CHAPTER 4
Pecahnya Perang Dalam Diam
INTRO
Pada hari keempat, kami mencapai titik balik. Teriakan dan keluhan mereda dan digantikan oleh suara tawa. Bersamaan dengan jagung yang kami temukan, Ike dan yang lainnya juga telah menangkap ikan. Tidak ada lagi penolakan untuk meminum air sungai. Berkat buah-buahan yang ditemukan teman sekelas kami, poin yang tersimpan ternyata lebih banyak daripada yang diantisipasi, dan sepertinya kami akan berhasil melalui ujian ini.
Saat ini, kami telah menghabiskan sekitar 100 poin, termasuk penalti karena mundurnya Kouenji. Jika kami terus seperti ini, kami akan melalui ujian ini dengan beberapa poin tersisa. Jika melihat keadaan Kelas D sebelumnya, jumlah poinnya sangat fenomenal. Bahkan Yukimura, yang paling menentang di awal, tidak punya keluhan. Setiap orang puas dengan hasil kami.
Aku mulai merasakan perih di kepalaku, yang berdenyut-denyut. Aku meminjam pena, memasukkannya ke dalam saku bersamaan dengan potongan kertas yang kulipat sebelumnya, dan meninggalkan base camp.
Aku mulai mencari tahu lebih banyak tentang ujian ini. Jika aku harus memecahnya, 80 persennya bersifat defensif, menentukan apakah kelasmu bisa membentuk hubungan kerjasama. Oleh karena itu, aku memutuskan bahwa sisa 20 persennya dari ujian ini ofensif, menilai apakah kau memiliki kemampuan untuk mengintai dan mengumpulkan informasi. Namun, proporsi 8:2 ini bukan tercermin dalam hasil ujian. Sebaliknya, 20 persen itu sangat memengaruhi hasil akhirnya.
Kami sudah memahami rencana masing-masing kelas. Dalam hal ini, kami tahu apa yang harus kami lakukan, yaitu menyerang kelas lain. Jadi, aku mulai bergerak menuju daerah Kelas A. Karena Kelas D berbasis di sekitar sungai, Kelas A kemungkinan besar memusatkan aktivitas mereka di sekitar gua mereka. Daya tarik sebenarnya dari tempat itu bukan hanya menawarkan perlindungan dari sisi geografisnya; tempat itu sendiri memiliki arti.
Saat aku berjalan-jalan di hutan, aku mendengar suara ombak laut yang samar. Aku mempercepat langkahku, dan berhasil menembus pepohonan dan menuju pantai.
“Wow...”
Aku menginjak rem dan berhenti tepat di depan tebing.
“Aku jelas melihat sesuatu dari kapal. Itu ada di bawah sini.”
Aku melihat beberapa fasilitas yang terletak lumayan dekat dengan gua. Sepertinya tidak ada rute jalan memutar, tapi saat aku berjalan di sepanjang tebing, aku melihat sebuah tangga ditempatkan di titik buta. Siapa pun akan melewatkannya jika tidak teliti. Aku meraih tangga itu dengan seluruh kekuatanku. Kelihatannya kokoh, jadi aku menggunakannya untuk turun ke dasar tebing.
Tak lama setelah turun, aku menemukan sebuah gubuk kecil. Di dekat pintu masuk, aku melihat sebuah perangkat—bukti bahwa ini adalah sebuah titik. Saat aku mengintip melalui jendela, aku melihat alat pancing. Dengan kata lain, menduduki tempat ini berarti kau akan dapat menangkap ikan tanpa harus meminjam peralatan dari sekolah.
Ketika aku memeriksa untuk melihat apakah titik ini telah ditempati, aku melihat kata Kelas A ditampilkan pada perangkat. Sepertinya mereka punya 4 jam tersisa. Aku tidak ragu bahwa Katsuragi dan yang lainnya telah datang ke sini dan menguasai daerah ini setelah mereka mengklaim gua. Kau tidak akan tahu tentang keberadaan tempat ini kecuali kau melihatnya dari kapal. Karena gubuk kecil ini terletak tepat di bawah tebing, kau tidak perlu khawatir karena tidak ada siapa pun di sekitar sini yang bisa melihatmu.
Alat-alat di dalamnya tampak tidak terpakai. Debu yang tebal telah menumpuk. Aku mengeluarkan peta dari sakuku dan menuliskan beberapa catatan tentang lokasi gubuk kecil ini. Aku hanya menuliskan perkiraan posisinya, tentu saja. Mengukurnya secara akurat akan memakan waktu yang sangat lama.
Setelah aku selesai menandainya di petaku, aku melipat kembali kertas itu dan memasukkannya kembali ke dalam saku. Karena sepertinya tidak ada hal lain, aku menaiki tangga kembali ke atas tebing.
“Ketika kami mengelilingi pulau, aku melihat sebuah menara di sana...”
Saat memindai area, aku mengandalkan ingatanku. Aku mengalihkan pandanganku menuju tanah yang telah diinjak orang. Kemudian aku melanjutkan ke hutan, mengikuti jalan. Akhirnya, aku mencapai tempat yang lebih tinggi. Apakah ada titik di sini, aku bertanya-tanya?
Meskipun tampaknya ada kemungkinan untuk melihat ke seluruh pantai dengan menaiki tangga yang terpasang, fasilitas itu kelihatannya tidak terlalu berguna. Sepertinya beberapa titik lebih baik daripada yang lain.
Aku mendekat untuk memastikan peralatan di dinding fasilitas itu. Tidak seperti tempat terakhir yang kuperiksa, tempat ini sepertinya tidak ditempati. Fasilitasnya sendiri agak besar, jadi meskipun tempatnya terpencil, ini akan mudah ditemukan. Dengan kata lain, itu berarti aku tidak tahu siapa yang memantau daerah ini. Fakta bahwa tidak ada yang menempati menara ini menunjukkan bahwa mengklaimnya akan berisiko diketahui oleh musuh.
Katsuragi adalah orang yang berhati-hati, bergantung pada strategi yang solid dan aman. Dia tidak akan sembarangan mengambil umpan, bahkan umpan yang manis dan sedekat ini. Semak-semak di sekitar berdesir meskipun tidak ada angin.
“Jadi, kalian tidak terburu-buru menempati titik ini karena harus hati-hati, ya?”
“Apa yang kau lakukan di sini? Tempat ini sedang digunakan oleh Kelas A.”
Dua orang melompat keluar dari semak-semak seolah-olah mereka telah menunggu seseorang untuk jatuh ke dalam perangkap mereka. Aku dikepung. Salah satu dari mereka segera pergi ke terminal untuk memeriksa statusnya. Dia mungkin memeriksa untuk melihat apakah aku telah mengklaim titik itu atau tidak.
“Siapa kau? Aku belum pernah melihat wajahmu sebelumnya.”
Dia mungkin tidak akan tahu orang buangan Kelas D, yang memproklamirkan diri sebagai kutu yang bersembunyi di bawah batu. Laki-laki di depanku mengacungkan cabang pohon seperti senjata, menusukkannya ke tenggorokanku. Dia mencoba mengancamku.
“Aku Ayanokouji, dari Kelas D.”
Tentu saja, aku langsung membungkuk dan memperkenalkan namaku.
“Geledah dia. Periksa apakah dia membawa sesuatu yang mencurigakan.”
Mereka memasukkan tangan mereka ke dalam sakuku, dan bahkan memeriksa pergelangan kakiku untuk mencari apapun yang disembunyikan, seolah aku adalah seorang tersangka yang sedang diinterogasi oleh polisi.
“Ini bukan tindakan kekerasan. Paham?”
Mungkin hanya ada satu jawaban untuk pertanyaan seperti itu: cuma mengangguk. Mereka menggeledah tubuhku, dan mengambil pulpen dan peta yang terlipat.
“Untuk apa pena ini? Dan peta yang digambar tangan?”
Peta itu adalah sketsa kasar pulau ini, serta catatanku tentang poin dari titik-titik yang telah diklaim.
“Kembalikan.”
Aku mengulurkan tangan, tetapi mereka tidak mengembalikannya. Aku akhirnya hanya meraih udara.
“Apa tujuanmu? Apa kau bertindak sendirian?”
Saat mereka menyerangku dengan pertanyaan, aku terdiam. 3 detik, 4 detik. Aku pun angkat bicara.
“Aku tidak bisa mengatakannya.”
“Begitu, ya. Jadi kau tidak bisa memberitahu tentang seseorang di Kelas D yang menarik benang? Apa semua siswa Kelas D sedang merencanakan sesuatu? Atau hanya sebagian dari kalian saja yang merencanakannya?”
Mereka mengajukan serangkaian pertanyaan cepat, seperti interogasi.
“Aku tidak bisa mengatakannya. Kalau aku melakukannya... aku mungkin tidak akan dapat kembali ke kelasku.”
“Menjadi bawahan kedengarannya sulit, Ayanokouji. Yah, terserah. Aku tidak tahu apa yang diperintahkan kepadamu, tapi jangan membuat masalah yang tidak perlu. Lebih baik kau duduk dengan tenang di base campmu sana.”
Mereka melemparkan pena ke kakiku, tetapi kertasnya tetap disimpan. Orang-orang ini tidak punya hak untuk mengeluarkan perintah, tetapi mereka memaksa.
“Ada satu hal lagi yang ingin kubicarakan denganmu. Kalau kau memberi tahu kami identitas pemimpin kalian, kami dengan senang hati siap menawarkanmu hadiah yang besar. 100.000 atau 200.000 poin.”
“Kau memintaku untuk menjual kelasku demi uang?”
“Kau bebas menafsirkan pernyataanku sesukamu, tapi aku sudah membuat penawaran yang sama kepada orang lain. Penawaran ini sifatnya adalah yang pertama datang, yang pertama dilayani. Lebih baik kau cepat beri tahu aku.”
Strategi Kelas A pada dasarnya tidak memiliki risiko. Itu adalah metode yang sederhana, yang dapat diterapkan selama kau memiliki dana yang berlimpah. Meskipun kemungkinan keberhasilannya rendah, kau tidak dapat mengabaikan kemungkinan bahwa beberapa siswa mungkin terpesona oleh uang dan menjual teman mereka sendiri.
“Maaf, tapi aku tidak percaya. Bagaimana kau akan membayar seseorang? Kita dilarang membawa ponsel di sini, 'kan?”
“Memang benar kita tidak bisa melakukannya sekarang. Kalau perlu, kami tidak keberatan menulis memorandum.”
Dengan kata lain, mereka bermaksud untuk menandatangani kontrak sekarang, dan mentransfer poin pribadi setelah ujian berakhir.
“Memorandum, ya? Ijinkan aku bertanya sesuatu padamu sebagai bahan pertimbanganku... Bisakah kau memberi tahuku berapa banyak poin yang kudapatkan jika aku setuju memberi tahumu sesuatu?”
“Itu tergantung sikapmu.”
“Bisakah aku meminta seseorang yang dapat dipercaya untuk menyelesaikan masalah? Misalnya, seseorang seperti Katsuragi. Atau mungkin Sa—”
Saat aku mengatakan nama itu, salah satu ekspresi anak laki-laki berubah.
“Kenapa kau menyebut Katsuragi?”
“Aku pernah dengar desas-desus kalau Katsuragi adalah pemimpin Kelas A.”
“Jangan membuatku tertawa. Sakayanagi lah pemimpin Kelas A. Bukan Katsuragi. Kau boleh pergi sekarang.”
Dari apa yang baru saja mereka katakan, sepertinya mereka tidak berguna lagi buatku. Mereka memberiku jalan untuk lewat. Sepertinya kedua orang itu adalah musuh Katsuragi. Jika itu benar, apakah mereka bekerja di bawah perintah Sakayanagi? Apakah Sakayanagi yang sebenarnya memimpin, bukan Katsuragi? Aku perlu mengklarifikasi itu.
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar