CHAPTER 6
Hanya Satu Solusi
“Wah! Aku merasa jauh lebih baik! Terima kasih banyak! Terima kasih sudah memberiku peran yang penting! Aku sangat senang!” seru Ichinose.
“Yah, itu lebih seperti kau melakukannya dengan senang hati, Ichinose.”
“Ha ha ha, ya. Kurasa begitu. Tapi kasusnya sudah ditutup, 'kan?”
Ya, itu benar.
“Aku bertanya-tanya apa yang kau lakukan ketika kau memintaku untuk meminjamkanmu beberapa poin kemarin.”
Kami kembali ke gedung khusus yang panas dan lembab dan mendirikan tangga lipat.
“Aku tidak percaya kau memasang kamera keamanan.”
Ya itu benar. Sekolah sama sekali tidak memasang kamera keamanan itu. Ichinose dan Kanzaki membelinya, dan bersama Profesor, memasangnya selama waktu istirahat makan siang. Ishizaki dan dua siswa lainnya takut akan diselidikinya rekaman dari kamera, tapi itu hanyalah kamera palsu.
Aku terkejut pada awalnya bahwa sekolah menjual peralatan seperti itu. Terlebih lagi, saat kau tidak kepikiran untuk menggunakannya demi mencegah kejahatan, kamera itu bisa saja berguna untuk pengawasan dan perekaman. Dengan kata lain, alat penyelidikan. Mungkin menyebutnya jaringan daripada kamera keamanan akan membuatnya lebih mudah untuk dipahami.
Panas telah mengganggu kemampuan berpikir siswa Kelas C. Mereka berada dalam mode krisis, tanpa kesempatan untuk bersantai. Selain itu, mereka merasa terancam secara psikologis selama kebuntuan itu. Tidak mungkin mereka akan tahu kami menggertak. Bahkan jika mereka meragukannya, mereka tidak punya waktu untuk menyelidikinya.
“Ketika saatnya tiba, kalian mungkin akan menjadi saingan yang tangguh untuk Kelas C, Ayanokouji-kun.”
“Jika hari seperti itu benar-benar datang, kurasa mungkin saja.”
Namun, Ichinose mungkin sudah berada di Kelas A saat itu.
“Jika Horikita-san berada di Kelas B, kami mungkin sudah sampai di Kelas A.”
“Mungkin.”
Aku melepas kamera dan menyerahkannya kepada Ichinose, yang memegangi tangga lipat.
“Aku pasti akan mengembalikan poin yang kupinjam. Katakan saja padaku kapan kamu membutuhkannya.”
“Tentu. Selama kau mengembalikannya sebelum kelulusan, tidak apa-apa. Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang? Menunggu di depan ruang OSIS?”
“Mungkin...”
Tiba-tiba aku teringat akan Sakura. Dia bilang kalau dia punya rencana hari ini, tapi apa yang sebenarnya dia lakukan? Sebelumnya, ketika dia menungguku sepulang sekolah, apa yang ingin dia katakan padaku? Dia sepertinya memutuskan untuk melakukan sesuatu, dilihat dari ekspresinya. Benar juga, dia bilang dia harus punya keberanian. Tapi untuk apa?
Perasaan itu menggangguku, seolah-olah bagian belakang kepalaku mati rasa sementara pikiranku berkecamuk.
“Oh, ya, itu mengingatkanku. Ada satu hal yang ingin kukatakan padamu, Ayanokouji-kun.”
Namun, sebelum Ichinose bisa mengatakan apa-apa, aku sudah berlari menjauh. Apa pun yang ingin dia katakan padaku, itu harus menunggu.
“Hah?! Tu-Tunggu sebentar!”
Meskipun dia tidak bisa mengerti apa yang terjadi, untuk beberapa alasan Ichinose mengikutiku.
~ Bersambung ~
Komentar
Posting Komentar