapa dia memanggilku secara pribadi dan ingin menceritakan kisahnya. Aku juga tidak berminat.
“Itu adalah sesuatu yang belum pernah Ibu bicarakan dengan siapa pun sejak Ibu menjadi wali kelas. Ini memalukan, tapi tolong dengarkan.”
“Sebelum itu, haruskah kita minum teh? Ibu pasti haus,” kataku.
Aku berdiri dari kursi pipaku dan membuka pintu dapur. Tidak ada satupun peralatan di dalamnya.
“Jangan menceritakan kisah ini kepada orang lain. Kalau kau bisa melakukannya, silakan kembali ke tempat dudukmu.”
“Oke.”
Aku menutup pintu dan kembali duduk bersama Chabashira-sensei.
“Bagaimana pandanganmu tentang Ibu yang menjadi Wali Kelas D?”
“Pertanyaan abstrak lainnya, jadi begitu ya. Di mataku kupikir Ibu cantik.”
Dia bahkan tidak mengerutkan alis saat aku membuat lelucon itu. Tapi aku bisa merasakan haus darahnya meningkat.
“Eng... Yah, kalau Ibu tidak keberatan dibandingkan dengan guru lain, kupikir Ibu tidak peduli sama sekali tentang masa depan Kelas D, dan juga Ibu adalah guru yang dingin tanpa minat pada murid-muridnya. Itulah jawabanku.”
Dia tidak seramah guru Wali Kelas B, Hoshinomiya-sensei, dia juga tidak mau membantu murid-muridnya seperti guru Wali Kelas C, Sakagami-sensei.
“Apa aku salah?”
“Tidak, seperti yang kau katakan. Ibu tidak akan menyangkalnya. Tapi, kebenarannya berbeda.”
Chabashira-sensei berhenti dan melihat ke langit-langit, seolah-olah dia baru saja teringat sesuatu.
“Ibu pernah menjadi siswi di sekolah ini. Dulu Ibu berada di Kelas D, sama sepertimu.”
“Harus kukatakan itu mengejutkan. Kupikir levelmu lebih tinggi dari itu, Chabashira-sensei.”
“Hah... Yah, di zaman Ibu, perbedaan kelas tidak terlalu ekstrim. Bisa dikatakan bahwa kami berada dalam pertempuran empat arah, bukan pertempuran tiga arah. Sampai kami mendekati kelulusan di semester ketiga tahun ketiga kami, perbedaan antara Kelas A dan Kelas D bahkan tidak sampai 100 poin. Itu adalah pertempuran jarak dekat, di mana bahkan satu kesalahan sepele bisa membuatmu kehilangan keseimbangan.”
Kurasa ia tidak sedang membual. Sebaliknya, ceritanya terasa seperti sebuah penyesalan.
“Ada seseorang yang membuat kesalahan sepele, ya?”
“Ya. Kejadiannya agak tidak terduga. Kelas C hancur karena kesalahan Ibu. Pada akhirnya, tujuan Ibu untuk mencapai Kelas A dan impian Ibu pun hancur.”
Aku merasa sangat kasihan padanya, mengungkit masa lalu kelam seperti itu pasti benar-benar sulit. Dalam sudut pandangnya, rasanya pasti tidak nyaman.
“Aku tidak menangkap maksud Ibu. Apa hubungannya ini denganku?”
“Ibu merasa bahwa kehadiranmu akan sangat penting untuk mencapai Kelas A.”
“Bagaimana aku harus menanggapi itu? Ibu bercanda, 'kan?"
Aku merasa senang dipuji begitu tiba-tiba, tetapi aku tidak tahu bagaimana menjawabnya.
“Beberapa hari yang lalu, ada seseorang yang menghubungi sekolah secara langsung. Dia berkata 'keluarkan Ayanokouji Kiyotaka.'”
Chabashira-sensei merubah topik ke arah yang tidak terduga. Dia mulai menuju masalah yang sebenarnya.
“Dia bilang untuk mengeluarkanku? Itu omong kosong. Aku tidak tahu siapa dia, tapi Ibu mengabaikan permintaannya dan tidak akan mengusirku, 'kan?”
“Tentu saja. Kami tidak bisa begitu saja mengusir seseorang atas kemauan pihak ketiga. Selama kau masih menjadi seorang siswa di sekolah ini, kau akan dilindungi oleh aturan. Tapi... kalau kau menyebabkan masalah, itu lain lagi ceritanya. Merokok, menindas, mencuri, menipu... Kalau kau menyebabkan skandal semacam itu, pengusiran akan menjadi hal yang tak terhindarkan.”
“Maaf, tapi aku tidak berniat melakukan apapun.”
“Itu tidak ada hubungannya dengan niatmu. Kalau Ibu menentukan sesuatu itu sebagai sebuah masalah, itu akan menjadi kenyataan.”
“Apa Ibu mengancamku?” aku menemukan kata-katanya mencurigakan.
“Ini kesepakatannya, Ayanokouji. Kau akan membidik Kelas A untuk Ibu. Sebagai gantinya Ibu akan memihakmu dan melindungimu. Bukankah itu kedengarannya tawaran yang bagus?”
Kupikir dia telah banyak berubah sejak pertama kali aku bertemu dengannya, tetapi aku tidak pernah membayangkan dia akan memeras seorang siswa. Aku tertawa.
“Bolehkah aku pergi sekarang? Aku tidak akan mendengarkan ini lagi.”
“Sayang sekali, Ayanokouji. Kau akan dikeluarkan, dan sekali lagi, Kelas D tidak akan mencapai Kelas A.”
Pidato dan perilakunya bukan hanya untuk pertunjukan. Dia benar-benar serius mengancamku. Dia menyerahkan mimpinya yang belum tercapai di pundakku.
“Biarkan Ibu bertanya padamu sekali lagi. Apa kau akan mengincar Kelas A? Atau kau lebih memilih dikeluarkan? Pilihannya ada di tanganmu.”
Dengan tangan kiriku, aku menjangkau meja dan meraih kerah Chabashira-sensei.
“Aku ingat saat Horikita bilang kalau Ibu membuatnya merasa tidak nyaman. Aku bertanya-tanya apakah ini yang dia rasakan. Ini seperti memasuki rumah seseorang dengan memakai sepatu.”
“Benar.” Chabashira-sensei, yang bersikap percaya diri sampai sekarang, tertawa meremehkan diri sendiri. “Ibu sendiri kaget. Ibu menyadarinya sekarang bahwa Ibu masih belum menyerah untuk mencapai Kelas A.”
Matanya menjadi sedikit berkabut. Ketidakpeduliannya dan sifat dinginnya yang biasa telah hilang. Ketika dia meraih lengan kiriku, tanganku masih menggenggam kerahnya, aku melihat tekad kuat telah kembali ke matanya.
“Ibu pikir kau akan memimpin Kelas D secara sukarela, kita tidak punya waktu untuk disia-siakan. Kau harus memutuskannya di sini sekarang. Apa kau akan membantu Ibu atau tidak?”
Luke, protagonis Star Wars, awalnya memilih untuk kembali ke perkebunan pamannya dan menolak ajakan untuk berpetualang. Namun, dia akhirnya terseret ke dalam kengerian perang. Itu adalah takdirnya. Mungkin seharusnya aku tidak menelan mentah-mentah cerita wanita ini. Aku tidak tahu seberapa banyak kebenaran dari cerita itu.
“Ibu mungkin akan menyesal karena sudah mencoba memanfaatkanku.”
“Jangan khawatir. Hidup Ibu sudah dipenuhi dengan penyesalan.”
Itu adalah peristiwa merepotkan yang mengawali liburan musim panasku. Itu adalah sesuatu yang tidak ingin kupikirkan. Bagaimanapun, aku tidak boleh kehilangan kehidupan sekolahku saat ini. Membuang kebebasan demi mendapat kebebasan... Sungguh konyol.
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar