-->
Loading...

iklan adsense

Volume 3 Chapter 2 Intro “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia

Released on Agustus 27, 2021 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Volume 3 Chapter 2 Intro “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, Streaming Volume 3 Chapter 2 Intro “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 3 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!

CHAPTER 2
Pergerakan Musuh

INTRO

Aku bangun lebih awal pagi itu dari yang kuperkirakan. Panas dan kelembabannya telah membuatku berguling-guling dalam tidurku. Akhirnya menyadarkanku, dan aku kurang istirahat. Tempat tidurku terasa hangat, dan aku ingat kami membiarkan lampunya menyala sepanjang malam. Tenda kami berbau seperti keringat. Untungnya, kami mendirikan tenda dengan bahan mesh yang memungkinkan masuknya semilir angin malam. Tapi begitu malam telah berakhir, suhu naik secara signifikan. Aku dengan hati-hati menyelinap keluar dari tenda agar tidak membangunkan orang lain, dan mendekati tumpukan barang bawaan kami. 

Kami menyimpan barang bawaan di luar supaya ruang di dalam tenda menjadi luas. Setelah melihat sekeliling untuk memastikan aku sendirian, aku menemukan satu-satunya bagasi berwarna. Itu adalah tas Ibuki. Karena tasnya berbeda, itu mudah dikenali. Aku meraihnya tanpa ragu-ragu dan memeriksa isinya. Jika seseorang melihatku melakukan ini, aku akan langsung dicap sebagai orang bejat. Di dalamnya, aku menemukan hal-hal yang sama seperti yang dimiliki orang lain, seperti handuk, pakaian ganti, pakaian dalam, dll. Namun...

“Kamera digital, ya?”

Itu menjelaskan suara aneh yang kudengar kemarin ketika dia menjatuhkan tasnya dan menghantam pohon. Benda ini tidak cocok digunakan di pulau terpencil. Pada bagian bawah kamera, aku menemukan stiker sewaan. Mengapa Ibuki memiliki ini? Aku mempertimbangkan berbagai kemungkinan, mencoba berpikir dari sudut pandangnya. Setelah membayangkan simulasinya di kepalaku, beberapa kemungkinan terlintas di pikiranku. 

Aku memeriksa sumber daya kamera. Itu tidak memiliki data, dan tidak ada tanda-tanda bahwa itu telah digunakan. Setelah menyelesaikan pemeriksaanku, aku mengembalikan benda itu ke tas, dan kembali ke tenda. 

“Selamat pagi, Ayanokouji-kun. Mau ke kamar mandi?” 

Hirata sudah bangun. Dia berbalik saat dia menyapaku. Mungkin dia menyadari bahwa aku lebih berkeringat dari biasanya. 

“Ah. Apa aku membangunkanmu?”

“Oh tidak. Aku tidak bisa tidur nyenyak di lingkungan ini. Aduh, aduh... Ah, punggungku sakit. Yah, kurasa itu wajar saja karena matrasnya kurang nyaman.”

Tentu tidak mudah untuk tidur berdesak-desakan, dan tanpa tempat tidur yang nyaman untuk istirahat. Tapi entah kenapa, semua orang masih tertidur. Mereka mungkin lelah karena aktivitas kemarin. 

“Kalau memasukkan penalti Kouenji-kun, kita menghabiskan hampir 100 poin kemarin. Aku memberi tahu semua orang bahwa dalam kemungkinan terburuknya kita akan berakhir dengan 120 poin, tapi sekarang aku bahkan tidak yakin tentang itu. Kukira kecemasan inilah yang membangunkanku.” 

Hirata mengeluarkan manual untuk mengkonfirmasi ketakutannya. Mundurnya Kouenji merupakan pukulan yang cukup serius. 

“Ini sulit, bahkan untuk seorang pembawa kedamaian kelas.” aku tidak mungkin paham tentang memikul tanggung jawab semacam ini. Aku mengintip manualnya, dan Hirata menyesuaikan posisinya sehingga aku bisa melihatnya dengan nyaman. Aku berterima kasih untuk tindakan kecil seperti itu. 

“Aku hanya melakukan ini karena aku menyukainya. Kalau kerja kerasku membuat semua orang di kelas senang, maka aku puas. Tapi itu sangat sulit. Berapa banyak poin yang kita punya setelah ujian khusus ini akan berdampak besar pada kehidupan kita. Kupikir menakuti semua orang itu adalah tindakan yang salah.” 

Membuat semua orang di kelas senang, ya? Jika hal seperti itu memang bisa dilakukan, itu akan luar biasa. Tapi itu mungkin hampir mustahil. Karena sistem di sekolah ini mutlak. 

“Jadi, seandainya ada siswa yang ingin membidik Kelas A, dan siswa yang ingin tetap tinggal di Kelas D, apa yang akan kau lakukan?” 

Sementara aku tahu itu adalah pertanyaan yang tidak berarti, itu secara tidak sengaja keluar dari mulutku dan terdengar agak tidak ramah. Kurasa aku menginginkan pendapat Hirata, karena dia pada dasarnya hanyalah laki-laki yang dipenuhi niat baik. 

“Itu sulit untuk dijawab. Bertujuan untuk kelas atas berarti memaksa semuanya... Maaf, aku harus memikirkannya.” 

Aku bertanya-tanya seberapa sering dia memikirkannya. Hirata tersenyum tipis. 

“Jadi Ayanokouji-kun, apa kamu ingin naik ke Kelas A? Atau apa kamu baik-baik saja selama kehidupan di sekolah menyenangkan?”

“Kurasa jika aku harus memilih, kehidupan sekolah adalah prioritasku. Selain itu, kupikir mencapai Kelas A itu mustahil.” 

“Begitu, ya. Aku juga tidak berpikir akan semudah itu. Bahkan jika kelas kita bersatu dan bertujuan untuk membidik Kelas A ... kupikir kerugian di bulan pertama kita juga akan banyak.” 

Hirata mungkin sedang memikirkan batasan semua siswa lainnya. Jika Kelas A tetap kokoh di peringkat atas, kami akan kesulitan untuk melampaui mereka. Bahkan jika Kelas D berhasil hidup hemat selama ujian ini, kami hanya bisa mendapatkan 100 hingga 150 poin. Saat ini, bahkan menyalip Kelas C tampak seperti mimpi di siang bolong. 

“Jangan terburu-buru. Pertama-tama, Kelas D harus bersatu dan melewati ujian ini. Setelah itu, kita bisa fokus pada tujuan berikutnya.” 

Sebagian besar dari kami telah memutuskan untuk membiarkan Hirata memimpin. Jika kami bekerja keras dengan sungguh-sungguh, kami akan mendapatkan poin kelas. Saat ini, mengabaikan jurang pemisah antara kami dan kelas lain bukanlah ide yang buruk. Hirata dengan sopan permisi dan diam-diam menuju ke toilet. Aku berbaring di ruang yang tersisa yang ditinggalkannya. 

Paling tidak, Kelas A memiliki gua. Sepertinya Kelas B dan C juga memiliki titik-titik di suatu tempat. Meskipun kami menguasai sungai, itu saja mungkin tidak cukup. Setelah semua orang tertidur, aku dengan rapi merobek salah satu dari lima halaman kosong yang ada di manual. Lalu aku mengambil pulpen. 

Setelah aku mereplikasi peta pulau yang sederhana, aku melipatnya menjadi persegi kecil dan memasukkannya ke dalam saku. Segera setelah itu, Hirata mengintip ke dalam tenda. 

“Mau ikut cuci muka bareng aku?” 

Aku menerima tawarannya. Suhu di dalam tenda meningkat seiring naiknya matahari di langit. Kami mengambil handuk dari koper kami yang terbungkus vinil dan menuju ke sungai. Hirata memasukkan manual ke dalam ranselnya. Gemerincing dari aksesoris plastik yang berbenturan terdengar dari tas Hirata. 

“Hadiah dari Karuizawa?” 

“Ya, begitulah. Bagaimana kamu tahu?” 

Siapa lagi yang akan memberinya hadiah kecil yang menggemaskan seperti itu? Selagi kami berjalan menuju ke sungai, kami menemukan orang yang tidak terduga.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Seorang siswa dari Kelas B, Kanzaki, melihat ke arah kami. Beberapa anak laki-laki lain yang tidak aku kenal ada bersamanya, mereka mungkin juga siswa Kelas B. Mereka tampak terkejut, seolah-olah mereka tidak mengharapkan kemunculan kami di waktu yang sepagi ini, tetapi dengan cepat mendapatkan kembali ketenangan mereka. 

“Hari pertama sudah berakhir, jadi aku ingin tahu bagaimana kabar kalian. Aku hanya ingin memeriksa kalian. Lokasi kalian bagus.” 

Dia tampak sangat terkesan dengan base camp kami. Dia sepertinya tidak punya rencana tersembunyi. 

“Kamu Kanzaki-kun, dari Kelas B, 'kan?” 

Hirata sepertinya mengingatnya. 

“Apa aku mengejutkanmu? Maaf, aku di sini bukan untuk membuat masalah.” 

Dengan permintaan maaf itu, Kanzaki berjalan pergi. 

“Kanzaki. Di mana perkemahan Kelas B?” 

Mungkin dia tidak akan memberi tahu kami, tetapi kupikir aku harus mencoba bertanya. Kanzaki menjawab tanpa ragu-ragu. 

“Ada pohon-pohon besar yang patah di sepanjang jalan dari sini ke pantai. Kalau kau memasuki hutan di arah barat daya dan berjalan terus sedikit, kau dapat menemukan tempat perkemahan kami. Kau seharusnya tidak akan tersesat kalau kau berjalan mengikuti pohon-pohon besar itu. Kalau kau butuh sesuatu, silakan dan katakan padanya (Ichinose), kau bisa datang kapan saja.” 

Dengan itu, Kanzaki pergi. Hirata menatapku dengan aneh. 

“Dia temanmu, ya? Apa maksudnya 'silakan dan katakan padanya'?” 

“Hmm, entahlah.” 

Kanzaki, Ichinose, dan Horikita baru-baru ini bekerja sama dalam membongkar kasus kebohongan. Dia mungkin berpikir mereka masih berhubungan baik. 

“Aku ingin tahu apa mereka datang ke sini untuk melakukan pengintaian, dan melihat bagaimana kita menghabiskan poin kita.” 

Tidak diragukan lagi itu adalah salah satu alasannya, setelah melihat sedikit ekspresi penyesalan Kanzaki. Kau bisa memperkirakan jumlah poin yang dihabiskan hanya dengan melihat jumlah toilet, kamar mandi, dan tenda yang terpasang. Namun, itu mungkin bukan satu-satunya hal yang ingin diketahui Kanzaki dan yang lainnya. Mereka pasti ingin menemukan pemimpin kelas kami. Lagi pula, hak milik eksklusif untuk setiap titik akan kadaluarsa setiap 8 jam.

Mungkin mereka telah menghitung waktu perpanjangan dan berharap untuk melihat titiknya diperbarui. Namun, kami telah mengantisipasi hal itu. Itu sebabnya kami menunda pembaruan kedua kemarin, jadi hak milik disesuaikan untuk kedaluwarsa tepat setelah pukul 8. Dengan begitu, menggunakan kerumunan besar dari sesi absensi sebagai semacam kamuflase. 

Hirata tampak semakin cemas. Dia bergumam sambil mengeringkan rambutnya. 

“Aku ingin tahu apa strategi kita salah. Bahkan kalau kita tidak bisa mengalahkan kelas lain, kupikir akan baik bagi kita untuk bersatu dalam ujian ini. Itulah alasan sebenarnya aku tidak ingin mereka menemukan pemimpin kita.” 

Rambutnya berkilau karena air. Seorang laki-laki yang sangat tampan menghadapi masalah yang bertubi-tubi. 

“Jangan terlalu khawatir. Kau harus sedikit rileks.” 

“Terima kasih. Mendengar kata-kata itu, benar-benar membuatku sangat lega.” 

Setelah mencuci muka, aku mengambil air untuk diminum. Bahkan meskipun hutannya sangat panas, air sungainya segar dan enak. Air disini adalah air tanah yang dialirkan ke sungai sebagai mata air, membuatnya secara alami tahan terhadap cuaca panas maupun cuaca dingin. Karena itu berasal dari hulu, suhu airnya tahan terhadap panas. Kami beruntung bisa mengamankan tempat ini sebagai basis kami. 

“Pertama-tama, kupikir kita perlu menyesuaikan pengaturan tidur kita. Karena tanah di sini sangat keras, melewati minggu ini akan sulit tanpa kondisi punggung yang baik. Ketika semua orang bangun, aku akan meminta pendapat mereka. Kita harus bekerja sama dan melakukan yang terbaik.”

~ Bersambung ~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢