-->
Loading...

iklan adsense

Volume 3 Chapter 1 Part 2 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia

Released on Agustus 17, 2021 · 0 Views · Posted by firsyardha · Series

Download Volume 3 Chapter 1 Part 2 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, Streaming Volume 3 Chapter 1 Part 2 “Classroom of the Elite” Light Novel Bahasa Indonesia, jangan lupa untuk klik like dan bagikan. Series First Year Volume 3 selalu update di MarinSubs. Jangan lupa menonton Series terbaru lainnya.

Refresh Jika Loading Video Lebih Dari 1 Menit. Jika Video Error Hubungi Saya Atau Tuliskan di Komentar ...!!

CHAPTER 1
Batas Antara Surga dan Neraka

PART 2

Kami berjalan dari pantai menuju hutan raksasa. Salah satu anak laki-laki tampak terguncang. 

“Apa kita benar-benar akan masuk ke sana? Kita mungkin saja bisa tersesat tahu. Aku tidak bisa melihat ke dalamnya sama sekali.” 

Itulah tepatnya mengapa kami memiliki aturan absensi dan tombol darurat yang dipasang di jam tangan kami. Kami harus bekerja sama. Jika kami tidak bekerja bersama, maka kami mungkin akan panik dan menghabiskan poin kami secara semena-mena. 

“Wah, Karuizawa-san. Hirata-kun benar-benar luar biasa, bukan? Dia bisa menghadapi segala sesuatu yang datang kepadanya, bahkan sekalipun dia tidak menyukainya.” 

“Oh ya. Cowok-cowok lain menyedihkan, jadi ada baiknya menyerahkan segalanya pada Hirata-kun, 'kan?” 

Hirata, masih membawa tenda, berjalan di depan kelompok Karuizawa, yang menatapnya dengan kagum. Kebetulan, aku sedang membantu membawa barang bawaan, juga. Aku juga membawa toilet sederhana yang terbuat dari kardus lipat. Aku memutuskan bahwa jika aku tidak membantu sekarang, kedepannya mungkin akan semakin merepotkan. Untuk saat ini, aku ingin memberi kesan bahwa aku sudah membantu. 

Horikita, yang terisolasi dari gadis-gadis lain, dengan tenang mengikuti kelompok dari belakang. Dia kadang-kadang bertindak seolah-olah dia akan berhenti, tetapi kemudian segera mulai berjalan lagi. Aku melambat sedikit sampai aku berjalan berdampingan dengannya. 

“Lagi nggak mood?” aku bertanya. 

“Sejujurnya, aku depresi. Hal-hal seperti ini tidak cocok untukku. Kehidupan di sebuah pulau yang terlihat primitif, lebih parahnya lagi, aku tidak bisa menyendiri.” 

Antusiasme bergabung dalam upaya kelompok bukanlah kemampuan Horikita. Kupikir akan lebih baik untuk berusaha menyesuaikan diri, tetapi tidak ada gunanya mengatakan itu padanya. Aku pun diam. 

“Kamu tahu, apa yang kamu katakan padaku sebelumnya mungkin akan menjadi kenyataan.”

Horikita terlihat sedikit tertarik. 

“Ujian ini kemungkinan akan berada di luar kemampuan akademikku. Kukira Ike-kun dan Sudou-kun hanya akan menjadi penghalang, tapi nyatanya mereka sudah mengambil inisiatif untuk pergi mencari titik. Aku tidak bisa melakukan apa-apa, karena aku terus memperdebatkan tindakan apa yang harus diambil. Kalau mereka bergerak lebih cepat, mereka mungkin bisa menemukan sesuatu yang berguna.” 

“Mungkin saja. Yang lebih penting, apa kau baik-baik saja?” 

“Apa maksudmu?”

Dia melotot. Aku segera menjawab “Bukan apa-apa,” dan mengalihkan pandanganku. Ketika berbicara dengan Horikita, aku merasa kalau seseorang sedang mengawasiku. Saat memeriksanya, aku melihat Sakura, yang berjalan di belakang. Ketika dia menyadari bahwa aku berbalik menatapnya, dia menjadi bingung dan membuang muka. 

“Ada apa?” tanya Horikita. 

“Ah, bukan apa-apa.” Mungkin aku terlalu berlebihan. Aku pun menoleh kembali ke depan. 

“Aku ingin tahu apa yang akan dilakukan kelas lain. Aku penasaran dengan gerakan mereka. Kalau Kelas A dan B berniat untuk mendapatkan poin sebanyak-banyaknya, maka kita harus bersiap juga. Kita tidak bisa membiarkan selisih poin di antara kita semakin melebar.” Horikita memasang ekspresi serius di wajahnya. Dalam hal itu, dia memiliki tekad yang luar biasa. Saat ini, kami tertinggal jauh dari kelas lain kalau dinilai berdasarkan kemampuan akademik. Bagi Horikita, yang bertujuan untuk mencapai Kelas A, ini adalah pertarungan di mana ia sama sekali tidak boleh kalah. 

“Bertujuan untuk menjadi yang teratas itu sulit,” kataku. 

“Kupikir apa yang dikatakan Chabashira-sensei saat itu adalah lelucon, tapi apa kamu benar-benar tidak tertarik untuk naik ke kelas atas?” tanya Horikita. 

Chabashira-sensei mungkin mengatakan sesuatu tentang itu saat dia memanggil Horikita dan aku ke ruang bimbingan. 

“Ini tidak terlalu aneh atau apa, 'kan? Ini tidak seperti Ike dan yang lain mengincar Kelas A atau semacamnya. Kalau kita mendapat peningkatan tunjangan setiap bulan, itu akan membuatku senang. Kalau aku beruntung, mungkin kita bahkan bisa mencapai Kelas A.” 

Aku tidak bisa berbicara tentang niat sebenarnya siswa lain, seperti Hirata dan Karuizawa.

“Orang-orang yang datang ke sekolah ini bertujuan untuk memanfaatkan hak istimewanya.” alih-alih tidak puas, Horikita tampak bingung. Pada saat pendaftaran kami, akses ke universitas elit, dan peluang kerja seharusnya sudah dijamin. Banyak siswa yang mengharapkannya. 

“Kenapa kamu memilih sekolah ini?” dia bertanya kepadaku. 

“Yah, tidak bisakah aku mengatakan hal yang sama? Tanpa ragu-ragu memanfaatkan hak istimewa yang ditawarkan sekolah kepadaku.” 

“Begitu, ya.” kali ini dia terdengar sangat tidak puas, dan menatapku dengan pandangan mata yang tajam. Kupikir Horikita mendaftar di sini agar berada di sekolah yang sama dengan kakaknya. Dia tidak mengincar Kelas A demi dirinya sendiri, melainkan, meminta persetujuan kakaknya. Ambisinya berbeda dari kebanyakan orang lain. 

“Rasanya tidak enak kalau seseorang mengorek masa lalumu,” katanya, mencegahku. Aku bermaksud untuk menggali lebih dalam, tetapi sepertinya dia segera mengerti niatku yang sebenarnya. Aku mencoba memahami masa laluku, atau lebih tepatnya masa lalu orang ini, dengan menganalisis dan menghancurkan orang lain. 

“Aku akan memberitahumu ini: Chabashira-sensei membocorkan informasinya. Jangan salah paham denganku. Ngerti? Selain itu, kita bukanlah teman. Jangan lupakan itu.”

“Jangan khawatir. Lagipula, aku tidak terlalu memikirkan tentang pertemanan.” 

Tak lama kemudian, Hirata dan yang lainnya berhenti. 

“Kalau kita berhenti di sini, ada dedaunan yang menghalangi sinar matahari, dan sepertinya kita tidak perlu khawatir kalau seseorang akan mendengar kita.” 

Beberapa anak laki-laki mulai bekerja sama, namun tak lama kemudian pendapat mereka bertentangan dengan pendapat Hirata. 

“Kita juga harus bergerak, kita tidak boleh menyerahkan semuanya pada Ike dan yang lain. Benar 'kan? Kalau kelas lain mengklaim salah satu titik utama, selisih poin akan melebar.” 

“Ya, kamu benar. Kita memang harus segera bergerak, tapi mengabaikan masalah kita dan berpencar begitu saja bukanlah ide yang bagus. Pertama-tama, kita perlu menyelesaikan masalah toilet.” 

“Itu sebabnya aku bilang kita harus menggunakan toilet yang mereka berikan kepada kita.” Yukimura memelototi kelompok gadis-gadis itu.

“Aku sudah memikirkannya, dan aku yakin kita memang harus memasang satu toilet dulu,” kata Hirata dengan tegas. Rupanya, dia sudah yakin dengan keputusannya. 

“Kau tidak bisa memutuskannya begitu saja. Ike juga punya pendapat.” 

“Memasang toilet memang perlu biaya. Sejak awal, sekolah memberi satu toilet sederhana untuk kelas kita, yang berjumlah lebih dari 30 siswa, dan tidak terbiasa memakainya. Aku ingin tahu apa kita benar-benar bisa memakainya bergiliran secara efektif tanpa masalah?”

“Itu... kalau kita menggunakannya dengan baik...” 

“Ini tidak realistis. Kita harus mempertimbangkan skenario terburuk. Kalau setiap orang membutuhkan waktu 3 menit untuk menggunakan toilet, maka itu akan memakan waktu 1 jam setengah atau lebih kalau semua orang memakainya. Apa itu masuk akal?” 

“Itu tidak benar. Tidak semua orang perlu menggunakan toilet di waktu yang sama. Sekolah hanya memberi kita satu toilet karena itu realistis. Kita seharusnya bisa bergantian secara efektif, 'kan?” 

“Kurasa tidak. Dari awal, kupikir hanya menggunakan satu toilet itu tidak mungkin. Terlebih lagi, kupikir ini bukan tentang menahan diri agar tidak menggunakan poin sama sekali, tapi kita harus menggunakan poin kita secara efektif. Kamu harus tahu itu, Yukimura-kun. Kelas lain kemungkinan besar juga memikirkan hal yang sama.” 

Tidak peduli bagaimana kami menggunakan poin kami, ini adalah keputusan penting untuk menentukan apakah kami akan menang atau kalah. Semua persediaan yang diberikan pada kami tampak tidak mencukupi. Dengan memberi kami tenda yang hanya bisa digunakan oleh beberapa orang dan senter kecil, para guru sepertinya menyarankan agar kami menggunakan poin seperlunya. 

“Itu semua hanya spekulasimu saja. Selain itu, kalau kelas lain memang membeli toilet, kita akan unggul 20 poin dari mereka. Jadi itulah sebabnya kenapa kita tidak harus membelinya.” 

“Kamu benar tentang itu, tapi sepertinya menahan diri dengan memakai toilet sederhana itu bukanlah langkah yang tepat. Ini hanya akan menambah stres dan kecemasan yang tidak perlu. Aku juga khawatir tentang sanitasi. Secara objektif, setidaknya kita harus membeli satu toilet.”

Sepertinya setelah meluangkan waktu untuk menenangkan diri, Hirata sampai pada kesimpulan yang solid. Bukan hanya untuk memprovokasi argumen; dia yakin bahwa dia akan mendapatkan persetujuan mereka pada akhirnya.

“Kupikir langkah ini akan menenangkan gadis-gadis itu.”

Bahkan Yukimura tidak dapat menyangkal argumen Hirata yang sempurna. Hirata juga ingin mempertahankan poin kami, tetapi dia juga menyadari kelemahan dari hanya memiliki satu toilet. Sejujurnya, teman sekelas kami telah diberikan begitu banyak informasi sekaligus sehingga mereka mengabaikan hal-hal yang jelas. Yukimura, yang tidak tahan menatap dalam diam, akhirnya memutuskannya.

“Baiklah. Kalau begitu, kita akan memasang satu toilet.”

Pada akhirnya, Yukimura setuju. Shinohara, kelompok Karuizawa, dan bahkan Horikita, semua tampak lega.

“Sensei. Kalau kami ingin memasang toilet sementara, apa kami bisa memutuskan tempat pemasangannya?”

“Asalkan bukan di medan yang sulit, bisa ditaruh di mana saja. Toiletnya juga bisa dipindahkan setelah dipasang, tapi itu akan memakan waktu. Beratnya sekitar 100 kilogram atau lebih, sehingga membutuhkan sedikit usaha.”

Dengan satu masalah terselesaikan, Hirata menghela nafas lega.

“Selanjutnya. Kita sudah mendengar beberapa pendapat, tapi kupikir kita perlu mencari di sekitar dan memutuskan tempat untuk mendirikan base camp kita. Lokasi kemah kita akan mempengaruhi bagaimana kita mengkonsumsi poin kita,” kata Hirata, mencoba untuk menyelesaikan argumen lain.

Kami merekrut sukarelawan, tetapi hampir tidak ada yang bisa membantu. Hanya dua orang yang mengajukan diri. Kebanyakan dari mereka tidak mau memasuki wilayah hutan yang begitu luas. Itu wajar saja.

“Aku ingin tahu apa ada di antara kita yang punya keterampilan bertahan hidup di alam liar?” kata Hirata, mengharapkan secercah harapan. Dalam dunia manga, selalu ada satu orang yang bisa diandalkan di saat-saat seperti ini. Hirata memeriksa teman sekelas kami, tetapi semua orang tampak enggan untuk melangkah maju. Saat itu, Profesor, yang sejauh ini diam-diam memperhatikan, mengangkat tangannya.

“Sejak kecil, ayahku melatihku dalam serangkaian keterampilan tertentu. Dia mengajariku untuk bertahan hidup, seperti tinggal sendirian di hutan ... jadi aku ini persis seperti tipe karakter yang dibutuhkan untuk situasi ini.”

Semua orang mencemooh. Profesor menjadi bingung dan meminta maaf, tetapi sudah terlambat. Kami semua membencinya.

“Anu, kalau kalian tidak keberatan, aku juga akan ikut.”

Kushida mengajukan diri. Tiba-tiba mata para anak laki-laki itu menyala, bahkan meskipun sebelumnya mereka menolak untuk pergi. Mereka yang sebelumnya enggan melangkah maju dan menawarkan diri, berkata, “Aku juga, aku juga!” Beberapa dari mereka mungkin termotivasi oleh niat baik Kushida, sementara yang lain mungkin merasa malu karena seorang gadis sudah lebih dulu mengambil inisiatif sebelum mereka.

Aku mengangkat tanganku saat Hirata mulai menghitung.

“Oke, jadi 11 orang, ya? Kalau kita punya satu orang lagi, kita bisa membuat empat tim,” kata Horikita.

“Kau tidak ikut?” aku bertanya.

“Aku tidak mau. Tapi, kamu sampai mengajukan diri? Yang seperti ini bisa terjadi juga, ya?”

“Saat berkelompok, tidak berperan apa-apa malah akan membuatmu mencolok.”

Saat itu, seseorang mengangkat tangan dengan agak malu-malu. Ketika Hirata melihatnya, Hirata tersenyum lega.

“Terima kasih, Sakura-san. Berarti ada 12 orang. Kita bagi jadi 4 tim 3 orang, ya. Sekarang jam 13:30. Terlepas dari hasilnya, aku ingin semua orang bertemu kembali di sini jam 15:00.”

Dengan itu, 12 sukarelawan mulai membentuk tim sesuai preferensi mereka. Dalam sekejap mata, aku menjadi salah satu yang tersisa.

“Se-Senang bertemu lagi denganmu, Ayanokouji-kun,” kata Sakura, yang juga telah diabaikan. Lalu...

“Matahari memang menyegarkan. Tubuhku membutuhkan energi.”

Kouenji Rokusuke. Orang itu juga ikut bergabung dalam pencarian kami. Untungnya, aku dipasangkan dengan pria yang penuh semangat dan gadis pendiam. Dengan keduanya, aku bisa bergerak tanpa kesulitan.

~ Bersambung ~

Episode Lainnya

Other Series

Komentar

A-Z List cari anime berdasarkan abjad A-Z
Copyright © MarinSubs. All Rights Reserved

MarinSubs adalah tempat streaming/nonton Anime Subtitle Indonesia

Redesign by Kitagawa Marin 喜多川 海夢