EPILOG
Aku menunggu di luar ruang OSIS sampai rapat selesai. Para siswa dari Kelas C dan Sakagami-sensei pergi lebih dulu, dengan Sudou menyusul beberapa saat kemudian. Dia memasang ekspresi cerah dan ceria.
“Sepertinya itu berjalan dengan baik,” kataku.
“Ya ampun, aku tidak mengerti apa yang terjadi, tapi Horikita melakukan sesuatu untukku. Benar 'kan?”
Aku mengangguk.
“Sudah kuduga. Aku tahu dia akan menyelamatkanku. He he he.” Dia tampak luar biasa bahagia. “Yah, aku harus pergi ke klubku. Kita harus mengadakan pesta malam ini.”
“Ya.”
Orang berikutnya yang keluar adalah ketua OSIS dan Sekretaris Tachibana.
“Kerja bagus.” kupikir kami hanya akan bertukar salam ringan, tapi ketua OSIS berhenti berjalan dan berbicara kepadaku. “Aku telah menyetujui permintaan Kelas C untuk mencabut keluhan mereka.”
“Begitu, ya?” kataku. “Yah, kurasa keajaiban memang bisa terjadi.”
Kakak Horikita tetap diam dan menatap mataku. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan.
“Jadi ini semua untuk membuktikan bahwa Sakura bukan pembohong, seperti yang kau katakan? Kupikir jika Kelas C menarik keluhan mereka, maka tentu saja semuanya akan menjadi jelas. Jika Sudou ataupun Sakura bukanlah pembohong, maka Kelas C lah pembohongnya.”
“Adikmu lah yang menangani semuanya dengan baik. Aku tidak melakukan apa-apa.”
“Jika itu jawabanmu, maka aku terkesan. Meskipun itu rencana yang sederhana.” Sekretaris Tachibana yang tak tergoyahkan bertepuk tangan.
“Tachibana. Apa kau masih punya satu kursi kosong untuk posisi sekretaris?”
“Ya. Seorang siswa Kelas A tahun pertama melamar tempo hari, tapi ditolak setelah wawancara pertama.”
“Ayanokouji. Jika kau menginginkannya, aku akan memberikanmu posisi itu.”
Aku terkejut, tetapi Sekretaris Tachibana tampak lebih terkejut daripada aku. “K-Ketua... apa anda yakin?”
“Apa kau keberatan?”
“T-Tidak. Jika itu yang ketua inginkan, saya tidak keberatan. Tapi...”
“Aku menolak, aku benci hal-hal yang merepotkan. Apalagi bergabung dengan OSIS. Aku hanya ingin menjalani kehidupan yang tenang sebagai siswa biasa di sekolah ini,” jawabku.
Sekretaris Tachibana bahkan lebih terkejut dengan tanggapanku.
“Hah? Apa kamu baru saja menolak tawaran dari ketua OSIS?!”
“Yah, aku tidak akan pernah mau melakukan apa pun kalau aku tidak tertarik ...”
Aku tidak melakukan apa yang tidak ingin kulakukan. Selain itu, sejak awal tidak ada alasan untuk mengundangku bergabung dengan OSIS.
“Ayo pergi, Tachibana.”
“Y-Ya.”
Ketertarikan mereka padaku tampaknya telah sirna karena penolakanku, jadi mereka pergi. Beberapa saat kemudian, Horikita dan Chabashira-sensei muncul. Chabashira-sensei hanya memberiku tatapan sekilas, pergi tanpa mengatakan apapun.
“Yo.” aku mengangkat tanganku saat aku menyapa Horikita, tetapi bertemu dengan tatapan tajam yang belum pernah kulihat darinya sebelumnya. Dia dengan cepat kembali ke ekspresi netralnya.
“Bagaimana hasilnya?” aku bertanya.
“Kamu pasti sudah tahu, 'kan?” dia menjawab.
“Aku senang mendengarnya. Sepertinya strategimu bekerja dengan baik.”
“Hei, Ayanokouji-kun. Apa aku hanya bonekamu?”
“Bonekaku? Apa yang sedang kau bicarakan?”
“Ayanokouji-kun, kamu mengemukakan ide tentang kamera pengintai di ruang kelas. Selanjutnya, kamu membawaku ke gedung khusus dan membuatku menyadari kalau tidak ada kamera. Kemudian, kamu memancingku pada gagasan untuk menciptakan bukti palsu, sehingga kita bisa mengurai kebenaran dari kebohongan ... saat kutelaah dengan seksama, hanya itu yang bisa kupikirkan.”
“Kau terlalu memikirkannya. Itu hanya kebetulan.”
“Sebenarnya siapa kamu?”
“Apa maksudmu, siapa aku? Aku hanya seorang pria yang tidak menyukai masalah, bukan?”
Aku menyadari bahwa aku telah terlibat terlalu jauh kali ini. Aku perlu merenungkan itu. Horikita yang selalu tajam mungkin menebak pikiranku, sampai batas tertentu.
Aku harus sedikit memutarnya kembali. Aku hanya ingin kehidupan yang damai.
“Seseorang yang tidak menyukai masalah. Jika itu—”
Saat Horikita mulai berbicara, seorang siswa laki-laki berjalan ke arah kami. Ini bukan percakapan yang ingin kami perdengarkan, jadi Horikita dan aku terdiam. Kami menunggu dia lewat, tapi pria itu berhenti di depan kami.
Itu bukan kebetulan. Dia memiliki rambut hitam, ditata rapi sehingga terlihat panjang. Tinggi badannya sepertinya sama denganku, mungkin sedikit lebih tinggi. aku melirik ekspresinya dan melihat bahwa dia tersenyum lebar. Senyumnya terlihat tidak menyenangkan.
“Memasang kamera palsu? Kalian benar-benar melakukan sesuatu yang menarik, ya?” Anak laki-laki itu bahkan tidak menghadap kami sepenuhnya saat dia berbicara.
“Dan siapa kamu?” Horikita bertanya pada siswa misterius itu, terlihat gelisah.
“Lain kali, aku yang akan menjadi lawan kalian. Aku menantikannya.”
Bocah itu berjalan tanpa menjawab pertanyaan Horikita. Kami tidak bisa melihat dia dengan jelas. Kami hanya bisa menyaksikan dalam diam saat dia berjalan menjauh.
“Kalau begitu, aku akan pulang sekarang.” aku punya firasat bahwa akan lebih baik bagi kami untuk tidak terlihat bersama, aku pun membelakangi Horikita.
“Tunggu. Kita belum selesai bicara, Ayanokouji-kun.”
“Aku sudah selesai bicara.” aku terus berjalan tanpa melihat ke belakang.
“Kamu sudah janji, 'kan? Kamu berjanji akan membantuku mencapai Kelas A.”
“Itu pun karena kau memaksaku. Kau juga membantu Sudou dalam kasus ini. Benar 'kan?”
“Bukan itu yang kumaksud. Aku ingin tahu apa yang kamu pikirkan.”
“Aku pikir 'ini menjengkelkan,' dan 'aku tidak punya motivasi untuk melakukan ini.’ Hal-hal seperti itu. Itulah yang kupikirkan. Bahkan jika kau menarik kembali apa yang barusan kau katakan, Horikita, aku berniat menjalani hidupku dengan tenang. Aku tak peduli entah itu bertujuan untuk mencapai Kelas A atau semacamnya, itu saja.”
Aku berharap jawaban itu akan memuaskannya, tapi Horikita mengabaikannya.
“Kalau kamu benar-benar benci menarik perhatian, kamu tidak akan terlibat dalam semua ini. Lagipula, kamu bilang kalau kamu adalah seseorang yang 'tidak suka masalah.' Namun kamu terus mengelak dan tidak berkomitmen bahkan saat kamu membantuku. Kenapa?”
Aku berasumsi bahwa perubahan perilaku Horikita ini adalah karena tindakan Chabashira-sensei. Dia mungkin menarik benang di sini. Aku tidak akan terkejut jika dia tahu tentang masa laluku.
“Menurutku yang kulakukan hanya sekadar untuk membantu teman saja.”
Jika aku terus berbicara, aku mungkin akan mengatakan sesuatu yang tidak perlu. Aku pun berjalan lebih cepat.
Sekarang, aku telah mencapai satu kesimpulan mutlak. Jika Horikita benar-benar mengincar Kelas A, itu tidak mungkin dalam keadaan kami saat ini.
Kami telah menerima deklarasi perang dari seseorang yang tampaknya dikenal sebagai Ryuuen. Ini bisa menjadi awal dari serangan licik, berani, dan brutal. Dia mungkin akan menghalangi kami sebagai musuh yang harus diwaspadai di masa depan.
Lalu ada Ichinose dan Kanzaki dari Kelas B. Mereka berdua orang-orang cakap yang hanya mengambil langkah-langkah kecil dan tidak langsung. Ichinose mungkin punya lebih banyak rentetan rencana dalam ambisinya untuk mencapai puncak lebih dari yang bisa kubayangkan. Tidak mungkin untuk sepenuhnya memahami bagaimana kami akan terjun dalam situasi ini, atau pun metode dan langkah yang akan Ichinose ambil.
Aku tidak mengerti apa yang Ichinose inginkan, tetapi tujuannya kemungkinan besar akan memberikan hambatan besar bagi kami. Dengan kata lain, wajar untuk mengatakan bahwa mencoba untuk mencapai Kelas A dalam 3 tahun adalah hal yang sia-sia. Bahkan jika kami mencoba untuk mengatasi situasi ini secara langsung, tetap saja ...
“Ugh!”
Aku tidak sengaja mengeluarkan suara kecil.
Aku benar-benar bodoh.
Untuk apa aku pusing-pusing memikirkan itu? Aku secara sewenang-wenang mulai menganalisis Kelas D dan mempertimbangkan opsi. Aku tidak menginginkannya. Maksudku, dia adalah orang yang sudah memilih sekolah ini, 'kan? Horikita dan Ichinose lah yang mengincar puncak, bukan aku. Yang kuinginkan hanyalah kehidupan biasa dan tenang di mana tidak ada insiden yang terjadi. Karena itulah, aku tidak bisa melakukan ini.
Aku lebih tahu tentang diriku daripada orang lain. Aku tahu betapa rusaknya, betapa bodohnya diriku ini. Aku adalah manusia yang mengerikan.
~ End of Volume 2 ~
Komentar
Posting Komentar